• Ikuti kami :

Masih Ada Cina di Antara Kita

Dipublikasikan Jumat, 18 April 2014 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Suatu hari di Komunitas NuuN …

Entah ada geledek dari mana. Jika betul ada geledek, mana suaranya? Maret kemarin, SBY tiba-tiba meneken keppres penggantian sebutan “Cina”, yang diganti dengan “Tiongkok” dan “Tionghoa”. Keppres? Terus terang saja, saya ini lebih penasaran sama keppres itu daripada nyari geledek yang saya singgung tadi. Biasa, itu cuma eksyen. SBY beralasan, istilah itu diganti lantaran dinilai “telah menimbulkan dampak psikososial-diskriminatif dalam hubungan sosial warga bangsa Indonesia dari keturunan Tionghoa”. Masya Allah, toleran betul.

Permintaan pengubahan sebutan “Cina” itu datang dari Kedutaan Besar Cina. Kabarnya, permintaan itu berkaitan dengan keterjajahan yang pernah Cina alami. Ada rasa trauma di sana. Pasalnya, dulu, ketika orang Jepang menjajah Cina, mereka menggunakan sebutan “shina” untuk menghina orang Cina. Akhirnya, Bapak Presiden SBY mewakili Indonesia untuk mengamini permintaan Kedutaan Besar Cina itu.

Tapi, sebenarnya apa salah Cina? Belum lama ini, Remy Sylado mengatakan kepada Tempo bahwa istilah “Cina” itu memang ada di Cina sana. Remy bilang, kata Cina ada dalam kamus bahasa Cina dan aksara Cina. Itu berarti, orang Cina juga ada yang menyebut diri mereka Cina.

Sebutan “Cina” di Indonesia berubah jadi bernada negatif juga bukan sepenuhnya salah Indonesia. Menurut Remy, itu ada hubungannya dengan pembentukan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Baperki ini didirikan orang-orang Cina di Indonesia pada 1954, tujuannya untuk “mewarganegarakan” orang-orang Cina di Indonesia. “Namun pada akhirnya Baperki berkiblat ke komunis, di sini akhirnya Tionghoa jadi berkonotasi komunis,” begitu katanya.

Masalah Cina-Tiongkok-Tionghoa ini ternyata pernah pula disinggung Ajip Rosidi. Di koran Pikiran  Pikiran Rakyat, Ajip Rosidi bertutur bahwa pemakaian kata Cina dalam bahasa Melayu sejak dulu sudah dianggap wajar. Kata Cina dalam bahasa Melayu bahkan sudah sampai masuk ke dalam peribahasa dan menjadi ungkapan yang biasa digunakan sehari-hari tanpa ada kandungan penghinaan. “Misalnya,” kata Ajip, “peribahasa yang berbunyi ‘bagai Cina karam’ atau ungkapan ‘baju potongan Cina’. Dalam bahasa Sunda juga ada peribahasa yang berbunyi ‘jiga Cina dipangwayangkeun’.”

Ajip menyoroti betapa mudahnya kita menyesuaikan diri dengan kehendak orang lain, terutama jika orang lain itu datang dari bangsa yang dianggap lebih kuat kedudukannya. Hal itu membuat kita melupakan posisi kita yang harusnya membela kedaulatan berbahasa kita. “Bukankah kita juga tidak meminta orang Cina dalam bahasanya menuliskan nama bangsa dan negara kita agar sesuai dengan kehendak kita, padahal dengan huruf cakar ayam itu entah bagaimana bunyi ‘Indonesia’ mereka ucapkan.”

Sapardi Djoko Damono, penyair hujan itu, juga ikut urun rembuk. Di majalah Tempo, Sapardi juga mempertanyakan konotasi negatif macam apa yang membuat sebutan “Cina” sampai mesti diganti. "Padahal, di Indonesia, negara yang punya banyak suku bangsa ini, memanggil dengan sebutan suku seseorang tidak selalu bermaksud negatif. Bahkan menurut sepemandangan saya, itu justru lambang keakraban dan cara alternatif dari orang Indonesia dalam menjalin persatuan dan kesatuan. “Belum pernah juga saya dengar protes kalau ada mahasiswa Jawa berteriak kepada teman kuliahnya yang berasal dari Tarutung, ‘He, Batak lu!’” kata Sapardi.

Belakangan, untuk menyiasati kesan negatif yang ada dan tiada itu, beberapa media mengganti sebutan “Cina” dengan “China”, yang dibaca “caina”. Sapardi justru bingung dengan kelakuan macam itu. “Kalau ada mahasiswa Sunda bertanya kepada temannya, ‘Kamu Cina, ya?’ apa juga harus diganti dengan “Kamu China (ucapannya Caina), ya?’” Ya ampun.

Di satu sisi, masih menurut Sapardi, penggunaan “China” juga mengacak-acak sistem kebahasaan kita. Apa pasal? Sebab, susunan huruf “chi” itu jika diucapkan dengan cara Indonesia tetap berbunyi “ci”, atau malah berbunyi “khi” seperti bunyi “kha” dalam “Chairil”.

Meski mempertanyakan, pada dasarnya Sapardi tidak bermasalah jika sebutan “Cina” betul-betul mau diganti dengan “Tionghoa” dan “Tiongkok”, sebutan yang dianggap lebih netral. Tapi, menurut Sapardi, kalau begitu petai cina juga mesti ikut diganti jadi petai tiongkok. Mungkin itu supaya petai cina tidak kehilangan jati dirinya. Meski mengaku tidak bermasalah, Sapardi merasa sebutan itu lebih baik tidak perlu diganti karena sejatinya konotasi negatif dalam sepatah kata itu tergantung pada situasi pembicaraannya, dan itu wajar saja. Lagipula, “Bukankah kita tidak harus mengikuti kehendak pihak atau bangsa lain kalau hal itu mengintervensi sistem kebahasaan (dan sistem berpikir) kita?” Demikianlah Sapardi menutup artikelnya itu. Bangga saya.

Diskusi macam ini ternyata juga merambat sampai ke akar rumput. Teman saya, yang mengaku bernama Ali Syariati—tanpa perlu saya jelaskan pun kita paham bahwa ini bukan nama sebenarnya—meradang. Dia nekat nggak mau sama sekali mengikuti keputusan pemerintah itu. Dia nggak mau sama sekali mengubah nama yang sudah lumrah dan berurat berakar itu, ya Cina itu. Jangankan disuruh mengubah istilah Cina, hape Cina pun dia nggak mau pakai. “Pokoknya ketimbang buatan Cina, mendingan pakai produk Yahudi,” katanya suatu kali sambil berapi-api, sekaligus muncrat-muncrat.

Tenang, itu bukan berarti dia anti-Cina, tapi dia memang begitu. Asal tahu saja, dia itu orang Aceh. Jadi, saya juga sama sekali tidak heran dia melakukan pembangkangan macam begitu. Emang dasar dia orang Aceh, keras kepala betul dia. Kita semua sama-sama tahu, atau kalau yang belum tahu silakan cari tahu, ya minimal gugling-lah, betapa susahnya orang Aceh dikasih pengertian. Dulu, kompeni pernah mencobanya. Mereka bilang bahwa Aceh harus menuruti kemauan dan tunduk kepada mereka. Tapi, apa jawab orang Aceh? Teuku Umar dan Cut Nyak Dien malah masuk hutan. Mereka nggak mau nurut sama sekali. Kita juga tahu betapa susahnya GAM diajak diskusi. Pemerintah dari yang paling otoriter sampai yang paling cemen kewalahan menghadapi mereka. Kombatan GAM itu kalau dicari ke hutan, mereka naik ke gunung. Dikejar ke gunung, malah hilang, kabarnya mereka turun ke hutan lagi. Bertahun-tahun begitu terus. Bahkan, saking dahsyatnya perlawanan orang Aceh, ketika akhirnya mereka sepakat mau berdamai, keputusan itu sampai membuat SBY masuk nominasi peraih Nobel perdamaian. Sebab, menurut penilaian staf ahli presiden, perdamaian itu tercipta berkat andil besar dan arahan Bapak Presiden.

Tapi, ternyata Bapak SBY nggak jadi dapat itu penghargaan. Dia dikalahkan Obama. Ya gimana, kan yang kerja JK. Trembelane!

Pernyataan Ali tadi ternyata didukung teman saya yang satu lagi, inisialnya TSA. Jangan pada protes, ya. Saya kadang-kadang juga suka manggil orang pake inisial, contohnya SBY. TSA sepakat dengan Ali Syariati tentang produk Yahudi. “Nah itu ente tahu. Produk Yahudi emang lebih ampuh dari produk Cina. Facebook, WA, Twitter yang katanya buatan Yahudi itu telah memberi manfaat bagi semesta alam.” Lihat itu, ada benarnya juga dia. Tapi, ternyata dia belum selesai bicara. “Orang Cina juga sudah berbuat untuk seluruh alam walaupun manfaatnya diijon.” Percaya sama saya, dia memang paham betul masalah ijon ini.

Ceritanya, dulu, di kampungnya, di Rancaekek, Bandung, sana, dia sering melihat langsung kasus ijon macam itu. Ada sawah, yang masih pada hijau tangkai batang padinya, sudah dikasih persekot. Petani sebenarnya kewalahan. Mau menolak, takut nggak balik modal. Mau menerima, jelas nggak akan balik modal. Tapi setidaknya mereka dapat kejelasan. Maksud saya, duit yang jelas. Duit di depan mata itu akhirnya mereka terima dengan penuh pengertian dan toleransi. Dengan duit ala kadarnya itu, ternyata mereka masih bisa bertani, mengambil bibit, dan mengangkut pupuk. Bahkan, mereka bisa menyekolahkan anak mereka sampai tingkat yang cukup untuk menjadi petani lagi, minimal petani penggaraplah. Hebat petani-petani ini. Mereka betul-betul orang Indonesia yang otentik: tangguh luar biasa, tahan cuaca, dan ulet menghadapi rezim.

Diskusi makin panas. Reza, jagoan Setu Babakan dan wilayah sekitarnya, angkat suara. Keturunan jauh dari Bang Pitung ini makin mangkel setelah tahu makna “Tiongkok” pada bahasa aslinya. “Tiongkok itu zhongguo, yang berarti ‘kerajaan/negeri’ dan ‘pusat’ atau ‘pusat dari peradaban’,” katanya. “Penamaan ini bermasalah karena menimbulkan kesan superioritas orang-orang Cina terhadap bangsa-bangsa lain.” Jelas sudah, dia juga nggak mau menyebut Cina sebagai Tiongkok. Anak Betawi yang lama sekolah ekonomi ini percaya, tidak ada faedahnya penggantian sebutan “Cina” jadi “Tiongkok” itu. Yang ada, itu malah merayakan inferioritas. “Pokoknya gua kagak mau!” akhirnya Betawinya keluar juga.

Cina memang negara yang sedang besar-besarnya. Produk domestik bruto mereka tingginya melangit. Bahkan, tahun 2049 nanti, naga-naganya PDB Cina bakal mendominasi 49% PDB dunia. Opo ora edan! Saat ini, negara adidaya macam Amerika Serikat saja sampai berutang banyak ke Cina. Ada datanya, bahwa sampai Oktober 2013, Cina sudah memegang obligasi AS hingga total 1,27 triliun dolar AS. Masya Allah, apa itu duit semua?

Kekuatan militer Cina juga susah dianggap enteng. Dengan penduduk yang dari dulu sudah satu miliar itu, mari kita bayangkan berapa banyak personel tentara Cina sekarang. Itu baru yang resmi, belum lagi jika kita hitung pendekar kung fu yang bertebaran di sana. Anggaran militer Cina juga naik setiap tahun. Tahun ini, anggaran militer mereka 132 miliar dolar AS, itu naik 12,2 persen dari tahun lalu. Dengan kurs dolar yang 11 ribuan, berarti anggaran Cina itu senilai lebih dari 1.000 triliun rupiah. Entah peluru macam apa yang mau dibeli Cina dengan duit sebanyak itu. Sebagai perbandingan, anggaran militer Indonesia tahun ini 81,8 triliun rupiah.

Dengan anggaran sebesar itu, maka Cina semangkin terlihat digdaya, bahkan jemawa. Buktinya, sekarang Cina sudah berani berebut wilayah dengan Jepang. Nama besar Jepang ternyata tidak membuat Cina gentar untuk rebutan Pulau Senkaku. Cina tidak takut sama sekali, padahal Jepang itu negara yang pernah menjajah mereka.

Jepang itu jelas negara besar. Dulu, “pasukan orang katai” itu yang mengusir kompeni dari Indonesia, dan mereka juga yang mensponsori lahirnya romusha. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan sponsor tunggalnya. Tapi, itu dulu. Sekarang semua sudah berlalu dan hubungan baik Indonesia-Jepang sudah terjalin. Proses saling tukar budaya pun terjadi dengan penuh nuansa persahabatan: Indonesia mengirim jaipong ke Jepang, Jepang mengirim Doraemon.

Wajarlah jika Cina terlihat begitu gagah perkasa saat ini. Dengan semua tampilan yang menjanjikan kedahsyatan itu, negara mana yang berani adu kepala dengan Cina sekarang? Hampir tidak ada. Jadi, apa sekarang ungkapan nasionalis ekstrem “right or wrong is my country” masih berlaku? No, my friend. This time, right or wrong is made in China.

Sekali lagi saya katakan, kata Cina yang dipakai di Indonesia tidak selalunya bermuatan negatif. “Nenek moyang kita sejak lama menggunakan kata Cina untuk menunjuk orang dan negeri dari ras Mongoloid,” kata si Reza yang ngutip omongannya Remy Sylado. Dia bilang begitu bukannya tanpa dasar. Faktanya, sejak dulu sudah ada istilah yang mengandung kata cina yang sekarang akrab kita pakai, misalnya ya “petai cina” itu tadi, “pacar cina”, juga “tinta cina”. Reza bilang, orang Indonesia, terutama orang Islamnya, bahkan sudah memuliakan negeri Cina sejak dulu sekali. Sebab, orang Islam sudah kadung akrab dengan peribahasa “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Itu jelas kesan yang baik, bahkan mulia. Jadi, masalahnya apa kok minta diganti?

“Permintaan ini bersifat politis. Padahal, tidak ada kedutaan besar negara lain yang protes sama penamaan kita terhadap negara mereka. Maka itu, saya dengan kesadaran diri dan rasa hormat kepada sejarah dan budaya Indonesia, memilih tetap menggunakan kata Cina,” kata Reza dengan penuh rasa keindonesiaan.

“Lagipula, yang minta itu cuma kedutaan besarnya, bukan Presiden Cina,” kata Mutia, teman saya yang lain lagi. “Kalau Xi Jinping yang minta, baru kita kasih.” Galak betul dia. Maklum, ibu hamil.

“Orang Cina boleh minta disebut ‘Tionghoa’, asal mereka panggil orang Islam ‘khalifah fil ardh’, jangan panggil ‘pribumi’!” itu serangan balasan dari TSA. Rasain lu!

Baiklah, risalah ini kayaknya mesti segera disuarakan. Supaya orang Cina terbiasa jadi orang Indonesia dan nggak pada gampang tersinggung.

Wallahua’lam bishawab.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS