• Ikuti kami :

Ketika Buya Hamka Ditahan Orde Lama

Dipublikasikan Kamis, 23 Maret 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Pada tahun 1960, dunia politik Indonesia mengalami pergeseran arah. Partai Masyumi dipaksa bubar. Presiden Soekarno, melalui Keputusan Presiden (Nomor 200/1960), menyatakan bahwa dalam 30 hari sesudah keputusan itu diturunkan, pimpinan Partai Masyumi harus menyatakan pembubaran partai yang dibentuk dalam Kongres Umat Islam di tahun 1945 ini. Jika menolak, maka Masyumi akan dinyatakan sebagai partai terlarang.

Keputusan ini membuat Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin bebas untuk menyudutkan umat Islam.  Mereka merasa di atas angin dan menggunakan kesempatan tersebut untuk menekan kedudukan politik umat Islam. Tingkah PKI yang seperti itu membuat umat Islam sadar, bahwa PKI berbahaya bagi setiap warga negara Indonesia yang beragama. Kesadaran ini membuat umat membutuhkan tempat berlindung. Ketika itu, Hamka lah yang menjadi pemimpin batin umat Islam yang sedang dilanda kegelisahan. Buya Hamka, yang saat itu adalah Imam Besar Masjid al-Azhar menjadi muara hati umat.

H. Amiruddin Siregar, orang dekat Buya Hamka, menulis dalam artikel yang berjudul “Mengenang Almarhum Prof. Dr. Hamka” hlm. 153, yang terdapat di dalam buku Perjalanan Terakhir Buya Hamka, sbb.:

“Berkumpullah, dan dikumpulkanlah di Al Azhar segala potensi ummat. Ada beberapa jenderal menjadi Pengurus Mesjid Agung Al Azhar waktu itu seperti: Soetjipto Yudodihardjo (Polri), Soedjono (AURI), Syamsul Bahri (ALRI), Mukhlas Rowi (ADRI) dan lain-lain. Berkumpul pula orang-orang kaya (aghniya) Cendekiawan (tehnokrat) dan Pemuda-Pemudi.

Akhirnya Mesjid Agung Al Azhar menjadi kubu pertahanan Islam terhadap komunis-atheis. Tempat pengkaderan ummat Islam. Dimulainya pengajian kaum ibu/bapak terkenal dengan pengajian Menteng. HMI, PII, PMII, IMM, berganti-ganti melaksanakan TC (training) di Al Azhar.”

Masjid Al Azhar perlahan-lahan berkembang menjadi jamaah yang layak diperhitungkan sebagai lawan politik PKI saat itu, karena di sana berkumpul berbagai kubu umat Islam yang sebagian besar berasal dari kaum intelek dan paham betul bahaya komunisme. Sebagai Ketua/Imam Besar Al Azhar, Prof. Dr. Hamka menjadi sasaran utama PKI. Serangan mereka dimulai dengan isu plagiarisme novel Hamka yang terkenal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, melalui Lekra. Harian Rakyat, yang menjadi media corong PKI juga melancarkan tuduhan-tuduhan licik kepada Hamka. Tidak sampai di situ, mereka bahkan dua kali meneror Sholat Jum’at di Masjid al-Azhar dengan bom plastik!

Sedikit demi sedikit, tokoh-tokoh Islam mulai ditahan. Hingga akhirnya tibalah giliran Buya Hamka. H. Amiruddin Siregar, yang sudah mendengar desas-desus penahanan Hamka menyampaikan hal itu kepada beliau. Hamka tidak percaya, karena ketika itu ia baru saja beramah tamah dengan Presiden Soekarno di Istana Bogor. Namun, desas-desus itu ternyata benar. Hamka ditahan pada 27 Januari 1964 atau 12 Ramadhan 1383 H.

Hamka bersama para aktivis Partai Masyumi ditahan secara sepihak oleh rezim Orde Lama. Mereka dituduh akan melakukan makar dan merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno. H. Amiruddin Siregar dalam artikel yang sama di hlm. 155 menyampaikan:

“Buya Hamka yakin dia tidak bersalah, sebab laporan itu palsu. Semua punya alibi. Tetapi “scenario” sudah diatur dan mereka harus mengaku. Ada yang sampai batuk keluarkan darah karena pukulan, atau dilistrik. H. Ghazali Syahlan umpamanya, juga H. Dalari Umar benar-benar disiksa. Bertahan disiksa. Memang itulah undang-undang pemeriksaan, harus mengaku, menurut scenario itu.”

Meskipun yakin tidak bersalah, tapi ketua MUI pertama ini akhirnya memilih untuk mengaku. Beliau memilih “mengaku” daripada disiksa, karena ia merasa lebih membutuhkan tangan dan otaknya agar tidak rusak. Jika tangan dan otaknya rusak, maka ia tidak akan bisa menulis dan berpikir lagi. Alhamdulillah, dengan izin Allah, di dalam tahanan itulah beliau menyelesaikan tafsir al-Qur’an sebanyak 30 juz, yang sekarang kita kenal dengan “Tafsir al-Azhar”.

Selama dua tahun beliau mendekam di dalam penjara. Hamka, bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya, baru dibebaskan setelah Orde Lama tumbang. Pembebasan Hamka dan para tokoh Masyumi  di tahun 1966, disambut oleh puluhan ribu umat Islam dalam acara tasyakuran pembebasan mereka di Masjid al-Azhar. Hamka pun kembali ke tengah-tengah umat, yang telah rindu akan kehadirannya. Mereka telah dua tahun menahan rindu akan sosok ulama yang begitu dekat dengan kehidupan umat ini. Buya Hamka adalah sosok yang dapat menjadi rekan, sahabat, juga ayah yang tidak pernah lelah mendengarkan dan membantu mereka untuk semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa.

Peristiwa tersebut akan selalu menjadi pengingat bagi kita umat Islam, bahwa penguasa dan musuh-musuh politik Islam dapat saja melakukan tindakan-tindakan tak beradab, menyiksa, memanipulasi, bahkan memenjarakan. Namun, cita Islam di negeri ini tak akan pernah hilang. Sambung menyambung generasi menjaga dan merawat cita itu hingga nyalanya tetap lestari hingga hari ini.

Sumber Foto : dari buku "Hamka di Mata Hati Umat" (iii)

Tulisan Terkait (Edisi Kuliner)

IKLAN BARIS