• Ikuti kami :

M. Natsir di Mata Pegiat Dakwah Lintas Harakah

Dipublikasikan Jumat, 21 Juli 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Tanggal 17 Juli ini adalah hari kelahiran salah seorang tokoh, M. Natsir. Dalam rangka memperingati hari kelahirannya, nuun.id berusaha menyajikan pandangan para pegiat dakwah terhadap tokoh muslim yang perannya amat besar dalam dakwah di Indonesia, Mohammad Natsir. Saya, perwakilan dari nuun.id, berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan beberapa pegiat dakwah yang ada di beberapa kota di Indonesia. Perbincangan ini dilakukan secara terpisah antara yang satu dengan yang lainnya. Saya mencoba mengenali semangat dakwah kaum muda muslim di Indonesia hari ini.

Awal Juli ini, saya berjumpa dengan mereka:  1) seorang mahasiswa psikologi di universitas negeri di Depok, 2) seorang anggota komunitas dakwah pemikiran Islam di Bandar Lampung, 3) seorang dokter yang bertugas di rumah sakit daerah di Majalengka, 4) seorang pembina rumah tahfidz di daerah Beji, Depok, 5) seorang pegawai KUA wilayah Bekasi di bidang kerukunan umat, dan 6) seorang pembina yatim dan dhuafa di salah satu lembaga zakat di Lampung sekaligus pegiat QHI Lampung. Mereka antara lain adalah tiga orang laki-laki dan tiga orang perempuan dengan rentang usia 19--25 tahun. Ada yang telah menggiatkan dakwah selama setahun, lima tahun, juga selama hidupnya semenjak di pesantren. Kata Pembina rumah tahfidz di Beji, “Di mana kaki berpijak di situlah dakwah disebarkan.”

Kita patut bersyukur, Indonesia masih memiliki banyak pemuda muslim yang bergiat dalam ‘amar ma’ruf nahi munkar di berbagai bidang dan cara. Paling tidak, kita bisa lihat, sebagian dari umat Islam tahu bahwa berdakwah adalah kewajiban, “Meski pada prakteknya dakwah baru sekadar selingan atau sampingan, apalagi buat saya sendiri.” kata anggota komunitas dakwah pemikiran Islam di Bandar Lampung. Tentu masih menjadikan dakwah sebagai selingan atau sampingan, tidak selalu dan langsung salah. Kita memiliki kelemahan, kekuatan, juga ketahanan sendiri. Selama kita selalu berusaha mengenali diri dan tak putus mencari ilmu, kita bisa mencari titik kesanggupan masing-masing dan menyampaikan kebaikan, meski katakanlah, “hanya” berakhlak baik.

Sang pegawai KUA menyampaikan, “Bagi saya, dakwah itu mengajak. KUA itu kantor urusan agama, lho, bukan kantor urusan menikah. Di sini, kami sedang mengusahakan agar majelis taklim tidak hanya dipandang khusus kaum ibu, kaum bapak dan remaja juga perlu dan harus punya peran di sana. Semoga, beberapa tahun ke depan, kami pengajian bukan hanya bergantung di majelis taklim, tapi secara terstruktur juga bisa masuk ke perusahaan-perusahaan, khususnya di Bekasi.”

Sementara mahasiswa psikologi yang aktif di lembaga dakwah fakultasnya menekankan, “Dakwah itu bukan tentang siapa yang paling benar, siapa yang paling saleh, atau siapa yang paling baik. Dakwah itu kepedulian. Kita tak mungkin mencela orang buta yang hendak menyeberang jalan. Kita justru harus menuntunnya. Jangan mencela atau merendahkan orang yang salah atau bermaksiat, nasehati dan berusahalah menuntunnya ke jalan yang benar.”

Ternyata, dakwah itu tidak hanya mengajak orang agar rajin beribadah dan berangkat ke masjid atau sweeping warung remang-remang dan panti pijat plus-plus. Memakmurkan kehidupan para petani demi menjaga kehidupan yang Allah amanahkan adalah dakwah. Membenahi kerusakan cara berpikir dengan membangun diskusi dan menyebarkan tulisan bermutu dengan beragam tema adalah juga dakwah. Dakwah itu mengajak. Dakwah itu menyelamatkan.

Sebagai seorang muslim yang tinggal di Indonesia, kita perlu membawa manfaat bagi tanah air kita. Kita tak hanya mengajak tapi perlu juga menjaga dengan menunjukkan kebenaran sambil mengenali persoalan di sekitar kita. Ini merupakan tanda syukur dan juga kecintaan pada agama.

“Indonesia itu tanah air beta, tapi makin lama makin tidak beta karena yang benar dikubur, yang salah malah dibangkitkan. Makin ke sini makin marak lagi kejahatan, kebenaran ditinggalkan.” kata pemudi yang aktif di QHI Lampung.  

“Kalau bagi saya, Indonesia merupakan negara yang berasaskan Pancasila, mengedepankan demokrasi dan kaya akan suku dan budaya.” kata pemuda pegawai KUA.

“Indonesia itu negara di mana saya dilahirkan, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” ujar pemuda dari komunitas pemikiran Islam di Bandar Lampung takzim.

“Indonesia adalah rumah, tempat kita lahir dan tumbuh juga belajar menjadi manusia yang beradab di hadapan Allah, kepada diri dan makhluk Allah yang lain.” ucap dokter di Majalengka dengan haru.

“Tanah air yang harus dijaga.” ungkap pemudi pembina rumah tahfidz dengan bersahaja

“Indonesia itu rumah, keluarga terdekat, orang orang yang paling berhak mendapatkan manfaat dari kita. Manfaat apa lagi yang paling besar dari ilmu agama? Bahkan, meskipun saya warga negara lain, rasanya saya tetap ingin berdakwah di Indonesia setelah berdakwah di negara sendiri. Indonesia muslimnya terbanyak di dunia. Semoga senantiasa Allah berkahi Indonesia serta para pemimpin, ulama, anak-anak muda Indonesia.” urai mahasiswa psikologi panjang lebar.

Untuk menyadari ke-Indonesiaan, salah satu cara yang bisa ditempuh adalah memaknainya dengan belajar sejarah bangsa serta para pendirinya. Sulit rasanya bagi kita untuk memahami diri sebagai bagian dari umat yang bertanggung jawab atas negerinya, Indonesia, jika kita tidak mengenali dengan baik negeri itu sendiri serta orang-orang yang berjasa membinanya.

Rupanya, beberapa dari kita masih tidak mengenali baik-baik sosok Mohammad Natsir,  secara utuh atau sebagian. Malah mungkin ada saja yang merasa tak perlu mengenalinya, baik sebagai seorang tokoh muslim di Indonesia atau pun sebagai sosok negarawan yang berperan penting dalam kebangsaan Indonesia. Semoga bukan kita. Dua dari enam orang yang saya ajak berbincang, tidak begitu mengenal Moh. Natsir karena tidak punya kesempatan mengenal. Mereka sekadar tahu tapi tak terpatri di benak. Seperti pernah mendengar namanya tapi tak yakin dengan rupanya.

Sang dokter yang bertugas di Majalengka ingat, ia pertama tahu M. Natsir di buku sejarah sekolah menengah pertama. Sementara itu, sang anggota komunitas dakwah di Bandar Lampung malah baru mengetahui sosok Pak Natsir dalam diskusi-diskusi di komunitasnya, sudah lewat beberapa tahun dari masa sekolah. Saat bersekolah di sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas negeri, ia tidak yakin pernah mendengar nama Mohammad Natsir disebut-sebut.

Bagi yang tahu dan kenal, M. Natsir adalah sosok yang layak dikagumi. Ia adalah salah seorang Bapak Bangsa. Ia dianggap politisi sekaligus ulama yang secara tegas menyatakan ketidakterpisahan agama dan negara sehingga ia dikenal sebagai sosok yang berteguh prinsip mengenai Islam harus dijadikan dasar negara Indonesia. Selain itu, M. Natsir juga dikagumi sebagai salah satu tokoh  Islam yang independen, berani mengkritisi pemerintah tanpa kenal rezim. M. Natsir juga dianggap hebat karena kiprahnya di lingkup nasional serta internasional. Pemikirannya diapresiasi dan diberi penghargaan dari negara lain.

Secara umum, yang paling lekat di benak para pegiat dakwah ini adalah peran M. Natsir sebagai ketua dan pendiri Partai Masyumi. Beberapa mengenal beliau sebagai pejuang kemerdekaan. Dari enam orang, hanya satu orang yang menyebutkan penolakan M. Natsir terhadap pendirian RIS dan mengajukan pembentukan NKRI dalam mosi integralnya di parlemen. Tidak ada yang menyebut M. Natsir seorang politisi santun, Menteri Penerangan, Perdana Menteri NKRI pertama, berpolitik cerdas dalam PRRI, atau pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan anggota Rabithah Alam Islam. Boleh jadi memang banyak dari kita yang tak begitu tahu bahwa M. Natsir sebetulnya berperan penting sebagai perekat bangsa ini dari masa ke masa.

Secara khusus, sang pegawai KUA menyampaikan pandangannya bahwa peran utama M. Natsir bagi Islam dan dakwah adalah pembaharuan Islam di Indonesia. Ia sendiri merasa perlu meningkatkan aktivitas dakwahnya baik bil qaul, bil hikmah, bil lisan dan tulisan, “Dalam arti begini, dari yang dulu dakwah masih bersifat tradisional  sekarang perlu lebih kontemporer karena sudah merambah ke era digital.” jelasnya. Di dalam kehidupan yang Allah ciptakan ini, ada hal-hal yang berubah dan dinamis, ada pula yang senantiasa tetap dan mutlak. Semoga kita mengetahuinya dan tak tertukar dalam menempatkannya.

Pak Natsir itu seorang manusia biasa. Ia bukan manusia setengah dewa, nabi, apalagi Tuhan. Sebaik-baik seorang manusia, sebesar-besarnya jasa seseorang, manusia memang diciptakan sebagai pendosa. Kita perlu menghormati orang-orang yang berjasa dalam hidup ini, bukan memuja atau menepis alpanya. Manusia yang berbuat dosa itu bukan hanya kewajaran, justru seringkali melalui dosalah Allah membawa kita kembali kepada ketunduk-patuhan dan fitrah kita sebagai hamba. Maka perlu pula Pak Natsir kita pandang secara wajar, bukan sosok pahlawan tanpa cela yang tak boleh dikritik dan ditelaah ulang pemikirannya.

Sebagai manusia, Pak Natsir pasti punya kekurangan, tetapi tentu kita perlu menilai dan menelaahnya secara cermat. Jangan mengkritik asal bunyi, apalagi serampangan mengungkapkan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Para pegiat dakwah yang tidak mengenal Pak Natsir ini, tak bisa mengungkapkan kekurangannya. Sebagian yang cukup mengenalnya, merasa tak pantas menilai kurangnya karena memang tak cukup membaca soal Pak Natsir. Tetapi yang paling muda justru berani mengungkapkan isi pikirannya mengenai kiprah Pak Natsir.

Sang mahasiswa psikologi itu mengatakan, “Bukan kekurangan, saya merasa strategi dakwah kami berbeda. Pak Natsir mencoba "mengislamkan"  pemerintahan, kalau saya lebih memilih "mengislamkan" masyarakat. Saya lihat, kala itu, atau bahkan sekarang, masyarakat belum siap atau belum mau menjadikan Islam sebagai landasan negara, padahal kita harusnya yakin itu yang terbaik. Kalau masyarakat siap, dengan sendirinya Islam akan dijadikan sebagai landasan negara.”

Pada akhirnya, setelah keluar dari penjara karena menentang konsepsi Nasakom Soekarno yang dianggap inkonstitusional, Pak Natsir melakukan dakwah, mendidik masyarakat dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang kadernya sekarang banyak tersebar di daerah-daerah terluar, terdepan, dan terdalam Indonesia. Lagipula, jika bangsa ini tidak memiliki satu orang saja yang menggagas Islam dalam kehidupan politik dan bernegara, mungkin kita akan jauh lebih kebingungan dari keadaan saat ini. Syukurnya, kita mempunyai lebih dari itu. Perbedaan dalam memandang persoalan dan memasang strategi seharunya jadi hal lumrah yang memperkaya umat.

Di akhir perbincangan, kami mencoba agak merenungkan teladan yang patut diambil dari Pak Natsir bagi para pemuda di Indonesia.

“Yang patut ditiru itu sikap M. Natsir dalam memperjuangkan Islam di Nusantara dan dunia. Dan berani dalam menyampaikan pendapatnya sekalipun itu kepada pemerintahan.” kata sang pegawai KUA dengan semangat. Semoga dakwahnya di KUA daerah Bekasi membawa banyak kebaikan.

Senada dengan pernyataan di atas, pemuda anggota komunitas pemikiran Islam di Bandar Lampung pun menyampaikan, “M. Natsir adalah uswah atau contoh utama bagi para generasi penerus di Indonesia. Terutama karena berpendirian teguh dan tidak takut kepada penguasa. Termasuk memperjuangkan Islam dengan pemikiran yang diyakini tanpa gentar dengan ancaman apapun.” Semoga apa yang tengah diperjuangkan oleh komunitasnya di Bandar Lampung berkembang dengan subur dan berterusan.

Mahasiswa psikologi universitas negeri di Depok pun mengajukan hal yang mirip soal keteguhan prinsip, “Meskipun banyak mendapat intervensi dari kaum nasionalis-sekular, beliau tetap semangat memperjuangkan ideologinya. Hal itu dibutuhkan banget sama aktivis dakwah yang dapat banyak tantangan dari teman-teman yang lain. Apalagi, sekarang, di dunia medsos, sangat mudah melontarkan pendapat, kritik, dan lainya.” Jelang akhir tahun ini, ia akan pindah kuliah ke salah satu kampus di kota Madinah. Semoga, kelak, menjadi berkah dan manfaat bagi Indonesia.

Self-discpline dalam hal apapun terutama dalam semangat belajar dan mengajarkan ilmu Allah. Syaja'ah, keberanian dalam mendakwahkan Islam atas dasar ilmu yang benar,” urai dokter muda dari Majalengka. Semoga kelak sang dokter dapat melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya dan memiliki keberanian juga kebijaksanaan dalam pengamalan ilmunya.

“Hanya sekilas mengenal beliau. Tapi, jika beliau menjadi tokoh Islam, feeling-ku beliau berperan totalitas dalam membela Islam. Kita harus begitu dalam berdakwah.” ujar pembina rumah tahfidz di Beji Depok dengan senyum amat ramah. Sang pembina ini merupakan lulusan Universitas Al Azhar, Mesir. Semoga Allah memberkahi kegiatannya dalam mengajarkan dan menjaga Al Quran.

Dengan melihat sosoknya sekilas saja, kita bisa tahu bahwa Pak Natsir memang orang besar. Hamka sendiri banyak tergerak dan amat mengagumi beliau. Ketulusan hati, kesantunan sikap, kejujuran laku, juga keseriusan dalam perjuangan adalah cermin jiwa yang bisa berusia lebih panjang dari jasad. Itu dapat terpantul kepada kita yang masih hidup meski tak amat kenal atau tahu sekadarnya. Allah menjaga orang-orang seperti beliau, baik bagi dirinya atau pun dalam benak orang-orang yang memerlukannya meski nyawa tak lagi di kandung badannya.

Tulisan Terkait (Edisi Moh.Natsir)

IKLAN BARIS