• Ikuti kami :

Membebaskan Pendidikan dari Belenggu Barat

Dipublikasikan Jumat, 04 April 2014 dalam rubrik  Peristiwa

***

MulaIslamization ofnya adalah kekecewaan pada gereja. Pada abad ke-18, gelombang itu menjelma menjadi gerakan intelektual. Barat yang terlalu kecewa kepada Tuhannya mulai berani mendeklarasikan manusia sebagai acuan untuk menakar segala sesuatu. Dengan tajuk renaisans, pencerahan, sebuah era baru dipancangkan dalam perjalanan intelektual Barat.

Tapi, cerita belum tiba di penghujung. Melalui imperialisme, yang kini berwajah globalisasi, modernitas Barat memperoleh watak ekspansif. Westerninasi dan kolonialisasi pandangan alam Barat, begitu proses ini disebut, kini berlangsung sistemis, menyusup melalui institusi pendidikan. Walhasil, pandangan sekuler Barat terhadap ilmu leluasa merasuk ke berbagai belahan dunia.

Ibarat buldoser, dengan klaim universalnya ia menerjang gagasan lain yang berbeda. Pandangan di luar Barat tentang Kebenaran dan Realitas dianggap partikular dan lokal. Maka, epistemologi Barat menjelma menjadi satu-satunya tolok ukur, termasuk dalam hal penafsiran agama masyarakat non-Barat. Meski berhasil menyokong kemajuan teknologi melalui sains, pandangan alam Barat yang sekuler gagal memberi solusi terhadap dampak merusaknya. Belum lagi, kehancuran moral yang makin menjadi sebagai imbas modernitas. Tapi, pandangan alam Barat telanjur menghegemoni dan terartikulasi dalam dunia pendidikan.

Lalu jalan ke luar apa yang harus diambil umat Islam? Tema besar ini yang dibahas buku karya Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Islamisasi Ilmu-Ilmu Kontemporer dan Peran Universitas Islam dalam Konteks Dewesternisasi dan Dekolonialisasi. Beliau mengajak umat Islam menginsyafi tantangan nyata dunia pendidikan. Di belahan dunia non-Barat, menurut Prof Wan Daud, pandangan alam Barat menyebabkan kerusakan tatanan masyarakat, yang dalam beberapa kasus tidak bisa dikembalikan seperti semula.

Karena itu, Islamisasi ilmu, kata Prof Wan Daud, merupakan solusi sekaligus usaha sah mempertahankan identitas agama dan budaya umat Islam. Yang menarik, kesadaran akan daya rusak epistemologi Barat rupanya bukan monopoli pemikir Islam. Fenomena ini jamak terjadi. Prof Wan Daud mencatat, kalangan pemikir Cina dan Afrika memiliki kegelisahan serupa. Mereka menggagas epistemologi alternatif sebagai tandingan epistemologi Barat.

Di sini, Islamisasi ilmu mengambil posisi yang berbeda. Islamisasi tidak menolak keseluruhan epistemologi Barat. Dewesternisasi dalam konteks tersebut dilakukan secara selektif, sembari melakukan devolusi dengan merujuk pada pandangan alam metafisika dan kerangka epistemologi Islam. Yang lebih penting, Islamisasi disandarkan pada wahyu, sehingga berkarakter spiritual dan universal.

Dalam buku ini, Prof Wan Daud memberikan hujah meyakinkan bagaimana kaitan Islamisasi ilmu dan peran universitas. Sebab, kita akan sulit membayangkan pendidikan sebagai entitas yang bebas nilai. Tujuan pendidikan adalah refleksi pandangan alam tertentu yang akan terejawantahkan dalam materi, metodologi, dan evaluasi pendidikan.

Tanpa menyampingkan pendidikan dasar dan menengah, Prof Wan Daud menekankan pentingnya peran universitas dalam Islamisasi ilmu. Institusi tersebutlah yang dapat mengatasi kelemahan filosofis dan etis pada tingkat pendidikan di bawahnya. Pokok-pokok gagasan buku ini, seperti yang diakui Prof Wan Daud sendiri, sebagian besar berasal dari Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Prof Wan Daud menarik relevansi pemikiran al-Attas dengan kondisi kekinian dunia pendidikan dengan menyajikan data-data mutakhir. “Islamisasi Ilmu-Ilmu Kontemporer dan Peran Universitas Islam dalam Konteks Dewesternisasi dan Dekolonialisasi” merupakan pidato inaugurasi gelar profesor Prof Wan Daud di Universiti Teknologi Malaysia. Saat ini, beliau menjabat Direktur The Centre for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation (Casis) di sana.

Karya asli buku ini ditulis dalam bahasa Inggris. Sayangnya, persoalan alih bahasa menjadi catatan yang sedikit mengganggu. Kekurangan dalam teknis penyuntingan masih terjadi. Tulisan asli juga tidak diterjemahkan utuh. Jika dibandingkan dengan teks aslinya, akan terlihat ada bagian-bagian yang dipotong.

Contoh tulisan yang dipenggal bisa dilihat pada paragraf kedua bagian pengantar. Dalam buku terjemahan ditulis, “Saya akan menegaskan kembali framework epistemologi tradisional, yang telah dipahami dan dipraktikan oleh mazhab Sunni.” Dalam karya aslinya, terdapat penjelasan yang lebih panjang. Di sana dinyatakan, “I shall reaffirm the traditional epistemological framework, the one understood and practiced by the Sunni school of thought, which, on most of the metaphysical and epistemological aspects, are shared also by the Shiites“.

Terlepas dari permasalahan itu, upaya penerjemahan tulisan Prof Wan Daud perlu diapresiasi. Buku ini merupakan rujukan berharga dalam membangun model universitas Islam di tengah banyaknya literatur yang membahas hal serupa. Prof Wan Daud tidak hanya fasih membincangkan Islamisasi ilmu dan universitas Islam, tapi juga pernah mempraktikkannya. Ia membantu Prof Naquib al-Attas membina The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Malaysia pada kurun 1987-2002. Karena itu, Prof Wan Daud memiliki otoritas yang tidak diragukan dalam masalah ini.


Judul:Islamisasi Ilmu-Ilmu Kontemporer dan Peran Universitas Islam dalam Konteks   Dewesternisasi dan Dekolonialisasi
Penulis :Wan Mohd Nor Wan Daud
Penerbit:Universitas Ibnu Khaldun Bogor dan Centre for Advanced Studies on Islam, Sciences and Civilisation Universiti Teknologi Malaysia, 97 hlm. 2013
Judul asli:Islamization of Contemporary Knowledge and The Role of The University in The Context of Dewesternization and Decolonization


Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS