• Ikuti kami :

Meme dan Poster (Bukan) sebagai Ilmu

Dipublikasikan Jumat, 01 Desember 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Sebagai pengguna jaringan internet, kita pasti sudah akrab dengan meme. Jika suatu isu sedang digoreng lalu ramai-ramai dikonsumsi hangat-hangat, boleh jadi meme mengambil peran sebagai spatulanya. Nyaris tak ada isu yang tak ada memenya. Meme adalah bukti bahwa orang-orang Indonesia sangat sigap merespon persoalan. Rasanya tidak sampai setengah jam dari dikabarkannya suatu isu atau berita, sudah ada saja beragam meme yang tersebar di sosial media yang bisa membuat kita terpingkal atau merengut.

Meme adalah bahan lelucon, sindiran, parodi juga ekspresi perasaan. Meme dibagikan, beredar luas dan sering kali dianggap hiburan. Suatu album foto di sosial media bisa berisi satu gambar meme yang seragam dengan variasi dialog atau pesan berbeda. Saking hit dan nyaris tanpa pakem, meme bisa dibuat oleh siapa saja. Ada website yang secara khusus menyediakan fasilitas pembuatan meme. Kita cukup masuk ke alamat website dimaksud, kemudian memilih gambar dan melampirkan teks ukuran besar yang diinginkan. Di dalam Wikipedia, meme diartikan sebagai ide, perilaku atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam bentuk gambar, hyperlink, video, website, atau hashtag.

Tidak hanya sebagai bahan guyonan, meme yang nyaris selalu direspon positif oleh warganet juga bisa menjadi strategi pemasaran. Para produsen bisa memakai meme untuk menciptakan pemasaran gerilya atau viral marketing bagi produk atau layanannya. Pada akhirnya, karena kemudahannya untuk tersebar dan diakses, meme juga dianggap sebagai sarana yang efektif dalam menyebarkan kebaikan dan ilmu. Meme seolah-olah dianggap sebagai poster atau flyer propaganda, salah satu sarana yang penting dalam pendistribusian gagasan. Kita bisa coba telusuri akun media dakwah di berbagai sosial media, khususnya Instagram yang memang khusus untuk gambar. Kita juga bisa memperhatikan bagaimana gambar-gambar itu secara cepat menyebar dan dibagikan para follower. Menariknya, ada kecenderungan di banyak akun semacam ini, meme dan poster merundung jomblo atau suruhan nikah yang ramai dipasang dan dibagikan.

Mungkin peradaban kita memang sedang dilanda darurat nikah atau darurat jomblo. Kedua topik ini selayak gula bagi semut. Menjomblo sampai menikah harus diperjuangkan fisabilillah. Jika kemaksiatan terus merajalela, maka umat ini tak akan pernah selamat. Mungkin para pengelola akun sosial media dan pembuat meme atau poster itu beranggapan demikian. Sarana yang memiliki peluang mendapat respon besar, dianggap perlu dipertahankan produksinya demi meramaikan majelis media sosial dakwah. Banyaknya follower  dianggap sebagai tanda semakin banyak yang antimaksiat dan pada akhirnya didamba mencerahkan umat. Tambah melimpahnya pengikut, semakin ramai tersebar meme, poster, juga peringatan-peringatan kebaikan lainnya, maka semakin tersebarluaslah ilmu dan Islam di muka bumi. Kita yakin betul, keberhasilan itu mesti diukur dengan jumlah. Keyakinan yang sering mengaburkan pandangan kita mengenai tujuan dan substansi.

Memang, selain poster atau meme guyon dan sindiran, banyak pula akun sosial media yang mengunggah nasihat-nasihat, kutipan perkataan para ustadz dan ulama, atau kutipan hadits dan ayat Al Qur’an. Kita memang tak menyetarakan meme-meme guyon itu dengan poster-poster yang nasihatnya serius, tanpa guyonan atau sindiran. Tapi tak jarang kita terlanjur bangga bebagi dan menuliskan caption yang kira-kira bunyinya, “Alhamdulillah, hari ini sudah bagi-bagi ilmu” ke seluruh linimasa akun media sosial yang kita punya. Selain perlu menimbang rasa bangga yang tiba-tiba menghinggapi hati begitu, sepertinya kita juga perlu menakar lebih cermat perihal yang kita terima, pahami, dan bagikan itu sebagai ilmu.

Kita ini masih sering bermudah-mudah menganggap diri telah memahami sesuatu padahal belum pernah betul-betul memeriksanya, mempelajari dengan saksama atau mengkonfirmasi pengetahuan kita pada pakarnya. Sialnya, kesalahpahaman yang sudah terlanjur melekat di benak itu kita bawa-bawa sebagai konsep dasar untuk memahami berbagai hal. Padahal, perkataan, informasi, atau kabar, entah itu di dalam meme yang banyak beredar, atau kutipan-kutipan yang kita dengar dan baca di macam-macam tempat, pada dasarnya belumlah ilmu. Malah bisa jadi bukan kebenaran.

Merujuk pada jiwa yang Allah ciptakan ini, manusia perlu melalui tahapan-tahapan yang lumayan panjang untuk memperoleh ilmu. Dimulai dari presepsi, abstraksi, dan diakhiri oleh inteleksi yang bersifat intuitif yang masing-masing ada uraiannya tersendiri. Kita juga perlu mengaktualisasikan potensi yang Allah titipkan. Pancaindra, akal, juga kalbu bukan hanya pinjaman yang perlu dijaga agar kembali pada pemiliknya dengan utuh. Semua itu perlu dibina, diasah, diberdayakan agar kita bisa memperoleh laba dari pinjaman itu. 

Seluruh proses memperoleh ilmu memang berjenjang dan tak ringkas. Boleh jadi ada dalam hitungan bulan atau tahun yang perlu didampingi dengan panjangnya kesabaran, tetapi berkelimpahan berkah serta kemudahan dan ketenangan. Sekarang kita bisa juga coba-coba menelaah ilmu dalam poster atau meme dengan contoh sederhana. Misalnya pada poster di akun sosial media yang isi kalimatnya begini, “Kalau udah dengar adzan Allahu Akbar Allahu Akbar (Allah Maha Besar) berarti urusan yang lain kecil lah ya bro #SholatDulu”

Kalimat poster ini sepetinya tidak sulit untuk kita telaah dan cari tahu kebenarannya. Pertama, kita harus memilah variabel utama dalam kalimat di atas, misalnya ‘adzan’, ‘Allahu Akbar’, ‘urusan kecil’ dan ‘sholat’. Kedua, kita uraikan satu per satu variabel itu, misalnya, 1) Adzan adalah tanda masuknya waktu untuk sholat wajib lima waktu, 2) Adzan biasanya dikumandangkan dari masjid, sekarang bisa dari rekaman di televisi, radio atau telepon pintar, 3) Adzan berisi kalimat-kalimat berbahasa Arab yang dibuka dan ditutup dengan Allahu Akbar, 4) Allahu Akbar artinya Allah Maha Besar, 5) Mungkin kita perlu belajar lagi dengan lebih serius, makna Allahu Akbar yang sebenar-benarnya, 6) Tapi secara sederhana kita bisa tahu lawan kata besar adalah kecil, 7) Jika Allah Maha Besar, maka selain-Nya adalah kecil, termasuk di dalamnya diri dan urusan-urusan kita, 8) Jika kita mendengar Allahu Akbar sebagai panggilan sholat, teringatlah bahwa kita beserta urusan kita itu kecil sementara Allah Maha Besar, 9) Maka kita yang kecil dan tak berdaya ini perlu mengadu, memohon, bergantung dan berserah kepada Yang Maha Besar, 10) Di antara bentuk mengadu, memohon, bergantung dan berserah seseorang yang mengaku lemah dan kecil adalah melaksanakan kewajiban dari yang Maha Kuat dan Maha Besar, 11) Jadi sebesar apapun urusan yang tengah kita jalani, kalau dengar adzan sholatlah dulu.  

Uraian di atas mungkin tampak mudah dan ringan saja. Seperti tak memerlukan proses yang panjang dan berarti. Kita bisa dengan segera menerangkan arti kata-kata itu sambil membandingkan dan membuat jejaring makna. Tapi coba tanyakanlah makna kalimat poster di atas kepada anak usia 5 tahun atau seorang nonmuslim usia dewasa. Kalau tidak menjawab, mereka mungkin akan mengurai seadanya dan bahkan tak akan segera sholat meski adzan berbunyi tepat di telinganya. Rupanya kemudahan kita untuk memahami kalimat poster di atas tak terlepas dari proses yang telah berlangsung dan terakumulasi sejak lama. Kita tak akan serta merta bisa memahami ‘adzan’, ‘Allahu Akbar’, ‘urusan kecil’ dan ‘sholat’, lalu mengurainya dalam 11 poin ringkas, apalagi mengamalkannya, tanpa memiliki konsep dan pengetahuan sebelumnya. Malah kadang-kadang, ilmu yang benar tak segera menandakan tindakan yang benar.

Lalu bagaimana dengan poster atau meme yang berdiksi bombastis macam, “Kasus kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) di Indonesia mencapai 200.000 kasus pertahun. Bahaya laten pacaran. Menjomblo jalan juang kami. Nikah di jalan Allah cita-cita kami tertinggi” dengan gambar kartun muslimah yang sedang memekik?

Kita bisa coba kembali rumus tadi. Pertama kita memilah variabel utama untuk difahami betul-betul maknanya. Katakanlah ‘KTD’, ‘pacaran’, ‘jomblo’, ‘jalan juang’, ‘nikah’, ‘jalan Allah’, ‘cita-cita’ dan ‘tertinggi’. Kedua, kita uraikan satu persatu definisi variabel-variabel di atas dengan rujukan terpecaya. Meme ini memang mengandung kebenaran. Tapi kita perlu periksa kadarnya. Kalau ada kesalahan, kita perlu pisahkan dari yang benar. Jangan mudah terperdaya dengan diksi aduhai. Selain memungkinkan gaduhnya ‘klik share’, yang seperti ini juga patutnya menghasilkan salah paham. Misalnya, kalau benar, cita-cita tertinggi seorang Muslim adalah nikah di jalan Allah, kita tempatkan dimana Imam Nawawi yang tak kunjung menikah hingga akhir hayatnya? Atau jangan-jangan, di benak kita sudah terlanjur subur bahwa cita-cita itu pasti sulit untuk diwujudkan? 

Kadang-kadang, sebagai penyemangat dan suluh penggerak, kalimat-kalimat bombastis atau retoris memang diperlukan. Dalam suasana peperangan misalnya. Tak mungkin pasukan yang telah bersiap berhadapan dengan musuh dipompa semangatnya dengan dibacakan jurnal penelitian ilmiah mengenai kasus aborsi. Kalimat-kalimat retoris diperlukan pada keadaan dan nuansa tertentu untuk tujuan tertentu.

Kita perlu senantiasa mawas diri pada niat dan hal-hal yang kita sambut. Tidak semua kabar yang kita terima bisa langsung diambil sebagai ilmu. Kita harus berhenti keliru dan mengatakan meme, poster atau propaganda sejenis sebagai ilmu. Itu belum ilmu. Ada proses yang perlu kita lewati sehingga kabar atau informasi menjadi ilmu.

Tak heran jika beberapa ustadz dan ulama kurang memperkenankan tulisan apalagi ucapannya dikutip lalu dibuatkan poster. Kesalahfahaman besar kemungkinan mengemuka jika tanpa konfirmasi. Apalagi jika ungkapan tersebut bermaksud kontekstual. Itulah gunanya ujian pada proses pembelajaran, untuk memastikan. Jika ada pemahaman yang salah atau kurang sesuai dari murid, guru dapat segera membetulkan.

Kita harus menyudahi menganggap yang bukan ilmu atau belum ilmu sebagai ilmu dan kebenaran. Jangan sampai kita salah sangka sehingga menganggap agama sebagai sebab timbulnya perasaan terancam, kebingungan dan ketakutan. Kita yang yakin agama adalah sumber ketenangan, keamanan dan kedamaian, perlu mengokohkan keyakinan itu dengan menajamkan kemampuan berfikir. Kita perlu menepi dari keriuhan, lebih banyak belajar, dekat-dekat dengan orang sholeh, memperbanyak shalawat serta rapalan doa agar Allah limpahi ilmu dan tak tertipu pada yang palsu.

Jika suatu saat kita mendengar seseorang bertanya setelah membaca meme, poster atau kalimat nasihat, jangan buru-buru didakwa skeptis atau fasik. Mengajukan pertanyaan atau bersikap kritis semestinya tak langsung bermakna penolakan atau penentangan. Jangan sampai tanya malah berbuah tudingan tak turut perintah Nabi atau kafir, misalnya. Kalau kita tak tahu, jangan pula sok tahu menjawab alih-alih sigap menuduh. Kita bisa memikirkan itu bersama-sama atau mengajukan pertanyaan dan berdiskusi pada orang yang tepat. Proses mencari dan memperoleh ilmu itu memang panjang adanya. Diperlukan kesabaran dan kerendahatian. Ilmu tidak terletak di internet, poster, meme, atau pun dalam buku-buku. Meskipun internet hilang tanpa bekas atau tinta tak dapat dibuat lagi, ilmu akan tetap dalam dada manusia, pada jiwa para guru yang dianugrahi keistimewaan oleh Allah Al Alim.

Tulisan Terkait (Edisi Pasca-Kebenaran)

IKLAN BARIS