• Ikuti kami :

Kenakalan HAMKA di Masa Kanak-kanak

Dipublikasikan Rabu, 29 Maret 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Senyum ramah senantiasa menjadi hiasan wajahnya. Kata demi kata berlontaran dari mulutnya, sejuk sekaligus hangat. Tulisannya berdayu dan menggugah jiwa pembaca. Ramah dan sayang menjadi keseharian  laku Buya HAMKA. Begitu kira-kira kesan yang kita tangkap dalam melihat sosok ulama, sastrawan, sekaligus pejuang politik ini.

Agak beda dengan tingkahnya sewaktu kecil. Buya termasuk ‘anak yang nakal’. Ada saja polahnya. Bahkan, menurut pengakuan beliau sendiri dalam bukunya, Kenang-Kenangan Hidup Jilid 1 (Penerbit Bulan Bintang, 1974, hlm 24):

“Nakalnya bukan buatan, membuat pusing orang kampung.” Sampai-sampai ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), harus putar akal untuk mengatur-tertibkan kelakuan si kecil ini. Bersama dengan dua orang temannya, sang ayah mengatur siasat, agar ‘si kecil’ HAMKA insyaf dan jera.

Namanya anak-anak…

Kenakalan memang ciri khas anak-anak. Cenderung tidak berbahaya dan kadang malah lucu. Begitu juga dengan HAMKA. Ada saja akal ‘si kecil’ ini. Kreatif. Boleh jadi ini cikal bakal khidmahnya pada kesusasteraan.

Dalam buku itu beliau menyebut diri dengan kata ‘dia’. Seakan sengaja membuat jarak antara dirinya yang dewasa dengan dirinya sewaktu kecil. HAMKA mengajak pembaca untuk bersama-sama menikmati cerita ‘kenakalan’ kanak-kanaknya dulu.

Berikut ini Nuun.id mengutip beberapa penggal paragraf dari cerita hidup HAMKA di masa kecil. Kami kutip dari buku Kenang-Kenangan Hidup Jilid 1 (Penerbit Bulan Bintang, 1974, hlm 24-27). Penyesuaian ejaan dan pemberian catatan kaki untuk menjelaskan beberapa kata, redaksi upayakan untuk lebih menyamankan pembaca.

    
                                                                                 ***
Nakalnya bukan buatan, membuat pusing orang kampung.

Pada suatu hari dilihatnya mantri cacar1 mencacar kanak-kanak. Mantri cacar itu telah agak tua dan matanya agak kurang terang. Sebab dia memakai kacamata. Besoknya dia2 menjadi mantra cacar pula. Disuruhnya engkunya3 membuatkan kacamata dari daun pandan. Setelah sudah, lalu dipakainya, dan dia pergi mengumpulkan kanak-kanak di bawah rumah, kira-kira sepuluh orang banyaknya. Dikatakannya kepada kanak-kanak yang banyak itu bahwa dia mantri cacar, mereka semua akan dicacar. Heran, semuanya patuh saja menuruti perintahnya. Lalu dicarinya duri limau4 ke muka rumah gedang itu dan ditorehnya pangkal lengan kawan-kawannya itu, sehingga ada yang menangis dan ada yang berdarah. Ketika mencacar itu dipeot-peotkan bibirnya, sebab dilihatnya mantri cacar kemarin mempeot-peotkan bibirnya pula ketika mencacar. Padahal di antara kanak-kanak itu, ada yang lebih besar daripadanya.

Besoknya, ibuya mengajak pergi ke surau ayahnya. Dipakaikan kepadanya baju baru yang dibelikan ayahnya. Tetapi baru saja sampai ke atas surau, dilihatnya mata ayahnya telah berapi-api melihat kepadanya. Ditanyailah, benarkah dia kemarin menjadi mantri cacar.

Di dekat ayahnya sudah ada dua orang turut menyaksikan.

Lalu ayahnya mengambil sebuah tongkat besar dari sudut surau.

Dia disuruh menjulurkan kakinya, karena akan dipukul. Baru saja tongkat itu dibawa ke dekatnya, belum tersinggung badannya, dia sudah memekik-mekik, “Ampun Abuya,5 ampun!” Ayahnya tegak hendak memukul terus, tetapi kedua orang yang menyaksikan tadi datang dengan segera melerai. “Dia sudah minta ampun, Engku! Dia sudah meminta ampun!” Kata kedua orang itu.

Bertambah dilerai, bertambah keraslah sikap ayahnya hendak memukul dan bertambah keras pula lengkingnya minta ampun, dan bertambah keras pula kedua pelerai itu menengahi. Akhirnya karena keduanya kuat-kuat memegang ayahnya, tidak jadi pemukul tongkat besar itu jatuh ke atas badannya, dan dia pun berhiba-hiba meminta ampun. Lantaran itu maka tidaklah jadi pukulan jatuh dan ayahnya berkata:

“Akan engkau perbuat jugakah?”

“Ampun Abuya, ampun.”

“Sekarang boleh pulang, lekas mandi, jangan kotor bajumu,” kata ayahnya.

Maka dengan langkah lambat bercampur takut dengan sedu sedan, dia pun keluarlah dari surau. Dia tidak melihat ketika ayahnya menutup mulutnya menahan tertawa, ketika dia keluar dari surau. Dia tidak mendengar sebab dia telah jauh, ketika tertawa yang ditahan itu meletus dari mulut ayahnya dan dari mulut kedua orang yang menjadi “wasit” pemisah itu.

Di tengah perjalanan pulang, seketika ibunya mengiringi dia, selalu ibunya memberi nasihat. “Itulah, jangan nakal juga! Mujur ada yang memisahkan tadi, kalau tidak tentu hancur badanmu dipukul ayahmu.” Dia diam saja, berjalan menekur laksana menghitung pasir, cuma sekali-sekali kedengaran sedu sedannya.

                                                                                ***

Kenakalan terkadang bermakna juga kecerdasan. Sikap yang tepat terhadap anak sangat diperlukan. Memberinya kebebasan untuk berbuat apa saja atau menuruti segala kehendaknya tentu tak bijak. Sebaliknya, serba melarang dan menjaga berlebihan tentu akan mengekang. Dari sepenggal kisah HAMKA di atas kita dapat belajar, perlu cara dan siasat yang baik untuk mengatasi kenakalan seorang anak. Agar anak nakal tetap bisa diarahkan menjadi seorang alim, bukan malah menjadi berandal berangasan.

_________________________________________________


1 Pegawai perobatan yang datang ke kampung-kampung mencongkel membasmi penyakit cacar.
2 ‘Dia’ di sini adalah Buya HAMKA kecil.
3 Kata yang digunakan untuk memanggil orang yang sangat  dihormati. Bisa juga bermakna kakek.

4 Duri dari batang pohon jeruk purut (jeruk limau)
5 Ayah.







Tulisan Terkait (Edisi Anak)

IKLAN BARIS