• Ikuti kami :

MALAY ARCHIPELAGO: Simpul Sejarah, Persaudaraan, dan Pandangan Alam

Dipublikasikan Selasa, 14 Februari 2017 dalam rubrik  Tafakur
“Together with the historical factor, the religious and language factors began setting in motion the process towards a national consciousness …. The coming of Islam constituted the inauguration of a new period in the history of the Malay-Indonesian Archipelago.” Syed Muhammad Naquib al-Attas


Berbicara tentang peradaban Kepulauan Melayu-Indonesia, kita tidak bisa lepas dari pengaruh sejarah dan kebudayaan Islam yang telah menghasilkan perubahan besar terhadap cara pandang masyarakat setempat mengenai realitas dan eksistensi menjadi suatu pandangan alam (worldview) Islam. Ia juga berperan penting dalam mengubah setiap makna istilah-istilah kunci dalam bahasa Melayu (Jāwī) yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam melalui proses yang disebut Islamisasi. Pada tahap selanjutnya, penyebaran Islam semakin meluas dan diterima dengan lahirnya karya-karya ulung para ulama dan cerdik cendekia dari pelbagai bidang keilmuan. Kelak, faktor-faktor tersebut menjadi penyebab utama terangkatnya peradaban Melayu-Indonesia pada tingkatan sebuah bangsa yang besar nan agung di persada dunia.

Simpul Sejarah

Syahdan, Ibn Baṭṭūtah (w 1377) menempuh perjalanan jalur darat selama 40 hari dari Sunur Kawan (Suvarna-Gramma, Golden Town) di India menuju negeri Jawa Kecil (yakni Sumatra) pada paruh pertama abad ke-14. Tepatnya di sebuah bandar yang terletak di pesisir pantai Sarha (al-Sarḥā). Kota ini dipimpin oleh raja bergelar al-Malik al-Ẓāhir, seorang sultan yang dikenal rendah hati (tawāḍuʿ) dan bermazhab Syāfiʿī, serta hormat kepada ulama dengan senantiasa bersama-sama rakyatnya menghadiri majelis ilmu. Bahkan, ketika bepergian jauh, beliau meminta beberapa penasihatnya dari kalangan ulama agar selalu mendampinginya.

Jauh sebelum pengembara Italia, Marco Polo, menginjakkan kaki di Sumatra pada tahun 1292 M, penyebaran Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia telah lebih dahulu berlangsung oleh para ulama dan mubaligh dari Jazirah Arab sekitar abad ke-9 M dan ke-10 M atau bahkan sebelumnya. Pengaruh Islam semakin meluas, al-Muḥibī menyebutkan dalam kitabnya, Khulāṣah al-Āthār, bahwa tidak kurang dari 30 ulama terkemuka dari keluarga Aydarusiyyah yang terpusat di Tarim telah mengembara ke Ḥaramayn, lalu ke India hingga ke Kepulauan Melayu-Indonesia pada abad ke-16 M hingga ke-17 M. Faktor pendorongnya jelas, ada agenda besar yang diemban serta rancangan strategi yang serius, tidak lain karena semangat dakwah dan keyakinan teguh akan kebenaran agama Islam. Walaupun tanpa bantuan kekuasaan dan senjata, Islam bisa diterima dengan tangan terbuka oleh penduduk setempat dan berasimilasi dengan kekuatan politik yang sedia ada, sehingga kerajaan Islam mampu bertapak di berbagai wilayah tanah Melayu ini.

Sebagai suatu proses sejarah dan budaya, penyebaran Islam di kepulauan ini, menurut Prof al-Attas, terbagi dalam tiga tahap. Pertama, tahun 578—805 H/ 1200—1400 M, tahapan ini juga disebut sebagai pengislaman “raga”, yakni hukum-hakam atau fikih berperan besar dalam menafsirkan syariah dalam mengislamkan masyarakat Melayu. Konsep dasar ilmu tawhīd belum diperkenalkan lebih jauh sebab dominasi pengaruh ajaran sebelum Islam masih sangat kuat.

Kedua, tahun 803—1112 H/ 1400—1700 M adalah kelanjutan dari tahap awal yang mana penafsiran hukum agama berpindah ke ilmu tasawwuf dan kalām untuk mengislamkan “jiwa”. Konsep-konsep dasar ilmu tawhīd juga telah diperkenalkan secara mendalam sesuai dengan pandangan alam (worldview) Islam.

Ketiga, tahun 1112 H/1700 M dan seterusnya, yaitu kelanjutan tahap I dan penyempurnaan tahap II yang pada umumnya berhasil. Bersamaan dengan proses Islamisasi di atas, pemahaman istilah Melayu bukan lagi merujuk pada suku atau etnik tertentu, melainkan sejatinya dimaksudkan kepada hakikat bangsa yang berperadaban tinggi sebagaimana terefleksikan dalam entitas ummah yang telah menyerap spirit dan nilai-nilai Islam. Sehingga seseorang dikatakan Melayu jika beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat-resam Melayu.

Peradaban bangsa Melayu begitu dikagumi, mulai dari Aceh hingga Pahang, dari Bima hingga Mindanau, dari Jawa hingga Patani, dari Padang hingga Kedah, dari Riau-Lingga hingga Johor, dari Palembang hingga Perlis, dari Champa hingga Tapanuli, dari Bugis-Makassar hingga Temasek, semua disatupadukan oleh agama melalui bahasa Melayu (bahasa Jāwī) yang mengandung makna-makna nilai Islam pada term-term kunci seperti sulṭān, wilāyah, mushāwarah, ʿadl, adab, ʿilm, dan hikmah serta lain sebagainya.

Maka tidaklah mengherankan jika kolonialisme bersama misinya gagal mengubah peradaban rakyat Melayu ini secara total, karena masyarakatnya lebih memilih membela bangsanya yang didasari pada kesadaran keyakinan agama Islam sebagai panduan hidup, hingga bagian paling substansial yaitu bahasa. Fakta telah membuktikan, ajaran kepercayaan agama terdahulu yang bersendikan estetika sebelum kedatangan Islam tidak mampu memengaruhi masyarakat Melayu untuk melahirkan karya otoritatif sebagai pemikir dan filosof ulung.

Para bijak-pandai bangsa ini telah berhasil menyikapi fakta sejarah dan peradaban bangsanya tidak semata-mata sesuatu yang hanya berada di luar akal pikiran insan sebagai kewujudan yang objektif, tetapi juga memperhitungkannya sesuai nilai-nilai pandangan Islam. Keberhasilan menyingkap hakikat sejarah mereka sendiri bukan dengan mengkaji begitu saja tentang nasib kehidupan bangsa ini, tetapi terlebih dahulu menentukan secara teliti dan mendalam objek penting yang akan dikaji, memilah dan memilih dari pelbagai bahan-bahan kajian yang tak terbatas, serta merumuskan laporannya secara saksama untuk memberi gambaran sifat-sifat bangsanya yang sesungguhnya melalui tahap-tahap saintifik.

Persaudaraan dalam Bingkai Budaya Ilmu

Peradaban bangsa Melayu dikenal tidak mewariskan peninggalan fisik seperti tugu, candi, dan patung-patung sesembahan pada pahatan dan wayang, tetapi para ilmuwannya telah mewariskan sumbangan intelektual dalam bahasa dan tulisan ilmiah yang berkaitan dengan ontologi, kosmologi, dan psikologi. Rahasia-rahasia yang terkandung dalam karya-karya mereka tidak saja menawan rasa, jiwa, hasrat jasmani, dan membuat takjub terpesona, tetapi yang terpenting adalah mampu menerangi akal pikiran dan daya budi generasi bangsa yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Berawal dari inspirasi al-Qur’ān dan tradisi ilmu Islam, sehingga dirumuskan suatu batasan-batasan kebenaran bagi setiap ilmu pengetahuan dengan mengklasifikasi ilmu kepada fardhu ayn dan fardhu kifāyah untuk keberaturan dalam mempelajari pelbagai ilmu yang sesuai dengan jiwa dan raga insan. Ketika merujuk pada falsafah sejarahnya yang mencerminkan pandangan alam (worldview) serta epistemologi Islam, akan tampak kerangka ilmu yang melahirkan suatu kaidah yang bersifat tauhid, yakni mempersatukan, bukan sesuatu yang dipisah-pisah dan dipetak-petakkan. Keharmonisan pada semua cabang ilmu pengetahuan Islam ini menjadi dasar persaudaraan oleh para ulama dan penyebar agama Islam dalam sebuah budaya ilmu.

Berikut jaringan ulama Kepulauan Melayu-Indonesia pada abad ke-17 yang memainkan peranan penting dalam membentuk pemikiran dan praktik keagamaan masyarakat Muslim di negeri bawah angin (zirbad, Persia). Adalah Hamzah Fanṣūrī [w 1607] dan Shams al-Dīn al-Sumatrānī [w 1630]. Generasi selanjutnya tercatat nama Nūr al-Dīn al-Rānīrī [w 1658] yang pernah menjabat syekh Islam di Kesultanan Aceh pada tahun 1637 dan disebut sebagai penyambung mata rantai tradisi Islam di Timur Tengah (Ḥaramayn) dengan tradisi Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia.

Abd al-Ra’ūf al-Sinkīlī [w 1693] dengan murid-muridnya Burhān al-Dīn di Ulakan-Minangkabau, Dawud al-Jāwī al-Fanṣūrī [w 1693] di Aceh, Abd al-Malik ibnʿAbdullāh [w 1736] atau dikenal dengan Tok Pulau Manis di Semenanjung Melayu-Trengganu, Abd Muhyī [w 1738] di Tasikmalaya-Jawa Barat, dan Muhammad Yūsuf al-Makassarī [w 1699] yang juga dikenal sebagai Tuanta Salamaka dari Gowa (guru kami yang diberkati dari Gowa).

Muhammad Yūsuf al-Makassarī juga adalah murid Nūr al-Dīn al-Rānīrī dan pernah menjadi mufti serta penasihat Kesultanan Banten di bawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa [w 1683]. Di antara muridnya sewaktu menetap di Makkah adalah Abd al-Bashīr al-Harīr al-Raffānī dari Rappang di Sulawesi Selatan, ʿAbd al-Qādir Karaeng Jeno di Sulawesi, dan Pangeran ʿAbd al-Qahhār di Banten.

Adapun pembesar ulama sepanjang abad ke-18 hingga abad ke-20 adalah Shihāb al-Dīn ibn ʿAbdillāh Muhammad, Kemas Fakhr al-Dīn, Kemas Muhammad ibn Ahmad, Muhammad Muhy al-Dīn ibn Shihāb al-Dīn, dan ʿAbd Ṣamad al-Fālimbānī [w 1789]. Sebagian mereka berasal dari Palembang di Sumatra Barat. Meskipun hidup ʿAbd Ṣamad al-Fālimbānī banyak menetap di Haramayn, beliau tetap membangun komunitas Jāwī di Makkah bersama Muhammad Arshad al-Banjarī [w 1812], ʿAbd al-Wahhāb al-Būgīsī, `Abd al-Rahmān al-Batawī, dan Dāwūd al-Fatanī [w 1847]—ulama berpengaruh di Patani Dār al-Salām atau juga dikenal dengan negeri impian masa silam yang meliputi Narathiwat, Yala, Songkhla, dan Pattani—sebagai keprihatinan terhadap kondisi yang terjadi di tanah Melayu. Ada pula Raja `Ali Haji [1873] di Riau-Lingga.

Di akhir abad ke-19, tersebut nama Ahmad Khatīb al-Sambas [1878] dan Nawawī al-Bantānī al-Jawī [1897] yang menjadi ulama ulung dan guru utama bagi komunitas Melayu di Haramayn. Hingga paruh pertama abad ke-20, tercatat nama besar yaitu Hāsyim Asyʿarī [w 1947] dari Jombang di Jawa Timur.

Tokoh-tokoh besar Melayu-Jāwī tersebut adalah mahaguru yang tahu dan kenal menghargai ilmu dan ulama dengan menempatkan keduanya di tempat sepatutnya sehingga mencerminkan adab setaraf dengan kedudukannya. Mereka adalah mujadid dan mujahid yang menjadi inspirator perlawanan dalam mengusir penjajah kolonial. Semangat jihad mereka melampaui zamannya untuk mempertahankan setiap jengkal tanah ibu pertiwi yang katanya gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang melimpah). Panduannya berdasarkan pada wahyu Nabi yang kemudian disebarkan secara turun-temurun melalui lisan dan pengamalan syariat pada maqam iḥsān (tasawwuf), hingga sampailah pada masa sekarang di tempat kita berpijak. Kenyataan ini mengentak kesadaran kita bahwa melalui perjuangan dan jasa mereka Islam masih terus bertahan dan menjadi agama terbesar di tanah bertuah ini.

Kesatuan Pandangan Alam (Worldview)

Islam memainkan peranan penting sebagai pemersatu bangsa dan membangun peradaban Kepulauan Melayu-Indonesia dengan mengangkat bahasa Melayu sebagai bahasa perantara (lingua franca), sebagai bahasa sastra dan ilmu dalam kesusastraan falsafah Islam, serta menjadikannya bahasa kedua terbesar di dunia Islam. Di samping itu, Islam juga menjadikan tulisan Jāwī sebagai tulisan ilmiah dengan penyerapan istilah-istilah Islam dalam kesusastraan Melayu yang berunsur intelektualisme dan rasionalisme Islam. Begitu juga dengan aspek falsafah dan tasawwuf turut serta memberi sentuhan Islam pada pikiran dan jiwa masyarakat Melayu-Indonesia. Faktor-faktor pandangan alam inilah yang menanamkan kesadaran paham kebangsaan serta berhasil menyatupadukan seluruh Kepulauan Melayu-Indonesia yang ditandai dengan didirikannya pelbagai kesultanan Muslim sebagai pusat penyebaran agama, teologi, dan falsafah Islam ke seluruh pelosok negeri.

Selain dari itu, karakter inklusif dan eksklusif dalam berprinsip adalah ciri khas sebagai masyarakat Melayu yang berpegang teguh dan istiqamah mempertahankan nilai-nilai Islam, serta terbuka melakukan interaksi (muʿāmalah) dengan penganut agama lain. Tanpa Islam sebagai identitas dan jati diri, bangsa ini bukanlah apa-apa dan tidak patut dikatakan berperadaban dalam arti sesungguhnya. Bagaimana tidak, jika sedari awal spirit Islam yang bersendikan budi dan pengetahuan intelektual telah menyatu dalam tradisi dan jiwa masyarakat setempat.

Meskipun menurut TW Arnold bahwa strategi penyebaran Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia adalah melalui adopsi bahasa masyarakat setempat, perkawinan, perbudakan untuk meraih kedudukan, dan kerja sama dengan pembesar pemangku kepentingan, pada hakikatnya Islam datang ke kepulauan ini dalam kemasan metafisika sufi yang dibawa para ulama sehingga semangat beragama yang berunsur intelektual dan rasional telah membentuk pikiran dan jiwa masyarakat Melayu. Para ulama adalah pejuang yang terlahir untuk membela dan mengemukakan weltanschauung atau pandangan hidupnya sendiri tentang pelbagai keperluan umat, baik yang bersifat ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun sejarah berdasarkan asas-asas agama. Sebuah keyakinan teguh pada tradisi yang senantiasa berkesinambungan dan berwibawa tanpa menutup mata pada tantangan dari mana pun.

Mereka senantiasa memahami dan melaksanakan nilai-nilai luhur tradisi Islam sebagai orang dalam, bukan sebagai orang luar. Pantang bagi mereka mereduksi makna-makna kokoh (thābit) yang terkandung di dalam otoritas ajaran-ajaran agamanya. Dengan demikian, semangat dan tujuannya sesuai dengan tuntunan Islam itu sendiri sebagai al-Dīn, bukan seperti anggapan orang-orang yang mengkaji kegemilangan peradaban Islam dengan sikap sinis, penuh keraguan (skeptic-doubt), dan senantiasa mempertanyakan keabsahannya. Sebagaimana kritikan Prof al-Attas kepada orientalis Belanda Christian Snouck Hurgronje (w 1936) yang dikenal anti-Islam, “Moreover, in all their theories the taint of settled aversion towards Islam is always discernible.”

Walhasil, proses panjang Islamisasi di Kepulauan Melayu-Indonesia telah berhasil mengubah cita kehidupan bangsa tidak hanya tampilan fisik, tetapi juga jiwa rohani dan akal masyarakatnya, serta mengurai ikatan tradisi purbakala yang penuh dengan takhayul, mitos, dan animisme. Sejarah kegemilangan bangsa ini mencapai puncaknya melalui ikatan persaudaraan dalam budaya ilmu oleh para ulama dan cerdik cendekiawan dengan lahirnya pelbagai tulisan karya keilmuan. Selain itu, kesatuan dan kekokohan pandangan alamnya (worldview) yang bersifat intelektual dan rasional menjadi penentu pergolakan hebat yang mengubah nasib dan peradabannya menuju zaman baru, yaitu zaman yang melahirkan tidak saja rupa tetapi juga jiwa yang bernapaskan nuansa kandungan nilai-nilai agama yang suci, yakni peradaban bangsa Melayu.


Bahan Bacaan:
1.    Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah (Bandung: Salamadani, 2012), c. 5, 158—160.
2.   Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Penerbit Mizan, 1994), c. 1, h. 166, cf.
3.    Buya Hamka, Hak Asasi Manusia Dalam Islam dan Deklarasi PBB (Syah Alam: Pustaka Dini, 2005), h. 139.
4.    Ibn Baṭṭūtah, Risalah Ibn Baṭṭūtah (Beirut: Dār al-Turāth, 1968), h. 606—9.
5.    Muhammad Amīn ibn Faḍlillāh al-Muhibbī, Khulāṣah al-Āthār fī ʿAyān al-Qarn al-Ḥadī ʿAshar (Cairo: Dār al-Kitāb al-Islāmī, 1980), j. 2, h. 235—6, 389—90, 440—2.
6.    Mohd Nor Wan Daud, “Beberapa Aspek Pandangan Alam Orang Melayu Dalam Manuskrip Melayu Tertua al-ʿAqāid al-Nasafī,” Afkār: Journal of ʿAqīdah and Islamic Thought, (Kuala Lumpur: Jabatan Akidah dan Pemikiran Islam, Universiti Malaysia, Mei 2005), j. 6, h. 3-6.
7.    Syamsuddin Arif, “Islam di Nusantara: Historiografi dan Metodologi,”ISLAMIA: Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam 2/4 (Jakarta: INSISTS, 2012), h. 13, cf.
8.    Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Kuala Lumpur: Angkatan Belia Islam Melayu (ABIM), 1999), h. 21—24.
9.    Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: IBFIM, 2014), h. 178.
10.    Syed Muhammad Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011), h. xiii.
11.    “The Travels of Ibn Batuta in China,” dalam Cathay and The Way Thither, terj dan ed. Sir Henry Yule (London: The Hakluyt Society, 1916), h. 96; Cetak ulang dalam Studies on Ibn Bathūta (d. 1377), ed. Fuad Sezgin = Islamic Geography vol. 182 (Frankfurt: Institute for the History of Arabic-Islamic Science, 1994), j. 182, h. 150, cf.
12.    Thomas Walker Arnold, The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, (New Delhi: Kessinger Publishing,2007), h. 365.

Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS