• Ikuti kami :

Kisah Peranakan Paling Rumit dalam Sejarah Indonesia*

Dipublikasikan Ahad, 12 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Hidup sebagai anak dari ayah-ibu peranakan adalah lelucon memalukan. Pertama, jika ia menceritakan nasabnya, orang-orang akan langsung tertawa sambil mengernyitkan satu alisnya. Kalaulah sopan, mungkin orang itu akan pamit pergi ke belakang, lalu tertawa keras, buang air, sambil teriak, "Bah! Ngaku-ngaku!" Kemungkinan kedua, ia bisa jadi bahan ejekan tujuh turunan jika hidupnya susah.

Sisi negatif jadi keturunan yang tidak seperti keturunan memang lebih banyak. Itu wajar. Toh, materi pada akhirnya adalah pemenang yang mematahkan mitos bahwa peranakan ataupun lulusan universitas ternama itu adalah menantu idaman.

Anak dari peranakan hanya memiliki kemungkinan kecil mewarisi tanda-tanda fisik nenek moyangnya, berbeda dengan keturunan langsung. Pak Rosihan Anwar menyebut anak-anak peranakan dari ras campuran itu sebagai mengvolk. Rupa-rupanya, istilah bahasa Belanda itu sepanjang zaman hanya beliau saja yang menggunakan. Dilema mengvolk bukan melulu masalah ciri fisik, tetapi juga masalah identitas, kebudayaan, juga jati diri. Inilah yang dialami oleh Tole (bukan nama sebenarnya).

Tole terlahir sebagai mengvolk. Ayahnya peranakan Madura-Cina, sedang ibunya peranakan Jawa-Belanda. Jika merujuk pada Ong Hok Ham, leluhur ayahnya bisa jadi adalah pelarian dari huru-hara Semarang di abad 18-an. Leluhur ibunya bisa dicari dengan merujuk pada satu mbahnya: Wilheminna Klostermaan, istri dari Raden Kertosemito.

Maka, di akhir nama, Tole mewarisi nama akhir yang sama dengan ayahnya, Kurniawan, yang dalam budaya orang-orang Cina nama itu adalah salah satu pelafalan lain marga Gu. Ayah-ibu Tole rupanya sudah berpikir jauh untuk tidak membuat anaknya lebih malu lagi jika harus menyandang nama Klostermaan dari si ibu. Masa iya, anak berkulit sawo kusam itu pakai nama Belanda atau Cina. Ia lebih cocok dinamai Paimin atau Paijo. Toh, paras keturunannya hanya terlihat ketika sedang bulan purnama saja. Itu pun kalau antum kelilipan atau bulannya ketutup awan.

Penamaan dengan nama lokal itu lebih rasional, juga bagi Tole. Setidaknya bapak-ibunya telah mendapatkan pahala atas usaha menentukan nama si anak. Nama itu juga lebih mudah diucapkan petugas kecamatan, juga Pak RT dan Pak RW. Nama lokal begitu bisa menghindarkan dosa. Boleh jadi ada petugas kecamatan kesal (sampe misuh) gara-gara susah payah ngetik nama aneh-asing tapi wajah si empunya nama pasaran saja.

Nama itu juga menghindarkan kejadian absurd yang mungkin terjadi. Bayangkan di pemukiman lokal kampung-kampung kita, di antara gang sempit dan jemuran yang melintang jalan, tiba-tiba terdengar dialog macam ini:

"Christopher, Daniel, salim sama papahmu!"

Lalu muncul dari balik pintu anak-anak yang korengan, buncit, dan cuma pakai sempak berlari memegang kerupuk.

Si Bapak yang wajahnya 100 persen lokal itu kemudian bilang:

"Mah, Mamah, aku pamit. Mau macul ke sawah."

Haqqul yaqin, kalau mendengar dan melihat kejadian semacam ini, orang akan kaget dan berbisik pelan tapi panjang. "Jianc*********k ...."

Alhamdulillah, Tole bersyukur. Ia terbebas dari cikal bakal dosa warisan sedemikian itu.

Ayah Tole seorang Muslim taat dari keluarga Muslim agraris. Sementara sang ibu Katolik sekadarnya dari keluarga penginjil yang militan. Perpaduan yang memang rumit bagi kehidupan anak peranakan bernama Tole ini. Jadilah Tole anak semua bangsa semua agama. Celakanya, bangsa dan agama yang ada di darahnya sering berhantam. Kedua orang tua Tole, juga keluarga besar kedua belah pihak, saling berebut hak kepercayaan si anak. Iman si anak (meski cuma satu) mesti diperjuangkan untuk menambah jumlah peserta pemeluk agama di Indonesia. Akhirnya, hukum alam juga yang menentukan.

Di hari pertama masuk SD, guru bertanya kepada Tole, "Agamamu apa?"


Tole bingung, tapi ia seperti mendapatkan ilham ketika melihat teman sekelasnya lebih banyak yang mengaku sebagai Muslim. Ia pun ikut-ikutan menjawab sebagaimana kebanyakan temannya.

"Islam, Bu," ujar Tole kecil singkat.

Setelah itu Tole ikut ibunya masuk gereja tiap hari Minggu. Pada tiap Jumat ia ikut bapaknya shalat Jumat. Bersama kawan-kawannya, Tole mengaji tiap sore. Kadang-kadang ia juga masuk pura sekadar melihat muka dewa-dewa.

Begitulah Tole, bertuhan tapi tidak beragama sampai SMA. Hadis Nabi Muhammad yang mulia mengenai agama anak ditentukan oleh orang tuanya rupanya harus ditafsiri berbeda pada kasus Tole.
Orang tua Tole kemudian bercerai beberapa bulan setelah pertanyaan guru SD itu. Perceraian kedua orang tua Tole tidak sekadar perpisahan, tetapi juga peperangan. Tole kecil dipaksa merasakan sentimen keagamaan dan ras yang kelak, 18 tahun kemudian, bakal ramai dan berlarut-larut di Ibu Kota.

Ketika Tole di rumah bapaknya, sang bapak akan segera menyidangnya dengan bahasa Madura dan mendogma bahaya kekafiran keluarga ibunya. Bapaknya melarang Tole menemui keluarga ibunya, orang-orang kafir yang telah membuat kerusakan di mana-mana itu.

Di rumah sang ibu, ia disidang dengan bahasa Jawa. Sang Ibu memupuk sentimen bahwa orang-orang Cina itu pasti licik, penipu, dan pelit; layak untuk dipisuhi kapan pun meski tanpa alasan yang pasti.

Di rumah sang ibu, Tole mendapatkan dogma buruk tentang Cina. Di rumah sang bapak, Tole didogma bahaya orang-orang Kafir. Tole kecil selalu dihadapkan pada dua pilihan: membenci ibu dan kaumnya atau membenci ayah dan kaumnya.

Pada masa-masa awal sekolah itu, Tole kecil memang tinggal bersama sang ibu. Meskipun keturunan Cina, Tole dilarang mendekati Ling-Ling Seng, gadis Cina yang rumahnya ada di ujung jalan. Ibunya juga melarang Tole mengikuti Imlek, makan kue keranjang, atau menonton barongsai. Meski demikian, Tole masih boleh menerima angpau. Sebagai ganti, ibunya (yang Katolik tapi agak dekat-dekat dengan kejawen) memberi cerita-cerita wayang, ludruk, dan mengajak menonton bantengan.

Dalam ketegangan budaya semacam itu Tole hidup dan mengarungi masa kecil hingga remajanya. Pada akhirnya, Tole sadar bahwa ia harus mencari asal usulnya sendiri. Beruntung, sang ibu cukup demokratis untuk ukuran orang Jawa. Tole boleh menjadi siapa pun dan menjadi apa pun, asal bertanggung jawab dan tidak merusuhi orang lain. Ia memang tidak bisa memilih lahir sebagai apa, tapi ia bisa memilih sebagai apa dan untuk apa setelah lahir.

Penciptaan itu wajib yang harus diterima. Tokek tidak boleh protes mengapa diciptakan jadi tokek. Tokek baru bisa berikhtiar ketika sudah menjadi tokek. Kalau tokek kemudian oplas untuk bisa mirip kadal, itu baru namanya kekufuran. Ia telah tak terlihat sebagai tokek tapi tidak pernah sungguh-sungguh jadi kadal. Setidaknya, Tole memahami nasibnya seperti tokek itu.

Dalam rangka mencari jati diri yang lebih serius, Tole mulai banyak membaca. Ia lebih condong ke agama jawaban mayoritas siswa SD yang dulu ditanyai gurunya itu. Tole pun mulai banyak mengaji. Demi mendekatkan diri kepada Tuhan, Tole mengaji lebih rajin dari orang lain.

Akan tetapi, ia mengaji kepada orang yang salah. Pulang mengaji, ia merasa menjadi satu-satunya pemegang kunci surga, akibatnya banyak saudara seiman yang ia sesatkan, negara ia thaghut-kan, dan Pancasila ia anggap sebagai kekufuran. Ia membenci budaya Jawa karena ia pandang banyak kekufurannya, sama seperti budaya Cina. Sementara itu, orang-orang Barat adalah musuh Tuhan yang layak diperangi. Langkah yang membuat Tole semakin bingung menempatkan banyak hal pada tempatnya. Apakah pahlawan Muslim itu syahid? Atau mati sia-sia demi thaghut bernama NKRI? Pancasila itu rumusan apa? UU itu bentuk tahkim apa? Dan pertanyaan-pertanyaan lain menggembung di kepalanya.

Untungnya, dalam perjalanan hidup ia bertemu dengan orang-orang yang lumayan lurus. Tole sadar ada kesilapan yang besar. Kesalahan cara pandang. Banyak orang yang seperti dirinya, meletakkan hal kecil sebagai hal besar dan sebaliknya. Contohnya banyak.

Ling-Ling yang Cina totok itu menganggap pribumi tidak lebih tinggi dari kaumnya. Broto si pribumi menganggap dirinya yang lebih tinggi. Abdul si orang Arab di Kauman juga begitu. Tidak semuanya memang, tapi kebanyakan pandangan-pandangan macam itu yang dianut banyak orang. Masing-masing kebudayaan dan suku menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain. Akibatnya, masing-masing kelompok saling menaruh kecurigaan pada kelompok lain, enggan berbaur, dan semacamnya.

Tole telah melalui ketegangan budaya yang panjang. Pada akhirnya, Islam mengarahkannya untuk dapat memandang hal-hal yang ia pertentangkan sebelumnya menjadi lebih wajar. Bahwa manusia adalah sama asalnya, apa pun rasnya, yang unggul adalah yang paling bertakwa. Indonesia dengan segala keragamannya ialah karunia Tuhan. Pancasila dan NKRI juga merupakan tanggung jawab umat Islam yang perlu dirawat baik-baik. Menjadi keturunan, menjadi Islam, dan menjadi Indonesia tidak perlu dipertentangkan. Seseorang seperti Tole bisa menjadi anak peranakan beragama Islam yang juga setia kepada NKRI serta memahami Pancasila dengan saksama.

Ketika Tole telah memahami semua itu, ia akhirnya bisa meletakkan di mana dirinya dan tahu siapa dirinya. Se-mengvolk-mengvolk-nya Tole, ia tetap orang Jawa, punya hak sama seperti warga negara lainnya. Punya kewajiban yang sama dalam hidup bersama sebagai bangsa. Begitu pula orang Madura, Sunda, Ambon, keturunan Cina, dan lainnya.

Tapi, ya, begitu, orang kita lebih sering takjub melihat Metallica menyanyikan lagu Indonesia Raya, sementara ketika memergoki Mbah Tukiyem, yang tukang ojek itu, bernyanyi lagu dengan khidmat kita malah tertawa.

*Dikisahkan BTP (bukan inisial yang sebenarnya) kepada redaksi NuuN.id


Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

Populer

IKLAN BARIS