• Ikuti kami :

Konsep Kota dalam Tradisi Islam: Sebuah Pengantar

Dipublikasikan Jumat, 27 Januari 2017 dalam rubrik  Tafakur

Salah satu ciri peradaban modern adalah berkembangnya kota-kota yang penuh dengan kemewahan teknologi, ketertataan, institusi bisnis dan hiburan, teknologi transportasi canggih, dan lain sebagainya. Kota memang salah satu ciri penting sebuah peradaban. Banyak peradaban besar bermula dan berintikan sebuah kota. Peradaban Mesopotamia memiliki Kota Ur, Ereck, dan Kish. Peradaban Yunani Kuno terkenal dengan Polis (kota) Athena dan Sparta. Juga peradaban Mesir Kuno.

Kota-kota tersebut sebenarnya merupakan cerminan dari sebuah gagasan. Athena tidak sebatas nama sebuah kota, di dalamnya terkandung nilai-nilai falsafah yang dianut para pemangku kepentingan di kota tersebut. Begitu pula Sparta yang menjadikan gagasan kemiliteran sebagai asas kota itu. Athena tanpa filsafat (Yunani) bukanlah Athena, pula Sparta tanpa pandangan kemiliteran bukanlah Sparta. Semua kota peradaban memiliki ciri khas tertentu yang berangkat dari cara pandang penghuninya terhadap diri, lingkungan, dan antarsesama.

Dalam tradisi Islam, kota juga menjadi salah satu aspek penting dalam peradabannya. Kita umat Islam mestilah mengenal Madinah. Ia adalah salah satu dari tiga kota suci utama umat Islam, selain Makkah dan Baitul Maqdis. Ketiga kota tersebut didirikan menurut gagasan tertentu yang berasal dari pandangan Islam terhadap kewujudan. Kota-kota tersebut didirikan dengan menjadikan Islam sebagai asasnya. Konsep kota ini oleh para ulama masa lampau disebut dengan istilah madinah. Kata ini merujuk kepada dua hal: gagasan dan perwujudan dari gagasan itu. Bentuk nyatanya berupa Kota Madinah di Semenanjung Arab, tempat tinggal Nabi Suci dahulu. Di situ pulalah terletak makam beliau. Kota Madinah hadir berdasarkan gagasan mengenai madinah yang menjadi acuannya dalam membangun dan mengelola kota itu.

Mengenai Madinah, awalnya kota itu bernama Yatsrib, kemudian berubah menjadi Madinah. Perubahan nama kota itu akibat dari perubahan gagasan tentang rancang bangun, tata kelola, dan tata masyarakat yang berbeda. Gagasan Madinah bermula dari gagasan tentang agama. Kata dīn terhubung maknanya dengan madinah.

Dīn dan Manusia

Soal dīn, maknanya dapat disimpulkan menjadi empat makna yang saling berkait satu dengan lainnya: Pertama, dīn berhubung makna dengan dānā yang artinya berutang. Kedua, dīn dihubungkan dengan konsep penyerahan diri. Ketiga, dīn dihubungkan dengan konsep kuasa peradilan (hukum dan tata aturan). Terakhir, dīn dihubungkan dengan kecenderungan alami (fitrah).

Kata dānā berkait makna dengan dīn yang bermakna ‘berutang’. Manusia memiliki utang karena diberikan eksistensi (kewujudan) oleh Allah. Dengan demikian, manusia dituntut untuk membayar utangnya kepada Sang Pemberi Utang (al-Attas, 2010: 66). Keadaan berutang manusia itu diperlihatkan dalam Al Qur’an, bahwa manusia itu berutang wujud (eksistensi) kepada Allah. Dialah yang menjadikan manusia wujud. Manusia awalnya tak wujud kemudian diwujudkan oleh Allah SWT, dalam tahapan-tahapan tertentu yang dikehendaki-Nya menunjukkan keseriusan-Nya dalam menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna (QS al-Mu’minun: 12-14). Kewujudan itu adalah utang teramat besar manusia kepada Allah SWT (al-Attas, 2010: 69-70). Manusia yang menyadari hal tersebut mendapati bahwa ia memiliki utang kepada Allah yang tak terkirakan, sadar tidak memiliki kekuatan apa pun, dan hanya menjadi ada karena kerahmatan dan kerahiman-Nya (al-Attas, 2010: 70—71; 113).

Sebagai yang berutang, tentu manusia harus membayar utangnya sesuai dengan kehendak Yang Memberi Utang. Hubungan tersebut berbentuk kuasa dan peraturan. Allah, sebagai yang memberikan utang kepada manusia, menentukan cara-cara tertentu dalam pembayaran utang yang dikehendaki-Nya (syariah). Maka Sang Pemberi Utang melakukan tindakan-tindakan kuasa, peradilan, penghakiman, atau pembalasan (al-Attas, 2010: 68).

Kemudian, ketiga hubungan makna di atas berakibat tuntutan kepada yang berutang (manusia) untuk berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Yang Memberi Utang (Allah SWT). Hal tersebut tentu saja sesuatu yang di hadapan Tuhan ialah sesuatu yang benar, suatu keadaan yang wajar. Yang dimaksud dengan wajar di sini kemudian dipahami melalui kata fitrah. Qur’an menunjukkan bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali sebagai hamba yang bertugas beribadah kepada Allah (al-Dzariyat: 56). Prof al-Attas menunjukkan bahwa mengabdi kepada Allah (dengan cara yang benar) adalah sebuah fitrah (al-Attas, 2010: 77). Beragama (dīn) adalah kondisi fitrah manusia untuk mengembalikannya kembali kepada keadaan yang asal (al-Attas, 2010: 68; 77-78).

Keadaan asal itu dalam pandangan Al Qur’an berangkat dari perjanjian primordial tatkala manusia masih berupa ruh yang berada di alam Lauhul Mahfuz. Telah diterangkan di dalam Al Qur’an (al-A’raf: 172) bahwa jiwa-jiwa manusia telah bersumpah di hadapan Sang Pencipta ketika ditanya apakah Ia adalah Tuhan mereka (jiwa manusia), kemudian para manusia menjawab bahwa mereka bersumpah bahwa Allah adalah Tuhan mereka (al-Attas, 2010: 71-72).

Dapat disimpulkan secara sederhana, pada akhirnya agama (dīn) di dalam Islam tidak hanya merupakan seperangkat tata cara menyembah Tuhan. Lebih dari itu, dīn merupakan sebuah penjalanan tata kehidupan yang berkesadaran akan Tuhan. Setiap tindak dan laku manusia disadari sebagai bagian yang terikat secara penuh terhadap Tuhan. Allah SWT menjadi tujuan paling akhir dari segala tindakan. Oleh karena itu, dalam hal ini dīn berarti sebuah cara pandang terhadap segala wujud. Dīn al-Islām dapat diterjemahkan pula sebagai cara pandang khas Islam terhadap segala wujud yang menjadikan Allah SWT sebagai pusat dan tujuan akhir. Dan memandang hal tersebut sedemikian sebenarnya adalah fitrah manusia.

Dīn dan Madinah

Dalam hubungannya dengan konsep kota, kata dīn juga memiliki hubungan makna dengan kata maddana yang bermakna membangun atau membina kota, membangun peradaban, memurnikan, memanusiakan (al-Attas, 2010: 67). Dari kata maddana, lahir kata tamaddun yang bermakna peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial (al-Attas, 2010: 67-68).

Pada pembahasan di atas, terlihat indikasi keberadaan konsep kota pada dīn. Untuk lebih lanjut, al-Attas menunjukkan hubungan antara dīn dan madinah sebagai berikut:

“…adalah sesuatu yang hanya mungkin terjadi dalam masyarakat yang tersusun dan terlibat dalam kegiatan perdagangan di dalam kota yang disebut dengan mudun atau mada’in. Suatu kota, atau madinah, memiliki seorang hakim, penguasa atau pemerintah yaitu dayyan. Maka dari sini, melihat berbagai penggunaan kata yang berasal dari akar kata dānā, kita dapat melihat suatu gambaran dalam fikiran kita bahwa hal itu berkaitan dengan kehidupan dalam suatu peradaban, suatu kehidupan bermasyarakat yang diatur dengan hukum, peraturan, keadilan, dan otoritas …”(al-Attas, 2010: 67).

Kota Madinah sebagai Perwujudan Gagasan Madinah

Al-Attas menekankan hubungan yang erat antara dīn dan madinah. Pada peradaban Islam generasi pertama, bentuk konkret dari madinah adalah Kota Yatsrib. Beliau menyatakan, disebabkan oleh kenyataan hubungan erat antara dīn dan tata kota (sosial), maka umat Islam pertama (Nabi dan sahabat) dengan sadar mengubah nama Kota Yatsrib dengan nama Madinah al-Nabi setelah peristiwa Hijrah (Wan Daud, 1998: 192).

Berkenaan dengannya, mengutip al-Attas:

“… Kita harus melihat hakikat bahwa al Madinah disebut dan dinamakan demikian karena di sanalah dīn benar-benar tegak untuk umat manusia. Di sana orang beriman menghambakan diri di bawah otoritas dan kuasa hukum Nabi Sallallahu ‘alayhi wasallam, dayyan-nya; di sanalah kesadaran keberutangan kepada Allah mengambil bentuknya yang pasti, dan cara serta kaidah pembayarannya yang disetujui mulai diterangkan dengan jelas. Kota Nabi memberi makna tempat di mana dīn yang sebenarnya dilaksanakan di bawah otoritas dan kekuasaan hukumnya. Lebih jauh kita dapat melihat bahwa kota itu bagi masyarakat tersebut menjadi contoh unggul sistem sosio-politik Islam ….” (catatan kaki nomor 50, dalam al-Attas, 2010: 67)

Dalam pandangan manusia Muslim, sebuah kota tidak semata dilihat sebagai tempat tinggal, tempatnya hidup dan mencari kehidupan. Manusia Muslim (idealnya) juga melihat sebuah kota sebagai sesuatu yang hidup. Dalam pandangan kajian beberapa ulama sohor tempo dulu, kota sering kali dianalogikan sebagai sosok makhluk manusia. Kota dianggap sebagai representasi keteraturan alam (kosmos) Tuhan.

Sebut saja al-Farabi, salah satu pemikir terkenal semasa peradaban Islam masa lampau, melihat bahwa kota (madinah) analog dengan tubuh manusia. Ada hubungan yang bertingkat antarpenghuni kota, satu dengan yang lainnya; meskipun bertingkat, memiliki peran penting dalam kehidupan sebuah kota. Ibarat tubuh manusia, masing-masing organ memiliki peran yang khas, bertingkat, dari yang utama hingga yang terendah, tetapi tetap berperan penting dalam kehidupan manusia. Inti sebuah kota, merujuk kepada al-Farabi, seperti jantung manusia. Ia merupakan inti. Dan secara hierarkis, organ-organ lainnya saling mengisi peran dan mendukung di sekitaran jantung (Madinat al Fadillah: 71,74-80; dalam Abuzeid, 1987: 146).

Selain itu, sama seperti tubuh yang sehat sempurna adalah tubuh yang organnya bekerja sama untuk mencapai dan melestarikan kehidupan paling sempurna dan sehat, kota yang saleh adalah kota dengan bagian-bagian penghuni kota yang berbeda bekerja sama untuk mengejar, mencapai, dan mempertahankan kebahagiaan. Sementara tubuh memiliki fakultas yang memungkinkan organ yang berbeda untuk berfungsi secara alami, orang-orang kota yang “ditakdirkan” untuk peran dan posisi yang berbeda tidak hanya berdasarkan disposisi alami mereka yang berbeda, tetapi juga oleh karakter dan kebajikan yang mereka peroleh secara sukarela (Madinat al Fadillah: 97—98, Siyasah: 77—78; dalam Abouzeid, 1987: 147)

Yang dikejar oleh penghuni sebuah kota adalah kebahagiaan yang sejati bagi penduduknya. Itu ditekankan oleh al-Farabi dan juga dicerminkan oleh laku jalannya Kota Madinah semasa Nabi dan para sahabatnya di masa lampau. Kebahagiaan itu dapat diraih jika masyarakatnya memiliki pemahaman akan kebajikan sejati. Berkenaan dengannya, meskipun masing-masing anggota masyarakat memiliki kemampuan dan tingkatan pemahaman (ilmu) yang berbeda, kesemua dari mereka harus mengetahui—menurut masing-masing kapasitasnya—akan Tuhan, prinsip-prinsip wujud dan tingkatan-tingkatannya (Siyasah: 85; Madinat al Fadillah: 121—122; Aphorisms: 53; dalam Abouzeid, 1987: 149).

Penutup: Sebagai Bahan Renungan

Gagasan al-Farabi dan apa yang diungkapkan al-Attas tentang konsep kota dalam pandangan Islam menyambung erat. Kesemuanya adalah bentuk penafsiran (berdasarkan Islam sebagai asas) para sarjana Muslim terkemuka mengenai kota yang dicontohkan secara nyata pada kehidupan Madinah masa lampau. Ini menjadi konsep utama dalam pengelolaan kota pada peradaban Islam.

Saudara dan Saudari kami yang dirahmati Allah, tentu tulisan ini hanya bentuk kilasan pengantar mengenai konsep kota dalam pandangan para ilmuwan dan para datuk kita terdahulu yang berlandaskan Islam, bahwa agama menjadi jantung sebuah kota adalah kenyataan yang didapat dalam sejarah peradaban perkotaan kita di masa lampau. Tidak hanya Madinah, kota seperti Kordoba, Baghdad, dan beberapa kota besar di jazirah Timur Tengah masa lampau dan di bumi nusantara ini, semisal Kutaraja (sekarang Banda Aceh), memilliki inti gagasan sama: konsep madinah sebagai cita-cita dan tolok ukur dalam membangun sebuah kota.

Merujuk kepada keadaan dewasa ini, konsep kota madinah dapat menjadi alternatif gagasan tentang rancang bangun, tujuan, dan tata kelola sebuah kota di era modern ini. Dengan gagasan ini kami berharap persoalan-persoalan peniadaan kemanusiaan di masyarakat kota dapat dijawab dengan baik demi kebaikan bersama, demi kebaikan warga kota itu sendiri.


Sumber bacaan:

Abouzeid, Ola Abdelaziz. 1987. A Comparative Study between The Political Theories of Al Farabi and The Brethren of Purity. Toronto: Department of Middle East and Islamic Studies, University of Toronto.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, (penerjemah) Khalif Muammar. 2010: Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN-ATMA Universitas Kebangsaan Malaysia.

Wan Daud, Wan Mohammad Nor, (penerjemah) Hamid Fahmy Zarkasyi. 1998. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al Attas. Bandung: Mizan.  

Hitti, Phillip. K. 1973. Capital Cities of Arab Islam. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Sharif, Mian Muhammad. 1963. A History of Muslim Philosophy, Vol 1. Otto Harrassowitz—Wiesbaden.

Sharif, Mian Muhammad. 1966. A History of Muslim Philosophy, Vol 2. Otto Harrassowitz—Wiesbaden.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS