• Ikuti kami :

Meladeni Pengiblisan terhadap Islam: Resensi Ringkas "Islam dan Diabolisme Intelektual"

Dipublikasikan Ahad, 03 September 2017 dalam rubrik  Peristiwa

Judul Buku                  : Islam dan Diabolisme Intelektual
Penulis                        : Syamsuddin Arif
Penerbit                       :  INSISTS, Jakarta, 1438/2017
Halaman & Ukuran      : vi + 253 halaman; 14 x 21,5 cm
ISBN                            : 978-602-19985-7-1.

Akhir-akhir ini, Islam sering disudutkan sebagai agama penuh kekerasan dan miskin ilmu. Ulama dan tokoh umat diibliskan dan direndahkan dengan beragam stigma. Tuduhan mesum hingga koruptif senantiasa diproduksi untuk membongkar wibawa sosok-sosok panutan umat. Diam-diam telah terjadi social abuse yang amat masif terhadap umat Islam.

Kebrutalan wacana terhadap Islam dan para ulama tak hanya terjadi di ranah awam. Di tingkat pemikiran, hal ini pun kerap kita temui. Islam diperlakukan secara semena-mena atas nama kajian ilmiah. Menghadapi tantangan pemikiran sedemikian, seringkali umat terlihat keteteran. Bahasa-bahasa canggih yang biasa digunakan para “cendekia” brutal ini kerap membingungkan kalangan awam. Sikap sebagian kita terhadap hal ini seringkali menunjukan semacam kegagapan. Menolak tanpa argumen yang tangkas, atau menghujat tanpa pemahaman yang memadai. 

Memang orang-orang ini tampak begitu percaya diri. Makin lancang mereka mengibliskan Islam dan ulama, semakin tinggi mereka merasa pintar. Melecehkan umat, ajaran Islam dan ulama telah mereka anggap sebagai lencana intelektual paling mengkilap. Kaum beragama kerap mereka pandang enteng saja. Diremehkan sebagai kelompok terbelakang yang tak berani menggunakan akal dengan bebas. Mereka yang masih sedia mengikut pada ulama dianggap tak punya daya kritis. Kesetaraan dan keberanian berfikir dipuja-puja secara keliru. 

Islam dan Diabolisme Intelektual merupakan sebuah buku yang secara terbuka berani meladeni tantangan pemikiran tersebut. Meski judulnya cukup puitis dan elegan tetapi di dalamnya tersirat keberanian serta ketegasan. Bahkan menunjukan sikap yang cukup keras dari penulisnya: Dr. Syamsuddin Arif, seorang santri yang menekuni filsafat Islam hingga mendapat gelar Doktor.

Meski bernada keras, tak berarti buku ini dipenuhi caci maki, hujatan, pembid'ahan atau pengkafiran. Sebaliknya buku ini menawarkan kajian yang terbuka, yang tak hanya bersumber dari khazanah Islam, tetapi juga warisan Barat. Kekayaan sumber pemikiran dari buku ini menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat saja membaca dan mempelajari beragam pandangan tanpa harus kehilangan keyakinannya. 

Iseng-iseng saya menghitung judul yang tertera di daftar pustaka buku ini. Terdapat 428 judul buku dan artikel di sana. Jika tak salah hitung dan tak salah terka, 307 judul di antaranya berbahasa Inggris. Selain itu terdapat pula rujukan dalam bahasa Arab (42 judul), bahasa Indonesia (23 judul), bahasa Perancis (23 judul), bahasa Jerman (24 judul), bahasa Belanda (2 judul), bahasa Spanyol (2 judul), bahasa Italia (2 judul), bahasa Latin (2 judul) dan bahasa Yunani (1 judul). Nama-nama seperti Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, Jean-Paul Sartre, Jean-François Lyotard, Imam al-Ghazali, Fakhrudin ar-Razi, Ibn Taymiyyah, Ernest Renan hingga Syed Muhammad Naquib al-Attas dapat kita temukan di dalam daftar pustaka ini. 

Walau kaya dengan ratusan rujukan, harus diakui Islam dan Diabolisme Intelektual bukanlah sebuah buku dalam artian yang ketat. Ini adalah kumpulan tulisan dengan beragam tema. Dua puluh lima tulisan (beberapa diantaranya pernah dimuat dalam buku Orientalis & Diabolisme Pemikiran [Depok: GIP, 2007]) ditata sedemikian rupa hingga apa yang disampaikan dalam judul dapat kita rasakan dengan saksama. Dari artikel ke artikel, kita akan mendapati beragam penelahaan khas mengenai berbagai macam hal.

Beberapa artikel merupakan penjelasan dan juga jawaban dari isu-isu pemikiran yang marak dewasa ini. Persoalan-persoalan seperti sekularisme, pluralisme, liberalisme, feminisme dibahas Ustadz Syamsuddin dengan cara yang khas. Berbagai faham tersebut dijelaskan, ditunjukkan di mana letak kekeliruannya kemudian diterangkan bagaimana yang benar dalam pandangan Islam. Suatu rumus sederhana namun juga efektif memberi penerangan bagi pembaca buku ini.

Bukan hanya bahasan yang konseptual, respon terhadap isu-isu yang lebih praktis pun dapat kita temui dalam buku ini. Masalah pemimpin Non-Muslim, persoalan Ahmadiyah, masalah ketahanan keluarga hingga soal korupsi dikupas dengan bernas dalam artikel-artikel berbahasa renyah namun cukup mendalam. Keketatan logika dan saling kait antarkata, kalimat hingga paragraf membangun keutuhan yang cukup enak untuk dicerna. Seringkali kita membaca tulisan yang nampak terburu-buru dan begitu sesak dengan kehendak untuk menyampaikan banyak hal. Dalam buku ini, kita dapat menikmati kaitan satu kalimat dengan kalimat lain yang tersusun apik. Menunjukan kekuatan logika penulisnya yang cukup mumpuni.

Dua artikel pertama di dalam buku ini patut mendapat perhatian lebih. Keduanya tampak menjadi “payung” bagi keseluruhan wacana yang diurai. “Intelektual dan Ulama” dan “Diabolisme Intelektual” menggambarkan dengan rapi persoalan eksternal yang umat hadapi hari ini. Mengapa kebringasan, kebrutalan dan kebrangasan wacana terhadap Islam akhir-akhir ini begitu deras mengalir. 

Dalam “Intelektual dan Ulama”, Dr. Syamsuddin berkisah tentang citra intelektual di negeri-negeri Barat yang tampak tak ajeg, sedang (atau sudah) dirubuhkan wibawanya oleh kalangan mereka sendiri dan seperti tak memiliki makna yang kukuh. Siapa intelektual dan berhakkah mereka dihormati, menjadi perbincangan yang menarik di negeri-negeri Barat. Dari Perancis, Belgia, Amerika hingga Inggris, perdebatan mengenai masalah ini terus berlangsung. Perbalahan di antara mereka menunjukkan bahwa masyarakat Barat tidak memiliki keyakinan yang kuat pada otoritas tertentu. Termasuk otoritas intelektual. Kadang intelektual dipandang sebagai kaum yang naif, berumah di atas angin, arogan dan sok tahu.

“Sekarang semakin jelas bahwa intelektual ialah mereka yang sok tahu ikut campur urusan orang lain,” kata Jean-Paul Sartre sebagaimana dikutip Dr. Syam dalam bukunya.

Karut marut makna dan kedudukan intelektual di dunia Barat boleh jadi berasal dari sikap anti-otoritas yang memang merebak akut di sana. Faham kesetaraan dan kebebasan mendorong orang untuk bersikap urakan bahkan brangasan. Sikap ini lah yang seringkali dibebeki “cendekia-cendekia” kita. Sasarannya tentu bukan hanya kaum intelektual, tetapi tokoh umat. Ejekan hingga hinaan dengan nada skeptis terus digaungkan. Mereka mencoba mengekor “intelektual” Barat sana, memuja sikap eksentrik dan anarkis seperti diamalkan Jacques Derrida dan yang semacamnya. 

Citra dan persoalan intelektual dalam peradaban Barat sebenarnya tidak pernah dialami secara mirip dan sungguh-sungguh dalam peradaban Islam. Kadang kita melihat pemaksaan pengalaman Barat terhadap Islam. Jika di Barat terjadi ‘tragedi intelektual’ maka di dalam Islam pun “harus” terjadi yang demikian. Perbedaan cara pandang dan dasar-dasar falsafah kedua peradaban kerap diabaikan begitu saja. Apa yang dialami Barat sering dianggap universal dan kemudian diterapkan dengan paksa kepada Islam. Olah karena itu, tak heran jika kita menemukan sikap-sikap anti-otoritas tersebut bermunculan di beberapa kalangan kita yang malangnya mendaku diri sebagai cendekia.

Setelah membahas cukup rinci perkara intelektual di dunia Barat, Dr. Syam kemudian membahas bagaimana sebenarnya ulama dalam pandangan Islam. Tentu saja, sebagaimana dalam tradisi keilmuan Islam, pembahasan pertama disandarkan kepada al-Qur’an. Melalui tulisan ini kita dapat menimbang, siapa sebenarnya ulama yang dapat membimbing kita ke jalan yang benar. Berikut paragraf penutup yang cukup jelas dan lugas dari tulisan pembuka dalam buku ini:

Kendati lafaz ulama secara bahasa berarti orang berilmu, menurut Imam al-Ghazali, tidak semua orang berilmu layak menyandang gelar ulama. Hal ini karena, menurut beliau, keulamaan bukan semata-mata soal pengetahuan atau kepakaran, akan tetapi soal ketakwaan dan kedekatan pada Tuhan. Ulama sejati adalah mereka yang tidak hanya dalam dan luas ilmunya akan tetapi tinggi rasa takutnya kepada Allah dan bersih dari bayangan palsu (ightirar alias ghurur) mengenai dirinya. Beliau menamakan orang-orang berilmu yang mengidap penyakit rohani ini sebagai “ulama busuk” (‘ulama’ as-su’), yang tidak hanya sia-sia ilmunya akan tetapi justru membahayakan diri mereka sendiri maupun orang lain. Di zaman Nabi Musa, peran ‘ulama’ su’ ini dimainkan oleh as-Samiri. Adapun di zaman kita sekarang, ‘ulama’ semacam ini cenderung nyeleneh, suka memutarbalikkan yang benar dan yang salah, menisbikan kebenaran dan kebaikan atas nama hak asasi manusia (HAM), konstitusi dan demokrasi, menganjurkan sekularisme dan pluralisme, membolehkan perilaku LGBT, dan sebagainya (halaman 23).

Dalam “Diabolisme Intelektual”, Ustadz asli Betawi ini menjelaskan tentang Diábolos (Iblis dalam bahasa Yunani kuno) yang mengetahui dan mengakui keesaan Allah Swt tetapi menolak melaksanakan perintah-Nya. Istilah “diabolisme” diartikan sebagai pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis atau pengabdian kepadanya. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan, tak pula meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Ia dikutuk karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Oleh karena itu pengetahuan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan. Kepercayaan harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah. Mengutip gurunya, Profesor Naquib al-Attas, Dr. Syam menulis: Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission. 

Pada masa kini, banyak intelektual yang mengikuti gaya iblis ini. Ciri-cirinya ada tiga. Pertama, selalu membangkang dan membantah. Meskipun ia kenal, tahu dan paham, namun tidak pernah mau menerima kebenaran. Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Mereka menolak yang haq dan meremehkan orang lain. Orang-orang ini pula menuduh orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis dan konservatif. Sementara para pemikir liberal, relativistik dan skeptis, para peragu dan penolak kebenaran, disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan progresif. Ketiga, ialah mereka yang mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). 

Diabolisme pemikiran telah ada sejak lama dan al-Qur’an telah memberi petunjuk bagaimana menghadapinya. Berikut saran Ustadz Syam dalam menghadapi persoalan ini:

Al-Qur’an al-Karim pun telah mensinyalir: “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah SWT tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan oleh Allah agar senantiasa menyadari bahwa “sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik” (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab (halaman 28).

Paparan singkat di atas rasanya cukup untuk menjelaskan kedudukan buku ini. Tantangan pemikiran melalui wacana-wacana urakan sedia diladeni dengan tegas namun tetap terukur daya ilmiahnya. Seperti sikap yang masyhur di kalangan pendekar Betawi “Ente jual, Ane beli!”. Namun tidak serta merta buku ini mengajak berhantam secara terbuka, tetapi lebih sebagai ajakan untuk merenung secara mendalam. Hujatan dan kebrutalan wacana terhadap Islam tentu perlu juga disikapi. Kehormatan umat Islam perlu dibela dengan saksama.

Sebuah resensi yang baik (seperti dianjurkan Pak Gorys Keraf) haruslah menampilkan ulasan buku secara objektif. Artinya bukan hanya kelebihan buku yang dipaparkan tetapi kelemahannya juga. Begitu kepercayaan para pengajar bahasa Indonesia. Islam dan Diabolisme Intelektual tentu memiliki kekurangan yang perlu juga disebutkan, agar rumusan Pak Gorys tetap abadi.

Pada awalnya saya hendak mengkritisi tata letak buku ini, tetapi rasanya tak perlu. Buku ini memang tampak tidak terlalu banyak “didandani” secara tampilan. Namun kesederhanaan rupa itu justru menunjukkan keyakinan. Wajah yang menawan tak memerlukan bedak dan gincu untuk tampak menarik. Karya yang baik tak memerlukan “penghebohan” dengan gambar dan warna mencolok atau kata-kata bombastis untuk menarik pembacanya.

Mungkin ini saja. Pada bagian awal setiap tulisan, terdapat kutipan-kutipan dengan beraneka bahasa. Mulai dari bahasa Latin hingga bahasa Jawa. Rasanya pembaca Indonesia akan kerepotan jika harus membuka Google Translate setiap melihat beragam bahasa itu. Alangkah baiknya jika itu diterjemahkan. Sekali pun boleh jadi beragam bahasa tersebut dapat mendorong kita (pembaca) untuk mempelajari beragam bahasa. Hal lain yang perlu dikomentari ialah beberapa kesalahan pengetikan kata yang sebenarnya tidak terlalu berarti. Setiap penulis dan editor “terbiasa” meninggalkan beberapa kekeliruan kecil untuk menunjukkan bahwa buku dikelola oleh manusia yang tak lepas dari alpa. 

Akhirnya, dengan penuh apresiasi kita mengucapkan selamat kepada Dr. Syamsuddin Arif atas hadirnya Islam dan Diabolisme Intelektual. Di negeri berindeks minat baca hanya 0,001 (UNESCO, 2012), sebuah buku kumpulan tulisan dengan 428 judul rujukan dan lebih dari 10 bahasa ialah paradoks sekaligus harapan. Paradoks karena ada manusia Indonesia yang mampu berbuat demikian di negeri yang memprihatinkan (secara literasi) dan harapan buku ini dapat mendorong perbaikan budaya keberaksaraan itu.

Kita juga mendoakan agar di masa yang akan datang Dr. Syamsuddin dapat kembali menulis buku. Tak hanya kumpulan tulisan, tetapi buku utuh mengenai filsafat, tasawuf dan persoalan-persoalan pokok lain dalam peradaban kita. Bangsa dan umat ini sungguh-sungguh memerlukan karya-karya yang dapat mencerahkan fikiran, terutama yang ditulis dalam bahasa Indonesia.


Tulisan Terkait (Edisi Terkini)

IKLAN BARIS