• Ikuti kami :

Kanji Rumbi & Nilai-nilai Sosial

Dipublikasikan Kamis, 24 Agustus 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Ramadhan adalah saat yang sangat berharga untuk saling berbagi bagi umat Islam di manapun. Tak terkecuali bagi orang Melayu, Ramadhan adalah bulan sejuta suka, cita, dan juga rasa. Bagi kami, warga Nanggroe Aceh Darussalam, yang terletak di semenanjung Melayu, Ramadhan adalah saat untuk mengenal kembali tradisi dan adat-adat yang penuh dengan nilai keluhuran dan kearifan. Kenapa orang-orang memberi  negeri kami julukan Serambi Mekkah? Jika orang Minang mengenal “Adat bersendikan syariat, hukum bersendikan kitabullah”, maka kami juga punya yang serupa: “Adat bak Po Teumeuruhom, hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Bentara.” Jadi, tidak heran jika dari pepatah di atas lahirlah nilai-nilai Islam yang sangat luhur di tanah Serambi Mekkah.

Pada 27 Ramadhan lalu, Alhamdulillah saya dapat bersilaturahmi ke meunasah (surau) di gampong (kampung) saya dan bertemu kawan-kawan sepengajian dulu yang baru pulang mudik dari perantauan. Kami kemudian ikut bekerja sama membuat bubur khas Aceh, bubur Kanji Rumbi. Bubur ini dibuat oleh seluruh elemen perangkat desa, mulai dari keuchik (lurah), tuha peut (tokoh adat), dan juga para pemuda gampong. Melalui pembuatan bubur Kanji Rumbi ini, kami bisa berkumpul bersilaturahmi, saling berbagi cerita dan pengalaman, juga shalat berjamaah dan mengaji bersama. Kami disatukan dalam satu rasa ukhuwah, yaitu melalui rasa “Bubur Kuali (beulangong) Kanji Rumbi.” Melalui bubur ini, tidak ada kelas dan kasta dalam persaudaraan. Semuanya setara.

Keunikan bubur ini ada pada cara pembuatannya. Bubur Kanji Rumbi biasanya dibuat dan diracik oleh para pemuda gampong. Para pemudi tidak dilibatkan dalam proses pembuatan, karena memang sudah sejak dulu proses ini adalah ranahnya para agam (laki-laki). Selain itu lingkup kerjanya juga cukup rumit, karena Rumbi dimasak dalam porsi yang sangat besar untuk seluruh warga gampong. Namun begitu, bukan berarti para perempuan tidak dilibatkan sama sekali dalam proses ini. Perempuan akan dilibatkan secara wajar jika memang diperlukan. Apalagi, mengingat meunasah adalah tempat berinteraksi dan shalat berjamaah untuk kaum lelaki, maka perempuan tidak dilibatkan karena tugas mereka di rumah lebih utama. Oleh karena itu, tidak heran jika agam-agam Aceh alumni meunasah sebagian besar tidak hanya pandai mengaji dan shalat berjamaah, tapi juga bisa memasak.

Proses pembuatan bubur kanji rumbi dilakukan 4-5 jam untuk 500 porsi lebih. Pada bulan Ramadhan, waktu pembuatannya dimulai antara pukul 13.00 - 17.00 WIB. Bubur dimasak dalam sebuah beulangong (kuali besi besar) dengan bahan bakar kayu. Setelah semuanya siap, petugas mengumumkan kepada seluruh warga gampong untuk mengambil bubur kanji rumbi yang sudah siap, untuk dibawa pulang untuk disantap saat berbuka. Semuanya harus ambil. Tanpa terkecuali. Jika tidak, maka akan timbul anggapan terkesan sok kaya, sombong, dan tidak merakyat.

Bagi orang Aceh, ini adalah menu wajib yang menjadi favorit baik bagi si kaya ataupun si miskin. Dengan rumbi, si kaya dapat merasakan bagaimana orang-orang di bawahnya. Sedangkan bagi si miskin, bisa jadi rumbi adalah menu yang paling mewah baginya. Telah menjadi sebuah kebersahajaan jika rumbi diracik dengan aneka rempah-rempah untuk segala macam mulut. Mulut kesombongan jadi diam, mulut keangkuhan pun jadi segan.

Sedangkan bagi saya sendiri, Rumbi melambangkan ketawadhuan, kesederhanaan, dan qanaah, karena ia telah membunuh perbedaan kelas sehingga melahirkan nilai-nilai sosial dan persatuan.

Busu, Aceh. 22 june 2017

Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS