• Ikuti kami :

Keruntung Berjalan

Dipublikasikan Jumat, 20 Januari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Yang namanya kota itu

Dalam hidup keseharian, ada banyak orang yang memberikan pertolongan kepada kita. Meski kecil-kecil, pertolongan itu penting artinya bagi kita. Hanya, biasanya kita tidak menyadarinya. Mungkin karena sudah menjadi keseharian hingga kita lupa akan pentingnya para penolong ini.

Di kota, kita banyak ditolong oleh orang-orang yang bergerak di dunia ekonomi informal. Tukang sampah, tukang bangunan, tukang tambal ban, dan masih banyak lagi, hadir untuk mendukung kegiatan harian kita yang penting. Jasa yang mereka tawarkan sering kita ganti dengan lembaran rupiah yang tidak seberapa nilainya jika kita bandingkan dengan pertolongan yang mereka berikan berkenaan dengan kepentingan kegiatan kita.

Banyak para pelaku usaha sektor informal ini. Salah satunya adalah kuli angkut barang. Mereka mempermudah kita dalam membawa barang belanjaan/dagangan yang berat sehingga kita tak perlu berpeluh-peluh. Itu pertolongan mereka. Meskipun demikian kita sering abai untuk berterima kasih, apalagi menghargainya dengan hati tulus.

Lain kota, lain nama. Di Jakarta namanya kuli angkut barang. Di Medan dikenal sebagai jongos. Kalau di Palembang, dipanggil sebagai tukang keruntung. Ada banyak nama alias untuk profesi ini. Tujuannya sama, demi mendapatkan upah pengganti keringat. Tindakannya sama, mengangkat barang bawaan yang diminta si penyewa. Nasibnya juga sama, susah dan cenderung diabaikan oleh masyarakat kota.

Barangkali agak berbeda dengan masyarakat Palembang beberapa puluh tahun ke belakang. Tukang keruntung mendapatkan tempat yang khas di hati masyarakat kota itu. Majalah Ekspres pada tanggal 3 Januari tahun 1972 halaman 41-42 memuat tulisan tentang pelaku bisnis ini. Ternyata, ada nilai-nilai integritas yang merek pegang dalam menjalankan bisnisnya. Apa saja itu? Simak saja tulisan dari majalah tersebut yang telah kami ketik ulang dan alih aksarakan, tanpa mengurangi sedikit pun isi dan maknanya.

 

Keruntung Berjalan


Hidup di kota memang tidaklah gampang, terlebih-lebih hidup di ibu kota karena sulitnya untuk mendapatkan pekerjaan kendati pekerjaan kasar sekalipun, sehingga tidaklah mengherankan apabila di setiap pelosok kita jumpai orang gelandangan yang hidupnya semau gue. Dan bukan suatu hal yang baru pula bagi seseorang yang mencari nafkahnya harus hilir mudik mengelilingi kota, demi sesuap nasi yang harus terus disuplai dari hari ke hari agar perut tidak keroncongan. Hal ini mengharuskan setiap makhluk yang bernyawa untuk berusaha memenuhi kebutuhannya menurut kemampuan masing-masing. Demikian pula halnya orang awam yang datang dari udik[1], dengan hanya membawa pakaian yang melekat di badan plus sedikit uang recehan yang memadati kantongnya datang ke kota besar dengan harapan mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak untuk kehidupan sehari-hari. Tidaklah mereka bayangkan sebelumnya pekerjaan apa saja yang akan diperolehnya, pokoknya asal perut berisi dan mulut mengunyah.

Untuk mendapatkan suatu pekerjaan, baik itu di pabrik-pabrik ataupun instansi selalu terpancang di papan kata “Tidak ada lowongan”.

Tukang keruntung[2]


Sudah terang mereka tentulah akan telantar menghadapi cara hidup di kota. Demikian pula halnya dengan kota empek-empek Palembang meskipun tidaklah sekejam kota metropolitan Jakarta dalam menghadapi persaingan hidup, namun tidak berarti bahwa kotanya tidak buas. Sungai Musi yang menjadi lambang kehidupan kota empek-empek itu kata orang tenang-tenang menghanyutkan. Sebabnya tidak lain karena kota itu bisa melenakan seseorang menjadi penganggur.

Tidak sedikit jumlah kaum penganggur yang berkumpul di kota itu bercampur baur dengan anak-anak gelandangan dan pengemis-pengemis yang menghuni Jembatan Ampera. Semula mereka itu datangnya hanya untuk mencari pekerjaan saja, tapi nyatanya karena yang dicari sulit didapat akhirnya mereka malah menambah jumlah kaum penganggur saja. Palembang memanglah merupakan daerah yang empuk dan menarik bagi pengemis yang berdatangan dari pelosok Sumatra Selatan dan Pulau Jawa. Menadahkan tangan dengan berpura-pura badannya lemah atau cacat agar setiap orang yang melihatnya akan menaruh belas kasihan, ini salah satu cara yang paling banyak dipergunakan pengemis-pengemis demi memenuhi panggilan isi perutnya, sampai pun ada pula yang tega memperalat bayi-bayi yang masih merah sekadar menarik kasihan orang. Sebaliknya di antara mereka tidak kurang pula yang masih berkeinginan bekerja untuk hidup meskipun dengan membanting tulang, dengan peluh bercucuran membasahi badan terkadang bekerja di luar batas kemampuannya seperti halnya tukang keruntung yang beroperasi di tengah-tengah keramaian pasar. Mereka mencari orang yang akan berbelanja dan menolong mengangkutkan barang-barang itu ke tempat yang dituju dengan mengharapkan upah sebagai ganti jasanya.

Fungsi sebenarnya tukang-tukang keruntung itu adalah sebagai alat transport yang khas bergaya Palembang, yang mengangkut barang-barang dari peti yang puluhan kilo sampai kepada sayur-mayur yang diangkutnya dari tempat belanja ke tempat yang dituju kadang-kandang langsung diantar ke rumah. Pundaknya menjadi alat yang vital untuk menguji kemampuannya. Ibarat mesin pundak menjadi ukuran penggerak utama, justru karena itu dibutuhkan orang-orang dengan tenaga kuda. Meskipun demikian, tenaga loyo tidak dianggap sepi alias mereka pun boleh ikut serta, sebab juga menjadi dasar utama adalah kemampuan karena bayangan tekanan hidup yang selalu menghantui.

Pekerjaan mengeruntung bukanlah tindakan yang hina, terkadang hasil yang didapat melebihi penghasilan tukang becak untuk sekali angkut beban yang cukup lumayan beratnya dapat dipastikan lima lembar kertas puluhan akan melayang ke sakunya. Kalau satu hari saja bisa mengangkut lima atau enam kali, tertutuplah periuk nasi selama sehari untuk anak beranak.

Jujur

Kepercayaan orang-orang terhadap tukang keruntung jarang tergugah, ataupun kecewa karena tindakan mereka sebab pada umumnya tukang keruntung ini biarpun kebanyakan hidupnya dalam kekurangan tetapi kejujuran mereka tidak perlu diragukan, sebab yang menjadi prinsip hidup mereka adalah kepercayaan seseorang tidak boleh disalahgunakan. Jaranglah orang yang merasa ragu melepaskan barangnya untuk diantarkan sampai ke rumah meskipun si pemiliknya tidak menyertainya. Meskipun banyak orang yang mengidentitaskan tukang keruntung sama dengan tukang becak, tetapi satu hal yang membedakan mereka dari tukang becak yang terkadang sering tidak memegang tata krama dan melalap apa saja yang terselip, bagi tukang keruntung kepercayaan seseoranglah yang paling diutamakan.

Hasil omong-omong dengan Pak Guluk, orang yang telah cukup banyak makan asam garam hidup hasil mengeruntung, mencela dugaan-dugaan orang yang mengidentifikasikan tukang keruntung itu sama dengan tukang becak. Katanya rekan-rekannya yang beroperasi di sekitar pasar 16-Ilir itu boleh dipercaya, sebab mereka adalah orang-orang yang jujur. Telah menjadi prinsip yang tak tertulis di antara sesama mereka, kendati kesulitan apa pun yang mereka hadapi kepercayaan harus tetap dipegang kalau ingin tetap dikatakan tukang-tukang keruntung yang baik. Akhirnya ditekankannya ucapannya kepada pembantu Ekspres[3] bahwa tindakan yang merugikan relasinya belum pernah terjadi, entah kalau pada masa-masa mendatang generasi setelah saya. Tetapi keyakinannya ini lebih ditekankan terhadap kawan-kawannya sekarang.


Epilog

Banyak orang-orang kecil yang sebenarnya turut menunjang hidup kita. Pantasnya kita ucapkan terima kasih kepada mereka. Mereka pantas pula mendapat penghormatan dan kasih sayang dari kita. Meskipun demikian, lingkungan perkotaan sering abai kepada mereka. Mungkin semacam warga ilegal agaknya dipandang oleh kota. Tidak, tidak. Ini bukan soal legal atau tidak, ini soal manusia yang hamba Allah. Dalam bentuk keseharian, Nabi mengajarkan kita untuk berterima kasih kepada orang-orang di sekeliling kita yang membantu. Ini menunjukkan bahwa kita harus menghargai, menghormati mereka secara layak. Itu yang diinginkan Baginda Nabi. Sudah selayaknya mereka diperlakukan sebagai manusia.

________________________________________
[1] kampung
[2] Kuli angkut barang
[3] Wartawan kontributor Ekspres


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS