• Ikuti kami :

Konspirasi Yahudi dan Terlalu Hobi

Dipublikasikan Rabu, 01 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Konspirasi Yahudi telah menguasai hidup kita. Politik kita sangat terpengaruh oleh konspirasi ini. Sampai sekarang umat Islam tak bisa bersatu secara politik karena Yahudi. Umat Islam dibuat selalu berhantam dengan pola-pola tertentu yang sangat rahasia. Celakanya, kita juga hobi bersengketa. Maka bertemulah kesepaduan itu: konspirasi Yahudi dan hobi kita berhantam. Jadilah umat kita tak pernah bersatu.

Partai-partai Islam disusupi Yahudi lewat pemikiran-pemikiran sekuler liberal. Kebetulan kita hobi menggunakan istilah-istilah rumit dalam politik dan malas menggali khazanah kita sendiri. Kita sering merasa naik derajat kalau menggunakan istilah progresif, liberatif, pembebasan, atau yang semacamnya. Di sinilah konspirasi Yahudi bersipadu dengan hobi kita. Kita terus-terusan berusaha mengejar gagasan sekuler liberal agar Islam tak ketinggalan, tetapi kita melupakan khazanah kita sendiri. Tak kita baca Raja Ali Haji dan alim Malaka atau Aceh di masa lalu. Kita mengejar Barat tanpa mau menjejak pada sejarah kita sendiri.

Konspirasi Yahudi juga menjadi tertuduh pada perpecahan kita. Umat Islam tak bisa bersatu karena konspirasi Yahudi. Yahudi menyusup di bermacam organisasi, menyebarkan kebencian dan mengatur sedemikian rupa agar umat tak sehati. Fanatisme dipupuk dan saling pengertian dibungkam. Kebetulan kita memang hobi berpecah belah. Dalam sebuah muktamar, seorang pemimpin sidang berujar, “Dengan mengucapkan bismillahirahmanirahim, kami menyatakan berpisah dari *** dan mendirikan partai sendiri yang akan diatur kemudian,” begitu kira-kira. Di antara kita ada yang memulai perpecahan dengan mengucap basmalah. Yahudi berkonspirasi, kita punya hobi.

Pun halnya di bidang ekonomi, Yahudilah yang membuat kira terpuruk. Mereka mengatur hal-hal yang tak terjangkau untuk kita atur. Sektor-sektor penting ekonomi kita mereka kuasai. Mereka diam-diam berkonspirasi dengan para pengambil kebijakan. Dari tingkat menteri sampai tingkat yang lebih tinggi terlibat lobi Yahudi. Yahudi punya kendali. Kebetulan kita hobi abai terhadap nasib kita sendiri. Kita masih sering senang melihat orang susah dan sering susah kalau melihat orang lain senang. Kalau ada bagian dari umat yang mulai coba mandiri (misalnya membuat produk-produk saingan Yahudi), bukannya kita dukung malah kita ejek. Beli kagak, ngenye iya. Pas sudah, konspirasi dan hobi.

Di dalam masyarakat Islam, wacana mengenai konspirasi Yahudi menguasai nyaris setiap denyut hidup. Dari mulai E-KTP sampai makanan ber-MSG, mulai dari haji sampai keributan antar-organisasi, semuanya serbakonspirasi. Pembuktian soal ada-tidaknya konspirasi ini atau benar-tidaknya hal ini belum pernah dilakukan dengan saksama. Konspirasi Yahudi benar-benar seperti kentut; baunya selalu tercium tapi sering kali bentuknya sulit dilihat.

Memang, sudah ada lembaga-lembaga yang mencoba secara saksama menelaah masalah ini. Mereka menelusuri dengan saksama beragam simbol Yahudi yang berseliweran di wilayah Muslim. Dari mulai logo UIN Jakarta sampai anyaman kandang ayam disinyalir berbau simbol Yahudi. Telaah-telaah ini telah dilakukan dalam waktu yang lama. Berbaur dengan berita-berita mengenai sekumpulan anak muda penyembah setan, peminum darah bayi. Yahudi dan pengaruhnya mungkin ada di sekitar kita. Tetapi, masalahnya, mengapa kita bisa terpengaruh?

Politik kita karut-marut tak karuan, juga ekonomi dan kehidupan sosial. Anak-anak muda kita berperilaku awut-awutan. Musik dan film mencandu. Yahudi bisa jadi benar-benar berkonspirasi, tetapi mengapa kita bisa termakan konspirasi itu? Begitu cerdik dan pintarkah Yahudi sehingga kita begitu dungu terperangkap oleh mereka?

Kita mesti mengurai baik-baik masalah ini. Konspirasi Yahudi harus disikapi dengan keterjagaan pikiran yang memadai. Sebab, akhir-akhir ini Yahudi menjadi mitos yang ada di mana-mana. Segala sesuatu yang tak bersesuaian dengan kita kemudian kita kaitkan dengan konspirasi, padahal tak semua hal dikuasai dan dijamah oleh Yahudi. Yahudi-yahudi itu tetap saja manusia biasa seperti kita. Makan, minum, beranak, dan kelak akan mati.

Selain mewaspadai konspirasi Yahudi dan bersikap tepat terhadap isu tersebut, kita juga perlu mengurangi hobi jelek kita. Harus ada yang memulai berpikir lebih terbuka mengenai umat. Sekat-sekat kelompok dan perbedaan mesti disikapi dengan lebih bijak.

Urusan-urusan umat harus dipandang dengan lebih luas. Kita juga perlu membangun kesenian yang memadai, biar anak muda punya pegangan. Kalau seni Islam tak dikembangkan, ya, mereka akan mencari yang bukan Islam. Nanti ketika pemilihan umum, anak-anak muda ini akan merasa risih dengan partai Islam karena tak terbuka pada selera musik mereka. Partai (yang dituduh) yang ditunggangi Yahudilah yang akan menangguk untungnya.

Kita juga bisa bilang sistem politik kita (juga tata ekonomi dan budaya) dipengaruhi oleh Yahudi. Biar Yahudi pergi dari kehidupan kita, kita perlu menyusun tata politik, tata ekonomi, dan tata budaya yang sesuai dengan kepribadian kita. Kita harus kuat dan harus mengurangi kegemaran kita bersengketa. Tak semua hal harus dilemparkan pada konspirasi Yahudi. Kita juga perlu menimbang laku kita sendiri.

Jadi cara terbaik menghadapi konspirasi Yahudi ialah mengurangi hobi kita: hobi berantem, hobi bersengketa, dan hobi saling berseteru sesama kita.


Tulisan Terkait (Edisi Politik)

IKLAN BARIS