• Ikuti kami :

Melihat Barat dengan Kaca Pembesar

Dipublikasikan Rabu, 14 Januari 2015 dalam rubrik  Peristiwa

***

Selama ini banyak cendekiawan Islam yang begitu terpesona oleh peradaban Barat. Kemajuan fisik serta kemegahan yang telah dicapai oleh Barat menyilaukan sebagian dari kita. Banyak yang berpikir, jika umat Islam ingin maju maka kita harus mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Barat.

Pandangan demikian pada akhirnya memunculkan sikap inferior di hadapan Barat. Peradaban yang sesungguhnya asing itu diperlakukan dengan penuh hormat dan takzim. Dipuja serta dipuji. Sementara, ketika menengok peradaban Islam, mereka menatap penuh malu dengan kemunduran, kemiskinan, dan keterpurukannya sendiri. Kondisi ini membuat Barat kemudian dimitoskan sebagai pencerah dan pembawa berita gembira. “Kita harus meniru Barat!” begitu kata beberapa cendekia (liberal) kita.

Akan tetapi tidak semua cendekia menatap Barat seperti itu. Masih ada orang-orang alim yang mampu memandang peradaban sekuler itu dengan pandangan hidupnya: Islam. Salah satu yang demikian itu ialah Adian Husaini. Melalui bukunya, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular-Liberal, Adian memandang Barat dengan cara yang berbeda dan bahkan berlawanan dengan yang biasa dijulur-julurkan para intelektual liberal.

Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini memperlakukan Barat sebagai sebuah data, sebuah fakta. Fakta data itu kemudian ditinjau, dibedah, dan ditimbang berdasarkan keyakinannya sebagai Muslim. Ini menarik. Hasilnya, buku 415 halaman ini menampilkan wajah peradaban Barat yang lain. Bukan Barat yang superior, tetapi Barat yang menyejarah dan memiliki banyak problem, khususnya dalam pandangan Islam.

Memahami Barat dengan cara pandang kita merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Sikap anti secara membabi buta terhadap Barat juga tidak baik. Sikap yang tepat dan bijak harus didepankan. Adian mengutip pendapat Dr Hamid Fahmy Zarkasyi mengenai sikap kita yang seharusnya terhadap Barat.

“Untuk mempertahankan dan mengembangkan peradaban Islam tidak berarti menolak mentah-mentah masuknya unsur-unsur peradaban asing. Sebaliknya, bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti bersikap permisif terhadap masuknya segala macam unsur dari peradaban lain tanpa proses adaptasi.” (hlm xxxiii).

Sikap seperti itulah yang seharusnya dimiliki umat Islam ketika memandang Barat dan sikap itulah yang dilakukan Adian dalam bukunya ini. Selama ini kita selalu disuguhkan pandangan bahwa Amerika itu maju, Eropa itu canggih, padahal kemajuan itu hanya di bidang fisik-material saja. Ketika berbicara hal-hal yang gaib, mereka justru mengalami kebangkrutan yang akut. Orang-orang yang sangat mengagungkan akal itu ternyata kebingungan ketika harus menjelaskan metafisika. Kemajuan teknologi ternyata hanya bentuk lain dari kecacatan Barat dalam memandang permasalahan ketuhanan dan dunia.

Hal ini dapat kita lacak dari perjalanan Barat yang pada akhirnya menjadi sekuler bahkan ateistik. Hal ini disebabkan oleh pandangan terhadap realitas yang problematis tadi. Celakanya Barat justru menganggap hal ini universal dan kemudian menyebarkannya melalui globalisasi. Tambah celaka ketika kaum cendekia (liberal) kita malah mengamini hal tersebut. Segala yang berasal dari Barat diserap secara bebas ke dunia Islam. Cara pandang Barat terhadap kaum homoseksual, misalnya, banyak diikuti oleh orang Islam. Banyak orang yang katanya cendekia itu mengorek dalil Islam untuk membenarkan laku homoseksual.

Hari ini yang terjadi bukan hanya globalisasi tetapi juga westernisasi, pembaratan. Perlahan-lahan umat Islam diseret untuk berubah menjadi Barat atau berpikir sebagaimana orang Barat berpikir. Secara perlahan, melalui berbagai pemikiran yang problematis dan rumit, kita sedang dipaksa untuk menjadi Barat; Barat yang sekuler.

Kenapa Barat menjadi sekuler? Dalam buku ini dosen pemikiran Islam di Universitas Ibn Khaldun ini menyajikan tiga jawaban. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problem teks Bibel. Dan ketiga, problem teologi Kristen (halaman 29).

Dalam sejarahnya, Barat sesungguhnya memiliki trauma tersendiri terhadap agama. Inkuisisi menjadikan agama, dalam pandangan orang Barat, sebagai sesuatu yang menakutkan. Agama selaras dengan sikap antipengetahuan dan tertutup terhadap pikiran kritis sekaligus kekejaman serta pembunuhan. Pengalaman bersama inkuisisi yang mengerikan itu membuat Barat trauma terhadap segala sesuatu yang berbau agama. Gambaran kekejaman inkuisisi bukan merupakan tuduhan semata. Hal itu diakui oleh orang Barat sendiri. Adian mengutip Peter De Rose dalam bukunya, Vicars if Christ: The Dark Side of Papacy, untuk menggambarkan hal ini:

“Betapa pun, inquisisi tersebut bukan hanya jahat saat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-20, tetapi ini juga jahat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-10 dan ke-11 saat di mana penyiksaan tidak disahkan dan laki-laki serta wanita dijamin dengan pengadilan yang fair. Ini juga jahat dibandingkan dengan zaman Diocletian, di mana tidak seorang pun disiksa dan dibunuh atas nama Jesus yang tersalib” (halaman 35).

Sementar itu, Bibel, sebagai sarana komunikasi formal orang Barat dengan Tuhan yang mereka yakini, ternyata menyimpan banyak persoalan. Teka-teki tentang siapa penulis Bibel masih menjadi misteri hingga saat ini. Richard Elliot Friedman dalam bukunya, Who Wrote the Bible, bahkan menyebutnya sebagai “It is one of the oldest puzzles in the world”. Bibel merupakan sebuah teka-teki paling tua di dunia. Berbagai persoalan yang ada pada Bibel menyebabkan kepercayaan orang Barat terhadap kitab ini sebagai sabda Tuhan kian menipis bahkan hilang (halaman 42).

Dan persoalan di atas makin rumit dengan persoalan teologi Kristen yang rumit. Pertentangan antara doktrin agama dan ilmu pengetahuan nyaris tak terselesaikan. Permasalahan antara akal dan teologi semakin tak terdamaikan Maka salah satu cara untuk menyelamatkan iman ialah dengan memisahkan agama dari urusan-urusan keduniawian.

Inilah yang menjadi persoalan. Barat pada akhirnya harus memisahkan wilayah agama dan wilayah dunia. Maka Barat telah menjadi sekuler seutuhnya. Jejaknya dapat dilacak ketika Immanuel Kant membuang metafisika dari wilayah pengetahuan.

Celakanya, Barat menganggap pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang universal. Melalui kolonialisasi dan kemudian globalisasi, Barat begitu bernafsu menyebarkan pandangan ini ke seantreo penjuru dunia. Maka tak mengherankan jika di dunia Islam paham-paham bermasalah itu begitu berseliweran.

Secara keseluruhan, buku tulisan lelaki kelahiran Bojonegoro, 17 Desember 1965, ini cukup tepat menggambarkan wajah peradaban Barat, khususnya Barat dalam cara pandang seorang Muslim. Buku ini berlandaskan pada 200 lebih rujukan, baik buku maupun jurnal dan terbitan lain. Banyak di antaranya merupakan sumber-sumber utama dalam kajian tentang Barat. Bukan hanya berbagai pandangan dari luar Barat tetapi banyak juga rujukan yang berasal dari Barat sendiri. Data-data yang dirujuk itu kemudian diteropong dalam kacamata Islam sehingga segala data dan fakta yang dipaparkan kemudian ditimbang berdasarkan sudut pandang Islam.

Jika para orientalis berani memandang Islam berdasarkan nilai-nilai yang mereka anut, maka ayah enam orang anak ini berani menilai Barat dari sudut pandang seorang Muslim. Penilaian yang objektif, ilmiah, didukung kekayaan data yang mencukupi sekaligus berlandaskan suatu keyakinan yang teguh. Harus diakui, setiap pandangan tidak ada yang murni bebas nilai. Ada nilai-nilai yang senantiasa mewarnai penilaian kita atas segala sesuatu.

Akan tetapi, penilaian terhadap Barat dengan kacamata yang tepat sebagai Muslim, tanpa inferioritas dan mitos keagungan Barat, serta dengan keberanian intelektual yang tertata apik, masih jarang ditemui. Buku ini sedikit dari yang jarang itu.

Sekalipun ada hal yang harus dikritik juga dari buku ini. Penulis terlalu banyak mengangkat hal-hal yang kasuistis dan terlalu “sekilas” dalam buku ini. Seperti mengangkat kasus film Buruan Cium Gue yang diprotes AA Gym untuk menunjukkan invasi pemikiran sekuler dalam kebudayaan (halaman 22—23). Jika kita membaca buku ini 20 tahun mendatang tentu dahi kita akan mengerut mengingat-ingat kasus tersebut.

Namun, hal tersebut tidak mengurangi keistimewaan buku ini. Penghargaan yang didapat Adian Husaini untuk buku ini dalam Islamic Book Fair 2006 menunjukkan hal tersebut. Secara akademis, berbagai literatur dan argumentasi yang dipaparkan tentu dapat menunjukkan pertanggungjawaban ilmiah buku ini. Masih jarang seorang penulis Indonesia menulis sebuah buku dengan lebih dari 200 literatur.

Akhir kata, buku ini sangat penting untuk dibaca oleh kaum Muslimin. Sebab, mengetahui sejarah Barat yang sedang menghegemoni dunia, termasuk dunia kita, ialah salah satu upaya untuk keluar dan melawan hegemoni tersebut.

judul buku

: Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular-Liberal.
penulis:Adian Husaini, MA
penerbit:Gema Insani Press, Jakarta, 2005
jumlah halaman:xxxvi + 415 halaman

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS