• Ikuti kami :

K.H. Ahmad Dahlan, Kenangan 149 Tahun

Dipublikasikan Rabu, 02 Agustus 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada 1 Agustus 1868. Lelaki yang lahir dengan nama Muhammad Darwis ini kemudian menjadi tokoh besar Muslim di Indonesia. Pendiri Muhammadiyah yang ketika kecil kerap dipanggil Darwis ini adalah anak keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga ulama, KH Abu Bakar dan Siti Aminah. Sebagai seorang putra dari imam dan khatib Masjid Besar Kraton Ngayogyakarta, Darwisy sejak kecil telah menimba ilmu agama dari banyak kiai besar di masanya yang bermazhab Syafii.

Darwis mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan ketika melaksanakan ibadah haji pada tahun 1890. Di tahun 1903 atau 13 tahun setelahnya, ia kembali melaksanakan ibadah haji. Kali ini, ia tidak sekadar melaksanakan rukun Islam kelima saja, tetapi juga memanfaatkan kesempatan itu untuk bermukim dan belajar langsung dari ulama-ulama di sana.

Selama tinggal di Mekkah, ia berguru kepada Imam Nawawi dari Banten, Kiai Mas Abdullah dari Surabaya, dsb.. Ia juga banyak membaca buku karya ulama-ulama besar seperti kitab Ilmu Kalam dan Ahlu Sunnah wal Jamaah, kitab fikih Imam Syafi’i, kitab tasawuf Imam Al Ghazali, kitab Ibnu Taimiyah, juga kitab-kitab serta brosur karya Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghani. Selama tinggal di Mekkah itulah, Dahlan yang sejak tahun 1896 telah menjadi imam dan khatib Kraton Ngayogyakarta menyadari bahwa untuk membangkitkan kembali Islam, diperlukan pembaruan, pemurnian tauhid, dan kekuatan ekonomi.

Untuk menjalankan hal di atas, Dahlan merasa lebih cocok dengan pandangan-pandangan Muhammad Abduh, yang melakukan pembaruan melalui dakwah dan pendidikan. Untuk itulah, ia mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 untuk berdakwah di sekolah-sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dsb.. Selain berupaya untuk memurnikah tauhid umat, Muhammadiyah juga bertujuan untuk menghalau arus kristenisasi yang gencar dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Setelah melaksanakan haji yang kedua, Ahmad Dahlan kembali melakukan aktivitas dakwahnya di tanah air. Ia tidak hanya aktif mengajar kalangan santri, tapi juga kalangan non-santri, misalnya organisasi yang baru tumbuh saat itu seperti Budi Utomo dan Jamiat Khair. Berkat perannya di Budi Utomo, beliau diterima mengajar agama di Kweekschool Jetis, Yogyakarta. Dalam dakwahnya, Dahlan memilih untuk mengajarkan kaum pembaru, yaitu teman, murid, juga anggota yang berlatar belakang Budi Utomo, Jamiat Khair, dan Sarekat Islam. Mereka inilah yang kemudian turut membesarkan Muhammadiyah dan memberi corak yang baru bagi organisasi ini.

Meskipun bergerak di bidang pembaruan dan modernisasi Islam, tapi Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, di masa-masa awal, masih menganut ajaran fikih Mazhab Syafi’i. Muhammadiyah ketika itu menerbitkan kitab-kitab fikih, seperti Kitab Fiqih Jilid 3 yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Yogyakarta tahun 1924. Kiai Dahlan dan warga Muhammadiyah, ketika itu, melakukan qunut, tarawih 20 rakaat, juga melaksanakan shalat Id di masjid, bukan di lapangan. Corak Muhammadiyah mulai berubah beberapa tahun setelah Ahmad Dahlan meninggal dunia.

Ahmad Dahlan meninggal dunia pada 23 Februari 1923, di usia 55 tahun. Sepeninggalnya, Muhammadiyah terus berkembang menjadi organisasi dakwah yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Namun, sayang, kepergian Ahmad Dahlan itu juga mempercepat arus perubahan yang dibawa generasi muda sehingga Muhammadiyah menjadi organisasi yang lebih keras dan semakin berbeda dengan kaum tradisional. Selain itu, terjadi pula latinisasi kitab-kitab Muhammadiyah yang dulu berhuruf jawa pegon (menggunakan huruf Arab dan bahasa Jawa). Terbentuk jurang yang semakin dalam antara generasi masa lalu dan masa kini sehingga kita tidak lagi memahami apa yang dikatakan dan disampaikan oleh orang-orang bijak di masa lampau.

Diolah dari:

Hery Sucipto, Nadjamuddin Ramli, Tajdid Muhammadiyah dari Ahmad Dahlan hingga A. Syafii Maarif, (Jakarta: Grafindo, 2005)

Mochammad Ali Shodiqin, Muhammadiyah itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan, (Jakarta: Noura Books, 2014)


Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS