• Ikuti kami :

Kolonialisme Baru Sinetron Indonesia

Dipublikasikan Sabtu, 18 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Peranakan di Indonesia sebetulnya tidak hanya soal keturunan Cina atau keturunan Arab. Ada sekelompok peranakan lain yang sebetulnya jauh lebih dekat dan lekat pada kita semua, khususnya penggemar sinema elektronik di layar kaca.

Sinetron atau sinema elektronik adalah program drama hiburan yang paling setia dinanti masyarakat Indonesia. Kisah sedih seorang anak perempuan yang tertukar saat lahir dan hidup melarat padahal orang tuanya kaya raya, kisah siluman serigala bersaudara yang tertarik dengan kecantikan dan kebaikan gadis sederhana di sekolahnya, sampai cerita tukang bubur ayam yang bisa berangkat haji tapi tak pernah kembali walaupun sudah tayang beribu episode.

Dalam sinetron-sinteron itu kita kerap disuguhi wajah-wajah cantik dan tampan serta tubuh tinggi semampai dengan beberapa kemampuan bermain peran yang sering kali ala kadarnya. Cukup teriak-teriak dan memelototkan mata untuk marah, bibir ditekuk, tundukan mata, dan tetes mata untuk sedih, atau wajah polos bengong tak percaya yang disusul senyum agak dipaksakan untuk kebahagiaan yang tak disangka-sangka. Maklum, demi produksi yang murah, produser adakalanya memilih pemain peran baru yang sama sekali belum pernah berakting.

Akhirnya, demi menarik mata para penonton, dibangunlah cerita yang amat dramatis dan dipilihlah pemain-pemain yang cantik dan bagus rupa. Mereka adalah artis-artis baru yang direkrut di mal-mal. Setelah sinetron baru itu, beberapa nama melejit, jadi idola baru. Mereka inilah peranakan bule atau juga disebut “orang indo”.

Tahun 80-an, kita baru punya satu stasiun televisi, TVRI. Sinetron dan film Indonesia di TVRI pun masih diwarnai oleh wajah-wajah Indonesia. Kita mengenal Dedy Sutomo, Aminah Cendrakasih, Dedy Mizwar, Neno Warisman, Dede Yusuf, Dewi Yull, Gusti Randa, dan Mieke Wijaya. Akan tetapi sejak tahun 90-an sampai sekarang semacam ada tren yang tak berhenti untuk menampilkan wajah-wajah blasteran, mata bulat berkelopak, berhidung mancung, bertulang pipi tegas, berahang kuat, dan berkulit putih bersih.

Pada era 90-an kakak beradik Ari Wibowo dan Ira Wibowo, Adjie Massaid, Gladys Suwandhi, Meriam Bellina, menjadi idola dan digandrungi penonton Indonesia. Memasuki era 2000-an kita kenal Tamara Bleszynski, Jeremy Thomas, Sophia Latjuba, Indra Brugman, Febi Febiola, Thomas Djorgi, Mariana Renata, Bertrand Antolin. Mereka mengantarkan industri hiburan Indonesia semakin jauh dari kenyataan orang Indonesia, tetapi menghibur dan menghasilkan uang. Semakin penonton terhibur, semakin produser meraup untung. Maka muncullah stigma bahwa blasteran lebih mudah jadi artis dan terkenal.

Sekitar tahun 2007, selama satu tahun, Cinta Laura yang entah siapa tiba-tiba menjadi pemeran utama di sebuah sinetron menjadi gadis miskin berwajah bule dan berlogat Inggris yang diculik sejak bayi lalu hidup sengsara dan melarat. Sinetron itu meledak dan melejitkan nama dan gaya bicaranya. Sinetron ini tidak hanya jadi sinetron terfavorit bagi penonton SCTV tahun itu, tapi juga ditayangkan di saluran RTM TV2 Malaysia pada 2011. Sampai sekarang, masih lekat di benak kita ungkapan “sudah hujan, becek, nggak ada tukang ojek” ala Cinta Laura.

Tahun 2014, Ganteng-Ganteng Serigala menjadi sinetron dengan rating tertinggi, Jessica Mila, Ciccio Manassero, Cassandra Lee, Dahlia Poland, Michelle Joan, Pamela Bowie, Rebecca Tamara dan beberapa deret artis baru dengan wajah peranakan ini sukses bikin penonton Indonesia kelepek-kelepek. Meskipun sinetron ini sempat dua kali mendapat teguran dari KPI dan diberhentikan penayangannya tiga hari, penonton setianya masih saja sabar menanti, ratingnya masih tinggi. Seolah-olah teguran KPI sekadar angin lalu yang tak bermakna.

Lalu akhir tahun 2015 muncul sinetron Anak Jalanan yang tayang sampai awal tahun ini. Sinetron yang membuat ibu-ibu melantunkan innalillahi wainna ilaihi raajiun dengan takzim, lirih, dan khusyuk saat pemeran utamanya, Boy yang diperankan Stefan William, meninggal dunia. Para pemainnya adalah deretan wajah peranakan bule. Selain Stefan William, ada Natasha Wilona, Dylan Carr, Irish Bella, Cemal Urhan, Megan Domani, hingga Mischa Chandrawinata. Pembaca tidak mengenal nama-nama itu? Percayalah, penulis pun perlu berselancar agak lama di internet untuk memastikan mereka artis sinetron dan keturunan bule. Tetapi agaknya pembaca yang di ujung sana malah diam-diam sudah lama mengagumi kecantikan dan ketampanan mereka, menjadi pendongkrak rating sinetron Indonesia.

Di dalam sistem sosial, kita mengenal stratifikasi, yakni pembagian masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial tertentu. Misalnya di dalam Hindu kita mengenal sistem kasta sebagai stratifikasi sosial. Secara berurutan pelapisannya adalah kaum brahmana, ksatria, waisya, sudra, hingga paria. Dahulu keadaan ini pernah berlangsung dengan cukup ketat. Akan tetapi lama kelamaan berkembang menjadi sekadar profesi. Pada dasarnya pelapisan macam ini terjadi di berbagai aspek kehidupan sebagai klasifikasi.

Pada masa lalu kita pernah berada dalam situasi stratifikasi sosial yang kurang menyenangkan. Era kolonialisme Belanda, para penjajah itu menempatkan dirinya pada posisi sosial teratas bersama orang-orang Eropa lainnya, disusul orang-orang Asia Timur yakni Cina dan Jepang, baru kaum bumiputra, kita semua, ada di lapisan terbawah. Ini tercatat pada Indische Staatsregeling tahun 1927.

Pemisahan semacam ini tidak hanya untuk melakukan klasifikasi dan penyelesaian persoalan di tengah masyarakat. Pelapisan ini justru bermakna akses dan kesempatan terhadap perekonomian, hukum, pendidikan, kesehatan, serta kemasyarakatan. Dapat dipastikan, lapisan teratas dalam Indische Staatsregeling dapat memperoleh fasilitas dan kemudahan akses berlebih. Lapisan paling bawah, yang mereka sebut inlander, adalah kelas keset, budak, atau pesuruh.

Meskipun berada dalam keadaan ekonomi dan politik yang demikian menyesakkan, kaum bumiputra bangkit dan melawan. Jiwa-jiwa kita adalah jiwa merdeka yang tak menghendaki penguasaan dari pihak lain. Para pendahulu kita adalah orang-orang yang menunjukkan pada kita bahwa jiwa tak dapat terbelenggu oleh keserakahan dan kezaliman, juga tradisi yang penuh takhayul dan mitos. Mereka ini sesungguhnya menunjukkan kepada kita semua, kekalahan dalam peperangan dengan Belanda tak terlalu bernilai jika upaya merebut hidup mulia harus dibayar dengan mati syahid. Yang dihayati dan hendak diajarkan para pendahulu kita itu adalah penghambaan yang utuh kepada Tuhan Semesta Alam.

Wajah sinetron Indonesia didominasi wajah peranakan bule ini sesungguhnya menunjukkan bahwa bangsa yang telah memproklamasikan kemerdekaannya ini, bangsa yang memiliki ulama, pahlawan, dan pejuang berjiwa merdeka ini, kini terbelenggu inferiority complex. Kita mengagumi sampul sampai termehek-mehek. Lihatlah betapa noraknya kita jika mendapati bule di jalan raya. Dengan bahasa Inggris kacau balau menyapa dengan, “Mister, wer ar yu?” padahal maksudnya “Where are you come from?” Atau tengoklah girangnya kita saat bisa berfoto sama bule yang kita temui di sembarang tempat, padahal dia bukan siapa-siapa. Para pemudi harapan bangsa pun mendambakan pria bule menikahinya untuk memperbaiki keturunan. Katanya ingin punya anak yang berkulit putih dan berhidung mancung. Apa yang salah dengan kulit sawo matang dan hidung pesek? Apakah yang berkulit sawo matang dan berhidung pesek tak bisa berpikir maju dan memimpin dunia?

Hal yang jauh lebih buruk, kita juga punya imajinasi bahwa setiap bule adalah kaya dan kekayaan adalah kebahagiaan. Maka keruklah sedalam-dalamnya dompet para bule agar kita ikut bahagia seperti mereka. Jika seorang pedagang menjual gado-gado pada penduduk sekitar Rp 10 ribu per porsi, pada beberapa tempat ada yang tega menjual Rp 25 ribu pada bule yang mampir untuk makan. Pada persoalan ini, para bule ini sebetulnya merasa berat juga. Sebetulnya tidak semua dari mereka yang datang ke Indonesia adalah pelancong kaya. Banyak juga dari mereka perlu menabung berbulan-bulan untuk bisa liburan ke surga pantai dan matahari bernama Indonesia.  

Di alam Indonesia yang katanya sudah memproklamasikan kemerdekaan ini, jiwa dan akal kita masih saja terjerat kondisi psikologis merasa lemah dan lebih rendah dari pihak lain. Sinetron Ganteng-Ganteng Serigala dan Anak Jalanan yang menduduki rating tertinggi acara televisi adalah cermin jiwa kita. Amat gandrung pada sampul sampai meninggikan harapan ke awang-awang untuk bertampang cantik dan tampan seperti para artis itu. Siapa tahu kalau rajin nonton jadi ketularan dan naik derajat. Kita berada dalam situasi merasa terbelakang dan tertinggal dari standar kemajuan dunia yang menganggap penting dan berharga rupa tampan dan cantik. Sudah diperjuangkan dengan air mata, darah, dan segala bentuk pengorbanan untuk merdeka, “naik kelas” dan dapat mengurus kehidupannya sendiri, malah betah menempatkan diri sebagai bangsa kelas tiga.

Manusia ada bukan karena tampilan atau segala sesuatu yang menyifati fisiknya belaka. Manusia itu disebut manusia karena ia berakal. Manusia menjadi mulia dibanding makhluk ciptaan Tuhan lainnya karena ia berakal. Akal ini sedapat-dapatnya kita gunakan untuk merenungi setiap peristiwa yang kita lewati dalam hidup. Allah tidak pernah meninggikan manusia berhidung mancung di atas manusia berhidung pesek. Allah tak pernah pula memuliakan manusia berkulit putih ketimbang manusia berkulit gelap dan sawo matang. Allah bahkan tak pernah bersabda lebih menyayangi manusia berbadan tinggi langsing daripada manusia berbadan bulat dan berisi.

Allah menciptakan manusia lengkap dengan perangkat ruhiyah dan akal untuk berjalan menuju dan mengenali-Nya, menjadikan Ia sebagai satu-satunya yang berkuasa penuh atas diri kita. Siapa yang berilmu akan Allah tinggikan derajatnya. Siapa yang memperoleh keridhaan-Nya akan hidup tenang dan bahagia.

Mari memandang wajah peranakan Eropa, wajah peranakan Arab, wajah peranakan Cina, atau wajah peranakan Afrika dengan biasa-biasa saja. Mari menilai orang peranakan Eropa, peranakan Arab, peranakan Cina, atau peranakan Afrika dengan nilai dan peran diri mereka bagi umat manusia. Bisa jadi mereka telah banyak membantu kesulitan hidup kita tanpa disadari. Bisa jadi mereka adalah sepupu jauh dari kakek buyutnya kakek moyang kita, saudara kita sebangsa, saudara kita sesama Muslim, saudara kita berayahkan Adam beribukan Hawa.



Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS