• Ikuti kami :

Kita Pernah Bersama

Dipublikasikan Sabtu, 16 Juli 2016 dalam rubrik  Cerita Foto

Masa-masa revolusi Indonesia ialah masa kemesraan yang mesra dari sekian banyak golongan bangsa ini. Tanpa menafikan sekian peristiwa dan sekian dinamika yang ada, tetapi di saat-saat sulit dan genting ketika itu bangsa ini memang berhasil menyatakan keteguhan persatuannya.

Foto ini menggambarkan bagaimana keberagaman dan sekaligus kekompakan bangsa ketika itu. Sampai akhirnya kedaulatan Republik Indonesia yang hendak dirampas kembali oleh Belanda dapat direbut kembali. Tokoh-tokoh republik dari golongan Islam, Kristen, Militer, Sipil, Nasionalis dan lainnya masih sedia berjalan seiring memperjuangkan nasib bangsa yang lebih baik.

Pada tanggal 6 Juli 1949, Pemerintah Republik Indonesia dipulihkan kembali di Yogyakarta dengan disaksikan oleh Komisi P.B.B. untuk Indonesia. Sesudah kembali ke Jakarta pada hari itu Komisi P.B.B. untuk Indonesia mengeluarkan pernyataan:

“Untuk pertama kali, satu Pemerintahan dipulihkan dan dikembalikan kepada kedudukan konstitusionilnya dan di ibu kotanya, dengan bantuan Organisasi Internasional, yang mempergunakan bukan pasukan bersenjata tapi jasa-jasa damainya”.

Di dalam foto dapat terlihat duduk bersama (dari kanan ke kiri):

Tahi Bonar Simatupang/T.B. Simatupang (Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 –Jakarta, 1 Januari 1990), seorang tokoh militer dan kemudian Gereja di Indonesia. Pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KASAP, 1950-1953), setelah Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Yogyakarta, 12 April 1912 –Washington, DC, 2 Oktober 1988), Sultan yang memimpin di Kasultanan Yogyakarta 1940-1988 sekaligus Gubernur D.I. Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ketika Ibu Kota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogya, perat Sultan sangatlah besar.

Mohammad Natsir (Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 –Jakarta, 6 Februari 1993) Ia merupakan pemimpin Partai Masjumi. 5 September 1950, ia diangkat sebagai perdana menteri Indonesia kelima. Natsir dikenal sebagai menteri yang "tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah."

Ali Budiardjo (Yogjakarta 4 Juni 1913). Suami dari Miriam Budiardjo ini pernah menjadi pejabat di Departemen Penerangan RI. Ia terlibat aktif dalam berbagai perundingan yang menentukan nasib bangsa dan mendorong kemerdekaan Indonesia di antaranya sebagai sekretaris delegasi dalam Perundingan Linggajati dan anggota delegasi dalam Perjanjian Renville.

Roeslan Abdulgani (Surabaya, 24 November 1914 –Jakarta, 29 Juni 2005), pada 19 Desember 1948 ia terkena perluru musuh di Yogyakarta. Ketika itu ia baru keluar dari sidang kabinet sebagai Sekjen Kementerian Penerbangan mewakili Menteri Penerangan Mohammad Natsir yang sedang sakit. Diolah dari buku Mohammad Roem, Bunga Rampai dari Sejarah (II), Penerbit Bulan Bintang, 1977. Halaman 39-42.

Keterangan mengenai tokoh-tokoh dalam foto diolah dari berbagai sumber.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS