• Ikuti kami :

Kebersihan itu Memang Bagian dari Iman

Dipublikasikan Ahad, 22 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Suatu ketika, seorang pemuda membuang bungkus rokok secara serampangan di pinggir jalan. Katanya, membuang sampah kecil pada tempatnya enggak akan ada gunanya. Ada ribuan atau jutaan orang lain yang membuang sampah sembarangan. Jadi, sampah akan tetap bertebaran sebab ini telah membiasa bagi jutaan orang.

Lingkaran berpikir macam ini telah membiasa begitu lama di antara kita. Ada ketidakpercayaan yang luas terhadap banyak hal. Pertama, tidak percaya bahwa diri kita sendiri dapat menjadi bagian dari perbaikan.

Kita sebenarnya bisa memperbaiki diri. Bisa belajar membuang sampah pada tempatnya. Kedua, tidak percaya pada masyarakat. Kita seperti telah menghakimi bahwa masyarakat kita tidak bisa diajak untuk lebih baik. Ketiga, kita seperti tidak percaya pada pemerintah, seolah pemerintah tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah kebersihan ini.

Nah, kita juga mengalami ketidakpercayaan akut secara diam-diam. Ini, yang keempat ini yang agak mengkhawatirkan. Jangan-jangan kita sudah mulai tak percaya kalau kita buang sampah pada tempatnya kita akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Dan jangan-jangan kita sudah mulai hirau pada tindakan kita sendiri. Kalau kita buang sampah di mana saja, kita sudah tak lagi merasakan itu merupakan sebuah dosa.

Di dalam bungkus-bungkus permen yang sudah kita jatuhkan begitu saja, di dalam puntung-puntung rokok yang kita lemparkan seenaknya, dan di dalam sekian sampah yang kita buang sembarangan, kita sudah tak lagi mengingat Tuhan. Kita telah melihat tindakan kita pada sampah sebagai sesuatu yang terlepas dari agama kita.

Padahal Nabi yang kita agungkan itu merupakan Nabi yang menganjurkan kebersihan. Padahal kita sering menyebut-nyebut agama kita sebagai ajaran yang merasuki setiap unsur kehidupan. Tapi kita seperti lupa kalau Tuhan terlibat bersama kita ketika membuang sampah. Sebuah kezaliman sekecil apa pun merupakan sebuah dosa dan kebaikan sekecil apa pun bernilai pahala. Pada hal seremeh-temeh bungkus permen, pada hal sekecil puntung rokok, kita tetap terikat dengan Tuhan. Tapi kita sering abai.

Dan keabaian ini telah membiasa di antara kita. Kita sangat terbiasa melempar sampah-sampah kecil dari jendela mobil kita, menyapu kotoran hidup kita ke selokan kecil depan rumah atau mengabaikan plastik-plastik botol bekas minuman kita. Ribuan kita bersikap serampangan terhadap bungkus makanan dan plastik botol, menghasilkan ratusan kilo sampah yang menyumbat sekian banyak saluran, mengendap mendangkalkan sungai-sungai dan terkubur merusak daya serap tanah.

Bagi seorang Muslim, seharusnya sampah terkait dengan persoalan yang mendasar. Urusan sampah bukan sekadar urusan Suku Dinas Kebersihan. Sampah-sampah itu adalah juga perilaku kita, adalah juga hidup kita. Cermin diri kita yang jauh dari Tuhan. Memandang sampah sebagai urusan manusia yang terlepas dari unsur-unsur ketuhanan ialah keliru. Hanya menggerutu merutuki pemerintah dan masyarakat bukanlah tindakan yang bijak.

Memisahkan urusan sampah dari nilai-nilai ruhaniah dan menganggapnya hanya sekadar peristiwa duniawiyah belaka merupakan kekeliruan yang mendasar. Lebih keliru lagi kalau kita demonstrasi membela kebenaran Islam lalu meninggalkan sampah, mengotori kota kita. Jangan hanya karena kalau umat Islam demo yang diliput media-media hanya sampahnya saja lalu kita menyampah begitu saja biar ada yang diliput. Paling tidak sampahnya diliput.

Diberitakan atau tidak diberitakan oleh media besar, demonstrasi umat Islam sebaiknya (bahkan seharusnya) bebas dari sampah. Begitu juga istigasah, shalat Id, pengajian, konser nasyid, dan kampanye partai Islam.

Bayangkan pada kemarau yang panjang kita berdoa bersama minta hujan di sebuah lapangan luas, memohon-mohon berurai air mata agar Allah SWT menurunkan air dari langit, lantas selepas itu sampah-sampah bekas shalat kita bertebaran di muka bumi. Yang mesti bertebaran di muka bumi selepas shalat berjamaah itu ialah kita, bukan sampah-sampah kita. Tentu hal-hal begini ini memprihatinkan dan menjadikan kita sebagai umat yang layak ejek. Kita ngaku-ngaku pengikut Nabi tapi buang sampah pada tempatnya aja nggak bisa.

Kalaulah setelah membuang sampah pada tempatnya masih juga banjir, masih juga kumuh, ya kita bersabar saja. Tujuan kita membuang sampah memang agar bersih lingkungan kita, agar rapi kota kita, agar nyaman desa kita, agar tenteram tempat hidup kita. Namun tujuan-tujuan itu mesti dilandasi tujuan akhir yang hakiki, yaitu menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh pengharapan dan kepasrahan. Tanpa tujuan akhir itu, sungguhlah buang sampah pada tempatnya itu bisa jadi kesia-siaan belaka.

Ngarep pemerintah nggak becus-becus ngurus sampah. Ngajak orang nggak sadar-sadar. Naro bungkus permen di kantong sampe ketemu tong sampah dibilang sok suci. Nyingkirin sampah yang dibuang  orang sembarangan ke tempat sampah, dituduh nyari perhatian. Ngajak orang kerja bakti gotong royong bersih-bersih lingkungan didakwa antek Orba. Udah gitu masih juga rumah kebanjiran. Orang-orang terus pada neriakin: “Makanya nggak usah kebanyakan khotbah, sok kampanye buang sampah yang bener, akhirnya kebanjiran juga kan, lu!!!”

Duh Gusti, kalau buang sampah itu tidak berkaitan dengan cinta dan pasrah kepada-Mu, niscaya telah kukotori seluruh kota ini dengan segala sampah hidupku.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS