Kebudayaan yang Terperangkap dalam Kantong Plastik
Bagikan

Kebudayaan yang Terperangkap dalam Kantong Plastik

Kantong plastik ialah juga luka-luka modernitas. Ambisi kepraktis-sangkil-mangkusan manusia memburu waktu dan kemajuan; kebebalan para ilmuwan pada pandangan nonetis; dan industri yang abai terhadap moralitas telah menghasilkan kepiluan raksasa di laut dan daratan.

Kepraktisan, keefektifan, dan keefisienan (kepraktis-sangkil-mangkusan) ialah nadi modernisme yang diterapkan nyaris pada segala hal. Pada kehidupan berbangsa, pada bahasa, pada puisi, pada musik, pada tata masyarakat, pada pendidikan, bahkan pada tindak beragama kita dapat merasakan nadi-nadi itu berdenyut amat kencangnya. Praktis, sangkil, dan mangkus ialah pompa darah kebudayaan modern yang terus berlari mengejar pembangunan dan kemajuan; menghasilkan hari-hari sibuk dengan ribuan dering telepon, kemacetan jalan raya, silang sengkarut data-data, gedung-gedung yang tak pernah berhenti dipancangkan, uang yang terus berputar, mesin-mesin yang selalu bekerja, dan manusia yang bangkrut secara batin.

Modernisme ialah kegandrungan untuk menyingkirkan basa-basi, segala sesuatu yang ruwet, hal-hal merepotkan, kehidupan yang monoton, dan semesta kelambanan. Orang-orang modern menginginkan perubahan yang cepat dan sesegera mungkin. Mereka memburu waktu dalam ritme kerja dan topangan teknologi tak terkira. Dunia telah menjadi lebih sibuk, kelelahan, dan kehilangan banyak waktu luang. Tidak ada jeda untuk merenung, menyapa alam dengan penuh khidmat, atau merasakan inti sari kemanusiaan.

Semua yang lambat harus diganti dengan yang cepat. Semua yang ruwet diganti dengan yang ringkas. Yang statis dipangkas agar menjadi dinamis. Gerak-gerak yang terlalu banyak melibatkan tangan manusia ditukar dengan mesin yang dapat menggerakkan dirinya sendiri. Berbagai perangkat perjalanan darat manusia tak lagi mengandalkan tenaga lembu. Mesin-mesin amat kuat dan cepat telah dihasilkan. Merpati telah tak lagi mengirim surat, mereka pensiun dari pekerjaan itu dan kini mengantre untuk dimasak menjadi burung dara panggang. Jaringan digital telah menyingkat jarak, mengantar surat elektronik menembus jutaan kilometer hanya dalam dua tiga detik lamanya. Dan, plastik telah menggantikan dedaunan atau bebesekan untuk membungkus makanan dan benda-benda.

Kantong plastik lebih praktis, lebih sangkil, dan lebih mangkus. Hemat waktu, hemat tenaga, hemat biaya, dan mempermudah banyak kerja. Buah-buahan, beras-berasan, sayur-sayuran, barang-barang, dan semua hal dapat dibungkus plastik tanpa keruwetan dan kerepotan. Lembar-lembar kimia ini telah membanjiri bumi nyaris 200 juta ton banyaknya setiap tahun. Plastik ialah pemanja manusia yang gandrung pada kepraktis-sangkil-mangkusan.

Polimer-polimer telah dilumerkan di pabrik-pabrik yang tak pernah berhenti. Berujuta-juta lembar kantong plastik terus dihasilkan, menggurita, merayapi pasar, masjid, gereja, universitas, pegunungan, lautan, dan hati sanubari kebudayaan kita. Setiap sudut bumi diburu oleh benda ini. Sebagai pembungkus, ia telah ada di mana-mana. Menyergap segala jenis kebudayaan. Manusia mengantongi makanan, benda-benda, dan fikirannya dengan plastik yang praktis.

Kantong plastik ialah anak kandung peradaban positivisme-logis yang berambisi menyingkat berbagai kerumitan, keruwetan, kelambanan, dan hal-hal merepotkan dengan teknologi. Perannya ada dua. Pertama, mempermudah manusia untuk membungkus segala sesuatu dan kedua, menjauhkan manusia dari pembungkus-pembungkus alami. Yang pertama telah membuat manusia mampu membungkus segala hal dengan cepat dan yang kedua telah mengurangi kekerapan hubungan manusia dengan alam. Berkurangnya hubungan manusia dengan yang alami telah mengikis kefahaman dan rasa kasihan terhadap alam.

Kantong plastik mencirikan manusia yang semakin terpisah dari alam. Ia tak lagi tergantung (independent) secara nyaris mutlak terhadap alam. Manusia modern nan sekular ialah manusia yang telah berlepas dari pandangan kekeramatan alam. Ia telah memandang alam sebagai sekadar kenyataan bendawi yang tak mengandung kegaiban apa pun. Tak ada yang keramat di sana dan karenanya alam harus senantiasa “ditaklukkan” untuk melayani kesejahteraan manusia. Plastik ialah sebuah titik pertemuan yang buruk antara manusia dan alam. Residu pandangan sekular yang telah menggawatkan keadaan bumi.

Manusia modern ialah manusia yang amat mudah membuang sampah secara sembarangan. Meski modernisme telah mengukuhkan rasio sebagai satu-satunya pegangan manusia, ternyata manusia masih tetap tak mampu membuang sampah dengan benar. Dan, rasio memang tak selamanya berseiring dengan moralitas. Termasuk moralitas terhadap alam. Risiko kantong plastik terhadap alam tak bisa dihitung hanya berdasarkan rasio semata. Nalar manusia pun telah nyata-nyata tak mampu mengendalikan keserakahan industri.

Di sisi lain, banyak ilmuwan tetap mengembangkan teknologi tanpa peduli dampaknya terhadap bumi dan kemanusiaan. Mereka menganggap ilmu yang melahirkan banyak teknologi sebagai hal-hal nonetis dan pengembangan ilmu harus dilepaskan dari beban-beban moralitas. Ilmu untuk ilmu! Seru mereka lantang. Oleh karena itu, ilmu yang turut melahirkan kantong plastik menolak turut serta bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang ada. Ilmu dan moralitas dibatasi sebuah garis demarkasi yang jelas. Semacam para peneliti mesiu yang tak perlu merasa bersalah atas beragam kekejaman di perang dunia. Sebab, penelitian mesiu ialah suatu hal dan perang dunia ialah hal lainnya. Begitu kira-kira pandangan mereka.

Dan lalu, tanah-lautan ditumpuki plastik. Penyu, sapi, atau burung camar tanpa sengaja mengunyah plastik; dan plastik terjebak di lambung mereka. Benda kimia tak mudah terurai ini secara resmi telah mendaftar diri sebagai perusak lingkungan. Bumi pun tengadah pada tumpukan plastik buangan manusia, jutaan ton limbah menyesak di tanah dan di air. Tanah tercemar, air tercemar, menghasilkan kecemasan atas masa depan.

Kantong plastik ialah juga luka-luka modernitas. Ambisi kepraktis-sangkil-mangkusan manusia memburu waktu dan kemajuan; kebebalan para ilmuwan pada pandangan nonetis; dan industri yang abai terhadap moralitas telah menghasilkan kepiluan raksasa di laut dan daratan. Orang-orang semakin ternganga atas perilaku plastik membebani hidup manusia, hewan, dan tetumbuhan. Perangah mereka atas berbagai kepiluan yang berasal dari tumpukan sampah kantong plastik melahirkan kesadaran baru.  

Kita seperti kerumunan penghuni bumi yang tak bisa berlepas dari kantong plastik, namun tak juga menemukan cara yang benar untuk menanganinya. Sepanjang deru nafas kita, plastik senantiasa menyertai. Sebagaimana orang-orang dahulu menciptakan beragam teknologi untuk memproduksi  kantong plastik secara massal, kini orang-orang pun membuat berbagai mesin dan beragam penelitian untuk mengatasi limbah plastik. Seperti mana orang-orang dahulu mengabaikan moralitas ketika memassalkan plastik, kini orang-orang pembuat mesin pengatas plastik pun telah lupa bagaimana cara mengajar manusia untuk membuang sampah secara benar.

Kita hidup dalam kebudayaan yang terperangkap di dalam kantong plastik. Kita ingin mengatasi dampak buruknya, namun hingga hari ini tak dapat lepas dari ketergantungan terhadapnya. Kita tahu dampak buruk plastik, namun telah kecanduan menggunakannya. Sebagai manusia, kita harus mulai belajar lagi menata dan melihat kantong plastik dengan seksama.

NuuN.id mengajak kita semua untuk memikirkan kantong plastik dengan lebih mendalam. Pada edisi kali ini (1 Dzulhijjah 1439/13 Agustus 2018 – 8 Dzulhijjah 1439/19 Agustus 2018), kita akan bersama-sama membaca ulang kantong plastik. Tentu saja, kita tidak bermaksud membangun gerakan antiplastik atau mengajak orang kembali ke zaman batu. Namun, kita hendak bersama-sama melihat kantong plastik dengan lebih khusyuk dan moga-moga melahirkan sikap lebih bijak atasnya.

Semoga bermanfaat.