• Ikuti kami :

Menakar "Islam Fundamentalis" dan "Fundamentalisme Islam"

Dipublikasikan Rabu, 19 Maret 2014 dalam rubrik  Tafakur

Seperti halnya “anarkis”, istilah “fundamentalis” dan “fundamentalisme” kini telanjur dimaknai keliru. Kesalahan ini berdampak pada penggunannya yang kerap kali tidak tepat. Contoh yang akrab kita baca dan dengar “Islam fundamentalis” dan “fundamentalisme Islam”.

Penggunaan istilah-istilah secara serampangan oleh media dan lingkungan akademis sekular-liberal untuk melabelisasi orang atau kelompok tertentu jadi penyebabnya. Masyarakat dibombardir istilah yang pemaknaannya didikte media. Tidak peduli benar atau salah, meski pada awalnya terasa asing dan aneh, gempuran yang sistematis dan konsisten akhirnya berhasil memaksakan pengertian yang keliru untuk disepakati khalayak.

Istilah-istilah tersebut dikonsumsi dan dengan kecerobohan yang sama lalu direproduksi dalam komunikasi sehari-hari. Akibatnya yang paling merusak adalah terdistorsinya suatu istilah. Kita tidak lagi mengerti makna istilah yang sesungguhnya. Yang ironis, tidak hanya kalangan masyarakat awam, kaum terdidik pun terjangkiti kesalahpahaman yang sama.

Padahal, kata-kata memiliki muatan konseptual dan sejarahnya sendiri[1]. Maka, penggunaan istilah merupakan refleksi dari pandangan hidup (worldview) seseorang terhadap realitas. Sering kali kenyataan itu luput dari para pengguna istilah “Islam fundamentalis” dan “fundamentalisme Islam”.

Jika ditelusuri, istilah fundamentalisme muncul dari sejarah dan pandangan hidup Kristen (baca: Barat). Hal itu terlihat dari penjelasan pertama Merriam Webster 11th Collegiate Dictionary mengenai arti fundamentalisme: (a) movement in 20th century Protestantism emphasizing the literally interpreted Bible as fundamental to Christian life and teaching  (b)  the beliefs of this movement  (c) adherence to such beliefs[2].

Latar Historis Istilah Fundamentalisme

Sejarah fundamentalisme dimulai sejak pencerahan di Eropa (enlightenment), yang mengasingkan agama dari kehidupan masyarakat. Pergeseran ini dipicu proyek peradaban pencerahan yang mengangkat kemampuan berpikir manusia tanpa bantuan wahyu. Pemikir pencerahan menolak semua peran kitab suci atau kepercayaan kepada wahyu dalam mengatur (order) negara[3].

Revolusi pandangan dan cara berpikir Barat modern memunculkan reaksi dari kelompok keagamaan Kristen dengan digalangnya gerakan anti modernitas, yang selanjutnya lebih sering disebut fundamentalis untuk merujuk penganutnya dan fundamentalisme sebagai ideologinya. Fundamentalisme adalah terma yang populer digunakan untuk menggambarkan ketaatan keras pada doktrin Kristen yang didasarkan pada interpretasi literal atas Bibel[4]. Tentu saja, fundamentalisme berkait erat dengan modernisme, tradisionalisme, revivalisme, dan ekuminisme[5].

Gerakan fundamentalisme bertujuan untuk melestarikan keyakinan (belief) pada realitas supernatural dalam sejarah ketika keyakinan semacam itu mengalami kemunduran[6]. Pandangan sosio-politik sekular-liberal yang diusung modernitas Barat bertolak belakang dengan pandangan kaum fundamentalis yang tidak memberi tempat bagi pemisahan agama dan negara. Hal itulah yang membuat sebagian cendekiawan Barat modern menganggap kelompok fundamentalis gagal berdialog dengan modernitas barat, yang secara imajinatif dianggap sebuah keniscayaan sebagai bentuk kemajuan.

Dalam konteks Amerika Serikat, istilah fundamentalisme dan fundamentalis berawal dari serangkaian pamflet berjudul “The Fundamentals of the Faith” yang diterbitkan pada  1920-an oleh pemimpin Protestan Evangelis. Dalam pamflet itu, mereka menyerukan kembali apa yang diyakini sebagai kebenaran Protestan demi menghadapi semangat zaman yang liberal dan progresif[7].

Beranjak dari latar sejarah yang spesifik, penggunaan istilah fundamentalisme kemudian meluas sehingga digunakan untuk menggambarkan semua kelompok yang konservatif dalam ekspresi keagamaan mereka[8]. Hal itu bisa dilihat dari volume pertama buku berjudul “Fundamentalisms Observed”, yang disusun melalui proyek bernama The Fundamentalism Project [9]. Buku ini berisi belasan artikel mengenai ekspresi “fundamentalisme“ di semua agama (Islam, Kristen, Budha, Hindu, Shikh, dll). Kesimpulan akhir buku itu ingin menunjukan, ekspresi fundamentalisme merupakan fenomena keagamaan global yang muncul di semua agama tanpa terkecuali.

Namun jika diteliti lebih jauh, dalam konsep fundamentalisme terdapat aspek yang lebih mendasar dari sekadar ekspresi keagamaan semata, yaitu penafsiran keagamaan. Pemaparan Steve Bruce, bahwa fundamentalisme berangkat dari klaim bahwa sumber gagasan mereka yaitu teks suci adalah sumber yang lengkap dan tanpa kesalahan, agaknya patut digarisbawahi. Masih menurutnya, untuk memahami teks-teks, secara khusus berkenaan dengan budaya literasi dan kebudayaan itu sendiri. Mereka yang disebut fundamentalis cenderung mengabaikan hermeneutika dalam penafsiran[10].

Di dunia Islam, pelabelan “Islam fundamentalis” atau “fundamentalisme Islam” berdasarkan penelusuran saya baru muncul sejak menjamurnya gerakan yang terpengaruh semangat pembaruan dan Pan-Islamisme, al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Mereka yang disebut muslim fundamentalis bagi Barat adalah kelompok Islam yang berusaha menerapkan kehendak Tuhan yang terekspresikan dalam hukum moral agama, shariah, yang diambil dari Quran dan Hadith, atau sunnah Rosul[11].

Pada awalnya sebutan “Islam fundamentalis” biasa digunakan untuk merujuk pada gerakan Ikhwanul Muslimin dan Jami’at Islami. Syiah pimpinan Khomaeni pun masuk dalam kategori ini, sejak pecahnya revolusi Iran (1979) dan fatwa mati atas pengarang buku “Satanic Verse”, Salman Rushdie. Sebagai bentuk labelisasi, sebutan itu merupakan tuduhan sepihak Barat terhadap kelompok Islam. Dapat dipahami, perkembangan komunitas Islam di satu sisi merupakan ancaman terhadap dominasi Barat di sisi yang lain.

Bisa dilihat, istilah fundamentalisme merupakan produk kehidupan beragama Kristen dalam merespon modernisasi yang terjadi di Barat. Perkembangan selanjutnya, istilah ini berusaha dicangkokkan ke dalam tubuh kehidupan beragama umat Islam.

“Islam fundamentalis” dan “fundamentalisme Islam” adalah kosa kata yang menjadi primadona dalam diksi media. Padahal khazanah Islam sendiri tidak pernah mengenal istilah-istilah itu. Penisbatan yang diberikan oleh cendikiawan Barat terhadap gerakan Islam tertentu tidak bisa dilepaskan dari latar belakang pengalaman keagamaan serta pandangan hidup Barat. Munculnya istilah “Islam fundamentalis” dan “fundamentalisme Islam” adalah upaya Barat dalam memahami komunitas Islam dengan framework yang sama dengan cara mereka memahami komunitas Kristen.

Permasalahan istilah “Islam fundamentalis” dan “fundamentalisme Islam”

Dengan berpegang pada pengetian fundamentalisme yang muncul dari peradaban Barat, maka “Islam fundamentalis” bisa diartikan sebagai orang Islam yang secara literal memahami kitab suci al-Quran. Begitu kira-kira pengertian bebasnya. Ini jelas problematis. Saya memang bukan ahli metode interpretasi literal bibel, tapi bisa dipastikan itu berbeda dengan tafsir al-Quran dalam khazanah Islam. Tradisi keilmuan Islam tidak mengenal model penfasiran literal semacam itu.

Metode tafsir yang diformulasikan ulama-ulama dari tradisi keilmuan Islam lahir dari sifat ilmiah khas yang inheren dalam bahasa Arab, tafsir juga dipahami dengan merujuk sunnah Rosul dan pemahaman para sahabat, sehingga tingkat ilmiahnya setara dengan eksak[12]. Apalagi permasalahan interpretasi teks keagamaan Kristen pada dasarnya muncul dari problematika Bibel itu sendiri[13].

Di samping itu, pandangan hidup Barat selalu berpikir dualistis. Dualisme itu yang membuat Barat masih terjebak dalam labirin literal dan kontekstual, eksklusif dan inklusif, dll. Sedangkan, pandangan hidup Islam bersifat tawhidic. Di sinilah adab berperan dalam kehidupan muslim untuk menempatkan antonimitas pada tempat yang tepat sehingga tidak menimbulkan permasalahan.

Di sisi lain, penggunaan istilah “Islam fundamentalis” mengakibatkan kebingungan karena memiliki makna yang tumpang tindih dengan istilah “Muslim”. Menarik mencermati pernyataan J.L. Ellias dalam bukunya, “Jika dilihat dari satu sisi, semua umat Islam dapat dikategorikan sebagai fundamentalis”[14]. Nah, lho. Pernyataan yang mungkin membuat sebagian orang terkaget-kaget. Sebenarnya kesimpulan Ellias sangat logis. Untuk membedah argumentasinya, terlebih dahulu perlu dirumuskan kriteria kaum fundamentalis dalam sejarah Kristen, yaitu:
1. Menolak modernitas Barat yang mengagungkan akal dan memenjara agama di kesunyian ibadah individu;
2. Menolak kehidupan beragama yang liberal dan progresif;
3. Menolak penerapan hermeneutik sebagai metode interpretasi teks suci;
4. Menolak pemisahan agama dengan negara;
5. Meyakini otentisitas kitab suci;
6. Meyakini bahwa penafsiran teks suci hanya boleh dilakukan oleh orang berotoritas (dalam Islam orang yang memiliki otoritas ini harus memenuhi persyaratan sebagai mufasir).

Sederhananya, seorang muslim yang memenuhi kriteria di atas, dari perspektif Barat akan dikategorikan sebagai fundamentalis, tidak peduli apa pun afiliasinya organisasinya. Jadi jangan heran ketika sebuah artikel Yale Global berjudul Indonesian Democracy’s Enemy Within (1 December 2005), mengkategorikan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai gerakan Islam fundamentalis seperti halnya Hamas, Sudan’s National Islamic Front, al Qaeda, dan Jemaah Islamiyah karena menganut pandangan anti-modern worldview.[15]

Pernyataan Ellias setidaknya memperlihatkan pengakuan Barat terhadap ambiguitas penggunaan istilah “Islam fundamentalis”. Untuk keluar dari permasalahan itu, anehnya dia justru menawarkan istilah “tradisionalis” atau “Islamis”, yang sebenarnya juga memiliki potensi masalah. Hal senada juga diutarakan oleh Youssef M. Choueiri. “Fundamentalisme Islam”, menurut dia, adalah istilah kabur, yang akhir-akhir ini digunakan untuk menyebut ideologi militan gerakan-gerakan Islam kontemporer. Meskipun dalam bukunya dia tetap menggunakan istilah itu. Bagi Choueiri, bertentangan dengan keyakinan umum, fundamentalisme merupakan sebuah usaha sungguh-sungguh yang diilhami oleh sikap serta determinasi para aktivisnya untuk melawan penyelewengan yang merajalela[16].

Kritik yang lebih keras dilontarkan John L. Esposito. Menurutnya, fundamentalisme terlalu dibebani oleh praduga Kristen dan stereotip Barat dan juga menyiratkan ancaman monolitik yang tidak pernah ada; istilah yang lebih cocok adalah: “revivalisme Islam” atau “aktivisme Islam”, yang tidak terlalu terbebani oleh nilai-nilai dan berakar pada tradisi Islam[17]. Sebagian masyarakat Barat sebenarnya tidak menunjuk pada apa pun dengan menyebut “Islam fundamentalis” dan “fundamentalis Islam”. Di sisi lain, muslim yang menggunakan istilah ini justru tidak sadar pandangan hidupnya sedang dikooptasi pandangan hidup Barat.

