• Ikuti kami :

Le Grand Voyage: Perjalanan Menanggalkan Modernitas

Dipublikasikan Jumat, 01 September 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Haji dan qurban merupakan ibadah umat Islam yang telah berlangsung dari zaman ke zaman dan berusia sangat tua. Perjalanan haji, seperti juga qurban, kerap dimaknai sebagai penyucian diri dari segala kehendak manusia yang tidak sesuai dengan fitrah penciptaannya. Sebuah film Prancis berjudul Le Grand Voyage (Perjalanan Akbar) mengangkat tema ini dengan cukup apik. Film ini dibuat oleh produser asal Maroko, Ismael Ferroukhi dan dirilis pada tahun 2004. 

Dengan latar waktu tahun 1990-an, Le Grand Voyage menampilkan dua tokoh utama Mohamed Majd dan Reda. Mohamed Majd adalah seorang imigran tua asal Maroko yang sudah tinggal di Prancis selama 30 tahun. Sementara Reda, putranya, ialah pemuda dengan pergaulan dan budaya Eropa dan tengah menempuh pendidikan Baccalauréat (setingkat diploma) di salah satu kampus di selatan Prancis. Sang ayah hendak berhaji melalui jalur darat, memakai mobil. Majd meminta Reda untuk menemaninya menempuh 3.000 KM lebih dari Paris menuju Mekah. Suatu rencana yang sulit diterima nalar Eropa Reda. 

“Ayah, kenapa kau tidak terbang saja ke Mekah? Sungguh perjalanan seperti ini amat merepotkan,” ujar Reda suatu kali.

Film ini memang didominasi dialog dan permainan emosi antara Majd dan Reda. Konflik dimulai sejak sang ayah meminta Reda untuk mengantarkannya pergi haji menggunakan mobil Peugeot seri 306. Awalnya Majd meminta Khalil, anak pertamanya, untuk mendampingi perjalanan tersebut. Khalil sungguh antusias menerima ajakan itu. Bahkan ia berjanji, jika perjalanan berhaji ini berhasil, ia akan berhenti mabuk dan menunaikan sholat. Akan tetapi, empat hari sebelum keberangkatan, Khalil menyetir sambil mabuk dan menerobos lampu merah. Surat izin mengemudinya dicabut. Tak ada pilihan, Reda harus menemani ayahnya dalam perjalanan besar menuju Baitullah.

Reda sungguh terpaksa dan berat hati menempuh perjalanan bersama ayahnya. Apalagi ia harus menempuh ujian akhir yang pada tahun sebelumnya gagal dilalui. Pergi meninggalkan Lisa, kekasihnya, menambah berat langkah Reda. Ia berfikir ayahnya bisa pergi menggunakan pesawat terbang, lebih mudah, cepat dan praktis ketimbang menempuh perjalanan ribuan kilometer menggunakan mobil. Namun ada kekuatan lain yang menggerakan sang ayah.

Perjalanan pun dimulai dengan kekhusyukan dan keteguhan Mohamed Majd yang disertai keresahan dan kekesalan Reda. Mobil meninggalkan Prancis menuju Italia, Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, dan kemudian Bulgaria. Mereka sampai di penghujung Eropa dan memasuki Asia melalui Turki. Syria dan Yordania menyambut hingga akhirnya tiba di Mekah, Saudi Arabia. Selama berhari-hari ayah dan anak ini melalui banyak negara, beragam kebudayaan, bermacam bahasa dan berbagai peristiwa. Pak Tua Majd menukar perjalanan yang dapat ditempuh pesawat selama enam jam dengan petualangan panjang menggunakan mobil tua. Baginya ada yang lebih bermakna dan berharga dari sekadar efisiensi dan efektivitas.  

Majd dan Reda adalah cerminan dua generasi yang terpisah jarak budaya amat jauh. Perjalanan akbar ke Mekah telah memperlihatkan keterpisahan pendirian, perasaan dan pemikiran yang menjurang lebar antara ayah dan anak ini. Perbedaan tersebut tampak jelas dalam berbagai ketegangan pada keduanya ketika menghadapi berbagai persoalan selama perjalanan. Tak jarang ketegangan itu berubah menjadi perang dingin. Seperti ketika sang ayah mengakui telah membuang telepon genggam milik Reda ke tong sampah, 300 KM di belakang. Pacar atau kawan Reda tak berhenti menghubunginya. Alat komunikasi itu senantiasa meresahkan dan menggoyahkan semangat Reda. Tak ada pilihan, Majd menganggap telepon genggam itu sebagai pengganggu kekhusyukan. Ia membuangnya. Secara simbolik kita dapat melihat modernitas dalam telepon genggam yang meresahkan itu telah "dibuang", ditanggalkan dalam perjalanan suci.

