• Ikuti kami :

M. Natsir dan Hamka: 47 Tahun Persahabatan II
Bagian Ke 2

Dipublikasikan Senin, 17 Juli 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama


Tetapi pergolakkan politik tanah air kian hebat. Kabinet Natsir yang tidak dicampuri oleh PNI hanya berusia 8 bulan (6 September 1950--26 April 1951). Rencana mengajak Kartosoewirjo pulang ke dalam pangkuan Ibu Pertiwi mentah kembali.

Ketika kabinetnya sudah jatuh, dengan tidak menunggu lama dan tanpa ragu-ragu, Natsir mengangkat barang-barangnya dari rumah resmi kediaman Perdana Menteri di Pegangsaan Timur, rumah proklamasi (diruntuh dan dibongkar pada waktu negara Indonesia dipengaruhi Komunis) ke tempat kediaman beliau, Jl. Jawa (Sekarang Jl. H.O.S. Cokroaminoto).

“Cepat kembali” ke rumahnya di Jalan Jawa itu memperlihatkan bahwa jiwanya teguh, tidak terpengaruh oleh benda.

Sesudah kabinet Natsir, naiklah kabinet Soekiman (26 April 1951--April 1952). Ketika kabinet Natsir jatuh itu, dengan tegas saya katakan bahwa pimpinan sejati dari umat tidaklah ditentukan oleh kedudukan jadi Perdana Menteri ataupun jatuh kabinet.

Dengan terus terang saya katakan di hadapan Natsir atau di belakangnya bahwa pimpinan sejati dari umat tidaklah ditentukan oleh pangkat dan jabatan. Za’amah atau kepemimpinan yang akan ditempuh Natsir setelah berhenti dari Perdana Menteri, akan lebih hebat lagi pada masanya yang akan datang. Kabinet Pimpinan Soekiman jatuh pula pada April 1952, artinya dalam masa satu tahun. Setelah itu, naiklah Kabinet Wilopo. Dan sejak itu pula berangsurlah turun gengsi Masyumi. Setelah Kabinet Wilopo jatuh pula, dan naik Kabinet Ali Sastroamijoyo (30 Juli 1953), mulailah Masyumi tidak diikutsertakan lagi. Di mana-mana, mulai terasa Masyumi sebagai golongan yang dibenci. Dalam Kabinet Ali pertama itu mulai terasa sikap yang condong ke kiri.

Pemilihan Umum dilangsungkan pada tahun 1956. Pada waktu itu, tampil empat besar: PNI, Masyumi, NU, dan PKI. Namun, dirasakan sendiri oleh orang Masyumi bahwa tekanan-tekanan selalu terhadap mereka bertambah hebat, jadi cemoohan di mana-mana. Kedudukan yang dulu di mana Natsir dan Soekiman kian lama kian luntur dan menurun, apatah lagi setelah Presiden Soekarno menganjurkan Kabinet Kaki Empat, yaitu PNI-Masyumi-PKI-dan NU.  Masyumi dengan tegas menolak gagasan itu sehingga gagasan itu tidak jalan.

Sejak itu, di segala bidang, mulailah pendapat umum dipompa dengan antipati sebesar-besarnya kepada Masyumi. Sedang PKI tambah lama tambah dekat dengan Presiden Soekarno, sedang Masyumi tambah lama tambah dicap sebagai partai gurem.

Ini adalah “politik”. Dan di mana-mana dari zaman purbakala sampai semodern-modern zaman namun politik tidaklah dapat diatur dengan logika. Demikian kata setengah orang. Bung Karno terang bukan seorang Komunis maka logika merasa heran beliau dapat menyuruh bersatu Masyumi dengan PKI dalam satu Kabinet. Ini tidak logis, kata setengah orang pula.

Tetapi, yang lain mengatakan lagi bahwa anjuran ini adalah logis. Sebab beliau tidak menyukai Masyumi. Lalu, beliau ajak Masyumi duduk dalam kabinet yang mustahil Masyumi bisa menerima. Dan kemudian memang pastilah Masyumi tidak mau menerima ajakan itu. Sebab itu, maka logislah jika seluruh kekuatan dikerahkan buat menimbulkan rasa permusuhan paling hebat terhadap Masyumi dan mulailah dibuat propaganda Nasakom: Nasional-Agama-Komunis adalah tafsir utama dari Pancasila. Segala usaha digabungkan untuk propaganda itu; bersatu padu, berkuat kokoh untuk Nasakom.

Teringatlah saya akan pesan yang sungguh-sungguh dari Pak Kiman dan Natsir agar saya agak menahan diri dari pergolakan politik.

Agar saya tetap berhubungan baik dengan Bung Karno. Dan pesan itu saya pegang teguh. Tetapi kian lama kian terasa bahwa hubungan baik dengan Bung Karno itu tidaklah semudah apa yang beliau-beliau sangka. Sebab hubungan itu tidaklah menyenangkan hati fihak Komunis.

Maka setelah Natsir, Syafruddin, Burhanuddin Harahap, disusuli Mr. Asaat ke Sumatera dan bergolak pemberontakan PRRI sedang kawan-kawan seperti Roem, Prawoto dan lain-lain pula tinggal di Jakarta dalam gerak yang terbatas, mulailah saya rasakan pukulan-pukulan pahit, sebagai tuduhan plagiat Tenggelamnya Kapal van Der Wijk dan seumpamanya.

Kemudian PRRI tidak dapat meneruskan perlawanan lagi. Pemerintah mengadakan amnesti umum. Natsir, Syafruddin dan lain-lain pulang ke Jakarta. Tetapi tidak berapa lama kemudian, semua meraka ditangkap termasuk orang-orang yang tinggal bersama dalam kota tadi. Iaitu Roem, Yunan Nasution, Isa Anshari, Imran Rasyadi, mereka bersama Natsir C.S. diasingkan di rumah tahanan di Madiun.

Kemudian itu timbulah fitnah mengadakan rapat gelap di Tanggerang, rapat gelap yang katanya memutuskan hendak membunuh Bung Karno. Saya sendiri, Kasman Singodimedjo, Yusuf Wibisono atau sisa-sisa yang dianggap lunak dalam Masyumi, mulailah ditangkap pula dan “bersih”-lah alam Indonesia dari segala halangan, dan bertambah riuh rendahlah sorak Nasakom, Usdek, Manipol dan lain-lain sebagainya. Tertutuplah segala mulut yang menentang hanya satu nyanyian yang kedengaran: Nyanyi Nasakom! Hanya satu suara yang bergema: Usdek-Manipol! Sampai atap-atap rumah orang diukir dengan Usdek! Dan warna yang terpampang di mana-mana ialah warna merah!

Lalu, terjadilah gerakan 30 September atau Gestapu PKI. Dan pada Juli 1966, kami semua sudah boleh pulang.

Bagaimana Natsir?

Namanya telah dikenal di seluruh Dunia Islam. Dia telah jadi Anggota Rabithoh Alami Islamy. Allah mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Di negerinya sendiri dia adalah ghariib: Natsir tidak terpakai lagi. Tapi, bila ada sesuatu yang dianggap perlu dilakukannya untuk kepentingan negara, ia tidak menunggu-nunggu sampai orang “memakainya”.

Pada pertama kali dia dapat keluar negeri, sesudah bebas dari tahanan RTM, dibicarakannya dalam satu audiensi dengan Raja Faisal, bagaimana caranya memperbaiki hubungan diplomatik antara Indonesia dan Saudi Arabia yang tadinya sudah rusak di zaman Orla. Hasil pembicaraan tersebut disampaikannya kepada Menlu Adam Malik, dan tidak lama sesudah itu, hubungan diplomatik antara kedua negara pulih kembali.

Di waktu masalah Timor Timur merupakan masalah gawat di PBB dan di dunia internasional umumnya, diusahakannya agar “Mu’tama Alam Islam” tampil dengan pernyataan menyokong sepenuhnya pendirian Republik Indonesia. Diadakannya konferensi-konferensi pers antara lain di Pakistan dengan tema: “Kami tidak bisa membiarkan sebagian dari bangsa kami berbunuh-bunuhan di hadapan kami sambil kami berpeluk tangan. Dan kita tidak memerlukan suatu Angola ke II di Asia Tenggara!”

Nyatanya dengan ini orang luar lebih cepat dapat menanggapi apa arti persoalan Timor Timur itu bagi Indonesia sendiri dan bagi kawasan yang lebih luas lagi.

Saya sendiri mengalami. Dalam perjalanan saya di Aljazair, Maroko, Mesir, Saudi Arabia, yang selalu ditanyakan orang di sana ialah Natsir!

Dia telah termasuk golongan orang-orang Islam ternama di seluruh dunia Islam. Sama tarafnya dengan Al Maududi di Pakistan, Abdul Hasan An-Nadawy di India, Sayyid Qutb dan Muhammad Qutb di Mesir.

Dia telah jadi kebanggaan dari Alam Islamy!

Kebesarannya terletak pada nilai fikirannya dan fikirannya ini akan hidup dan menjalar terus. Saya merasa berbahagia menjadi salah seorang sahabatnya di dalam lingkaran hidup yang saya tempuh sendiri.

***


Pada dasarnya, hubungan antarmanusia adalah bertautnya jiwa dengan jiwa, hati dengan hati, dan pikiran dengan pikiran. Yang pertama kali mengikat Hamka dengan M. Natsir hingga seterusnya adalah tulisan-tulisan dan ide-idenya, juga rasa yang tumbuh pada masa berikutnya, bukan sekadar pertemuan atau interaksi fisik.

Persahabatan M. Natsir dan Hamka adalah keterhubungan hati dua hamba yang dinaungi oleh kasih sayang Allah Malik Al-Mulk juga rasa cinta pada agama dan pengabdian pada bangsa. Keterikatan jiwa kedua pengikut Nabi ini adalah ikatan pandangan hidup bernama Islam dan cita-cita mewujudkannya dalam kehidupan berbangsa.

Dalam pekat dan kelamnya politik Indonesia, M. Natsir dan Hamka tetap saling dukung dan saling bela. M. Natsir yang masa-masa akhir hidupnya tak dipakai lagi oleh bangsanya selalu dikenali Hamka sebagai sosok yang teguh pendirian sambil tak habis dan luntur cintanya kepada bangsa Indonesia.


Tulisan Terkait (Edisi Moh.Natsir)

IKLAN BARIS