Di Barat, istilah fundamentalis dan fundamentalisme memiliki nuansa kata yang negatif. Fundamentalisme identik dengan kekolotan, taklid buta, stagnasi, kemunduran, dan hal lain semacamnya. Terutama ketika digunakan oleh kelompok liberal dalam satu tradisi keagamaan yang sama, istilah fundamentalisme menjadi sebuah kata cemoohan untuk menyerang kurangnya kedewasaan intelektual kelompok-kelompok yang mempunyai pandangan konservatif[18].

Nuansa yang sama juga dapat kita temui dalam penggunaan istilah itu di tempat lain. Seandainya penggunaan istilah Islam fundamentalis tepat, artinya muslim yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang berangkat dari tradisi keilmuan Islam terdahulu juga dapat dikonotasikan negatif. Nuansa yang melekat pada pelabelan itu jelas akan menimbulkan reaksi penolakan dari kalangan muslim. Wajar saja ketika almarhum Ahmad Sumargono, seperti menantang, justru mendeklarasikan dirinya, “Kalau dikatakan bahwa Saya mengamalkan ajaran Islam, kemudian dikatakan fundamentalis, maka katakanlah Saya seorang fundamentalis”.

Pembagian sosiologis masyarakat dengan istilah asing sebagai atribut Islam seperti “liberal”, “inklusif”, “moderat”, “radikal” dan lain sebagainya, jelas tidak perlu dilakukan. Ambilah contoh istilah “Islam fundamentalis”, praktis akan mengaburkan istilah “Islam” karena membuka peluang adanya bentuk Islam yang memiliki sifat lain, “Islam liberal” misalnya. Penggunaan istilah ini justru menunjukan kekacauan berpikir penggunanya yang terkontaminasi framework Barat. Implikasinya yang paling berbahaya seperti telah dicontohkan tadi adalah rusaknya konsep-konsep kunci dalam aqidah Islam. Islam telah mengenal pembagian yang bersumber dari pedoman hidup seorang muslim, Al-Quran, yang di dalamnya terdapat istilah muslim, mukmin, kafir, munafik, musyrik, dll. Kesimpulan sederhananya: proyek Islamisasi ilmu sosial saat ini menjadi kebutuhan yang mendesak.

[1]     Pengantar penyunting dalam, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, (Bandung : Mizan, 1995), hlm. 10

[2]     Merriam-Webster CD-ROM Reference. Merriam-Webster, Incorporated

[3]     Encyclopedia Americana International Edition, (Connecticut : Grolier, 1994), hlm. 164.

[4]     Grolier academic encyclopedia, (Connecticut: Grolier International, 1991), hlm. 363

[5]     Segala sesuatu yang berhubungan dengan gereja.

[6]     Encyclopedia Americana, Hlm. 164.

[7]     Steve Bruce, Fundamentalisme: Pertautan Sikap Keberagamaan dan Modernitas, (Jakarta : Erlangga, 2003), Hlm. 14-15. & Grolier academic encyclopedia, Hlm. 363

[8]     Steve Bruce, Fundamentalisme, Hlm. 17. dicontohkan umat Katolik yang terus menggunakan model misa Tridentine Latin walau Konsili Vatikan kedua telah menghimbau gereja-gereja untuk menggunakan bahasa lokal dalam melayani jemaah.

[9]     Lihat, Martin E. Mart ; R. Scott Appleby [ed.], Fundamentalisms Observed, (Chicago ; London : University of Chicago Press, 1991)

[10]    Steve Bruce, Fundamentalisme, Hlm. 18-19.

[11]     Encyclopedia Americana, Hlm. 165.

[12]    Penjelasan lebih lanjut mengenai sifat ilmiah tafsir lihat,  Muhammad Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam: Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Mizan, 1990), hlm. 14-34.

[13]    Penjelasan lebih lanjut mengenai problem teks Bibel lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, (Jakarta : GIP, 2002), hlm. 41-46.

[14]    Seperti yang dikutip dalam Steve Bruce, Fundamentalisme, Hlm. 17

[15]    http://yaleglobal.yale.edu/display.article?id=6579

[16]    Pengantar penulis dalam, Youssef M. Choueriri, “Islam Garis Keras”: Melacak Akar Gerakan Fundamentalisme, (Qonun : Yogyakarta, 2003), hlm.v-ix

[17]    John L. Esposito, Ancaman Islam Mitos atau Realitas?, (Bandung : Mizan, 1995), hlm. 18.

[18]    Steve Bruce, Fundamentalisme, Hlm. 17.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS