• Ikuti kami :

Kencing Sambil Jongkok dan Cita-Cita Peradaban Kita

Dipublikasikan Rabu, 18 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Kita dan kencing sesungguhnya amatlah akrab. Setiap hari kita melakukannya dan memang harus melakukannya. Kencing sebenarnya adalah peristiwa alamiah biasa yang terjadi pada manusia dan binatang. Kuda, kelelawar, burung, tapir, trenggiling, dan antelop juga membuang air seni mereka, sama seperti kita. Pada satu sisi, kencing ialah peristiwa yang sangat alami. Namun, karena kita manusia, kita seharusnya punya gagasan yang pantas mengenai hal ini.

Kencing pada sapi dan kambing tentu berbeda dengan kencing pada manusia. Kamar kecil atau jamban ialah pembeda antara kencing pada manusia dan kencing pada ikan lumba-lumba. Sepertinya lumba-lumba kencing juga. Bukankah kecerdasannya mendekati kecerdasan manusia? Hanya karena ia tidak memiliki tangan dan tidak bisa membeli semen, lumba-lumba tidak memiliki kamar mandi. Atau paling tidak tidak memiliki jamban sebagaimana manusia.

Jamban ialah unsur penting dalam kehidupan kita. Seni bangunan seindah apa pun tidak dapat mengabaikan ruang ini. Di kota dan di desa, di rumah atau di hotel, di gereja atau masjid, jamban harus senantiasa ada. Hanya saja, di masjid (biasanya) itu dipisahkan dengan tempat wudhu.

Selain perkara di mana kita kencing (seharusnya kita kencing di jamban itu dan lumba-lumba tak apa kencing di lautan lepas), kita juga perlu mempertimbangkan bagaimana cara kita kencing. Nabi Muhammad SAW menyarankan kita untuk kencing sambil jongkok dan berdehem tiga kali setelah kencing. Lalu membersihkan segala sesuatunya dengan saksama. Ini ialah sebuah ketinggian Islam. Kencing saja ada tata kramanya. Nabi kita mengingatkan bahwa kita tidak boleh meremehkan perkara ini. Kita tidak bisa main-main dengan kencing.

Itu seharusnya. Seharusnya kita mampu mengurus kencing itu dengan pantas. Namun, kenyataannya, ya begitu. Aroma tak sedap dari jamban-jamban di WC umum, WC terminal, WC sekolah, WC kampus, dan yang paling mengenaskan di WC masjid sering kali tercium memprihatinkan. Di beberapa jamban itu sangat menyengat. Seperti sari-sari dari sekian banyak makanan dan minuman yang difermentasi oleh bakteri yang keliru, dilakukan dengan cara yang salah dan terjadi tanpa perencanaan yang matang. Baunya amat mengganggu. Kita seperti bangsa yang gagal menyiram air kencing kita dengan paripurna.

Tak sampai di situ, kreativitas kita di jamban terejawantah dalam coretan-coretan dinding. “Fulan love Fulanah Forever!!!” “Fulan was here!!!” atau “Derita sepanjang masa” merupakan beberapa coretan yang kerap ditemui di dinding kamar mandi umum. Kehadiran media sosial ternyata tidak menghapus itu semua.

Kita seperti umat yang tak tahu bagaimana caranya mengurus kencing dengan baik, benar, pantas, wajar, transparan, akuntabel, dan imparsial. Padahal Nabi mengajari kita begitu tertib. Junjungan kita mengajari kita untuk mencintai kebersihan, tertib dan beradab dalam segala hal, tetapi kok ada umatnya yang kencing di belakang truk?

Dan kencing sambil jongkok itu tampaknya masih jauh panggang dari api, masih jauh toilet kita dari sunah nabi. Sebagian toilet kita itu, ya, toilet untuk berdiri. Di masjid-masjid kita toilet yang tersedia ialah toilet dengan kekhususan untuk kencing sambil berdiri. Maksudnya di jamban laki-laki, ya. Sampai sekarang penulis belum pernah masuk ke peturasan perempuan di masjid mana pun.

Rasanya amat penting bagi umat Islam di Indonesia ini untuk merumuskan tata peturasan yang ramah sunah. Bagaimana kita menata jamban-jamban kita agar sekian sunah dalam perkara di kamar mandi mudah dilaksanakan. Selain mengenai toilet itu, bisa ditambahkan masalah penampungan air yang mesti lebih dari dua kulah. Lebih jauh lagi kita mesti punya standar kebersihan peturasan di masjid-masjid kita.

Ini tentu kerja peradaban. Soal kencing ini ya soal peradaban, bukan sekadar buang air seni. Perlu kerja sama dari sekian unsur masyarakat Islam untuk melahirkan peturasan yang bermartabat berdasarkan pandangan Islam.

Alim ulama kita mesti merumuskan tuntutan syariah macam apa saja yang diperlukan oleh sebuah kamar kecil. Umat tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang sunah kencing sambil jongkok, tetapi perlu juga sarana untuk kencing sambil jongkok itu. Umat juga perlu dididik untuk meneguhkan kedaulatan kencing mereka. Maksudnya, kita orang Islam punya tata cara tersendiri perihal hajat itu. Jangan sampai umat Islam seperti tidak punya kepribadian dalam perkara ini. Kencing saja mengekor cara-cara orang lain.

Para arsitek mesti berpikir bagaimana menghasilkan jamban ramah kencing beradab. Ukuran dan arah jamban, bentuk toilet dan lain sebagainya mesti mencirikan keagungan Islam. Toiletnya tentu mesti toilet jongkok yang telah disesuaikan. Bagaimana menghasilkan toilet jongkok yang aman dari cipratan najis, mangkus digunakan, tidak ribet, dan nyaman. Menenteramkan. Toilet yang fungsional tapi juga indah dan sesuai sunah. Sehingga ketika kita keluar dari ruang kecil itu, ada kelegaan yang luar biasa. Air seni di kantung kemih telah kita keluarkan, kita tak waswas terciprat najis dan ada rasa tenteram karena telah melaksanakan sunah Nabi. Kalau bisa, ciptakan dinding tahan corat-coret di peturasan kita sehingga tak ada lagi “fulan love fulanah forever” atau “fulan was here” ketika melaksanakan hajat kita.

Ahli-ahli kesehatan masyarakat dapat merumuskan standar peturasan ramah sunah itu. Macam apa kebersihan yang mesti dicapai, bagaimana cara menjaganya, bagaimana standar perawatannya, dan unsur apa saja yang mesti senantiasa ada di dalamnya mesti bisa dirumuskan.

Lalu umat ini, kita-kita ini, bisa kencing dengan tenteram, aman, nyaman, dan bermartabat. Berbedalah kita secara paripurna dengan pejantan lumba-lumba itu. Kerja sama sekian ahli dalam hal merumuskan hal ini amat kita tunggu. Umat Islam ialah umat yang seharusnya becus mengurus kencing ini. Sudah 14 abad lamanya sejarah kita arungi, masa iya perkara begini saja kita tak punya gagasan.

Jadi, ayolah! Bangsa kita mengenal peribahasa: guru (kemungkinan gurunya laki-laki) kencing berdiri, murid (kemungkinan muridnya laki-laki pula) kencing berlari. Ini bukan hanya untuk para guru, tetapi siapa saja, mari kencing sambil jongkok. Kencing yang beradab. Siapa tahu dapat berkah dan fadilah karena mengikuti sunah nabi.

Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS