• Ikuti kami :

Mencari Barzanji di Tengah Kesumukan Umat

Dipublikasikan Sabtu, 23 Agustus 2014 dalam rubrik  Tafakur

“Semangat pembaharuan awal abad ke-20 berdampak pada pandangan yang kurang tepat terhadap masa lalu. Barzanji dan beberapa bagian dari “kebudayaan” Islam kemudian terputus dari kesadaran kita bersama. Pun dengan karya-karya agung di bidang akidah, fikih, sastra, ilmu falak, filsafat, dan tasawuf yang ditulis sebelum abad ke-20 oleh para ulama kita menjadi asing dengan umat ini. Kita seperti mengalami keterputusan intelektual dan juga keterputusan budaya dengan umat Islam sebelum abad ke-20 yang mendiami kepulauan Melayu-Nusantara ini.”

***

“Dalam sejarah kesusastraan Islam tidak hanya Busyairi dan Syekh al-Barzanji yang telah menghasilkan sajak puji-pujian kepada Nabi Muhammad. Tetapi juga ratusan penulis Muslim dalam berbagai bahasa dunia Islam. Sana’i, ‘Attar, Rumi, Yunus Emre, dan Iqbal di zaman modern, adalah sedikit saja contoh. Dalam sejarah kesusastraan Melayu, tradisi ini dimulai oleh Hamzah Fansuri, dan dalam kesusastraan Indonesia Modern tampak dalam beberapa sajak Taufik Ismail. Sajak-sajak na’tiyah, khususnya Kasidah Burdah dan Barzanji, sangat populer di lingkungan Islam tradisional. Sumbangan-sumbangan puisi semacam ini sangat besar bagi perkembangan Islam, khususnya dalam mendidik kesadaran kolektif umat dan menanamkan perasaan cinta kepada Nabi. Kukuhnya kedudukan Islam dalam masyarakat-masyarakat tradisional kita antara lain dipengaruhi meresapnya cinta umat Islam kepada Rasulullah. Kaum modernis atau pembaharu boleh memandang remeh peranan teks-teks seperti Kasidah Burdah dan Barzanji, tetapi mereka perlu menemukan penggantinya yang sama efektifnya.” (Abdul Hadi WM, Kembali ke Akar Kembali Ke Sumber, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999: hlm 68).

Saya ingin memulakan telaah saya pada lahirnya kesadaran naional bangsa kita yang pertama kali hadir pada awal abad ke-20. Bahwa bayangan bangsa tentang Indonesia (dipercaya banyak kalangan) baru lahir setelah kita memasuki abad ke-20. Kesadaran itu khususnya lahir akibat politik etik yang diperjuangkan kaum liberal di Nederland sana. Kebijakan emigrasi, irigasi, dan edukasi dari pemerintah kolonial dipercaya sebagai awal mula kehadiran kaum terpelajar dari kalangan pribumi. Pramudya Ananta Toer merekam hadirnya kesadaran nasional ini dalam karya sastranya yang paling baik: Tetralogi Pulau Buru.

Tokoh Minke (pengkhayalan dari sosok Tirto Adi Suryo) dihadirkan sebagai wakil dari munculnya kesadaran pribumi akan bangsanya. Akan pentingnya pengetahuan (sains dan ilmu-ilmu kemanusiaan) bagi hadirnya kesadaran baru kaum pribumi. Kesadaran baru yang dikehendaki ialah kesadaran dari manusia yang terlepas dari takhayul (menuju kesadaran yang lebih ilmiah), dari ikatan kesukuan (kepada kebangsaan ganda/nasional), dari ikatan strata sosial yang feodal (kepada kesetaraan sesama manusia), dari kesadaran kolektif keagamaan/kesukuan (kepada kesadaran berorganisasi secara modern), dan lainnya.

 Saya tidak hendak membahas kebaikan dan keburukan dari novel Pram itu. Yang saya ingin sampaikan ialah gambaran hadirnya kesadaran nasional itu (masalah kesadaran nasional di abad ke-20 ini pun masih dalam perdebatan tentunya).

Mari kita lihat apa yang terjadi pada pihak Islam di masa itu.

Pada pihak Islam, awal abad ke-20 juga diwarnai dengan semangat pembaharuan. Muhammadiyah berupa pembaharuan terhadap sikap-sikap “tradisional”, Persatuan Islam dengan pembaharuan berupa pemurnian akidah, dan al-Irsyad dengan pembaharuan berupa ralat terhadap pengultusan berlebih terhadap kaum habaib, dapat dikemukakan sebagai di antara contoh yang dapat disebut. Kaum pesantren pun kemudiannya mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai tanggapan dari hadirnya semangat berorganisasi.

Hadirnya semangat pembaharuan di kalangan Islam ini sedikit banyak telah melahirkan berbagai keadaan. Pada satu sisi, upaya “pembersihan” Islam dari hal-hal yang bukan Islam telah mengembalikan Islam sebagai agama yang lebih berterima dengan akal dan Islam pun dibebaskan dari hal-hal khayali keilahian yang berlebihan. Namun pada sisi yang lain, kita justru kehilangan nilai-nilai ruhani yang menghaluskan jiwa umat. Kita juga kehilangan alat untuk mengikat kesadaran bersama sebagai umat Nabi karena shalawat yang dirayakan dengan tetabuh dan dilantunkan di luar shalat dan doa “resmi” ditempatkan (oleh beberapa pihak) sebagai satu di antara bid’ah yang perlu dihindari.

Pada masa inilah (awal abad ke-20 itu) terjadi keterputusan antara umat Islam di Indonesia dengan sejarah masa lalunya, dengan tradisi pendahulunya. Semangat pembaharuan awal abad ke-20 berdampak pada pandangan yang kurang tepat terhadap masa lalu. Barzanji dan beberapa bagian dari “kebudayaan” Islam kemudian terputus dari kesadaran kita bersama. Hal-hal semacam itu kemudian seperti bukan bagian dari sebagian kita. Pun dengan karya-karya agung di bidang akidah, fikih, sastra, ilmu falak, filsafat, dan tasawuf yang ditulis sebelum abad ke-20 oleh para ulama kita menjadi asing dengan umat ini. Kita seperti mengalami keterputusan intelektual dan juga keterputusan budaya dengan umat Islam sebelum abad ke-20 yang mendiami kepulauan Melayu-Nusantara ini.

Akhirnya khazanah kesusastraan kita menjadi sulit untuk ditemui. Pun khazanah keilmuan kita yang termaktub dalam kitab-kitab Melayu, Jawa, Sunda, dan lainnya. Segala yang “masa lalu” serasa jauh dan kemudian pantas untuk ditinggalkan. Semuanya berkesan bid’ah, khurafat, dan takhayul. Kita berjarak dengan masa lalu kita sendiri.

Pun halnya demikian, masih ada kebaikan dari pembaharuan yang terjadi ini. Setidaknya umat Islam dapat berperan secara modern dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Dan memang hal-hal yang bukan Islam pun kemudian “dibersihkan” dari Islam. Kesadaran politik umat pun terbentuk. Pun kesadaran ekonomi dan kesadaran “modern” lainnya. Syarikat Priyayi yang kemudian merangkak menjadi Syarikat Dagang Islam dan kemudian Syarikat Islam mengawali hadirnya kesadaran politik sekaligus ekonomi di kalangan Islam. Ini penting untuk mengatasi tantangan penjajahan.

Sayangnya, segala yang halus-halus dan berada dalam tataran jiwa menjadi terlalu kerontang. Alunan zikir secara berjamaah disertai tetabuhan yang menggetarkan sampai ke pedalaman jiwa sudah lama dianggap sebagai bid’ah. Pun dengan kesenian-kesenian kita yang tergerus arus pembaharuan itu.

Umat ini pada akhirnya kehilangan apa yang disebut oleh Abdul Hadi WM sebagai alat “mendidik kesadaran kolektif umat”. Kita terpecah, tidak lagi sebagai satu kesatuan umat. Tak ada lagi suatu jembatan keagamaan yang mampu menyatukan kesadaran kita sebagai umat, sebagai sesama Muslim yang ukhuwahnya diikat oleh iman. Pembaharuan telah menggugat segala sesuatu semacam Barzanji, namun lupa untuk menghadirkan alat lain yang dapat mengikat kesadaran kolektif umat itu. Yang mengikat umat secara ruhaniah.

Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad ialah lembaga yang sepi dari puisi, apalagi Barzanji. Tentu saja saya tak hendak menuduh lembaga-lembaga ini sebagai biang keladi rapuhnya kebudayaan umat hari ini. Bagaimana pun sumbangan mereka lebih besar dari kesilapan-kesilapan yang ada. Hanya saja, hari ini kita memang memerlukan sebuah “jembatan epistemik”, sebuah metode untuk kembali mengenal abad ke-19, abad ke-18, abad ke-17, dan seterusnya. Kita perlu membobol benteng yang menyekat kita pada masa lalu kita sendiri.

Sumber-sumber, data-data, dan khazanah dari zaman lalu ialah sumber yang berbeda dengan pengalaman dan kesadaran ilmiah kita hari ini. Diperlukan suatu upaya besar, serius, dan langgeng untuk kembali bersambung sejarah dengan abad-abad lalu. Kita memerlukan sebuah metode sejarah yang baru guna berjabat tangan erat dengan masa lalu.

Tentu saja di luar hal-hal yang saya sebutkan di atas masih banyak sebab-sebab di luar umat Islam yang mengakibatkan keterputusan kita dengan khazanah masa lalu kita. Kolonialisasi, nativisasi, dan sekularisasi ialah sebab-sebab luaran itu. Penggunaan huruf latin dengan menggantikan huruf hijaiyah ialah bentuk lain pemutusan tali kebudayaan kita hari ini dengan masa lalu.

Namun, berkaca ke dalam pun cukup penting. Sebab, siapa yang tak mampu melihat kesalahan dirinya sendiri, dia tak akan mampu memperbaiki diri sendiri.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS