• Ikuti kami :

Khabar Ṣādiq: Sebuah Metode Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Bagian Ke 2

Dipublikasikan Selasa, 28 November 2017 dalam rubrik  Makalah

B.  Sumber Kebenaran dalam Epistemologi Islam
Dalam Islam, kebenaran (ḥaq) dan realitas (ḥaqīqah) memiliki kedudukan yang penting. Keduanya adalah hal yang paling signifikan untuk memahami hubungan antara filsafat Islam dan sumber wahyu dalam Islam. Menurut Syeed Hossein Nasr, pada saat yang sama, al-ḥaqīqah merupakan kenyataan yang berasal dari al Qur'an.13 Artinya, kebenaran dan realitas dalam Islam adalah satu kesatuan utuh (tauhidi) yang tidak terpisah antara satu dengan lainya. Maka ,memisahkannya adalah sebuah kesalahan yang sudah semestinya tidak terjadi. Hans Deiber berkesimpulan bahwa cara pandang Islam tidak mengenal dikotomi dan permusuhan antara Islam dengan sains, antara wahyu dengan akal.14

Dilihat dari sumbernya, kebenaran dalam Islam dapat diraih melalui empat sumber.15 Pertama, persepsi indra (idrāk al-ḥawāss).16 Persepsi indra atau pancaindra terbagi menjadi dua, pancaindra eksternal dan pancaindra internal. Pancaindra eksternal terdiri dari indra peraba (touch), perasa (taste), pencium (smell), pendengaran (hearing), dan penglihatan (sight). Dari indra inilah manusia dapat mencium dan membedakan bau, membedakan warna, melihat indahnya dunia dan alam semesta, menyebutkan mana yang gelap dan mana yang terang, mampu merasakan manis, asin, pahit, kecut, hambar, juga mampu mendengar suara-suara di sekitarnya.

Begitu pentingnya kelima indra ini, Aristoteles sampai menyebutkan, “Barang siapa yang hilang darinya indra, maka telah hilanglah ilmu darinya.” 17 Dalam hal ini, Imam al-Ghazali pun sependapat dengan Aristoteles, bahwa kelima indra tersebut tufīdu mabda' al-ilmi.18 Lebih jelasnya, ia mengilustrasikan tubuh manusia sebagai sebuah kerajaan. Akal memiliki peran sebagai raja lalu kelima indra tersebut adalah pasukannya.19 Sedangkan pancaindra internal terdiri dari indra bersama (common sense), representasi (the representative power), estimasi (estimative power), rekoleksi (retentive power or power of recollection), dan imajinasi (imaginative power).20

Al-Attas menjabarkan bahwa proses tahapan manusia memperoleh ilmu pengetahuan adalah melalui tahapan yang cukup panjang. Dimulai dari persepsi, abstraksi, dan diakhiri dengan inteleksi yang bersifat intuitif. Objek ilmu pengetahuan diawali dengan melalui tahap persepsi oleh pancaindra eksternal, kemudian disalurkan kepada pancaindra internal pertama, yaitu indra bersama (common sense). Indra bersama akan mengabstraksi bentuk dari objek ilmu tersebut menjadi sebuah gambaran (image) melalui proses yang disebut kemampuan representative (the representative power). Lalu, ketika objek ilmu hilang dari indra eksternal, gambaran objek tersebut ditangkap makna non-indrawinya oleh fakultas estimasi (estimative power), kemudian dibentuk putusan serta pendapat melalui jalan imajinatif seperti benar atau salah, baik atau buruk, dst. Makna non-indrawi tersebut akan direkam dan disimpan oleh fakultas rekolektif (retentive power or power of recollection) hingga sampai pada fakultas imajinasi.21

Fakultas imajinasi bertugas memadukan dan memisahkan makna-makna partikular yang telah tersimpan oleh fakultas rekolektif yang didasari oleh rasio praktis maupun rasio teoritis. Fakultas ini memiliki dua aspek, yaitu sebagai sensitif dari bentuk-bentuk indrawi, juga sebagai penerima rasional dari bentuk-bentuk yang tampak.22 Proses tahapan ini menunjukkan bahwa persepsi Indra (idrāk al-ḥawāss) atau al-ḥawāssul al-khamsah memberikan sumber informasi dan juga sumber ilmu kepada manusia. Hal yang serupa juga telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ23]

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

Di sini, tampak jelas bahwa epistemologi Islam sama sekali tidak menolak pancaindra sebagai sumber ilmu. Sebaliknya, ia merupakan perwujudan dari sebuah pintu dalam sepetak rumah bernama pengetahuan manusia secara komplit. Dari situlah sebetulnya pengetahuan manusia bermula dan berawal.

Kedua, proses akal sehat (ta’aqul). Selain pancaindra yang telah dijabarkan sebelumnya, Islam juga menempatkan akal sehat sebagai sarana mendapatkan ilmu pengetahuan. Akal sehat menjadi faktor pembeda antara manusia dengan hewan.24 Ia juga berfungsi menutupi kelemahan dan hal-hal yang tidak mampu dilakukan panca indra. Imam al-Ghazali mengungkapkan bahwa akal lebih patut disebut "cahaya" ketimbang indra.25 Akal mampu menangkap objek sesuai dengan realitas yang ada, seperti cermin yang selalu menampakkan sesuatu sebagaimana mestinya.26 Di sini tampak bahwa akal berperan menjelaskan sebuah realitas kepada bentuk aslinya, bukan hanya sebagaimana yang terlihat dan tampak.

Selain itu, akal fikiran manusia juga dapat mengatur serta menemukan hubungan-hubungan yang sesuai dalam setiap wilayah ilmu pengetahuan, antara satu dengan yang lainya.27 Sebagai contoh, ketika indra mata melihat bulan, maka yang terlihat adalah bulan yang mempunyai diameter kecil, sekecil koin logam. Padahal sejatinya, bulan memiliki ukuran yang jauh lebih besar, tidak sekecil koin.28 Walaupun belum pernah ke bulan sekalipun, manusia akan menolak bahwa bulan itu kecil. Otak manusia tidak akan mau menerimanya.

Sedangkan menurut al-Farābi, akal bekerja sebagai kekuatan gerak berfikir manusia untuk memahami sebuah objek, untuk dikembangkan menjadi ilmu-imu dalam berbagai bidang, termasuk di dalamnya seni dan industri (sina’āt).29 Oleh sebab itu, al-Farābi menyebutkan bahwa dimensi akal tidak mungkin ditinggalkan, lebih-lebih dalam basis keilmuan manusia.

Lebih lanjut, akal juga memiliki kemampuan bertanya secara kritis tentang segala hal. Misalnya, bertanya tentang sebuah kejadian atau peristiwa: kapan terjadinya, apa kejadiannya, oleh siapa, dengan apa dan lain sebagainya. Dengan kata lain, akal bukan hanya sebuah rasio, ia adalah fakultas mental yang mampu mensistematiskan dan menafsirkan fakta-fakta empiris menurut kerangka logika, yang pada akhirnya memungkinkan pengalaman menjadi sesuatu yang dapat dipahami, serta memberi informasi baru, tatkala pengalaman yang bersifat empiris tidak dapat menerimanya secara valid. Maka, dapat disimpulkan bahwa akal lah yang menutupi kelemahan kerja pancaindra yang masih amat terbatas.30 Singkatnya, akal sebagai sumber ilmu menyempurnakan kerja manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan secara utuh, sehingga menjadi sesuatu yang dapat diketahui dan dipahami secara benar.31

Yang ketiga adalah intuisi kalbu. Selain akal, hal lain yang tidak kalah penting adalah intuisi. Di dalam Islam, intuisi juga menjadi salah satu gerbang diterimanya sebuah ilmu dan kebenaran. Menurut seorang cendekiawan berkebangsaan Pakistan, Sir Muhammad Iqbal, intuisi menjadi pengalaman unik yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari alam fikiran. Maka, ia pun yang menghasilkan pengetahuan tertinggi.32 Bukan hanya Iqbal, al-Attas pun berpendapat serupa, bahwa intuisi memiliki peran sebagai salah satu elemen mendasar dalam pencarian kebenaran.33 Dengan intuisi kalbu, manusia mampu menangkap pesan-pesan gaib, isyarat-isyarat Tuhan, serta menerima ilham, fath, kasb,34 dan lain sebagainya. Contohnya, ketika seseorang dapat percaya tanpa harus berfikir panjang mengenai siapa orang yang ada di hadapannya dan dari mana asalnya, lalu secara seketika menyimpulkan bahwa ia adalah orang yang dapat dipercaya dan tidak sedang menipu. Di sini, intuisi memiliki peran dalam menilai sesuatu. Selain itu, intuisi sebagai sumber pengetahuan bukanlah hasil dari fikiran sadar atau persepsi langsung,35 namun merupakan respon langsung dari iman dan respon total dari sebuah situasi.

Lebih dalam lagi, al-Attas meneruskan bahwa meskipun pengetahuan intuitif tidak dapat dikomunikasikan, namun pemahaman mengenai kandungannya atau ilmu pengetahuan yang berasal darinya bisa ditransformasikan. Ia membagi intuisi menjadi berbagai jenis dan tingkatan, intuisi yang terendah dialami oleh ilmuwan dan sarjana dalam penemuan-penemuan mereka, sedangkan yang tertinggi dialami oleh para Nabi, wali dan orang-orang soleh.36 Lebih lanjut, ia berpandangan bahwa intuisi merupakan pengenalan langsung dan cepat terhadap kebenaran religius, yaitu berupa realitas dan eksistensi Tuhan. Pengenalan tersebut diperoleh melalui intuisi tingkat tinggi yang disebut intuisi akan eksistensi (intuition of existence). Oleh sebab itu, al-Attas meyakini bahwa intuisi adalah pekerjaan hati (qalb).37 Selain itu, al-Attas menekankan bahwa proses persepsi dan inteleksi yang bersifat intuitif memiliki kedudukan yang kuat, sehingga kedua hal tersebut menegaskan bahwa proses memperoleh ilmu pengetahuan adalah aktivitas spiritual.

Selaras dengan itu, Alparslan Acikgenc menyebutkan bahwa tugas qalb sebagai pusat pengalaman wahyu adalah memproyeksikan kebenaran yang tak terlihat atau gaib. Ia pun menguraikan arti qalb dalam surat al-Qaf ayat 3738 sebagai fakultas pengalaman atau “faculty of experience”. Menurutnya, hal ini disebabkan pada kenyataan apa yang dirasakan qalb berlawanan dengan apa yang didengar sebagai sebuah fakultas pengalaman indrawi. Oleh sebab itulah Allah berfirman dalam al-Qur’an “Qulūbun ya’qilūna bihā”. 39

“Heart is implied as the center of experience while the revelation projects the unseen truth, namely the truth of gaib. We can interpret qalb in this verse as a faculty of experience, because it is contrasted with ear, a faculty of sense-experience. In fact, we see that in the same manner, (heart) is contrasted with other faculties of experience.”40

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali merumuskan bahwa intuisi terbagi menjadi dua, intuisi pertama didapat tanpa pelatihan apapun atau tanpa kesengajaan. Sedangkan intuisi yang kedua adalah intuisi yang dapat dilatih untuk mendapakannya. Seperti sebuah inspirasi ilahi yang datang dalam bentuk mukasyafah bagi para ulama’ dan hukama’. Oleh sebab itu, al-Ghazali menjelaskannya dengan terminologi berbeda mengenai intuisi kalbu ini. Yang pertama untuk hal-hal yang lembut, sedangkan yang kedua untuk hal-hal yang nyata.41 Maka tak salah bila Iqbal menyebut intuisi kalbu ini sebagai sarana mengenal dirinya serta mengenal lebih jauh mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya yang bermuara pada pengalaman intuisi mengenai Allah SWT.42 Hal ini pun selaras dengan hadist Nabi “man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa rabbah”.43

Sumber terakhir adalah informasi yang benar (khabar ṣādiq).44 Ia merupakan sumber kebenaran yang tak kalah penting dalam Islam. Dalam bahasa inggris, khabar ṣādiq sering disebut dengan "true report"45 atau "true narrative".46 Sumber kebenaran yang berasal dari khabar ṣādiq bersandar kepada otoritas yang diterima dan diteruskan (ruwiya wa nuqila) hingga akhir zaman. Sumber utamanya adalah wahyu, baik kalam Allah maupun sunnah Rasulullah.47 Untuk lebih jelasnya, sumber kebenaran keempat ini akan dijabarkan lebih luas pada sub bab berikutnya.

----------

13 Dalam hal ini, al-Attas memiliki pendapat yang sama, bahwa seluruh ilmu dalam islam dikembangkan melalui al-Qur’an. Lihat, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and the Secularism, (Kuala Lumpur: IBFIM, 2014), hlm.143. lihat juga, Syeed Hossein Nasr (ed), Encyclopedia of Islamic Philosophy, part I, (Lahore Pakistan: Suhail Academy, 2002) hlm.29

14 Hans Daiber, “The Way from God’s Wisdom to Science in Islam: Modern Discussions and Historical Background,” dalam Islamic Science and the Contemporary World: Islamic Science in Contemporary Educations, (ed) Baharudin Ahmad, (Kuala Lumpur: ISTAC-IIUM, 2008), hlm.8

15 Ada pula yang menyebutkan bahwa sumber Ilmu pengetahuan terdiri dari tiga sumber, salah satunya adalah Imām al-Nasafi. Beliau mengatakan, “wa asbābul ilmi thalāthatun, al-ḥawāss al-khamsah, al-‘aql al-Salīm, al-khabar ṣādiq” yang berarti, ”Maka segala perkara yang menghasilkan ilmu bagi maqulat itu tiga perkara: suatu panca indera yang lima, kedua khabar sadiq (yakni berita yang benar), ketiga ‘aqal.” lihat; Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the ‘Aqā’id of al-Nasafi, (Kuala Lumpur: Department of Publications University of Malaya, 1988), hlm.53. Baca juga Wan Mohd Nor Wan Daud, “Beberapa Aspek Pandang Alam Orang Melayu dalam Manuskrip Melayu Tertua al-Aqa’id al-Nasafi” dalam Afkar: Journal of ‘Aqidah and Islamic Thought, Bil.6, (Kuala Lumpur: University of Malaya, Mei 2005), hlm.8

16 Lihat juga, Adi Setia “Epistemologi Islam Menurut al-Attas Satu Uraian Singkat” dalam ISLAMIA: Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam, Tahun II (Nomor.6, Juli-September 2005), hlm.54

17 Ayatullah Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam, trj: M. Jawad Bafaqih, (Jakarta: Shadra Press, 2010), hlm. 38

18 Imam Ghazali, Mizān al-‘Amal. Diedit oleh Sulaymān Slaim al-Bawwāb, (Damascus: Dār al-Ḥikmah, 1986), hlm. 26. Lihat juga, Mohd Zaidi Ismail, The Sources of Knowledge in al-Ghazali’s Thought: a Psycological Framework of Epistemology, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2002), hlm.13

19 Imam Ghazali, Ihyā’ Ulūm al Dīn, vol. 2, hlm. 10

20 Hamid Fahmy Zarkasyi, al-Ghazali’s Concept of Causality: with Reference to His Interpretations of Reality and Knowledge, (Kuala Lumpur: IIUM, 2010), hlm.163

21 Dalam pandangan Chittick, Ibn ‘Arabi menyebut “nalar” (‘aql) sebagai fakultas untuk memahami bahwa Tuhan itu jauh, sedangkan “imajinasi” (khayāl) sebagai fakultas untuk melihat Tuhan itu dekat. Lihat, William C. Chittick, Kosmologi Islam dan Dunia Modern: Relevansi Ilmu-Ilmu Intelektualisme Islam, terj Arif Mulyani, cetakan pertama, (Mizan: Bandung, 2007), hlm.93

22 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), hlm. 151-155. Lihat juga, Hamid Fahmy Zarkasyi, al-Ghazali’s Concept of Causality: with Reference to His Interpretations of Reality and Knowledge,( Kuala Lumpur: IIUM, 2010), p.168-170

23 QS al-Ḥājj: 46 lihat juga, QS al-Qāf:37, QS al-A’rāf:179, QS ‘Ali ‘Imrān:138 dan QS al-Maidah:15

24 Para filsuf, semisal al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan al-Ghazali menyebutkan bahwa sebenarnya binatang pun memiliki akal dan daya khayal, akan tetapi terdapat perbedaan antara apa yang dimiliki manusia dengan apa yang dipunyai hewan. Akal versi manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dan mulia sebab akal tersebut digunakan untuk meraih kemuliaan di dunia maupun akhirat. Sedangkan pada hewan, akal hanya digunakan sebagai alat untuk mencari makan atau untuk melindungi dirinya. Lihat; al-Farabi, Fuṣūṣ al-Ḥikām, Tahqiq: Muhammad Hasān ‘Ali Yasīn, (Baghdād: Dār al-Ma’ārif, 1976), hlm.78-79. Bandingkan dengan, Ibn Sina, Aḥwāl, al-Nafs: Risālah fi al-Nafs wa al-Baqā’ihā wa al- Ma’ādihā, tahqiq: Ahmad Fuad Ahwāni, (Paris: Dar Babylon, 2007), hlm.58-62. Ibn Rusyd, Talḥis Kitāb al-Nafs, tahqiq: Ahmad Fuad Ahwāni, (Kairo: Maktabah al-Nahḍah al-Mishriyah, 1950), hlm.60, juga al-Ghazali, al-Munqidz min al-Ḍalāl, Tahqiq: Jamīl Shaliban, (Beirut: Dār al-Andalus, 2003), hlm.84

25 Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirani Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, (Bandung: Mizan, 2005), hlm.21  

26 Imam Ghazali, Mi’yār Ilmi, tahqiq: Sulaimān Dunya, (Kairo: Dār al-Ma’ārif, 1960), hlm. 59

27 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, (Bandung: Mizan, 1998), hlm.159

28 Imam Ghazali, Misykāt… hlm. 33

29 Al-Farabi, Arā’ al-Madīnah al-Faḍīlah, Tahqīq: Albert Nashri Nadir, (Beirut: Dār al-Mashriq, 1973), p.67

30 Dalam hal ini al-Attas menambahkan kata sifat “sehat” dalam terma akal (menjadi akal sehat), sebab bukan saja dikarenakan fikiran manusia sering tidak betul dan berangkat dari sebuah premis yang salah atau kesimpulan yang keliru meskipun berdasarkan premis yang betul, namun manusia juga sering terpengaruh oleh estimasi dan imajinasi, yang bisa saja salah ketika akal menegasikan kemampuan untuk memahami realitas spiritual melalui intuisi. Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas…, hlm.159

31 Bagaimanapun sempurnanya akal, ia masih memiliki kemampuan terbatas. untuk mengetahui ruh misalnya, akal tidak mampu sampai kepada ruh tersebut. Dikarenakan keterbatasan inilah, Allah SWT mengutus Rasul untuk menyampaikan wahyu kepada Manusia. Lihat, Ismail Fajrie Alatas, Sungai Tak Bermuara Risalah Konsep Ilmu Dalam Islam: Sebuah Tinjauan Insani, (Jakarta: Diwan, 2006), hlm. 150

32 Allama Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, tanpa tahun dan penerbit, pdf, hlm.10

33 Ibid, hlm. 160

34 Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme…. hlm. 206

35 Harold H. Titus, Persoalan-Persoalan Filsafat, Terj, H. M. Rosjidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 203-204

36 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam….. hlm. 160

37 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam…., hlm. 119

38 إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya.

39 أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ  (QS al-Hājj : 46)

40 Alparslan Acikgenc, Islamic Science: Toward a Definition, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1996), hlm. 47

41 Imam Ghazali, Kimiyā’ Sa’ādah in Majmū’u Rasāil al-Ghazali.... hlm. 135-139

42 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam.... hlm. 160

43 Dalam hal ini, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan perkataan “diri” bukanlah dalam artian fisik, melainkan diri dalam konteks spiritual yang mengenal serta mengakui Tuhan sebagai penciptanya. Lihat, Allama Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, tanpa tahun dan penerbit, pdf, hlm. 17-26. Lihat juga, Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam.... hlm. 160 dan QS al-A’Raf: 172

44 Dalam istilah lain, khabar ṣadiq juga dapat disebut sebagai “otoritas.” Lihat, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, terj: Saiful Muzani, (Bandung: Mizan, 1989), hlm. 39

45 Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam…., hlm. 14

46 Lihat, penjelasan Sa’ad al-Dīn al-Taftazani, dalam A Commentary on the Creed of Islam, translated and notes by: Earl Edgar Elder, (Columbia University: New York, 1950), hlm. 19. lihat juga, Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani, 2008), hlm.205  

47 Ibid, hlm.206

Tulisan Terkait (Edisi Pasca-Kebenaran)

IKLAN BARIS