Menadah Air Mata Orang-orang Rohingya
Bagikan

Menadah Air Mata Orang-orang Rohingya

Kita dan mereka ialah sesama kaum beriman. Dalam kesengsaraan yang dalam, mereka menyebut pujian kepada Nabi, sebagaimana kita memuliakan baginda. Kiblat mereka ialah kiblat yang sama. Istigfar di sudut dalam sanubari Rohingya ialah juga istigfar kita. Dalam bibir-bibir mereka yang lelah dan tanpa daya tersembunyi takbir, tahlil, serta tahmid yang selafaz dengan takbir, tahlil, serta tahmid di lidah kita. Kita membaca alfatihah yang sama dan moga-moga bertemu dalam amin yang rampak seiring, membumbung bertaut dalam sujud sebagai hamba.

Di abad 21, di perkembangan serba mutakhir dan merumit, di peradaban yang diyakini semakin meluhur, ada sekelompok manusia di Asia Tenggara yang hidupnya amat darurat. Didera kekerasan tak berkesudahan, tak diakui sebagai warga negara dan hidup dalam kamp-kamp tertutup yang pengap. Dunia mengenal mereka sebagai Rohingya, orang-orang tak beruntung yang telah menggedor-gedor kemanusiaan amat kerasnya. Di bumi yang telah menua, ada satu titik di sana, di mana manusia dipaksa melata menjilati kehidupannya.

Apa yang lebih buruk dari tak diakui sebagai warga negara dengan jatidiri yang compang-camping dipaksa runtuh oleh kuasa. Para pemikir terus menyebut-nyebut tentang martabat manusia namun Rohingya berpuluh tahun diperkosa, dirampok dan dibunuh. Hak-haknya dirampas dan kesejatian mereka sebagai manusia direndahkan tandas ke tanah. 

Jutaan kita yang berbicara tentang kemuliaan manusia harus menatap dengan terbuka cucuran tangis mereka, mengalir menganak sungai, bertemu di muara menjadi milyaran tetes air mata yang menghanyutkan demokrasi, hak asasi manusia, persamaan, persaudaran, kebebasan dan hati nurani kita. Semua menjadi omong kosong di langkah-langkah gontai Rohingya meniti nasib rapuh setapak demi setapak. Semua luruh dalam pilu tubuh mereka melawan todongan senjata. Air mata mereka menghanyutkan tepuk tangan perayaan luhurnya martabat peradaban, mengalir mengangkut tanya: Apa kita benar-benar manusia?

Ada orang dibunuh, ada perempuan diperkosa, anak-anak terpisah dari orang tuanya, dan manusia-manusia yang dirampas hak-haknya. Di sana, tak lebih jauh dari Palestina. Tangan-tangan mereka menggapai siapa saja, coba menggenggam apa saja dalam kelelahan dan ketakberdayaan. 

Orang-orang berbicara tentang konflik etnis atau agama. Tetapi sebuah laporan investigas Perserikatan Bangsa-bangsa telah menyebut sebuah “upaya genosida yang dilakukan militer Myanmar terhadap warga Rohingya”. Genosida, kata amat lekat pada nama Adolf Hitler atau Slobodan Milošević. Namun kata itu kini merayap melekati kita sebagai warga Asia Tenggara. 

Di kawasan yang kita huni, di wilayah Asean yang penuh pesona dan keajaiban, ada manusia yang dipreteli kemanusiaannya, hak-hak hidupnya dirampas dan dimusnahkan jatidirinya. Hitler dan Milošević ialah kisah jauh di Eropa sana. Namun Rohingya ada di dekat kita. Daya hidup Asia yang penuh pesona keghaiban seharusnya mampu memupus kata itu dari kenyataan kita. Namun genosida di Rohingya ialah kenyataan di wajah kita sendiri, bukan kisah jauh di Eropa seabad lalu. Rohingya terus menatap kita dengan mata mereka yang basah. Bertanya tentang daya hidup Asia yang tak menyentuh nasib mereka.

Kita dan mereka ialah sesama kaum beriman. Dalam kesengsaraan yang dalam, mereka menyebut pujian kepada Nabi, sebagaimana kita memuliakan baginda. Kiblat mereka ialah kiblat yang sama. Istigfar di sudut dalam sanubari Rohingya ialah juga istigfar kita. Dalam bibir-bibir mereka yang lelah dan tanpa daya tersembunyi takbir, tahlil, serta tahmid yang selafaz dengan takbir, tahlil, serta tahmid di lidah kita. Kita membaca alfatihah yang sama dan moga-moga bertemu dalam amin yang rampak seiring, membumbung bertaut dalam sujud sebagai hamba. 

Rohingya adalah saudara kita.

Allah, berikan kami daya untuk menatap mata-mata mereka, menadah air mata orang-orang Rohingya, membasuh segala abai dan lupa terhadap saudara.