• Ikuti kami :

Lampu Merah Sebagai Sebuah Teks Terbuka

Dipublikasikan Kamis, 08 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Konon katanya, telah terjadi kesepakatan international tentang beberapa warna lampu di perempatan jalan. Lampu merah telah disepakati sebagai tanda “berhenti”, lampu kuning tanda “hati-hati” dan lampu hijau tanda “silakan jalan”. Semua pengendara di jalan dianggap memahami kesepakatan ini. Artinya ketika lampu rambu jalan berwarna merah, semua pengendara harus berhenti. Kesepakatan ini bersifat universal.

Hubungan merah dan “berhenti” ialah hubungan tanda dan yang ditandai yang berada dalam benak manusia. Merah ialah tanda bagi berhenti. Ketika kita menginderai warna merah, benak kita (secara sangat cepat) akan memberikan perintah kepada tubuh untuk memberhentikan kendaraan. Ada kesadaran bersama yang telah menjadi bagian dari diri para pengendara jalan ketika melihat lampu merah. Maka (seharusnya) ketika lampu itu menyala di persilangan jalan, semua kendaraan yang menghadapnya akan berhenti.

Namun kita tahu bahwa pemaknaan terhadap suatu tanda itu tidak tunggal. Manusia memiliki daya kreasi, daya untuk mengembangkan makna-makna baru di atas makna-makna yang telah mapan. Dan sebagai sebuah tanda, lampu merah ialah juga sebuah teks. Sebagai sebuah teks yang hadir dalam kebudayaan manusia, lampu merah tentu tidak bebas nilai. Merah ialah sebuah teks yang terbuka pada banyak pemaknaan. Orang Italia bernama Umberto Ecco menyebutnya sebagai opera aperta, teks terbuka. Maksudnya terbuka terhadap pemaknaan. Memang kerap kali sebuah teks ditafsirkan secara berbeda oleh pengarangnya. Ini pula yang terjadi pada lampu merah.

Pada awalnya lampu merah bermakna “berhenti”. Akan tetapi hal ini bukanlah sesuatu yang statis. Lampu merah telah terlibat dalam kronik kebudayaan yang melibatkan manusia-manusia dalam kurun waktu tertentu. Ia menyejarah dan terikat konteks. Kebetulan konteks yang melingkupi lampu merah di negeri kita ialah budaya tak tertib di ujung puncak modernitas manusia Indonesia. Konteks historis-kultural itu lah yang telah menghasilkan makna baru pada lampu merah sebagai “berhenti kalau ada polisi, lanjut terus kalau tak ada polisi”. Kalau mengikuti istilah Roland Barthes, telah terjadi pengembangan-pengembangan konotatif pada contenu (makna/isi) di tingkat meta-bahasa pada tanda lampu merah.

Makna-makna lain hasil penafsiran atas lampu merah juga berkembang berdasarkan banyak mitos dan ideologi. Ideologi “peraturan dibuat untuk dilanggar” telah melahirkan rasa tak bersalah ketika melanggar lampu merah. Karena itu kita dapat melihat bapak-bapak bersiul-siul pura-pura tak paham ketika seorang ibu menghardiknya karena merampas jalur si ibu. Kadang ideologi berkembang menjadi mitos seperti terjadi pada “melanggar peraturan itu keren” yang telah melahirkan kebanggan terhadap sikap urakan di jalan raya. Seperti anak SMP yang merasa menjadi “lelaki” ketika menghisap rokok. Berani melanggar itu dewasa menurut pikiran kekanak-kanakan mereka.

Di sini kita melihat bahwa lampu merah bukan lah tanda yang tunggal melainkan tanda yang terlibat dengan tanda-tanda lainnya. Intertekstualitas!!! Lampu merah telah terlibat secara intens dengan tanda lainnya (polisi) dan bertaut dengan bermacam ideologi manusia modern. Salah satunya ialah ideologi: yang terutama adalah kepentingan pribadi. Ideologi yang terejawantah dalam istilah “siapa cepat, dia dapat!!!”

Pak Polisi yang kadang-kadang memberhentikan para penerobos juga adalah tanda. Tanda perdamaian. Hal ini (konon katanya) juga bersifat universal. Memang tidak ada yang mengaku sebagai penemu tanda ini. Tidak ada konvensi resmi mengenai hal ini. Tetapi secara sosial kita telah tahu sama tahu apa makna damai ini walau sering bersikap pura-pura tidak tahu demi menjaga perasaan banyak fihak. Tanda damai dengan asas kekeluargaan semacam ini tidak perlu dijelaskan lebih jauh karena kita semua telah memahaminya dengan seksama.

Kejengkelan orang-orang yang haknya dilanggar adalah juga tanda dari cinta antar sesama manusia yang semakin bangkrut di jalan raya. Tapi jangan kuatir, kejengkelan macam itu juga ialah sebuah teks yang terbuka untuk ditafsirkan berkali-kali, berlapis-lapis. Kita misalnya bisa menafsirkan kejengkelan-kejengkelan di jalan raya sebagai tingginya tingkat persaingan manusia Indonesia. Kita ialah manusia-manusia kompetitif yang cinta damai.

Maka motor-motor pada ngebut di jalan raya menerobos lampu merah. Klakson, umpatan, kekesalan, perdamaian dan kejengkelan bersisahut meningkahi bermacam penafsiran atas lampu merah.

Kita tidak boleh menyebut penafsiran-penafsiran itu sebagai sesuatu yang terlarang. Melarang orang lain untuk menafsirkan lampu merah ialah tindakan yang intoleran. Kita tidak boleh mendaku kebenaran kita atas lampu merah adalah yang paling benar, adalah yang paling utama. Memaksakan pemahaman kita terhadap lampu merah ialah tindakan anti keberagaman.

Negara harus hadir di perempatan jalan untuk menjamin kebebasan penafsiran yang terbuka dan seluas-luasnya atas lampu merah sambil memanggul-manggul poster: Saya Pancasila!!! Saya Indonesia!!!    


Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

IKLAN BARIS