• Ikuti kami :

Khabar Ṣādiq: Sebuah Metode Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Bagian Ke 3

Dipublikasikan Selasa, 28 November 2017 dalam rubrik  Makalah
C.  Pengertian Khabar Ṣādiq dalam Epistemologi Islam

Bila ditelaah lebih dalam, khabar secara etimologi berarti berita (al-nabā’)48 dan sekumpulan dari berita-berita atau kabar-kabar.49 Khabar bermakna pula, cerita, riwayat, pernyataan, ucapan (talfana lī, kallama, rasala)50 atau to contact, communicate with. Ibnu Taimiyyah mendefinisikan khabar dengan lebih rinci yakni sebuah berita atau kabar; baik yang benar maupun yang keliru atau bohong.51 Secara terminologi, khabar berarti berita yang mengabarkan tentang sesuatu kejadian, yang ditransfer dan dibicarakan melalui perkataan, tulisan atau gambaran dari kejadian-kejadian yang baru.52 Ada pula yang menyebut bahwa khabar secara bahasa memiliki makna sama dengan hadist, yaitu segala berita yang disampaikan oleh seseorang kepada seseorang. Namun, hadist memiliki makna yang lebih umum dari khabar, sehingga tiap hadist bisa disebut sebagai khabar, tapi tidak semua khabar dapat disebut hadist.53

Sedangkan ṣādiq secara etimologi berarti benar “ghairu kadzīb” atau “ṣarikh” (true truthful).54 Dilihat dari makna terminologisnya, ṣādiq55 berarti suatu fakta yang sesuai dengan realita. Lawan katanya adalah bohong (kadzb). Pelakunya disebut “ṣādiqun” (true man). Orangnya disebut “siddīq” (man of truth).56 Kebalikannya disebut dengan berita palsu (khabar kādzib). Menurut al-Attas, khabar ṣādiq atau berita yang benar haruslah didasari oleh sifat-sifat dasar saintifik atau agama, yang diriwayatkan oleh otoritas agama yang otentik. Artinya, khabar benar-benar diriwayatkan oleh ulama yang memiliki otoritas dalam bidang agama, bukan diriwayatkan oleh sembarang orang. Dalam bukunya ia  berpendapat:

 “Islam affirms the possibility of knowledge; that knowledge of realities of things and their ultimate nature can be established with certainty by means of our external internal sense and faculties, reason and intuition, and the true report of scientific or religion nature, transmitted by their authentic authorities.” 57


D.  Pembagian dan Validitas Khabar Ṣādiq
Al-Shawkani memilah khabar menjadi tiga jenis. Pertama, khabar yang sudah pasti benar (al-maqthu’ bi ṣidqihi), baik yang kebenarannya bernilai pasti dan mutlak, yang bersumber dari khabar mutawatir dan pengetahuan apriori (awwaliyāt), maupun yang diyakini benar setelah dilakukannya penelitian serta dibuktikan dan diuji secara ilmiah. Bila merujuk kepada yang sudah pasti benar, al-Qur’an memiliki derajat tertinggi, setelahnya adalah hadist Rasulullah SAW, dan keduanya diterima secara universal.58 Kedua, khabar yang palsu, keliru atau dusta (al-maqthu’ bi kidzbihi). Hal ini berlaku pada segala hal yang diketahui salahnya secara pasti dan langsung ataupun yang diketahui dengan cara pembuktian. Ketiga, khabar yang tidak dapat dipastikan benar atau salahnya (mā lā yuqtha’ bi ṣidqihi wa lā kidzbihi), yaitu khabar yang sumbernya sama sekali tidak diketahui atau sumbernya tidak jelas, termasuk di dalamnya khabar yang belum tentu atau ada kemungkinan benar tapi kedudukannya belum pasti, maupun sebaliknya yaitu, khabar yang kemungkinan salah, palsu atau keliru, walaupun belum pasti demikian.59

Bila dilihat dari otoritasnya, khabar ṣādiq terbagi menjadi dua. Pertama, otoritas mutlak (absolute authority) yang terdiri dari, otoritas ketuhanan yaitu al-Qur’an dan otoritas kenabian, yaitu hadist Rasulullah. Kedua, otoritas nisbi (relative authority) yang terdiri dari kesepakatan alim ulama (tawātur) dan khabar yang berasal dari orang terpecaya secara umum.60 Khabar ini kemudian diperjelas lagi dengan dua kriteria. Pertama, lidzātihi atau binafsihi yang berarti berita benar ini benar dengan sendirinya tanpa diperkuat oleh sumber lain. Sedangkan kedua, bi ghairihi, yakni berita benar yang masih didukung dan diperkuat oleh sumber yang lain,61 yang mana akal kita akan menolak bahwa mereka bersekongkol untuk berdusta. Sehingga secara umum khabar ṣādiq dapat dipahami sebagai sebuah berita benar, yang mengabarkan tentang segala sesuatu, dibicarakan melalui perkataan, tulisan maupun gambaran yang disampaikan dari satu generasi ke generasi yang lain.

Merujuk dari argumentasi di atas, al-Qur’an menepati kedudukan tertinggi dalam sumber kebenaran. Ia bersifat qaṭ’i al-thubūt wa qaṭ’i al-dalālah62 yaitu dari makna maupun maksudnya telah jelas autentisitasnya. Ia juga bersifat thabit tetap secara qaṭ’i, sebab telah diakui, dibuktikan serta dipastikan ke-tawatur-annya oleh seluruh umat manusia dan tidak terdapat perbedaan sedikitpun dengan yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an turun dalam rentang waktu 23 tahun, diturunkan dalam satu malam ke langit terbawah (baīt izzah), yang kemudian diturunkan ke bumi secara bertahap63 kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara Malaikat Jibril, dan disampaikan pada sahabat dari generasi ke generasi melalui mata rantai (talaqqy-mushāfahah) tradisi lisan yang jelas.64 Dalam penyampaiannya Nabi Muhammad menghafalnya, namun secara bergantian beliau membaca al-Qur’an bersama Malaikat Jibril. Untuk menjaga hafalan Rasulullah, Malaikat Jibril mengunjunginya setiap tahun untuk memantapkan hafalannya.65 Setelah dihafal, Rasulullah menyampaikan al-Qur’an dengan cara diajarkan serta dijelaskan kepada para sahabat. Ini terlihat begitu Nabi sampai di Madinah, beliau membuat sebuah kelompok belajar (suffah) di dalam masjid.66 Nabi juga menyediakan makanan dan tempat tinggal.67 Dengan kata lain, tradisi pengkajian al-Qur’an begitu sistematis sedemikian rupa lewat kelompok-kelompok belajar, yang sudah terjadi secara turun-temurun. Selain itu, al-Qur’an tidak hanya berupa sebuah naskah teks tertulis (rasm), ia juga merupakan bacaan (qirā’ah) yang dihafalkan, sehingga al-Qur’an dapat terus dijaga.

Setelah disampaikan kepada para sahabat, al-Qur’an pun dicatat dan ditulis oleh kurang lebih 65 sahabat Rasulullah, yang berperan sebagai penulis wahyu.68 Selain menulis, para sahabat juga menghafalnya. Dua hal ini secara langsung diawasi oleh Rasulullah SAW secara rutin. Biasanya Nabi memanggil para penulis untuk menulis ayat al-Qur’an setiap kali ayat al-Qur’an turun. Setelah selesai, para sahabat membaca ulang di hadapan beliau agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks. Setelah Rasulullah wafat, tradisi ini terus berlanjut hingga pada zaman Abu Bakar diputuskan untuk dikumpulkan menjadi satu kitab utuh, disebabkan banyak huffaẓ (penghafal al-Qur’an) yang meninggal dalam peperangan Yamama. Perlu dicatat, bahwa al-Qur’an telah ditulis secara utuh sejak zaman Nabi Muhammad, hanya saja belum disatukan menjadi satu dan surah-surah yang ada pun belum tersusun.69 Penyusunan al-Quran tidak dilakukan sembarangan, sahabat diharapkan menyerahkan catatan sekaligus menyetor hafalan mereka diiringi dua saksi yang mendampingi. Ia juga diharuskan bersumpah bahwa telah mendapatkan langsung dari Rasulullah SAW.70

Dalam proses ini, penunjukan Zaid bin Thābit sebagai ketua pengumpul al-Qur’an bukan tanpa alasan. Sejak usia dua puluhan ia sudah tinggal bersama Rasulullah dan bertindak sebagai “kuttāb al-wahyi” atau penulis wahyu yang amat cemerlang, sehingga Abu Bakr as-Siddiq memberikan kualifikasi kepada Zaid. Pertama, pada masa mudanya Zaid terkenal dengan kekuatan energinya serta menunjukkan vitalitas yang luar biasa. Kedua, akhlaknya tidak pernah tercemar dengan perbuatan yang buruk. Ketiga, Zaid memiliki kompetensi serta kecerdasan yang tinggi. Keempat, ia memiliki pengalaman sebagai penulis wahyu. Kelima, ia adalah salah satu sahabat yang sempat mendengar bacaan al-Qur’an Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad secara langsung.71 Keenam, Zaid bukan seorang sahabat yang bersifat fanatik dan sangat mudah mendengarkan pendapat orang lain.72 Ketujuh, Zaid juga menguasai dan belajar berbagai bahasa.73 Artinya, penunjukkan Zaid bin Thabit bukan secara kebetulan. Semua telah diperhitungkan begitu matang. Ini menunjukkan bahwa al-Qur’an bersumber dari khabar ṣādiq yang terjaga kebenarannya bahkan dijamin sendiri oleh Allah SWT sesuai dengan firman Allah yang berbunyi, “innā nahnu nazzalnā al-dzikra wa innā lahū laḥāfiẓūn”. 74

Tidak berbeda dari al-Qur’an, sumber periwayatan hadist pun tergolong dalam khabar ṣādiq yang dapat dipertanggungjawabkan autentisitasnya. Ia juga berperan sebagai tafsir dan penjelas al-Qur’an yang paling otentik.75 Di dalam ilmu hadist terdapat empat syarat dan kriteria bagaimana sebuah khabar masuk pada tataran khabar mutawātir. Syarat pertama adalah diriwayatkan oleh rawi-rawi dalam jumlah yang banyak secara berturut-turut.76 Ini berarti khabar tersebut haruslah diriwayatkan secara orang perorangan dengan jumlah yang banyak secara beruntun, estafet, tanpa terputus. Yang kedua, periwayatan yang banyak dan berturut-turut ini terdapat dalam setiap tingkatan sanad. Artinya, tidak hanya diriwayatkan secara berturut-turut, namun perawinya pun harus merata, ada di setiap generasi.

Syarat selanjutnya, perawi yang meriwayatkan harus terpercaya serta terbebas dari kebohongan.77 Dengan kata lain, diriwayatkan secara terus-menerus tanpa terputus, perawinya berasal dari beberapa tingkatan sanad, dengan perawi yang terpercaya dan terbebas dari kebohongan. Sedangkan yang terakhir adalah, perawi harus menjadikan panca indra sebagai landasan periwayatannya.78 Artinya, ia pernah melihat, menyaksikan, mengalami, atau mendengar kabar tersebut secara langsung, tidak menerka-nerka “al-Mushāhadah wa al-samā’ lā ‘alā sabīl al-ghalaṭ”, tanpa disertai ilusi ataupun praduga.79 Maka tidak mengherankan bila khabar mutawātir tidak diragukan kebenarannya, mengingat begitu ketatnya kriteria sebuah khabar hingga dapat diterima menjadi sumber yang benar-benar mutawātir.

Bila pada hadist yang derajatnya mutawātir para ulama menetapkan persyaratan yang begitu ketat, maka demikian juga dengan khabar aḥad atau hadist aḥad. Menurut Syamsuddin Arif, khabar aḥad pun harus diklasifikasi kualitas sumbernya: siapa yang meriwayatkan, siapa yang menyampaikan dan yang mengatakannya, serta kualifikasi dan otoritas atas sanad dan isnadnya. Artinya, tidak sembarangan dan semena-mena.80 Persyaratan yang begitu ketat ini tidak hanya berlaku pada narasumber atau perawinya, namun juga isi pesan (matan) beserta penyampaiannya. Dengan kata lain, khabar aḥad tidak serta merta ditolak ataupun diterima, tapi harus melalui proses panjang hingga pada akhirnya dapat diterima sebagai khabar benar.

As-Shawkani menegaskan, sebuah khabar ahad baru dapat diterima sebagai sumber kebenaran bila memenuhi beberapa syarat. Pertama, sumber berita/khabar harus berasal dari seseorang yang “mukallaf” dalam artian orang tersebut telah terkena kewajiban melaksanakan perintah agama serta mampu mempertanggung jawabkannya. Oleh sebab itu, hanya orang “balīgh” cukup umur saja yang beritanya dapat diterima, sedang anak kecil dan orang gila tidak diterima khabar-nya. Kedua, sumber khabar harus berasal dari yang beragama Islam. Hal ini kembali ditegaskan oleh Imam Ibn Hibbān (354H - 965M) bahwa orang yang secara dzahir seorang Muslim namun batinnya kafir “zindīq”,  misalnya sophis, agnostik, skeptis, relativis bahkan atheis, meskipun mereka mengaku-ngaku diri sebagai ulama, tetapi jauh di dalam fikiran mereka sengaja ingin menimbulkan keragu-raguan (li yuqī’u al-shākk wa al-rayb) pada masyarakat serta menyesatkan orang lain, khabarnya tidak dapat diterima.81 Maka kabar, cerita, ataupun pernyataan yang berasal dari seorang nasrani atau kafir, dalam hal ajaran Islam sedikitpun tidak dapat diterima. Oleh sebab itu, al-Attas menekankan untuk tidak mudah menerima kabar-kabar dan informasi yang datang dari orientalis, sebab mereka termasuk kaum Nasrani, yang kabarnya berkenaan dengan agama perlu dipertanyakan kebenarannya. Dalam bukunya al-Attas menyebutkan:

“We must question the way they arrive at their theories, their way of reasoning and analysis, their setting forth of premises and arrival at conclutions, their raising of problems and arrival at their solutions, their understanding of recondite matters of meaning, their raising of doubts and ambiguities and their insistence upon empirical fact.”82

Ketiga, perawi haruslah seorang yang memiliki intergritas moral yang tinggi (‘adālah), sehingga menunjukkan bahwa ia orang yang dapat dipercaya karena kerwibawaannya (murū’ah), ketaqwaannya dan jauh dari dosa-dosa besar maupun dosa-dosa kecil. Ini berarti, orang yang fasiq khabar-nya tidak dapat diterima, sebab ia bukan termasuk lagi dalam golongan orang yang adil (‘adālah).83 Sedangkan yang keempat, al-Ashawkāni menjelaskan bahwa perawi haruslah seorang yang “ḍabṭ” atau memiliki ketelitian serta kecermatan. Ibn Hibbān memasukkan di dalamnya bahwa orang yang tidak teliti, orang yang bukan pakar atau ahli dalam bidangnya,84 atau berasal dari orang yang tidak memiliki otoritas sebagai kabar yang tidak dapat diterima. Dalam hal ini Imam Malik pun sependapat, bahwa orang bodoh yang sudah dikenal kebodohannya, maka ucapannya tidak perlu dicatat.85

Kelima, seorang perawi haruslah terbebas dari sifat “mudallis” yakni tidak menyembunyikan sumber kabar serta senantiasa berkata jujur dan berterus terang. Dengan kata lain, perawi yang memiliki kepribadian suka berbohong,86 walaupun sedikit, secara prosedural tidak dapat diterima khabarnya. Mudahnya, di dalam epistemologi Islam kebenaran bisa didapat atau diraih dengan menggunakan khabar/berita. Namun, bukan sembarang khabar yang dapat diterima, tetapi hanya “khabar ṣādiq” berita benar, yang benar-benar terverifikasi serta teruji validitasnya dengan kriteria yang begitu ketat.

Khabar selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan derajat validitasnya serta sifat yang mengikatnya menjadi: qhaṭ’i yakni yang bersifat pasti, jelas atau gamblang dan anni yang berupa kemungkinan atau dugaan. Kemudian masing-masingnya terbagi lagi berdasarkan kebenaran sumbernya (tsubūt) dan maksud implikasinya (dalālah). Dengan kriteria ini, khabar dapat diklasifikasi menjadi tiga tingkatan.87 Pertama, qaṭ’i al-thubūt wa qaṭ’i dalālah, yaitu khabar yang orisinil dan sudah jelas otentisitasnya, tidak diragukan serta dipersoalkan kebenaran sumbernya dari segi maksud maupun maknanya. Contohnya, ayat-ayat al-Qur’an dan hadist mutawatir88 yang bersifat muhkamāt, baik yang membicarakan masalah hukum maupun keimanan.

Kedua, qaṭ’i al-thubūt ẓannī al-dalālah yaitu khabar yang yang telah dibuktikan keasliannya serta kebenaran sumbernya akan tetapi belum diketahui secara pasti makna ataupun maksud yang terkandung di dalamnya. Misalnya, ayat-ayat al-Qur’an yang mutasyabihat berbicara mengenai hal-hal yang samar, ataupun khabar mutawatir yang memiliki makna dua atau lebih.89 Ketiga, ẓanni al-thubūt wa ẓanni al-dalālah90 yaitu khabar yang kebenaran sumber, otensititas, serta maksud dan maknanya masih diperdebatkan. Contohnya, semua khabar ilmu selain yang disebutkan di atas, seperti hadist ahad ataupun khabar secara umum.91

Dengan kata lain, secara epistemologis, al-Qur’an dan hadist baik yang mutawatir maupun yang aḥad bersifat mengikat, sehingga validitasnya memiliki otoritas yang begitu tinggi. Namun, di lain sisi, meskipun memiliki validitas yang tinggi, manusia masih diberikan kebebasan untuk berijtihad—tentu hanya untuk manusia yang memiliki kapabilitas untuk berijtihad dan bukan sembarang orang—bila hal itu tekait dengan ayat al-Qur’an atau hadist yang bersifat umum dan memiliki arti yang dapat diperdebatkan. Oleh sebab itu, perlu pula ditelaah lebih dalam mengenai kedudukannya, bersifat qaṭ’i ataukah ẓanni.

----------

48 Muhammad Abu Laith Khairu ‘Abadi, ‘Ulūmul Hadīth āṣiluhā wa mu’aṣiluhā, (Malaysia: Darul Shākir, 2011), hlm. 26-27

49 Abu ‘Abdurrahmān al-Khalīl Ibnu Ahmad, Kitābu al-‘Aini, Jilid 8 (Dār al-Maktabah al-Hilāl, t.t), hlm. 258

50 Rahi Baalbāki, al-Maurid, Edisi ke 7, (Beirūt Lebanon: Dār al-Ilm limabyin, 1995), hlm. 498

51 Ibnu Taymiyyah, ‘Ilmu al-Hadīth, (Lebanon: Dār al-Kutūb al-‘Alamiyyah, 1985), hlm. 36

52 Ahmad Mukhtar ‘Abdul Hamīd ‘Umar, Mu’jamu al-Lughāh al-‘Arabiyyah al-Mu’aṣirah, Jilid 1, Cetakan Pertama (‘Alīm al-Kitāb, t.t), hlm. 608

53 Ibid, hlm.15

54 Rahi Baalbaki, al-Maurid, …. , hlm. 684

55 “Ṣadiq”  berakar dari kata “al-Ṣādiq”, yang merupakan salah satu dari nama Allah SWT. Lihat, Ahmad Mukhtar ‘Abdul Hamid Umar, Mu’jamu al-Lughāh al ‘Arabiyyah al-Mu’āṣirah, Jilid 2…, hlm. 1283

56 Ali Muhammad al Khuli, a Dictonary of Islamic Terms, tanpa tahun, pdf, hlm. 63-64

57 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam…., hlm. 14. lihat juga Dinar Dewi Kania, Epistemologi Syed Muhammad Naquib al-Attas, makalah, hlm. 4

58 Adian Husaini dkk., Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, (Gema Insani: Jakarta, 2013), hlm. xvii

59 Imām Muhammad ibn Muhammad al-Shawkāni, Irshād al-Fuhūl ila al-Tahqīq al-Ḥaqq min ‘Ilmi l-Ushūl, (Beirut: Dār al-Kutūb al-Islāmiyyah, 1994), hlm. 71,2. Dikutip dalam Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, hlm. 207-208   

60 Adi Setia “Epistemologi Islam Menurut al-Attas Satu Uraian Singkat” dalam ISLAMIA: Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam, Tahun II (Nomor.6, Juli-September 2005), hlm. 54

61 Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme…., hlm. 207

62 Ibid, hlm. 210

63 Lebih jelasnya silahkan baca, Jalaluddin as Suyuti, al Itqan fi ‘Ulum-l Qur’an, (al Maktabah al ‘Ashri, 2003)

64 M. Mustafa al-A’Zami, Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu Hingga Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian lama dan Perjanjian Baru…., hlm. 43-128. Untuk lebih jelasnya baca, al-Sayyid Ahmad bin Abd Rahman, Asānid Al-Qurrā’ al-Asharah al-Barārah wa Ruwwātihim al-Barārah, (Kairo: Dār al-Ṣahābah, 1424)  

65 Lihat hadist yang diriwayatkan oleh Fatimah RA. Fatimah berkata, "Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir dan membacakan al-Qur’an kepadaku dan aku membacakannya sekali dalam setahun. Hanya tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan al-Qur’an selama dua kali. Aku tidak berfikir lain kecuali, rasanya, masa kematian semakin dekat." Lihat Shahih Bukhari, Faḍa’il al-Qur’ān, 7

66 Konsep-konsep dalam al-Qur’an yang begitu banyak dan kaya kemudian dipahami dan ditafsirkan oleh para sahabat, tabi’in, tabi’i tabi’in hingga para ulama saat ini. Konsep-konsep ini berakumulasi pada pemahaman wahyu yang masuk ke dalam berbagai bidang kehidupan, lalu membentuk sebuah sebuah peradaban yang kokoh. Dengan kata lain, wahyu dalam tradisi Islam melahirkan sebuah budaya Ilmu atau tradisi intelektual yang bermuara pada terciptanya sebuah peradaban. Selain itu, dari wahyu ini pula Islam memiliki sebuah medium transformasi dalam bentuk sebuah institusi pendidikan yang disebut al-Suffah. Lihat, Alparslan Acikgenc, Islamic Science: Toward a Definition, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1996), hlm. 82-83. Juga, Hamid Fahmy Zarkasyi, “Ikhtiar Membangun Kembali Peradaban Islam yang Bermartabat” dalam On Islamic Civilization (ed) Laode Kamaluddin, (Unissula Press: Semarang, 2010), hlm. 25-26 dan Hamid Fahmy Zarkasyi, Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya, (Ponorogo: CIOS-ISID, 2010), hlm. 17

67 M. Mustafa al-A’Zami, Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu Hingga Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian lama dan Perjanjian Baru…., hlm.46-66

68 Para sahabat kuttab ini di antaranya Abbān bin Sa’īd, Abu ‘Umāma, Abu Ayyūb al-Anṣari, Abu Bakr al-Ṣiddīq, Abu Hudhaifa, Abu Ṣufyan, Abu Salāma, Abu Abbās, Ubayy bin Ka’ab, al-Arqam, Usaid bin Sa’ād, Suhaim, Hatīb, Hudhaifa, Husein, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin sa’īd, Khalid bin Wālid, Al-Zubaīr bin Awwām, Zubair bin Arqām, dll. Untuk lebih lengkapnya, lihat al-A’Zāmi, Kuttāb al- Nabiy, (t.p, Riyād, 1981)

69 Jalaluddin al-Suyūti, al-Itqān fī ‘Ulūm-l Qur’ān, (al-Maktabah al ‘Aṣhri, 2003), hlm. 163-165

70 Ibn Abī Daud, al-Maṣhāhif, Cetakan ke-6, (Beirut: Maktabah al-Islāmi, 2003), p.209

71 M. Mustafa al-A’Zami, Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu Hingga Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian lama dan Perjanjian Baru…., hlm. 46-92

72 Muhammad Husein Haekal, Abu Bakr al-Shiddīq, (Bogor: Litera Antar Nusa, 2010), hlm. 335

73 Ibn Abī Daud, al-Mashāhif, Cetakan ke 6, (Beirut: Maktabah al-Islami, 2003), hlm. 143

74 QS al Hijr: 9 yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

75 M. Mustafa al-A’Zami, Studies in Hadith Methodology and Literature, revised edition, (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2002), hlm. 9

76 Adapun mengenai jumlah perawinya, para ulama berbeda pendapat. Namun, al-Suyūti (911 H) memaparkan bahwa pendapat yang terpilih adalah sepuluh orang. Lihat, Jalāludin al-Suyūti, Tadrīb al-Rāwi fi Sharḥ Taqrīb al-Nawāwi, (Cairo: Dār al-Kutūb al-Hadīthah, 1966), hlm. 177.

77 M. Mustafa al-A’Zami, Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu Hingga Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian lama dan Perjanjian Baru, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 190

78 Muhammad Abu Laits Khoiru Abadi, ‘Ulūmul Hadīth āṣiluhā wa mu’āṣiluhā,…., hlm. 135

79 Mahmūd Tahhān, Taisīru Musṭalah al-Hadīth, Cetakan ke-5 (t.p, Saudi Arabia, 2000), hlm. 19

80 Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme…., hlm. 209

81 Muhammad Ibn Hibbān, Kitāb al-Majrūhīn min al-Muhadithīn wa al-Dhuafā’ wa al-Matrūkīn, (Aleppo: Dār al-Wa’y, 1396 H), hlm. 62-88

82 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011), hlm. xi

83 Imam Muhammad ibn Muhammad al-Shawkāni, Irshād al-Fuhūl ila al-Tahqīq al-Ḥāq min ‘Ilmi al-Uṣūl, (Beirut: Dār al-Kutūb al-Islāmiyyah, 1994), hlm. 78-85

84 Selain yang telah disebutkan, Ibnu Hibbān menambahkan: orang yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah SAW dengan menyebutkan alasan sebagai amal ma’ruf nahi mungkar, orang yang secara terang-terangan berdusta karena ia menganggap bahwa hal tersebut adalah boleh, berdusta untuk kepentingan duniawi, orang yang telah lanjut usia, “al-Mukhtalithūn”, orang yang mengajar dari buku karangan tanpa pernah belajar langsung kepada pengarang tersebut, “yuhaddithu bi al-kutubīn ‘an syukhīn lam yarāhum”, orang yang suka memutarbalikkan fakta serta menyamakan otoritas semua perawi, orang yang mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh gurunya, orang yang mengajarkan apa yang didapat hanya dari dalam buku saja, orang yang jujur namun sering keliru, orang yang sering dimanfaatkan, orang yang tidak tahu bahwa karya tulisnya telah dimanipulasi, orang yang pernah berbuat salah secara tidak sengaja lalu menyadari kesalahan tersebut akan tetapi membiarkannya, orang yang sering mengabaikan perintah agama secara terang-terangan (fasiq), orang yang tidak menyebutkan sumber asal karena tidak pernah menemuinya, orang yang menyebarkan ajaran sesat, dan orang yang berdusta untuk menarik perhatian orang banyak dengan ceramah serta nasehatnya. Lihat, Muhammad Ibn Hibbān, Kitāb al-Majrūhīn mi al….., hlm. 62-88

85 Ibid, hlm. 80 lihat juga ‘Ali Khatīb al-Baghdādi, al-Kifāyah fi ‘Ilmi al-Riwāyah, (Jam’iyyah Dā’irāt al-Ma’ārif al-‘Utsmāniyyah, 1357 H), hlm. 115-134

86 Imam Muhammad ibn Muhammad al-Shawkāni, Irsyād al-Fuḥūl ila…., hlm. 78-85

87 Ada pula yang membaginya menjadi  4, ditambah dengan ẓanni al-thubūt wa qaṭ’i al dalālah) Contohnya, hadist Rasulullah yang berbunyi في كل خمس من الإبل شاة. Hadist ini memiliki arti makna yang jelas, tidak mengundang banyak arti, namun kebenaran sumbernya masih belum mutawatir. Lihat, ‘Abdul Karim ibn ‘Aliī ibn Muhammad al-Namlah, al-Madzab fi Uṣhūl al-Fiqh al-Muqārin, Cetakan 1, Jilid 5 (Riyadh: Maktabah al-Rashīd, 1999), hlm. 2320-2321

88 Muhammad ‘Abdul Adzīm al-Zarqāni, Manāhil al-Furqān fi al-‘Ulūm a- Qur’ān, Cetakan ke 2, Juz 2 (Matba’ah ‘Isā al-Bābhi al-Jali wa Shirkah, t.t), hlm. 247

89 Seperti ayat al-Qur’an surah al-Baqarah: 228 (والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء). Kata qurū’ memiliki makna ganda, dapat diartikan sebagai “haid” tapi bisa juga diartikan sebagai “bersih/suci”. Lihat ‘Abdul Karim ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Namlah, al-Madzab fi Uṣūl al-Fiqh al-Muqārin…, hlm. 2320-2321

90 ‘Abd Wahhāb Khallāf, ‘Ilmu Uṣūl al-Fiqh, (Kuwait: Dār al-Kuwaitiyyah, 1968), hlm. 35

91 Seperti sebuah hadist yang berbunyi: لاصلاة لمن لم يقرأ بفاثحة الكتاب yang periwatannya masih belum mutawatir. Selain itu, hadist ini juga mengandung maksud ganda. Pertama dalil tentang shalat yang benar dimulai dengan membaca surah al-Fatihah. Kedua, tidaklah lengkap shalat, tanpa membaca surat al-Fatihah. Lihat, ‘Abdul Karim ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Namlah, al-Madzhab fi Uṣūl al-Fiqh al-Muqārin…, hlm. 2320-2321

Tulisan Terkait (Edisi Pasca-Kebenaran)

IKLAN BARIS