• Ikuti kami :

Kita dan Alam Raya

Dipublikasikan Kamis, 02 Maret 2017 dalam rubrik  Tafakur

Dalam hidup, manusia dan alam tidak pernah benar-benar terpisahkan. Manusia senantiasa hidup bersama alam. Galaksi, bintang-bintang, planet-planet, bumi, tetumbuhan, hewan-hewan, tanah, air, udara, dan lainnya selalu ada bersama kita, selama kita hidup. Kebersamaan manusia dan alam ini telah melahirkan beragam perhubungan yang khas. Manusia yang berdaya budi mengolah lingkungannya demi beragam kepentingan. Daya budi manusia telah mengubah sekian materi di alam menjadi sekian benda-benda yang berbeda. Kayu menjadi kursi atau meja, lumpur menjadi tembikar, kulit hewan disamak lalu diolah menjadi sepatu. Pepohonan dikelola dalam penataan sedemikian rupa hingga hadir perladangan. Hewan diatur-bina dan kita mengenal peternakan.

Manusia dengan dayanya mengolah jagat buana sedemikian rupa untuk beragam kepentingannya. Namun, manusia tidak hanya melihat alam sebagai tumpukan kenyataan di hadapan hidupnya, bukan sekadar bahan yang dapat ia olah menjadi apa saja. Permenungan manusia pada alam menghasilkan sekian bentuk falsafah dan ajaran hidup.

Sering kali manusia melihat dirinya amatlah kecil di hadapan gunung-gunung yang menjulang, pepohonan yang tinggi, bebatuan besar, lautan luas, atau hamparan bintang di langit. Luasan jagat memberikan perasaan terpencil pada beberapa manusia. Keterpencilan ini telah melahirkan beragam reka pikir tentang alam. Perhubungan yang sunyi antara manusia dan alam telah melahirkan renungan-renungan mengenai kehadiran yang lain di luar diri dan keberadaan yang wadak. Ada yang tak kasat mata di sebalik yang terindera. Ada yang besar, ada yang melampaui keberadaan. Penghayatan semacam ini telah melahirkan penghormatan yang khas kepada semesta. Kepercayaan adanya kekuatan-kekuatan lain yang melampaui alam boleh jadi lahir dari suasana jiwa semacam ini.

Ada hantu-hantu, jin, mambang, atau sesuatu yang senantiasa membersamai beragam keberadaan di langit dan di bumi. Manusia kemudian berusaha membangun “perbincangan” dengan gunung, pohon, sungai, lautan, hutan, dan sekaligus “penunggunya”. Ketika banjir tiba, para saman atau dukun akan mencoba berbicara kepada “penguasa” air melalui upacara tertentu. Persembahan-persembahan melalui laku yang khas diberikan agar “sang penguasa air” berkenan menghentikan bencana. Tindak dan penghayatan semacam ini tentu melahirkan beragam laku yang khas. Pepohonan, hewan-hewan buas, tanah, air, bintang-bintang, dan angka dianggap memiliki makna lain dan menghadirkan sesuatu yang lain. Yang di luar indra dan pikiran.

Meski demikian, penghayatan semacam ini tetap menghadirkan kearifan tersendiri terhadap alam. Pamali dan pantangan menjadi semacam tata kesopanan dalam membangun keseimbangan hidup. Sungai dipelihara dan dijaga. Kayu-kayu tak ditebangi sembarangan. Gunung dirawat dengan saksama agar tak menghadirkan bencana bagi manusia. Ada syarat dan ada banyak ketentuan dalam berperilaku terhadap air, udara, hutan, dan lainnya.

August Comte (1825–1842) memandang laku ini sebagai ketidakdewasaan manusia dalam berhubungan dengan alam. Awalnya manusia senantiasa menyerahkan sepenuhnya segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya kepada Tuhan. Tidak ada upaya untuk menjelaskan hujan, angin, gunung meletus, atau badai dengan cara-cara yang lebih ilmiah. Manusia hanya berdoa dan menyerahkan segalanya pada Tuhan. Comte menyebut ini sebagai Etat Theologique, tingkatan teologi dalam memahami alam. Pada kemudiannya, manusia mulai berusaha untuk berhubungan dengan para penguasa alam. Manusia berusaha memengaruhi kekuatan-kekuatan di sebalik alam dengan upacara dan persembahan. Mereka berharap agar kekuatan-kekuatan tersebut berkenan untuk berbuat baik kepada manusia. Comte menyebut tahap ini sebagai Etat Metaphisique, tingkatan metafisik dalam menghayati keberadaan.

Pandangan semacam ini menghadirkan kekakuan dan keterkekangan manusia ketika berhadapan dengan beragam keberadaan. Upaya-upaya penghayatan akliah dan ilmiah terhadap alam akan terhambat oleh cara pandang sedemikian. Manusia akan berada pada kedudukan yang senantiasa tak leluasa dan penuh tanggungan nilai yang ia bangun sendiri pada saat melihat alam. Keyakinan sedemikian dipandang membuat pengkajian alam secara ilmiah menjadi terhambat.

Pandangan Comte juga merupakan sebuah anjuran untuk melihat alam dengan lebih sekuler: alam haruslah dilihat sebagai sesuatu yang duniawi. Tidak ada makna lain padanya selain dari apa yang dapat ditelaah oleh segenap daya budi manusiawi kita. Manusia tak perlu takut atau khawatir dengan segala keberadaan, atau berusaha “merayu” pemilik kekuatan di alam agar senantiasa berbuat baik kepadanya. Yang harus dilakukan manusia ialah berusaha menguak rahasia langit dan bumi dengan pengetahuannya. Comte menyebut tahap ini sebagai Etat Positive, tingkatan positif dalam perhubungan manusia dengan alam.

Sebelum Comte menyatakan pendapatnya, Thomas Hobbes (1588-1679) telah menyarankan untuk senantiasa berpedoman pada “mechanistic materialism” sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan. Hobbes berpendapat, yang ada pada alam adalah materi yang bergabung dan berpisah secara mekanis. Penggabungan dan perpisahan materi itu sama sekali tidak memerlukan adanya Zat Yang Maha Kuasa. Alam telah memiliki mekanismenya sendiri yang tak terlibat dan terkait dengan apa pun di luar dirinya.

Ilmu pengetahuan harus dibebaskan dari beban-beban kepercayaan agar manusia lebih leluasa menguak rahasia di baliknya. Tentu saja, penemuan-penemuan ilmiah akan menghapus beragam kepercayaan pada alam. Tak ada dewi yang menumbuhkan padi. Pertumbuhan padi dapat selalu dijelaskan oleh pengetahuan. Pola-polanya dapat ditelusuri, dapat ditelaah kemudian diketahui manusia hingga terang dan jelas. Bahkan, di tahap tertentu, manusia dapat melakukan rekayasa pada alam untuk tujuan tertentu. Bibit-bibit padi bisa diolah dan dipilih. Perlakuan tertentu akan menghasilkan hasil tertentu yang dapat diperkirakan.

Di satu sisi, perlakuan sekuler semacam ini telah memberi keleluasaan bagi manusia untuk menguak rahasia-rahasia yang ada di lingkungannya. Beragam penelitian hadir dengan segala hasilnya yang mencengangkan. Penjelasan-penjelasan ilmiah dipaparkan, memupus kepercayaan yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Tak ada hantu atau mambang, yang ada ialah pola-pola khas pada setiap keberadaan yang selalu dapat dipelajari, bahkan direkayasa. 

Akan tetapi, di sisi lain, pandangan sekuler semacam itu menghasilkan sebuah pengerukan alam untuk kepentingan manusia yang tanpa batas. Beragam mineral, minyak bumi, batu bara, bijih-bijih logam, semen, pasir, digali sedemikian rupa. Hutan-hutan dibalak, hewan-hewan diburu. Alam dikelola dengan kesemenaan dan ketiadaan batas atas hasrat. Tak ada penghormatan yang layak bagi laut, bagi hutan, bagi tanah, dan pepohonan. Air, tanah, dan udara mengalami kerusakan akut. Sampah-sampah peradaban manusia sekuler memenuhi bumi dan langit. Menyumbat kewajaran, menghasilkan ketidakseimbangan.

Dewa-dewa telah “diusir” ilmu pengetahuan. Kekuasaannya atas beragam keberadaan telah direbut oleh manusia dengan akal-budinya. Namun, manusia yang serakah tak mampu menghadirkan kebajikan yang memadai bagi perlindungan alam. Hasrat dan keserakahan telah menghasilkan kerusakan yang disebabkan pengguaran kandungan alam yang tanpa tanggung jawab.

Hari-hari ini pandangan yang lebih bijak terhadap alam memang telah hadir. Kesadaran untuk merawat bumi dengan lebih saksama digaungkan banyak pihak. Namun, hal itu tetap tak menghasilkan pemaknaan yang memadai terhadap alam. Usaha perlindungan alam semacam itu masihlah merupakan buah pikiran dari akal yang sekuler. Perlindungan terhadap alam tetap dipandang sebagai bentuk tindakan manusiawi yang terpisah dari nilai-nilai ruhaniah. Perlindungan tersebut hanya ditujukan bagi langgengnya keperluan sekuler manusia atas alam.

Syed Muhammad Naquib al-Attas memiliki pandangan tersendiri. Baginya, pandangan mistik penuh takhayul dan khurafat memang harus ditinggalkan. Manusia harus dibebaskan dari pandangan-pandangan mitologis terhadap alam. Namun, pembebasan ini bukan berarti peniadaan nilai-nilai ruhaniah yang ada pada alam. Memang, tak ada mambang dan jin yang berkuasa atas pepohonan. Atau paling tidak, manusia tak seharusnya mengupacarai pepohonan dan lain-lain keberadaan guna mendapatkan keselamatan. Namun tak berarti alam sepenuhnya terlepas dari segala sesuatu yang spiritual.

Pengosongan alam dari segala makna dan nilai-nilai spiritual (disenchantment of nature) ialah bagian tak terpisahkan dari sekularisasi. Alam dipisahkan secara mutlak dari Tuhan dan dibedakan secara tegas dengan manusia. Pemisahan dan pembedaan ini dimaksudkan agar manusia lebih leluasa dalam memandang alam, tanpa beban-beban kepercayaan kepada Tuhan. Dengan demikian manusia dapat mengolah alam sesuai kehendak dan keperluannya. Hal ini diharapkan dapat mendorong 'perkembangan' dan 'pembangunan' bagi kebaikan manusia. Pandangan terhadap alam semacam ini mendapat kritik dari Syed Naquib al-Attas.

Bagi orang Islam, alam pertama-tama harus dipandang sebagai tanda. Ia adalah ayat. Sesuatu yang menunjukkan keberadaan sesuatu yang lain. Alam ialah tanda bagi kehadiran Sang Pencipta. Oleh karena itu, penelaahan ilmiah atasnya tidak mesti meniscayakan pemisahan alam itu dari unsur-unsur ruhaninya. Langit dan bumi beserta segala isinya tetaplah ayat-ayat Allah. Segala sesuatu harus diyakini sebagai ciptaan Allah. Pandangan sedemikian akan menghasilkan kesyukuran atas setiap keberadaan. Penghayatan atas beragam pola-pola khas di semesta akan mengantarkan manusia pada kesadaraan mengenai Kemahaagungan Allah SWT, Tuhan kerajaan langit dan bumi.

Keyakinan bahwa alam diatur dan diciptakan oleh Allah SWT tidak memestikan pengekangan dan kekakuan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang berdasarkan kepada keyakinan tersebut akan lebih terarah, teratur, dan tertata sedemikian rupa. Kajian tentang alam tidak hanya terbatas pada alam itu sendiri. Lebih jauh, kajian sedemikian akan mengantarkan manusia pada kesadaran akan keagungan Tuhan.

Perilaku kita terhadap alam akan senantiasa terjaga dan terikat pada keyakinan bahwa Allah SWT ialah pemilik semesta. Perilaku-perilaku tak terhormat terhadap alam adalah juga sebuah tindakan durhaka terhadap Pencipta. Beragam penelitian ilmiah telah lahir selama berabad-abad berdasarkan pandangan semacam ini. Beragam penelaahan yang akan mengantarkan kesujudan yang dalam kepada Sang Maha Pencipta disertai segala kesyukuran atas anugerah-anugerah-Nya yang tak terhingga.


Bahan Bacaan:
H.M. Rasjidi, Empat Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 2003 [Cet-9]).
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme terj: Khalif Muammar A. Haris (Bandung: Pimpin, 2011).

Tulisan Terkait (Edisi Alam)

Populer

IKLAN BARIS