• Ikuti kami :

Keris, Politik, dan Krisis Identitas Kaum Lelembut

Dipublikasikan Selasa, 31 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Keris merupakan salah satu dari sekian banyak jenis senjata tajam tradisional di bumi pertiwi. Pada zaman kerajaan-kerajaan dahulu senjata ini tidak hanya dinilai sebagai senjata tajam. Lebih dari itu, keris dilihat sebagai simbol dari makna tertentu. Keris, di alam Melayu dan Jawa memiliki makna kewibawaan, kekuatan politik, status sosial (keningratan), dan lain sebagainya.

Tidak sembarangan orang pada zaman itu bisa memiliki keris. Hanya orang-orang tertentu dan dari strata sosial tertentu yang boleh memilikinya. Bentuk-bentuk keris yang beragam juga terkait dengannya. Bentuk pupuh dan sebagainya yang beragam mengisyaratkan si pemilik berasal dari kalangan mana, strata sosial lapisan mana, dan peran politik apa yang dimainkannya. Jadilah, keris selain sebagai barang seni, juga simbol politik.

Pada masa kini, fungsi-fungsi keris yang ada pada masa dahulu sudah semakin jarang kita dapatkan. Khususnya fungsi keris sebagai senjata tajam. Tak ada ibu-ibu yang mengiris bawang atau memotong daging dengan keris. Keris lebih sering ditempatkan sebagai ‘warisan budaya’ yang simbolik dibanding fungsinya sebagai senjata tajam. Pihak keamanan pun ketika membuat poster larangan membawa senjata tajam tak menyertakan keris di dalamnya. Yang ada gambar belati bersilang merah

Kini fungsi keris agak bergeser atau malah jauh bergeser.  Nah, ini banyak yang tahu, tapi tidak banyak yang mau mengabarkannya. Keris juga bisa digunakan sebagai tempat hunian. Keris bisa dihuni. Meski di dalamnya tidak ada kamar, toilet, ruang makan, garasi, ventilasi, apalagi home theater,  tetapi bagi sebagian makhluk keris dianggap sebagai tempat tinggal yang nyaman. Tentu yang tinggal di situ bukan manusia atau makhluk hidup bersel satu semacam mikroba atau bakteri. Keris dapat menjadi semacam Pondok Indah Estate, atau Kelapa Gading Estate bagi lelembut, mambang, dan sebangsanya. Bahkan konon ada sekelompok elit lelembut tertentu yang cukup pemilih soal keris sebagai hunian. Tidak sembarangan keris mau mereka diami. Harus ada fasilitas-fasilitas khusus demi menyamankan hidup keseharian mereka. Konon begitu kata beberapa orang yang mengaku sambil malu-malu punya ‘ilmu pengetahuan’ soal ini.

***

Para ahli dan praktisi politik (tidak semua tentunya) sering memahami politik sebagai seni meraih dan mempertahankan kekuasaan. Kata kuncinya adalah ‘kuasa’. Bagimana kekuasaan itu dicari, diraih dan dipertahankan. Para pelaku politik dewasa ini memang dapat berkreasi sebebas-bebasnya. Batas di mata mereka bukan penghalang, justru tantangan untuk dilangkahi. ‘Bertarung demi meraih kuasa’ landasan moralnya. Semua dimainkan, sepanjang berpeluang untuk membantu meraih kuasa. ‘Serangan fajar’ hal biasa, standar dalam main politik. Artinya uang dan curang dianggap bagian dari permainan, tak dipandang sebagai dosa atau kejahatan. Yang jahat itu kalau ketauan, kalau tidak ketauan (dianggap) tidak apa-apa. Politik uang juga masih jadi hal biasa, meskipun sudah ada KPK. Politik kita menjadi sangat bendawi dan serba transaksional.

Kekuataan uang saja ternyata tidak cukup bagi para politisi kita. Pertarungan yang terjadi di dunia nyata juga berlangsung dunia maya. Setiap kelompok membangun pasukan siber (cyber army). Perang di laman-laman media sosial. Ramai sekali. Sangking ramainya, gadis-gadis manis mulai enggan menuliskan status-status lucunya lagi. Sangat disayangkan. Dunia maya jadi ramai tetapi kering. Semuanya hanya tentang si ‘anu’ lawan si ‘anu’. Sayang sekali, saudara-saudara. Untuk apa dunia maya tanpa kejelitaan? Ini musti direnungkan bersama. Ini persoalan bangsa.

Kekuatan di dunia nyata dan di dunia maya ternyata masih belum cukup. Para politisi merasa harus melampaui lawannya. Di dunia nyata dan dunia maya kekuataan semakin rata. Lantas bagaimana? Ah, masih ada satu dunia lagi yang masih belum banyak dimainkan: ‘dunia lain’. Pertarungan antarelit kekuasaan ternyata juga merambah dunia jin.

Rizki Anjarsari Prihaditama (Mahasiswi UNY), dalam skripsinya tahun 2015, menunjukkan para calon legislatif menggunakan beragam cara untuk memenangkan pemilihannya, termasuk cara-cara klenik. Ziarah makam dan puasa weton, dianggap sebagai tindakan yang mampu memperkuat usaha serta doa mereka agar terkabul. Tentu usaha itu demi kesuksesan politik para politisi itu.

***

Beramai para politisi berpetualang untuk mendapatkan keris, di manapun dia berada. Para politisi merasa musti memilikinya. Yang diharapkan bukan bentuk kerisnya, tetapi ‘isi’nya. Mereka rela mengeluarkan modal yang luar biasa demi mendapatkan sebilah keris beserta ‘isi-nya’ sekerajaan. Kalau perlu sewa ‘orang pintar’ untuk mendapatkannya. Biar mahal tak apa, bisa dihitung sebagai ongkos politik.

Setelah mendapatkan keris tertentu dengan ‘isi’ tertentu, para ‘penghuni’nya kemudian dijadikan ujung tombak pertarungan. Diharapkan ‘tuah’ para lelembut itu dapat memberikan kemenangan yang besar. Tentu, para lelembut juga punya pertimbangan. ‘Tuah’ ini musti ditukar ‘mahar’. Ada transaksi politik di situ. Menyan, kembang tujuh rupa, warang (arsenik), minyak wangi, dan darah ayam pulung yang serba hitam perlu dihaturkan agar para lelembut senang dan nyaman. Dibuatkan jadwal regular untuk melakukan prosesi ini. Di sini keris memainkan peran politiknya.

Daya rusak pertarungan politik memang sudah merambah alam setan. Tidak terbayang, di negeri ‘sana’ para lelembut saling bersitegang demi membela calon masing-masing. Sesajen yang enak-enak tak dapat diawasi Bawaslu. Idealisme kaum jin jahat yang bersatu untuk menggoda manusia agar masuk neraka tergadai. ‘Niat jahat’ mereka untuk menggoda manusia dipertanyakan. Kejahatan mereka tak lagi murni, tapi karena sogokan. Bangsa setan mengalami ‘krisis moral jahat’. Generasi muda iblis mengalami keguncangan identitas.

***

Islam memandang keris bukan karena ‘isi’nya, tetapi maknanya. Dalam khazanah kebudayaan bangsa Melayu Islam, keris menempati kedudukan tersendiri. Keris adalah perlambangan perjuangan bangsa Melayu berdasarkan tauhid sebagai cara pandangnya, dan syariah sebagai hukum praktek hidupnya. Pada keris terdapat makna-makna tertentu yang mengingatkan manusia Muslim untuk senantiasa menyembah Allah yang Ahad dan setia kepada Nabi Sucinya.

Kerajaan Demak, Banten, dan Cirebon memiliki bentuk keris tersendiri yang melambangkan makna-makna tertentu, makna yang Islami tentu saja. Keris adalah lambang keberanian, kewibawaan, kekuasaan, keadilan, dan kesucian manusia Muslim bangsa Melayu. Dalam pandangan kita, mengkoleksi keris diartikan sebagai merawat ingatan akan masa lalu orang-orang Islam yang gemilang, agar kita dapat meneruskan semangat, cita-cita, dan perbuatan mereka di zaman kini. Merawat keris tidak harus berarti memelihara jin. Hal lain juga menjadi bukti bahwa keris menjadi erat maknanya dengan Islam.

Tulisan Terkait (Edisi Politik)

Populer

IKLAN BARIS