• Ikuti kami :

Kelapa Sawit dan Perdebatan Tentangnya

Dipublikasikan Rabu, 01 Maret 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Kelapa sawit mempunyai sejarah panjang di Indonesia. Menurut buku Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia yang disunting oleh Pieter Creutzberg dan JTM Van Laanen, kelapa sawit mulai ditanam oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1848. Tempat pertama perkembangbiakan kelapa sawit berada di Kebun Raya Bogor. Bibit kelapa sawit di sana berasal dari Afrika Tengah, habitat asli kelapa sawit.

Bibit kelapa sawit di Kebun Raya Bogor berhasil tumbuh menjadi pohon yang menjulang dan mulai berbuah setelah 10 tahun. Namun, kelapa sawit belum menjadi komoditas ekonomi di Hindia Belanda. “Pada waktu itu pohon tadi tidak lebih sebagai suatu perhiasan taman atau jalan,” tulis Pieter dan Van Laanen.

Nasib kelapa sawit di Afrika Tengah berbeda. Kelapa sawit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ekonomi Afrika Tengah. Orang-orang di sana mengolah kelapa sawit menjadi mentega dan sabun.

Usai menanam kelapa sawit di Kebun Raya Bogor, Pemerintah Hindia Belanda menyebar bibit kelapa sawit ke berbagai daerah, seperti Banyumas, Priangan, Pamanukan, Ciasem, Tanjung Morawa, Bekalla, Polonia, dan Deli (Sumatra Utara). Penanaman itu bertujuan meneliti kualitas dan daya hidup kelapa sawit.

Menurut artikel berjudul “Pohon Kelapa Sawit Tertua di Indonesia” dalam Kompas, 16 September 1979, para peneliti Hindia Belanda menyimpulkan bahwa kelapa sawit dapat tumbuh baik di di Medan dan Bogor.

Entah apa alasannya, para peneliti kemudian membawa bibit kelapa sawit itu ke Malaysia pada 1905 dan Pantai Gading pada 1926. Kelapa sawit dari Indonesia mampu tumbuh di dua negeri asing itu. “Keturunan ini disebut Kelapa Deli…. Kelapa sawit tipe Deli merupakan kelapa sawit terbaik diantara tipe-tipe yang lain,” tulis Kompas, 16 September 1979.

Perkebunan kelapa sawit komersial dan pabrik pengolahannya di Hindia Belanda berdiri kali pertama di daerah pantai timur Sumatra pada 1911. Kemudian, perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit menyebar ke Sumatra Selatan.

“Sumatera Selatan sebelum Perang Dunia II (1941—1945) menghasilkan dan mengekspor minyak kelapa sawit dari onderneming (perkebunan) Tabah Pingin Kabupaten Musi Rawas dan onderneming Oud Wassenaar di Kabupaten Banyu Asing,” seperti tertuang dalam artikel “Sumatera Selatan 1982 Kembali Menjadi Penghasil Minyak Kelapa Sawit” dalam Kompas, 13 Mei 1980. Namun, produksi kelapa sawit tak pernah digarap secara serius oleh pemerintah dan pengusaha swasta sampai 1970.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo dan Joko Suryo dalam bukunya, Sejarah Perkebunan di Indonesia, mengungkapkan bahwa tingkat produksi kelapa sawit lebih sedikit daripada produksi perkebunan lain, seperti teh, kopi, dan tembakau.

Kelapa sawit mulai menarik minat pemerintah dan pengusaha swasta pada dekade 1970-an lantaran dua sebab. Pertama, lantaran berbagai riset mutakhir terkait kelapa sawit mulai mengemuka ke publik. Dua di antaranya termuat di majalah Intisari, Juli 1975, dan harian Kompas, 30 Agustus 1975. Dua artikel tersebut memberi masyarakat informasi mengenai gizi dan kegunaan kelapa sawit.

Kedua, lantaran harga migas, ekspor utama Indonesia, mengalami penurunan. Pemerintahan Soeharto mulai berpikir mencari alternatif pendapatan lain. Salah satunya melalui sektor perkebunan. Kelapa sawitlah pilihan mereka.

Pemerintah Indonesia menggulirkan proyek rehabilitasi Perkebunan Negara dan Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) pada 1980-an. Perkebunan sawit pun bermunculan di Sumatra Selatan dan Utara.

Pembebasan lahan untuk perkebunan kerap kali bersinggungan dengan tanah adat. Konflik pun tak terhindarkan. Untuk menghindari konflik, Pemerintah membuka Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Program ini berusaha merangkul masyarakat menjadi bagian dari usaha perkebunan sawit.

Beberapa warga bersedia bekerja di perkebunan kelapa sawit. Sebagian lagi tetap menolak ikut program itu. Mereka berusaha mempertahankan tanahnya dan mengolahnya dengan apa yang mereka bisa. Akibatnya, tanah mereka terdesak oleh perluasan kebun kelapa sawit negara dan swasta. Konflik lagi-lagi terjadi.

Memasuki 2000-an, sejumlah penelitian tentang dampak kelapa sawit mengemuka. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan aktivis lingkungan menyimpulkan, kebun kelapa sawit merusak lingkungan. Namun, pengusaha kelapa sawit balik menuding Walhi dan aktivis lingkungan adalah provokator dan penyebar informasi salah.

Hingga kini, perkebunan kelapa sawit masih menjadi bahan perdebatan. Konflik juga masih muncul beberapa kali. Cukup untuk membuat orang bertanya-tanya, “Jangan-jangan memang ada yang salah.”

Sumber Foto: http://adlinlubis.blogspot.co.id/2013/02/perkebunan-tempo-doeloe-di-sumareta-dan.html

Tulisan Terkait (Edisi Alam)

IKLAN BARIS