Perjalanan ini juga menemui banyak rintangan yang aneh dan tak terduga. Di Kroasia, keduanya sempat tak yakin dengan arah yang harus dituju. Reda kebingungan membaca peta, sementara ayahnya amat yakin dengan petunjuk matahari. Dalam keadaan demikian mereka dihampiri seorang wanita tua misterius yang meminta tumpangan menuju ke sebuah kota yang namanya tak ada di peta. Wanita ini benar-benar aneh, dia bisa melewati pos perbatasan antar negara tanpa diperiksa. Reda amat tak nyaman dengan wanita tua ini, sementara ayahnya justru terbuka kepadanya. Meski telah ditinggalkan di sebuah rumah makan, wanita aneh ini beberapa kali kembali dalam pandangan Reda secara misterius. 

Dalam perjalanan menuju Bulgaria, keduanya berhenti sejenak menghangatkan badan. Ketika itulah Reda bertanya soal pilihan ayahnya untuk berhaji melalui jalur darat. Dengan bijak sang ayah menjelaskan tujuan perjalanannya ini menggunakan pepatah Arab, “Ketika air samudera menguap menuju langit, rasa asinnya hilang dan air tersebut murni kembali. Air samudera menguap naiknya ke kawanan awan. Saat mereka menguap, air akan menjadi tawar, murni kembali. Itulah sebabnya, lebih baik berangkat haji dengan berjalan kaki daripada menaiki kuda, lebih baik menaiki kuda daripada menggunakan mobil, lebih baik menggunakan mobil daripada menaiki kapal, dan lebih baik menaiki kapal daripada berkendara dengan pesawat”.

Demi mendengar jawaban itu, Reda tersenyum kepada ayahnya. Perlahan-lahan ia mulai memahami maksud dan tujuan ayahnya. Majd menjelaskan kepada Reda dengan Bahasa Arab-Maroko. Begitu pun dalam percakapan Majd sehari-hari dengan keluarganya. Sementara Reda selalu berbicara dengan Bahasa Prancis meskipun kepada ayahnya. Boleh jadi ini adalah simbol ketegangan budaya dalam keluarga imigran yang hendak digambarkan dalam film ini. Lebih jauh ini ialah pertentangan antara nalar Islam dan nalar Barat. Keteguhan dan keyakinan yang diperhadapkan dengan efektivitas dan positivisme.

Hal ini juga tergambar di sebuah malam di Bulgaria. Badai salju datang, dingin menyengat. Reda dan ayahnya memutuskan untuk beristirahat di dalam mobil. Namun badai salju malam itu amat dahsyat. Di pagi hari, mobil mereka tertutup salju secara sempurna. Majd kehilangan kesadaran dengan badan yang amat dingin. Reda segera membawanya ke rumah sakit. Setelah memperoleh perawatan, Majd pulih dengan segera. Kejadian yang amat merisaukan Reda itu, ia hadapi dengan tenang. Keinginan untuk mencapai Mekah dan menunaikan rukun Islam telah mengalahkan banyak rintangan, termasuk kerapuhan daya tahan tubuhnya. 

Memasuki perbatasan Turki, mereka ditahan cukup lama di pos imigrasi karena dokumen perjalanan Reda yang tidak valid. Mereka ditolong oleh seorang laki-laki yang kemudian meminta tumpangan. Bahkan pada akhirnya, lelaki bernama Mustapha ini menyampaikan keinginannya untuk turut serta berangkat haji. Berbeda dengan adegan perempuan tua, Reda amat mudah mempercayai Mustapha. Sementara Majd sangat tidak nyaman dengan kehadirannya.

Di kota seribu masjid itu, mereka malah berwisata mengunjungi beberapa tempat bersejarah. Malamnya mereka menginap di sebuah hotel. Sebenarnya Majd sudah mengingatkan agar Reda tidak percaya begitu saja dengan orang yang baru dikenal meskipun tampak baik dan ramah. Pada akhirnya Reda kena batunya. Mustapha tidak hanya membawanya ke diskotik dan mabuk-mabukan, ia pun menggasak uang Majd. Melapor ke polisi pun tak ada gunanya. Tidak ada bukti dan Mustapha sudah pasti tak mengakuinya. Sang ayah marah pada Reda, “Kau bisa baca dan tulis, tapi buta mengenai kehidupan,” hardiknya.

Majd dan Reda melanjutkan perjalanan menuju Damaskus dengan keadaan serba terbatas. Bensin semakin menipis. Reda was-was tetapi Majd tetap tenang. Majd menyuruh Reda untuk berhenti di pom bensin berikutnya. Tanpa disangka sang ayah mengeluarkan uang yang disimpan di lipatan ikat pinggang. Reda keheranan, Majd menjawab itu adalah uang yang disiapkannya untuk perjalanan pulang, sehingga mereka tetap harus berhemat. Dalam keadaan kurang uang, setiap hari mereka hanya makan roti dan telur. Reda gusar, bahkan marah. Apalagi setelah melihat ayahnya menginfakkan uang kepada pengemis. Reda pergi membawa seluruh barangnya naik ke bukit gurun dan meninggalkan Majd. “Lanjutkan saja perjalananmu sendiri!” tandas Reda sambil berlalu.

Ketika mentari mulai menghilang, Majd menghampiri Reda yang rupanya hanya duduk termangu di atas bukit. Ia menawarkan kepada Reda untuk kembali pulang ke Perancis begitu mereka tiba di Damaskus. “Dari sana aku bisa mengurus perjalananku sendiri. Kita akan jual mobilnya dan kau pulang menggunakan pesawat. Aku tak membutuhkanmu lagi. Engkau bebas sekarang,” tukas Majd.

Reda kembali bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kenapa engkau sangat ingin ke Mekah? Kenapa Mekah sangat berarti sehingga ayah mengusahakan untuk mengendarai mobil sejauh ini bersamaku untuk sampai ke sana?”

Majd menjawab pertanyaan anaknya dengan suaranya yang khas dan menenangkan, “Mekah adalah tempat suci bagi seluruh umat Islam dari seluruh dunia. Tempat ini adalah peninggalan Ibrahim, nabi yang diberkati Allah. Semua orang Islam yang masih mampu secara fisik, mental dan materi harus menyanggupkan diri berangkat ke Mekah sebelum dia meninggal dunia untuk menyucikan jiwanya di sana. Kita semua pasti meninggal di dunia ini karena kita hanyalah tetamu sementara. Ketakutanku satu-satunya dalam perjalanan ini adalah aku akan meninggal sebelum benar-benar sampai di Mekah. Untunglah, kau menemaniku sepanjang perjalanan, Nak. Allah memberkatimu. Aku juga mempelajari banyak hal selama perjalanan ini.”

Reda menjawab dengan takzim, “Begitupun aku, Papa.”

Mereka saling pandang dan tersenyum. Majd beranjak menunaikan sholat sementara Reda hanya terdiam memandang langit. Film ini banyak memainkan emosi kedua tokoh tanpa dialog lisan. Keduanya berdiam di dalam mobil. Kadang sang ayah memandang Reda dengan penuh arti. Kali lainnya Reda memandang sang ayah dan membuang muka karena kesal. 

Film ini benar-benar menampilkan sebuah perjalanan penyucian diri yang ditempuh dengan berbagai cobaan. Majd memilih berhaji melalui jalur darat demi pengukuhan keyakinannya pada Islam. Ia sedang menuju pemurnian jiwa. Perlahan-lahan Majd dan Reda menjauhi teknologi yang bisa berarti pula meninggalkan modernitas. Dimulai dari telepon genggam Reda yang dibuang ke tong sampah; Majd yang lebih mengikuti arah matahari ketimbang Reda yang kukuh membaca peta; sampai Majd yang mengisi setiap waktu dalam perjalanan untuk mengingat Tuhan dengan sholat, dzikir dan membaca Al Qur’an. Puncaknya adalah merasa cukup dengan apa yang ada, seperti makanan sehari-hari yang hanya roti dan telur. Untuk memperoleh daging tidak bisa dengan cara mudah dan praktis. Majd menukar kamera Khalil untuk mendapat seekor kambing hidup. Bahkan pada akhirnya Reda tidak jadi mendapat daging karena kambingnya kabur ketika akan disembelih.

