• Ikuti kami :

Masjid Sebagai Jantung Kita: Politik, Kebudayaan, dan Kemasyarakatan

Dipublikasikan Jumat, 17 Februari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Masjid adalah sebuah kata yang akrab dalam benak kita. Di masjid kita berjamaah menyembah Dia Yang Mahaagung. Di masjid kita saling kenal mengenal dan saling kawan-berkawan antarsesama kita. Di masjid pula banyak tindakan keseharian kita hadir di sana. Kegiatan keseharian yang tidak melulu soal ritus ibadah.

Masjid, selain tempat kita menyembah Yang Ahad, adalah tempat menimba ilmu, khususnya soal agama. Di masjid banyak dari kita dibentuk karakternya untuk menjadi unggul lewat beragam kegiatan keilmuan. Di masjid pula banyak dari kita mendapatkan kemampuan-kemampuan yang memadai untuk mengarungi hidup.

Di bumi nusantara ini, masjid adalah salah satu bagian penting dari tradisi budaya sebagian besar orang-orang Indonesia. Di tanah Minangkabau, masjid adalah tempat hidup para lelaki dewasa yang belum menikah, para bujang. Di sana masjid diistilahkan sebagai surau. Di masjid (surau) itulah para bujang diberi kecukupan ilmu-ilmu, dari agama hingga bela diri. Begitu pula di tanah Betawi. Masjid adalah bagian yang penting dalam sejarah hidup orang-orang Betawi, khususnya di masa lampau.

Maka masjid adalah bagian yang penting dalam hidup kita.

Di Aceh tempo dulu, masjid tidak semata disebut dengan bangunan tempat peribadatan. Masjid di sana pada waktu itu memiliki peran penting sosial dan politik. Masjid Baiturrahman di Banda Aceh—Meuseugit Baiturrachman, menurut orang Aceh—menjadi simbol kesatuan politik raja-ulama. Ito Takeshi menyebutkan hal itu dalam disertasinya di Australian National University pada tahun 1984: “The World of Adat Aceh: A Historical Study of the Sultanate of Aceh”, khususnya pada halaman 77. Pada karya yang sama itu, Ito Takeshi juga menunjukkan, di mata orang-orang Aceh saat itu masjid tidak semata dipandang sebagai sebuah tempat, tetapi juga menjadi satuan administrasi politik. Namanya meunasah, sebagai administrasi politik negara yang terkecil, di bawah mukim.

Maka, di mata orang-orang Aceh, masjid jelas menjadi salah satu istilah politik.

Masjid juga menjadi lembaga hukum. Moehammad Hoesin, dalam bukunya, Adat Atjeh, terbitan tahun 1970, menyebutkan bahwa masjid juga digunakan untuk menyelesaikan persoalan antarpihak, disebut dengan hukom suloh (hukum perdamaian). Imeum meusigid (imam masjid) dan imeum mukim menjadi juru damai antarpihak bertikai. Penghukuman adat ini juga merambah kepada persoalan-persoalan tindak pidana (kriminal). Pendamaian ini harus dilakukan di masjid (hlm 170).

Masjid juga menjadi ajang perjuangan melawan penjajah. Banyak para pejuang yang juga santri melakukan penggalangan kekuatan di masjid. Masjid menjadi tempat manusia-manusia Muslim di nusantara untuk berpolitik mempertahankan bumi pertiwinya. Ali Hasjmy, dalam buku Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Militer Belanda, terbitan Bulan Bintang, tahun 1977, pada halaman 55 mengutip hasil pengkajian Anthony Reid yang menyebutkan bahwa syair Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil) yang terkenal itu dipampang di ruang meunasah (masjid) di pelosok-pelosok Aceh. Maka wajar kalau banyak sekali rakyat saat itu yang angkat senjata melawan pemerintah kolonial.

Dari masjidlah manusia-manusia Muslim mendulang karakter dan gagasan yang gilang-gemilang. Sedemikian dekatnya kita dengan masjid, bukan dari soal agama semata, dalam kehidupan tradisi adat kita pun masjid tidak terlepas darinya. Begitu pula di soal politik.

Dalam konsep tata kota yang Islami, masjid punya peran penting. Merujuk kepada gagasan madinah, yang diejawantahkan dalam bentuk Madinah yang di Arab sana, masjid berfungsi sebagai jantung kota. Dalam pandangan ulama-ulama berwibawa tempo dulu, sebuah kota tidak semata sebagai sebuah tempat atau wilayah. Kota dimajaskan sebagai organisme hidup oleh mereka. Setiap bagian kota dan masyarakatnya saling menyambung menjadi sebuah organisme hidup yang utuh. Di situ, masjid adalah jantung organisme hidup itu.

Masjid tidak semata sebuah bangunan atau tempat. Masjid dalam kacamata Muslim juga bermakna sebagai aktivitas peribadatan, baik yang mahdhah maupun muamalah. Ia menjadi tempat, simbol, juga semangat bagi manusia-manusia Muslim untuk menyembah Pencipta di segala lini, segala masa. Bagi Muslim di Indonesia, masjid adalah tempat, simbol, juga semangat politik kebangsaan dalam beribadah kepada Allah: menginsyafi, mencintai, menjaga, dan merawat Indonesia.  

Tulisan yang NuuN.id angkat kali ini adalah catatan seorang Muhammad Isa Anshary, anggota Partai Masyumi dan aktivis Muslim dari Persatuan Islam. Catatan beliau ini dimuat pada majalah Hikmah, edisi tahun ke IX, 22 Jumadil Akhir 1375/4 Februari 1956, halaman 21.
        
                                                                                ***
Dari Masjid ke Masyarakat dan Negara

Pernah saya menulis tentang “fungsi masjid dalam Islam”, agar semua kita kembali memahami sebenar-benarnya kepentingan kita mempunyai masjid dan meramaikannya sesuai dengan tuntutan agama.

Sesudah pemilihan umum ini hendaklah kita bertambah menyadari dan menggerakkan diri kita memenuhi suara azan yang didengungkan dari masjid, biar yang berbentuk ibadatnya, maupun muamalatnya dalam menyusun masyarakat, apalagi dengan hasil-hasil pemilihan umum ini lebih sadarlah kita akan bahaya materialism di depan kita.

Masjid benteng perjuangan kita!

Masjid pertahanan rohani kita.

Dari masjid ke masyarakat dan negara.

Untuk semuanya ini marilah kita menjelajah kembali.

Soalnya,

Riwayat yang akhir dari umat manusia ditutup dengan lahirnya seorang pemimpin mahabesar, yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi utusan, membawa amanat Illahi guna seluruh kemanusiaan, ialah Muhammad SAW.

Kepadanya dipercayakan pimpinan kehidupan manusia dan perjalanan kemanusiaan di segala abad sejarah, sepanjang keturunan dan angkatan Bani Adam, generasi demi generasi.

Ia datang ke dunia dengan Risalah dan Nubuwwah, menyampaikan amanat suci yang diterimanya langsung dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Risalatu’l qubrai yang diberikan kepadanya, bulat lengkap serta sempurna guna membina kehidupan menang dan meratakan salam dan bahagia bagi seluruh alam besar ini.

Dua puluh tiga tahun lamanya Rasulullah SAW menegakkan kehidupan menang itu dengan jihad-perjuangan yang penuh dengan kesungguhan dan kepastian. Jalan perjuangan yang ditempuhnya selama dua puluh tiga tahun itu, telah memberikan teladan luhur kepada umat pengikutnya. Ia telah memberikan sadaran-sadaran, corak serta bentuk yang nyata dan tentu-tentu, cara bagaimana agama dan keyakinan hidup ditegakkan di tengah-tengah pertemuan segala manusia ini.

Setiap langkah dan usahanya, gerak dan bangkitnya, mengatur dan menyusun umat baru, segala itu memberikan gambaran yang pasti bagi kita kaum Muslimin, ialah karakter, moral dan filosofi perjuangan yang belum ada sama dan taranya dalam riwayat umat manusia.

Historia perjuangan yang bermoral dan berkarakter itu didasarkan kepada pandangan dan filosofi hidup sepanjang ajaran Islam, dikemudikan oleh wahyu Illahi, melenyapkan rasa sangsi dan segala tidak pasti dalam dirinya.

Dalam dua puluh tiga tahun menegakkan kehidupan menang itu, Rasulullah SAW menempuh dua gelombang perjuangan, yang berlainan gaya dan caranya.

Gelombang pertama ialah zaman Makkah, dan gelombang kedua ialah zaman Madinah.

Gelombang perjuangan zaman Makkah, 13 tahun lamanya, Rasulullah SAW menegakkan ‘Aqidah Nafsiyah. Menegakkan tenaga iman dan tauhid dalam diri manusia, memerangi kufur dan syirik, tahayul dan khurafat. Zaman Makkah adalah zaman dakwah, menyeru dan memanggil umat manusia supaya mentauhidkan Allah SWT meninggalkan penyembahan arca dan berhala, memerdekakan jiwa manusia dari perbudakan alam dan benda.

Perjuangan gelombang zaman Makkah, merupakan gerakan—pembebasan ruhani, revolusi jiwa, membina pribadi Muslimin yang kuat dan tegap serta teguh. Menghilangkan ketidakpastian dalam diri umat manusia, menumbuhkan keyakinan dan akidah yang kuat dan kuasa.

Perjuangan menegakkan ‘Aqidah Islamiyah, memperbaiki perhubungan umat manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Meluruskan keyakinan dan keimanan, memberikan didikan peribadahan yang bertata dan bercara sesuai dengan sunnah Rasulullah itu sendiri.

Membina akidah dan mengatur ibadah dengan jalan dakwah dan tabligh, menanam rasa dan tenaga iman dalam batin dikerjakan oleh Rasulullah SAW.

Zaman dakwah ini dengan berjalan dengan segala kepastian dan kesungguhan 13 tahun lamanya. Tabligh dan dakwah Islamiyah itu bergerak memancarkan cahaya kesadaran dalam budi dan ruhani umat manusia, menggunakan hikmah kegunaan dan kebijaksanaan sebagai pedoman.

Setelah menempuh gunung kesulitan, pukulan dan ancaman dari pihak Quraisy, Rasulullah SAW berhasil mendapatkan umat pengikut yang setia, tidak banyak jumlahnya. Umat pengikut yang telah berkorban, mengikuti perjuangan Nabi dalam suka dan duka, siap dan sedia memberikan apa yang ada guna melancarkan jihad dalam menegakkan agama tauhid.

Maka turunlah perintah dari Allah SWT untuk melakukan hijrah: hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan lari untuk mencari keselamatan diri sendiri karena takut ancaman maut dari fihak kafir Quraisy. Tetapi hijrah memindahkan pusat dan markas perjuangan Islam ke tempat yang lebih strategis. Hijrah untuk menyusun barisan dan membina kekuatan.

Gelombang perjuangan yang kedua kali ini, ialah zaman Madinah, berbeda gaya dan cara serta lamanya dari gelombang yang pertama, zaman Makkah.

Di Madinah, Rasulullah SAW tidak lagi menitikberatkan perjuangannya kepada dakwah seperti di Makkah, tapi mewujudkan organisasi umat yang kuat, menegakkan Daulatil Islam, di mana syari’yah ijtima’iyahii  wajib berjalan.

Menegakkan syari’yah ijtima’iyah itu menghendaki adanya susunan dan organisasi umat yang kuat, adanya daulat atau negara yang teratur dan tersusun, pemerintah yang mempunyai gezagiii , kekuasaan yang ditaati.

Daulat tidak bisa ditegakkan tanpa quwwahiv  dan tanpa kekuatan.


Penyusun quwwah atau kekuatan, pembentuk mactsvormingv  beliau didasarkan kepada ukhuwwah Islamiyah itu, pembentukan mactsvorming itu beliau pusatkan di dalam masjid.

Masjid

Iqamatul masjidvi , itulah program perjuangan yang pertama dari Rasulullah, sewaktu beliau sampai di Kota Madinah.

Masjid bukan saja tempat sembahyang, bertekun dan munajad, tapi juga tempat menyusun kekuatan Islam, tempat membicarakan soal-soal perjuangan kaum Muslimin.

Dari masjid memancar segenap kegiatan dan perkembangan masyarakat. Minal masjid ilassiasahviii , dari masjid berpolitik, bermasyarakat, masjid pusat menegakkan kehidupan takwa!

Masjid benteng perjuangan dan pertahanan ruhani!

Masjid tempat memperkatakan dan memusyawaratkan soal-soal perjuangan umat Islam.

Itulah fungsi masjid dalam Islam, menurut sunnah kehidupan Rasulullah SAW.

Dari uraian yang kita bentangkan di atas, tegaslah kiranya, betapa salah dan kelirunya orang yang melarang atau menentang kaum Muslimin membicarakan soal-soal politik dalam masjid.

Yang tidak boleh ialah membicarakan “politik di luar Islam”, di dalam masjid politik Islam, di masjidlah tempat yang pertama-tama.

Pemerintah kolonial Belanda dulu tidak berani mencegah kaum Muslimin membicarakan politik di dalam masjid.

Alat-alat pemerintah kolonial dulu (polisi, tentara dan pamong praja) tidak serampangan berani melarang kaum Muslimin membicarakan politik dalam masjid, karena rupanya mereka tahu akan besar resikonya melakukan sikap yang demikian itu.

Melarang membicarakan politik Islam dalam masjid kaum Muslimin, adalah berani menutup masjid itu sendiri.

Dan bagi kaum Muslim sikap yang demikian itu dirasakan sebagai penjajahan agama.

Bagi kaum Muslim agama dan negara, Islam dan politik tidak dapat dipisahkan.

Islam dan politik, agama dan negara, adalah dwitunggal yang tidak boleh bercerai.

Semua ini telah kita perlihatkan selama ini dan akan kita laksanakan selanjutnya.

Harapan

Bertambahlah hendaknya activiteitviii kaum Muslimin menyemarakkan syiar masjidnya, meramaikannya dalam peribadatan serta menyusun masyarakat dan negara, serta membendung materialism yang akan meracuni jiwa itu. Dari masjid kita menempa diri!

Insya Allah jika masjid kita yang beribu-ribu itu kita sama pelihara dan kita ramaikan dengan ibadah, dan segala ketentuan-ketentuan yang digariskan agama, maka kita bersama akan melihat perjuangan kita yang selalu bergerak maju dengan mempunyai benteng pertahanan ruhani yang kokoh kuat.


                                                                                    ***


i.    Risalah besar (utama)
ii.   Penerapan hukum  (ibadah) pada tingkatan sosial
iii.  Kewenangan
iv.  Kekuasaan
v.   Pembikinan tenaga, pembikinan kuasa
vi.  Perjuangan menyusun kekuatan umat islam dengan memusatkan segala aktivitasnya ke dalam masjid
vii.  Dari masjid menuju politik pengaturan
viii. Aktivitas, kegiatan

Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS