• Ikuti kami :

M. Natsir dan Hamka: 47 Tahun Persahabatan
Bagian Ke 2

Dipublikasikan Sabtu, 15 Juli 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama


Pembela Islam terbit pada 1929! Sedang gerakan Partai Nasional Indonesia yang digerakkan oleh Soekarno ialah dimulai pada 1927. Artikel-artikel M. Natsir di dalam majalah Pembela Islam itu sangat menarik hati saya. Saya pun seorang pengarang. Tetapi saya mengakui bahwa karangan Natsir memberi saya bahan untuk hidup, sehingga saking tertariknya saya kepada tulisan-tulisannya itu, saya pun mencoba mengirim karangan kepada Pembela Islam, dan karangan saya disambut baik dan dimuat dalam Pembela Islam!

Dari hubungan surat menyurat dan karang mengarang ini, sendirinya timbulah keinginan untuk berjumpa. Sebelum berjumpa, situasi politik tanah air berubah cepat. Bung Karno dibuang Belanda ke Endeh. Sesampai beliau di Endeh langsung beliau berkirim surat kepada A. Hassan, guru Persatuan Islam dan pengarang Pembela Islam. Isinya ialah beberapa pendapat beliau tentang Islam. Isi surat-surat itu amat menarik perhatian, sebab di dalamnya, Bung Karno menyatakan pandapatnya yang bersifat “hervorming” pembaharuan. Beliau tidak menyetujui taqlid, tetapi menganjurkan ijtihad. Beliau menyatakan kecenderungan kepada faham Jamaluddin Al Afghany dan Mohammad Abduh. Rupanya pengasingan beliau ke Endeh menyebabkan peluang yang banyak bagi beliau untuk menyelidiki Islam. Surat-suratnya tiba di Bandung hampir tiap minggu. Pembela Islam tertarik mengelurkan surat-surat itu dengan nama “Surat-surat dari Endeh”.

Polisi Pemerintah Kolonial Belanda pun rupanya tidak banyak mensensor surat-surat itu, sebab tidak bicara soal-soal politik. Di waktu “Surat-surat dari Endeh” telah dicetak dengan seizin Bung Karno sendiri, waktu itulah pula cita-citaku tercapai datang ke Bandung, jadi tetamu dari Pembela Islam dan Persatuan Islam. Di waktu itulah saya mengenal A. Hassan, Fakhruddin Al Khahiri dan lain-lain, terutama dengan M. Natsir sendiri.

Di waktu itu, saya bertemu seorang pemuda sebaya saya, tetapi lebih tampan dari saya. Wajahnya tenang, simpatik, selalu tersenyum, dan berkaca mata. Tingginya sedang, sikapnya lemah lembut. Apabila kita bicara dengan dia, butir-butir pembicaraan beliau, kita perhatikan dengan seksama, kemudian bila beliau tidak setuju, atau berlainan pendapat, beliau nyatakan komentarnya, nampaknya sambil lalu, tetapi dengan tidak kita sadari, komentarnya itu telah menyebabkan kita harus meninjau kembali pendapat kita tadi dengan seksama.

Dari pertumuan pertama itu (Desember 1931), telah terasa hubungan yang akrab dan intim di antara kami, dengan saudara-saudara dari Persatuan Islam dan Pembela Islam pada umumnya dan dengan M. Natsir pada khususnya. Yang menjadikan hubungan sangat padu terutama sekali ialah kesamaan faham tentang agama, terutama faham “Kaum Muda” yang sedang hangat waktu itu. Amalan-amalan agama tidak banyak berbeda, yang kedua ialah faham tentang Islam yang tidak perlu pakai “dan” itu!

Natsir mendapat pendidikan di sekolah Belanda, yaitu dari AMS Bandung. Tetapi dalam hidupnya sehari-hari, hidup secara seorang santrilah yang banyak tertonjol. Kalau berbicara di hadapan umum, tidaklah beliau bersifat agitatif menggeledek dan mengguntur. Tetapi dengarkanlah ucapannya itu dengan tenang. Kian lama kian mendalam dan tidak akan membosankan. Karena semua berisi dan terarah!

Di kali yang lain, pernah saya ke Bandung setelah dia berumah tangga. Saya menjadi tetamu dan bermalam di rumahnya. Karena kehidupan beragama, sembahyang di awal waktu dan kesederhaan yang dapat dilihat lahir dan batin, semuanya itu membuat lebih mesra hubungan kami.

Tahun 1936, saya pun pindah ke Medan dan bersama saudara H.M. Yunan Nasution mengeluarkan majalah Pedoman Masyarakat. Setelah majalah itu saya pimpin, langsung saya kirimkan kepada M. Natsir dan kawan-kawan di Bandung. Sambutan Natsir baik sekali. Dia memuji mana yang patut dipuji dan memberikan komentar sambil lalu dan secara halus pada hal-hal yang beliau kurang setuju, terutama tentang roman!

Di akhir Desember 1939, Saudara M. Yunan Nasution dan Zainal Abidin Hamad, pertama sebagai Pemimpin Redaksi Pedoman Masyarakat, kedua sebagai Pemimpin Redaksi Panji Islam berkirim surat kepada Saudara M. Natsir meminta tinjuan beliau tentang cerita-cerita Roman!

Maka, pada Januari 1940 beliau telah memeberikan jawaban yang bernas tentang roman itu. Di sana, ditunjukanlah pengetahuannya yang luas dan pertimbangan yang adil dan objektif tentang roman. Dalam karangan itu, beliau mengarahkan jalan, bukan mematahkan semangat pujangga yang sedang tumbuh, sehingga dengan sendirinya kita mendapat tuntunan.

Dan pada tahun 1939 itu jua berdiri Partai Islam Indonesia (PII). Orang-orang Muhammadiyah yang berminat politik telah aktif dalam partai itu. Di antaranya ialah K.H. Mas Mansoer (Ketua Hoofdbestuur Muhammadiyah), A. Kahar Muzakkir, H. Farif Ma’ruf dan lain-lain. Saudara M. Natsir jadi ketua PII di Bandung.

Ketika itu saya tidak memasuki PII dan tidak pula memasuki partai politik yang lain karena di Medan sendiri pada waktu itu belum ada PII. Pemimpin-pemimpin Muhammadiyah sendiri pun, yang datang ke Medan ketika Kongres Mehammadiyah ke-28 (1939), memberi pandangan kepada saya lebih baik jangan masuk PII. Hadapilah Muhammadiyah saja dan supaya terus jadi pengarang Islam!

Tidak lama setelah kongres, H.R. Mohammad Said, Konsul Muhammadiyah Medan, meninggal dunia. Pimpinan Muhammadiyah terserah kepada saya. Dalam hati timbulah kerelaan buat menjadi pengikut dalam gerak politik Umat Islam kepada ahlinya. Dalam menyebut ahlinya itu, yang terutama teringat ialah Natsir.

Pergolakan di tanah air untuk selanjutnya bertambah hebat. Dengan terbentuknya MIAI (Majelis Islam A’laa Indonesia) dan bergabungnya aksi politik Islam dalam satu gerak, dan dengan berkumpulnya orang-orang sebagai Natsir, Wahid Hasjim, Prawoto Mangkusasmito dan lain-lain dalam badan tersebut, jelaslah bahwa politik kaum Muslimin menunjukkan kepribadiannya.

Kami yang tinggal di daerah, terutama di Medan, merasa tenteram dan bersyukur melihat yang demikian. Usaha-usaha pihak luar hendak memandang bahwa gerakan Islam tidak ada artinya, dengan sendirinya tidak berarti lagi. Kami berpendapat bahwa generasi Islam lama di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto (meninggal 1934) telah digantikan dan diteruskan oleh generasi muda, yaitu M. Natsir, Prawoto, Mohammad Roem, Wahid Hasjim dan lain-lain.

Bertambah terasa dalam hati bahwa di samping pejuang-pejuang di lapangan politik, harus bangun wartawan-wartawan dengan pandangan hidup Islam. Untuk itu, berdiri Warmusi. Harus ada pengarang Islam, pujangga Islam, dan masing-masing angkatan muda Islam harus “mencari” dirinya sendiri di tempat mana dia mestinya duduk dan di lapangan mana mestinya dia beredar.

Tahun 1941, di waktu Belanda telah masuk dalam Perang Dunia Kedua, dan Ratu Wilhelmina telah memindahkan pusat kekuasaannya ke luar negeri Belanda dengan semboyan “Nederland Zal Herrijzen” (Nederland pasti berdiri kembali), di waktu itulah dalam perjalanan menghadiri Kongres Muhammadiyah ke-30 di Yogya, saya singgah lagi di Bandung, menemui Natsir dan (Alm) M. Isa Anshari. Itulah kenang-kenangan yang sukar dilupakan. Kami bertiga berpotret kenang-kenangan, yang sukar buat dilupakan. Saya duduk diapit oleh dua orang tercinta dan telah turut memperjuangkan gerak Islam di Tanah Air Indonesia: Natsir dan Isa Anshari!

Pertemuan di saat demikian adalah pertemuan yang sangat berkesan bagi kami dalam menyediakan usia menurut kesanggupan masing-masing bagi kepentingan Islam. Meskipun sudah berkali-kali bertemu sebelum itu, dan bergaul rapat pula setelah Indonesia merdeka, namun pertemuan tahun 1941 di Bandung itu telah meninggalkan jejak dalam jiwa kami, dan telah menentukan pula ke mana arah hidup yang akan kami tempuh. Usia saya pada pertemuan tahun 1941 itu baru 33 tahun (17 Februari 1908) dan Natsir lebih muda dari saya enam bulan (17 Juli 1908), dan Isa Anshari lebih muda dari kami berdua.

Perang dunia II di Eropa mulai berkecamuk. Kita tidak mengerti ilmu tenung dan ramal, namun satu hal tetap terasa di jiwa kami, terbayang di wajah masing-masing meskipun tidak terucap di mulut: “zaman depan penuh harapan”.


Saudara M. Natsir dan Isa Anshari turut mengantar saya dan mengucapkan selamat berpisah. Dan sesampai saya di Hotel Islam Sumatera di Jakarta (Jl. Gajah Mada sekarang), terbacalah surat kabar Pemandangan yang menerangkan bahwa ayah saya di Sungai Batang Maninjau ditangkap Belanda. Kemudian itu, beliau pun diasingkan ke Sukabumi.

Setelah itu, merembetlah perang ke negeri kita dan Jepang pun masuk. Dalam pergolakan membela tanah air, kami tetap dipertemukan Tuhan di dalam satu wadah cita-cita, yaitu kejayaan Islam. Meskipun semuanya dibawa oleh arah watak masing-masing.

***

Tulisan ini merupakan bagian awal dari tujuh halaman tulisan Hamka yang pernah terbit di majalah Panji Masyarakat. Pada bagian ini, persahabatan Hamka dan M. Natsir baru berusia 12 tahun. Ujian yang dihadapi masih berkisar persoalan-persoalan perjuangan melawan kolonialisme Belanda dan Jepang, termasuk juga pergulatan mengenai peranan agama dalam membangkitkan semangat kebangsaan. Persahabatan 35 tahun berikutnya dipenuhi warna yang lebih pekat, justru setelah bangsa ini mengumandangkan proklamasi kemerdekaan.


Tulisan Terkait (Edisi Moh.Natsir)

IKLAN BARIS