Dibesarkan dalam zaman dan budaya yang berbeda membuat hubungan antara keduanya renggang dan tegang. Reda sudah terlanjur lazim dengan budaya sekular dan hedonis ala Prancis. Ini sangat berlawanan dengan Majd yang masih berusaha mempertahankan tradisi dan keislamannya dalam kehidupan. Perdebatan dan tuntutan tak dapat dihindarkan. Jangankan tergerak untuk turut berhaji seperti ayahnya, Reda sama sekali tidak sholat dan tidak hidup selayaknya orang Islam. Ia mungkin sudah tak merasa perlu beragama.

Puncak konflik kedua tokoh ini terjadi di Damaskus. Sambil menunggu ayahnya kembali dari sholat, Reda mencari sesuatu di bawah jok mobil. Persis di bawah jok mobil ayahnya ia menemukan sebuah kaos kaki yang berisi uang. Awalnya Reda senang, namun sejurus kemudian ia terdiam. Rupanya Reda sadar bahwa uang tersebut adalah uang yang dikira dicuri oleh Mustapha. Reda pun memberikan uang itu pada ayahnya dan berbohong dengan mengatakan uang itu ganti rugi dari konsulat Prancis. Majd tidak percaya. Reda pun tak menyampaikan kebenaran. Mereka bersitegang. Untuk menghilangkan suntuk Reda pergi ke tempat hiburan malam dan membawa perempuan ke hotel. Mengetahui itu Majd amat murka.

Keesokan harinya Majd pergi sendirian menuju Mekah. Reda mengejar, merayu dan memohon maaf berkali-kali dari dalam mobil, sambil pelan-pelan mengikuti Majd yang berjalan acuh. Karena tak kunjung bergeming, Reda pun menuntut sambil berteriak dari dalam mobil, “Apakah agamamu tidak mengajarkan memberi maaf?” Mungkin demi menjaga marwah agama juga kesucian batinnya dalam perjalanan haji, Majd pun kembali melanjutkan perjalanan bersama Reda.

Setelah menempuh perjalanan panjang dengan konflik yang tajam, Majd dan Reda sampai juga di titik miqat, tempat seluruh jamaah haji atau umroh mulai berihram dan berniat haji dengan tulus dan ikhlas karena Allah. Di sini, mereka berjumpa dengan jamaah haji lain dari berbagai penjuru negeri Arab. Dari sini pula Majd meninggalkan Reda dan menuju ke Mekah. Sebelum Majd berangkat, Reda berpesan untuk memberi tahunya jika seluruh proses telah usai. Keesokan harinya Reda menunggu kepulangan sang ayah. Jelang petang ia naik ke atas bus berharap melihat ayahnya kembali. Ini mirip dengan cerita Majd di tengah perjalanan menuju Mekah kepada Reda. Dahulu, Majd kecil menunggu ayahnya pulang haji dari atas bukit setiap hari. Majd kecil berharap ia akan menjadi orang pertama yang melihat dan menyambut kepulangan ayahnya. Ia menunggu di sana sampai larut malam. Malah terkadang sampai jatuh tertidur di sana sampai ibunya menjemput pulang. Kala bercerita, Majd semacam berusaha mewariskan sesuatu kepada Reda.

Reda menanti sampai malam larut sekali tapi Majd tak kunjung pulang bersama jamaah lainnya. Reda mulai khawatir. Dengan kecemasan yang bertambah-tambah, ia pun ikut menaiki bus hingga ke Mekah. Di tengah kerumunan jamaah haji yang berjuta jumlahnya, dia mencari wajah ayahnya yang bersahaja. Emosi yang memuncak membuat Reda berteriak memanggil-manggil ayahnya. Bukan Majd yang datang, melainkan para petugas keamanan. Mereka membawa paksa Reda dan menginterogasinya. Selepas itu, Reda dituntun menuju sebuah lorong gelap yang amat sepi. Rupanya itu adalah tempat jenazah jamaah haji disemayamkan. Ia memasuki sebuah ruangan dengan cahaya redup, menemukan jenazah-jenazah yang bergeletak. Dengan perasaan tak menentu, Reda dibimbing oleh penjaga tempat tersebut untuk mencari ayahnya. Tutup wajah masing-masing jenazah dibuka. Reda belum menemukan ayahnya.

Tiba di jenazah keempat, Reda mendapati wajah ayahnya, pucat, kaku, dengan raga yang tak bisa bergerak lagi. Reda tersungkur lemah menangis di sisi jenazah ayahnya dengan amat memilukan. Pada tangisannya ada cinta, penyesalan, kerinduan, harapan, juga kesedihan. Sebagai anak, Reda menjalankan kewajibannya atas Majd. Dia memandikan dan membungkus jenazah ayahnya dengan kafan untuk disolatkan di Masjidil Haram kemudian dimakamkan. Majd telah sampai pada niatnya untuk menunaikan haji bahkan wafat di tanah haram.  

Rentetan peristiwa yang dialami Reda dalam perjalanan mengantarkan ayahnya berhaji tentu berbekas bagi dirinya. Usai menyelesaikan urusan jenazah Majd. Reda menjual mobilnya dan kembali pulang ke Prancis dengan pesawat. Sebelum beranjak ke bandara menggunakan taksi, Reda melihat seorang pengemis dan menginfakkan sebagian uangnya. Tidak digambarkan di dalam film hal-hal apa saja yang melekat dan mengubah Reda setelah ditinggalkan Majd. Namun dari peristiwa berinfak, pembuat cerita ingin pula menyampaikan, jejak Majd ada yang tertinggal bersama Reda.

Le Grand Voyage mencoba menghadap-hadapkan yang lama dengan yang baru. Modernitas secara langsung dikonfrontasi dengan agama dan kesucian. Seolah-olah, untuk menunjukkan kemuliaan Islam, ia harus diperhadapkan dengan dampak buruk modernisme. Teknologi ditunjukkan sebagai hal yang membuat jiwa manusia cemas, bukan malah membebaskannya. Padahal tanpa diperlawankan dengan keburukan, Islam tetap dan akan selalu mulia. Para pemeluknyalah yang sesungguhnya menjadi cermin ajaran Islam.

Seolah sebagai simbol keberbedaan dari modernitas, pintu mobil Majd dibuat berwarna oranye, kontras dengan keseluruhan mobil yang berwarna biru. Majd digambarkan sebaga sosok yang tenang, banyak berfikir dan merenung, serta pasrah menjalani kehidupan. Sementara Reda adalah sosok yang banyak khawatir, cemas, tergantung pada teknologi serta pragmatis. Jangankan menjalankan rangkaian ibadah, Reda bahkan tak mampu merasakan apa yang dirasakan Majd. Hal-hal yang difikirkan, diyakini, dirasakan, difahami ayah akan realitas tidak berhasil sampai kepada anaknya. Kewajiban agama yang harus ditempuh sang ayah dengan cara yang tampaknya sulit malah dianggap tindakan sia-sia oleh sang anak.

Film ini menunjukkan pula kepada kita keterputusan tradisi antargenerasi yang mungkin jamak terjadi. Ayah dengan anak hidup bersama, di rumah yang sama, namun berada dalam dua tradisi berbeda. Anak-anak Majd berbahasa Prancis, Majd masih berbicara dengan menggunakan Bahasa Arab-Maroko. Anak-anak Majd tidak hanya meninggalkan ibadah wajib tetapi juga mabuk-mabukan dan berpacaran dengan nonmuslim, mereka juga kehilangan jati diri dan mudah terombang-ambing. 

Reda sama sekali tidak mengenal Islam, agama yang dianut kedua orang tuanya. Reda sama sekali tidak mempunyai penghargaan dan pengenalan terhadap kota Mekah, ibadah haji, dan Islam. Saat memohon maaf kepada ayahnya, Reda malah marah, mengumpat dan menuding agama ayahnya tak mengajarkan kemaafan. Bukan tidak mungkin, banyak pemuda muslim atau anak-anak dari orang tua muslim yang jauh dan tidak mengetahui kemuliaan Islam.  Sampai akhir film pun, sayangnya, Reda tidak sampai menemukan makna hidup.

Hal yang mungkin kurang disampaikan dengan mulus dari film yang sangat menarik ini adalah makna penyucian yang berulang-ulang disebut oleh Majd. Dalam Le Grand Voyage, ketenangan Majd seolah-olah diperoleh tanpa referensi epistimologis yang memadai. Padahal ketenangan jiwa adalah sebuah proses panjang batin yang ditempa dengan pendidikan yang baik. Masalah kebersihan hati dan ketenangan jiwa sebetulnya sepadan dan selaras dengan pengetahuan dan kebijaksanaan akal. Sementara dalam kisah Majd, seolah-olah dengan berniat, rajin ibadah, serta banyak berdzikir dan membaca al-Qur’an, ia bisa langsung beroleh ketenangan.


Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS