• Ikuti kami :

Menakar Liberalisme

Dipublikasikan Senin, 29 Desember 2014 dalam rubrik  Peristiwa

Liberalisme keagamaan dapat dilacak sejak abad ke-18. Di saat itu dunia Barat terobsesi untuk membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik, dan ekonomi dari tatanan moral, supernatural, dan bahkan Tuhan. Pengalaman Barat inilah yang kemudian coba “dicangkokkan” ke dalam tubuh Islam. Proyek pencangkokan ini berlangsung dalam tiga gerakan: misionaris, orientalis, dan kolonialis.

Beberapa tahun terakhir ini hari-hari kaum Muslimin direcoki oleh berbagai tingkah dan pemikiran aneh. Ada dosen agama Islam menginjak lafaz Allah; ada orang yang mengaku cendekiawan menghalalkan homoseksual; ada mahasiswa yang meragukan kemurnian Al Qur’an dan berbagai pemikiran; serta kelakuan janggal lainnya.

Jika dirunut lebih saksama, ternyata berbagai pemikiran dan tingkah nyeleneh itu berpangkal pada kerusakan pemikiran yang dialami sebagian umat Islam. Dan jika dirunut lebih jauh, pangkal dasar kerusakan pemikiran ini ialah invasi pemikiran Barat yang merasuk ke dalam pemikiran umat.

liberalisasiBuku Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis), menggambarkan dengan jelas keadaan ini. Buku yang padat namun sangat mendalam ini menggambarkan bagaimana serangan pemikiran Barat terhadap Islam berlangsung. Barat yang liberal dan senantiasa melakukan liberalisasi terhadap berbagai bidang kehidupan menganggap pengalaman dan pandangan hidupnya universal dan memaksakannya pada peradaban lain, khususnya Islam. Di sinilah kerusakan itu terjadi.

Hal itu diperparah dengan sikap membebek para cendekiawan Islam, yang secara keliru sering kali mendaku diri sebagai pembaharu (mujadid). Apa yang telah mereka lakukan ternyata merusak Islam dari dalam. Justru merekalah yang menjadi motor penggerak liberalisasi pemikiran Islam. Sesungguhnya mereka hanya melakukan “adapsi” dan duplikasi pengalaman Barat yang trauma terhadap agama, dan kemudian mencoba menerapkannya terhadap Islam. Sama sekali tidak ditemukan inovasi ataupun ide kreatif yang positif bagi pembangunan umat. Kebanyakan dari mereka murni membebek Barat.

Peradaban Barat pada hakikatnya bersifat sekuler. Identitas ini dapat dilihat baik pada Barat modern maupun post-modern. Barat modern berintikan rasionalisme, empirisme, sekularisme, desakralisasi, nonmetafisik, dikotomis, dan pragmatisme. Sementara post-modern bersumsum nihilisme, relativisme, anti-otoritas, pluralisme, multikulturalisme, persamaan serta kesejajaran, feminisme/gender, dan liberalisme.

Secara umum Barat telah menempatkan Tuhan dan segala hal yang mereka anggap tidak empiris dan tidak rasional di wilayah kepercayaan. Hal-hal gaib bagi mereka tidak termasuk dalam wilayah pengetahuan. Inilah inti perbedaan Barat dan Islam. Islam mengakui hal-hal yang gaib sebagai wilayah pengetahuan. Oleh karena itu, cara mengetahui, sumber pengetahuan, dan hasil pengetahuan antara Islam dan Barat jelas berbeda. Secara umum dapat dikatakan bahwa metafisika Islam dan Barat berbeda dan bahkan bertentangan.

Islam memiliki sumber pengetahuan berupa wahyu, hadis, akal, pengalaman, dan intuisi, sementara Barat berasaskan rasio dan spekulasi filosofis. Pendekatan Islam itu tawhidi sementara Barat dikotomis (hlm 21). Begitulah, Islam dan Barat pada hakikatnya merupakan dua peradaban yang berbeda, bahkan dalam beberapa hal justru bertentangan. Maka liberalisasi Islam merupakan hal yang tidak perlu, bahkan merusak.

Kata-kata liberal diambil dari bahasa Latin, liber, artinya ‘bebas’ dan ‘bukan budak’ atau suatu keadaan di mana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Menurut Alonzo L Hamby, PhD, liberalisme adalah paham ekonomi dan politik yang menekankan adanya kebebasan (freedom), persamaan (equality), dan kesempatan (opportunity) (hlm 25). Sementara liberalisme keagamaan dapat dilacak sejak abad ke-18. Di saat itu dunia Barat terobsesi untuk membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik, dan ekonomi dari tatanan moral, supernatural, dan bahkan Tuhan (hlm 30).

Pengalaman Barat inilah yang kemudian coba “dicangkokkan” ke dalam tubuh Islam. Proyek pencangkokan ini berlangsung dalam tiga gerakan: misionaris, orientalis, dan kolonialis. Dalam misionarisme dikenal satu diktum: misi utama orang Kristen bukanlah menghancurkan kaum Muslimin namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam agar menjadi Muslim yang tidak berakhlak.

Orientalisme memiliki dua motif. Pertama, motif keagamaan. Bagaimanapun, Barat mewakili Kristen yang secara teologis bertentangan dengan Islam. Motif kedua ialah politik. Islam tetaplah ancaman yang nyata bagi Barat. Oleh karena itu, penting bagi Barat untuk mempelajari Islam dengan saksama.

Sementara, kolonialis yang dimaksud Dr Fahmy masih sejalan dengan makna kolonialis sebelum perang dunia kedua. Hanya saja, pengertian itu telah bergeser dari pengertian pendudukan penjajahan dan perampasan kemerdekaan serta kedaulatan suatu bangsa atau negara (termasuk eksploitasi sumber daya alam dan manusia) menjadi penguasaan dalam bidang-bidang tertentu secara strategis termasuk campur tangan di bidang politik, penguasaan sistem ekonomi dan liberalisasi perdagangan. Kolonialisme pada akhirnya merupakan pemaksaan pemikiran dan kebudayaan Barat terhadap yang lain (hlm 65).

Berbagai strategi untuk melaksanakan liberalisasi dilakukan selama bertahun-tahun. Salah satu cara yang gencar dilakukan Barat ialah mendukung berbagai lembaga nonpemerintah di negara-negara Muslim yang bersedia menjajakan ide-ide liberal (demokrasi, multikulturalisme, pluralisme, toleransi, dan lainnya).

Proyek liberalisasi Islam ini nyata adanya. Salah satu agen penyokong gerakan ini di Indonesia adalah The Asian Foundation (TAF). Sejak 1970-an TAF telah memberikan bantuan dana kepada berbagai organisasi, khususnya yang berkaitan dengan agama. Kini TAF membiayai lebih dari 30 kelompok LSM dalam upaya memperkenalkan konsep bahwa nilai-nilai Islam dapat menjadi dasar bagi sistem politik demokratis, antikekerasan, dan toleransi beragama (hlm 83-84).

Hasil dari proyek liberalisasi ini ialah kebingungan di kalangan umat atau lebih tepatnya kerusakan ilmu-ilmu Islam. Doktrin relativisme disebar di mana-mana. Kritik terhadap Al Qur’an bermunculan. Paham pluralisme agama, multikulturalisme, dan toleransi yang bisa ditawarkan secara bebas. Syariah pun dijungkirbalikkan bahkan ditolak, sementara isu feminisme dan gender makin gencar dijajakan.

Menjadi hal yang penting untuk membaca buku ini. Liberalisme Islam sudah nyata di depan mata dan bukan hal yang mengada-ada. Ini tantangan yang harus dihadapi. Pemetaan dan akar liberalisme menjadi hal yang wajib untuk diketahui. Buku ini menjanjikan keduanya. Dilengkapi lebih dari 50 sumber yang otoritatif, buku ini berhasil menggambarkan liberalisasi Islam, khususnya di Indonesia, dengan utuh.

Dr Hamid memiliki keberanian yang mumpuni untuk menakar liberalisme dengan pandangan hidup yang beliau miliki. Tanpa kagok dan ragu-ragu, doktor bidang pemikiran Islam lulusan ISTAC (International Institut of Islamic Thought and Civilization) ini menolak liberalisme dan bahkan menawarkan perlawanan terhadapnya. Sebuah upaya serius yang dilandasi bekal keilmuan yang mumpuni. Maka tak ada alasan untuk tidak membaca buku ini.

Judul

Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan Bersama Missionarisme, Orientalisme dan Kolonialisme

Penulis

Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Penerbit

Center for Islamic and Occidnetal Studies (CIOS) ISID Gontor

Ukuran

123 + x hlm. ; 12 x 18 cm

Terbit

Agustus 2008

sumber foto : https://s3-eu-west-1.amazonaws.com

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS