• Ikuti kami :

M. Natsir dan Hamka: 47 Tahun Persahabatan
Bagian Ke 1

Dipublikasikan Sabtu, 15 Juli 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Persahabatan dapat diartikan sebagai hubungan dua atau lebih orang yang banyak menghabiskan waktu bersama, berinteraksi di berbagai situasi, serta saling menyediakan dukungan emosional. Ada persahabatan yang berlangsung lama hingga bertahun-tahun, ada pula yang hanya terjalin singkat.

Sahabat merupakan kata serapan dari bahasa Arab, shahabah, sebutan khusus bagi orang-orang yang berjumpa dengan Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam dan wafat dalam keadaan Muslim. Istilah shahabah selanjutnya diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi sahabat dan sebagai istilah memiliki makna sama dengan shahabah. Para shahabah ialah orang-orang yang berada paling depan dalam urusan membela Rasulullah dan menghabiskan waktu paling banyak bersamanya. Para shahabah adalah orang-orang yang memberikan banyak hartanya untuk perjuangan Islam, badannya penuh luka dan dikorbankan demi melindungi rasul yang dicintai, serta kepatuhannya kepada Allah dan rasul-Nya amatlah tinggi.

Dalam persahabatan, terdapat keterhubungan hati dan keterikatan jiwa. Persahabatan yang baik adalah hubungan yang membawa subjeknya kepada kebaikan yang terus-menerus bertambah (berkah). Persahabatan yang sungguh-sungguh itu diikat oleh pandangan hidup yang benar dengan cita-citanya yang luhur.

Persahabatan M. Natsir dan Hamka adalah sedikit dari persahabatan berumur panjang yang penuh dengan ketedalanan. Dalam persahabatan dua tokoh modernist tersebut, tampak juga romantisme. Hal itu terlihat pada puisi dukungan Hamka kepada M. Natsir. Sifat persahabatan mereka dapat ditunjukkan melalui pembicaraan yang mengemuka pada pertemuan-pertemuan yang mereka lakukan, pembicaraan tentang perjuangan dan kejayaan Islam serta mengenai ikhtiar untuk terus merawat Indonesia.

Tulisan yang hendak disajikan di sini adalah bagian awal sudut pandang Hamka, mengenai persahabatannya dengan M. Natsir, yang pernah dimuat majalah Panji Masyarakat No. 251, yang diterbitkan pada tahun XX, 15 Juli 1978/ 9 Sya’ban 1398, pada halaman 17—23. Persahabatan yang ketika itu menjelang usia 50 tahun diawali dengan “perkenalan” dan kekaguman Hamka pada tulisan-tulisan M. Natsir yang banyak menyeru untuk hidup dan mati dalam perjuangan Islam. Tulisan-tulisan M. Natsir itu terbit di majalah Pembela Islam mulai dari tahun 1929. Bagi Hamka, karangan-karangan M. Natsir itu adalah pembentuk kekuatan dan keberanian bagi dirinya sendiri. Mereka baru bersua dalam pertemuan yang tak disangka pada 1931.

Hamka dan M. Natsir memang bukan sahabat yang sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Akan tetapi, pertemuan demi pertemuan mereka adalah wujud menyediakan masa hidup yang amat singkat ini untuk mengabdi kepada Tuhan, juga mencintai bangsa sesuai kadar kemampuan diri. Hal itu diceritakan dalam kesan yang kuat oleh Hamka.

***

Hamka

Sejak kembali dari Mekkah yang pertama 1927, setelah singgah di Medan selama beberapa bulan, saya pun kembali pulang ke kampung. April 1929 saya berumah tangga. Setelah itu, saya menetap di kota kecil Padang Panjang, menjadi Ketua Muhammadiyah Cabang Padang Panjang dan mendirikan Tabligh School.

Di waktu itulah saya membaca sebuah majalah yang diterbitkan di Bandung, bernama Pembela Islam. Mulai saja majalah itu dibaca, timbulah dalam jiwa semangat yang terpendam, yaitu semangat turut berjuang dalam Islam. Artikel-artikel yang dimuat di dalamnya menggugah persahaan hati buat bangun, buat percaya kepada tenaga sendiri sebagai Muslim untuk bangun, bergerak, berjuang, hidup atau pun mati di dalam perjuangan Islam.

Yaitu Islam yang tidak pakai “dan”. Apakah maksudnya Islam yang tidak pakai “dan”?

Ketika itu sedang riuh rendahnya bangkit Gerakan Kebangsaan, yang dipimpin oleh (Alm) Ir. Soekarno sendiri. Perasaan nasionalisme, yang dimulai dari Nastionale Daad, lalu mantap untuk jadi Nationale Gevoel, naik lagi jadi Nationale Will!

Rasa kebangsaan, dimulai dari daad, cita-cita! Dididik dan dilatih sampai naik dari daad, cita-cita, menjadi gevoel, yaitu rasa kebangsaan yang menggelora dalam batin, jadi kesadaran yang mendalam, dipenuhi oleh rasa cinta. Akhirnya, naik menjadi will, kemauan yang keras!

Bergeloranya semangat Kebangsaan yang dikobar-kobarkan oleh Ir. Soekarno ini, menyababkan—dengan sendirinya—bagi orang yang telah sangat termakan aharan ini, tidak ada lagi yang lebih tinggi dari pada Nasionalisme atau Kebangsaan!

Dan menjalarlah semangat itu ke mana-mana di seluruh tanah air Indonesia! Bahkan dari sangat hebat dan ahlinya Bung Karno, mulailah banyak orang yang memandang bahwa agama tidaklah ada sangkut pautnya dengan kebangsaan. Bahkan kian terasa waktu itu bahwa peranan agama tidak begitu penting dalam membangkitkan semangat kebangsaan. Dan bertambah suburlah rasa antipati terhadap kebangkitan Islam di Indonesia yang dipimpin selama ini oleh H.O.S. Tjokroaminoto (meninggal 1934) dan (Alm) Haji Agoes Salim. Sampai ada tuduhan bahwa Haji Agoes Salim itu spion Belanda.

Dalam satu rapat propaganda Partai Nasional Indonesia, pernah seorang turut bicara. Dia mulai pembicaraan dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh”. Karena dia memulai bicara dengan ucapan salam seorang Islam itu, maka para hadirin telah meledek pembicara itu. Sehingga kian hari kian jelas bahwa Islam mulai diketepikan dalam pergolakan di Indonesia!

Aksi yang bercorak seperti ini menjalar ke seluruh tanah air. Maka, di waktu itu pula, orang-orang yang kuat ghirah Islamnya sadar bahwa gerak seperti ini tidak dapat dibiarkan. Islam tidaklah musuh dari nasionalisme asal saja nasionalisme itu tidak membangkitkan Chauvinisme! Dan berjuang untuk kemerdekaan suatu bangsa dari penjajahan bangsa lain adalah suatu perjuangan suci luhur menurut ajaran Islam.

Di Sumatera Barat pada tahun 1930 timbul Gerakan Persatuan Muslimin Indonesia atau Permi. Dasarnya ialah “Islam dan Kebangsaan”, gabungan di antara Islamisme dan Nasionalisme!

Rasa benci kepada gerak Islam itu telah ditimbulkan dengan sangat hebatnya oleh gerakan Komunis ketika dia mulai memasuki Indonesia di tahun 1922. Sebab gerakan rakyat yang sangat besar pada waktu itu, yang sangat berpengaruh kepada rakyat, yang beranggota sampai meliputi seluruh Indonesia, ialah gerakan Partai Sarekat Islam di bawah pimpinan Tjokroaminoto! Banyak kaum terpelajar sendiri yang masuk. Maka untuk gerakan Komunis, menurut sistemnya yang terkenal, untuk mencari pengaruh pula kepada rakyat jelata, tidak ada lain jalan, kecuali menghancurkan Sarekat Islam. Supaya dapat mengacaunya dari dalam, menentang dan membusuk-busukkan para pemimpinnya.

Sarekat Islam dipecah. Timbul Sarekat Islam Merah, yaitu yang dipengaruhi komunis, dan Sarekat Islam Hijau—nama yang diberikan komunis yaitu yang dipimpin Tjokro! Dimulailah menghantam, memfitnah, menuduh dengan macam-macam tuduhan hina bagi Tjokro. Dan dari situ pula mulailah menjalar tuduhan kepada Muhammadiyah, yang juga diberi nama Sarekat Hijau. Segala politik yang dibenci oleh PKI diberi CAP PEB (Politik Ekonomi Bond), lalu dicap segala orang yang tidak tunduk kepada PKI bahwa mereka semua adalah PEB dengan arti yang hina, yaitu Penjilat Ekor Belanda.

Hantaman yang sangat keras kepada gerak Islam di bawah Tjokro ini, tidak ada tara dalam kehebatannya, menjadi isi dari seluruh Suratkabar Komunis, yang menimbulkan suasana rangsangan benci kepada Islam, bukan saja SI bahkan Muhammadiyah pun berkesan sehingga timbul “mc” (perasaan rendah diri) dalam kalangan Islam sendiri, malu bergerak dalam Islam, segan menyebut-nyebut nama Islam.

Sampai sekitar Revolusi Komunis yang gagal di Jawa (1926) dan gagal di Sumatera Barat (1927) di Silungkang, penganjurnya dibuang ke Digoel, lalu timbul gerakan Partai Nasional Indonesia (1928), nama Islam tidak disebut-sebut lagi. Orang malu, takut dan merasa “lebih selamat” jika tidak membawa-bawa Islam.

Dan Pemerintah Kolonial Belanda pun nampak-nampaknya memandang bahaya Islam itu lebih besar dari pada bahaya Komunis. Inilah yang tinggal dan berkesan sampai berpuluh-puluh tahun di belakang. Dan inilah semua yang membangkitkan hasrat pejuang-pejuang Islam di Bandung mengluarkan majalah Pembela Islam. Islam dibela dari celaan yang seakan-akan menunjukkan bahwa Islam tidak berperan apa-apa dalam perjuangan melawan penjajah.

Majalah Pembela Islam benar-benar membuka mata, menunjukkan kepada kita ke mana arah yang kita tuju. Di dalam majalah tersebut terdapat artikel-artikel yang ditulis oleh pemimpin-pemimpin Islam kawakan. Di antaranya M.S. (M. Sabirin) salah seorang pemuka Partai Sarekat Islam, Ali Harharah penganjur Al Irsyad dari Suarabaya, A. Hassan dalam artikel “soal jawab” masalah agama. Namun, yang jadi inti ialah tulisan M. Natsir!

Beliau menulis tentang dasar perjuangan kaum Muslimin dalam mencapai kemerdekaan. Bahwa dalam mengejar cita-citanya, “Kemerdekaan Indonesia”, kaum Muslimin tidak perlu mengemukakan faham Kebangsaan. Cukup dengan dasar Islam saja. Karena berjuang mencapai kemerdekaan sudah menjadi perintah Agama Islam sendiri.

Natsir menjelaskan bahwa gerakan “Kebangsaan” bisa menjadi niat yang salah, menjadi “Ashabiyah”. Bangsakulah yang benar, yang lain salah! Dan Kebangsaan bisa menjadi “Chauvinisme” yang sangat dilarang oleh agama. Artikel yang beliau tulis adalah memakai bahasa Indonesia yang sederhana dan hidup. Dia tulis sambung-menyambung, sehingga mudah difahami, dan bersifat ilmiyah, sehingga yang ditunggu dari Pembela Islam tiap terbitnya ialah karangan M. Natsir!

Tulisan Terkait (Edisi Moh.Natsir)

IKLAN BARIS