• Ikuti kami :

Kangkung dan Kesadaran Ketuhanan yang Transenden

Dipublikasikan Senin, 27 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Diri Ke-aku-an dalam Tindak Menanam, Memasak, dan Memakan Kangkung: Sebuah Penghayatan Kesadaran Sunyiruri dalam Mengada Bersama Alam Semesta Melalui Tanaman Kangkung.

Apa yang dapat kita dapatkan dari menanam kangkung di pot-pot buatan di depan rumah selain kangkung itu sendiri? Apa yang dapat kita rasakan pada kehadiran berbatang-batang kangkung? Selesaikah makna sebuah kangkung ketika ia dimasak seseorang dan kemudian dimakan dan kemudian dikelola tubuh menjadi energi dan sisa-sisa? Menanam dan memakan kangkung sesungguhnya ialah juga perilaku mengada dan menjadi manusia. Sebuah keadaan menyadari kedirian manusia yang terkait dengan manusia lain dan seluruh alam semesta. Pada kangkung kita dapat menyandarkan diri tentang perhubungan yang kudus antardiri manusia dengan diri-diri lainnya, tanah, air, tetumbuhan, hewan-hewan, dan akhirnya Tuhan.

Ketika “Aku” menanam kangkung, ada keterlibatan bermacam hal, unsur, dan pihak di dalamnya.

Aku membeli biji-biji kangkung di Pasar Minggu dari seorang penjual yang mendapat biji-biji itu dari petani-petani jauh di sana. Entah di mana karena Aku yang membeli biji-biji kangkung itu lupa bertanya dari mana penjual di Pasar Minggu itu mendapatkan biji-biji kangkung itu.

Tetapi pastilah biji-biji itu berasal dari para petani di ladang-ladang entah di mana itu sebab tak mungkin biji-biji datang sendiri ke penjual biji untuk minta dijualkan. Maka dalam ketika Aku mendapatkan biji kangkung paling tidak Aku itu berhungan dengan penjual biji kangkung dan penanam biji kangkung. Tentu saja sangat mungkin ada diri-diri yang lain yang tidak disadari oleh Aku itu dalam perhubungannya dalam mendapatkan biji kangkung. Maka proses mendapatkan biji kangkung adalah juga sebuah perhubungan dengan diri-diri yang lain, baik yang disadari maupun yang tidak disadari.

Dan setelah biji-biji itu dibeli oleh “si aku-eksistensial” sekaligus disadari oleh “si aku-esensial” maka biji-biji itu ditanam di dalam pot. Pot itu dapat menjadi pot berkat kesadaran Aku untuk membuat pot dan menanam kangkung. Pot itu sendiri berasal dari bekas minuman kemasan yang dikumpulkan. Botol bekas minuman kemanusiaan itu secara niscaya melibatkan diri-diri yang terlibat langsung dan tidak langsung dalam proses kebotolannya. Maka dalam pembuatan pot sebenarnya secara disadari dan tak disadari pembuat pot telah mengada bersama dan menjadi bersama sekian diri-diri lain. Dari pembuat botol, pengguna botol, pembuang botol, pemungut botol, dan akhirnya si diri (Aku) pengubah botol menjadi pot. Dan botol-botol itu telah mengalami perjalanan panjang, sejak ia menjadi pasir kuarsa, kaca, dan akhirnya ialah sebuah botol minuman kemasan. Berapa manusia dan unsur alam yang terlibat dalam kehadiran sebuah botol.

Tapi botol-botol yang telah menjadi pot-pot itu hanyalah wadah bagi wahana tanam biji-biji kangkung. Wahana bagi kangkung itu bukan pot itu sendiri, melainkan tanah yang dicampur pupuk buatan dan sekam bakar. Lalu dalam tanah itu ada unsur-unsur renik ribuan jumlahnya. Dan dalam pupuk buatan itu ada kambing. Ya, kambing, pupuk buatan itu adalah kotoran kambing. Bahkan kambing pun terlibat dalam kekangkungan kita. Ribuan atawa jutaan bakteria di dalamnya. Dan sekam bakar dengan kandungan arang dan unsur hara di dalamnya. Ia berasal dari gabang yang dibakar petani entah di mana. Sekam di jual tukang tanaman hias dan akhirnya dibeli oleh “diri” penghayat menanak kangkung ini. Tiga bahan itu campur-bercampur sehingga menjadi wahana yang pas, tepat, akurat, dan patut bagi pertumbuhan kangkung di dalam pot-pot botol. (Catatan: takaran yang pas ialah 1/3 tanah, 1/3 pupuk buatan, dan 1/3 sekam bakar. Campur dengan saksama dan diamkan dalam keadaan anaerob selama dua hari).

Lalu setelah semuanya siap, biji-biji kangkung itu ditanam di pot-pot itu. Ditanam pada sebuah pagi yang permai ketika embun-embun masih bergelayutan di kabel listrik. Kini biji-biji kangkung telah bersamayam di dalam campuran yang saksama itu. Tanah, sekam, botol, kotoran kambing, dan biji-biji. Entah bagaimana mulanya, entah seberapa banyak unsur yang dikandungnya, entah siapa saja yang terlibat dalam kehadirannya, kini semua bertautan bersama kesadaran aku-esensial menjadi kerja-kerja penanaman kangkung dari aku-eksistensial. Sekian banyak diri yang lain, kesadaran yang lain serta bermacam unsur-unsur alam terlibat secara disadari dan tidak disadari bersama Aku dalam penanaman kangkung itu.

Matahari pagi bersinar. Angin berhembus. Hujan turun. Biji-biji itu tumbuh mengecambah di hari-hari awalnya. Bersipadu dengan harmoni bersama cahaya, embusan angin, dan air. Waktu berlalu, hari berganti. Kangkung-kangkung itu tumbuh dan akhirnya dipanen. Dibagikan ke tetangga dan sebagian dimasak.

Allah, ketika aku memakan kangkung yang kutanam dan kumasak ini, ada orang-orang yang tak kusadari telah terlibat dalam kemenjadiannya, kehadirannya. Dalam kemenjadianku dalam keberadaanku. Betapa sedikit yang kusadari, dan betapa banyak yang tak kusadari. Orang-orang dari sejak biji, botol, penjual sekam dan pupuk. Lalu sinar matahari dan angin yang Engkau berkahi, ya Allah.

Kangkung ini aku kunyah. Mahasuci Engkau yang telah menciptakan mulut dengan sunah-sunahmu. Air liur yang mengandung enzim dan gigi-gigi yang pertumbuhannya tak pernah aku awasi serta lidah yang tak pernah aku ciptakan. Engkaulah yang membuatku mampu menelan kangkung-kangkung yang telah kukunyah. Dan Engkau pulalah yang telah membuat usus-ususku mampu mengolah kangkung-kangkung itu. Aku tak pernah menciptakan usus-ususku, Engkaulah yang mengadiahkannya padaku.

Allah … Allah … Allah … moga-moga dengan memakan kangkung ini aku mendapatkan tenaga yang dengan tenaga itu aku dapat berbuat baik kepada manusia dan alam semesta yang kutemui. Hindarkanlah aku dari perbuatan keji, ya Allah. Dan berkahilah aku dan umatmu di Indonesia ini kesadaran bahwa dalam sesuap kangkung pun kebesaran-Mu dan keterlibatan alam semesta senantiasa ada.

Matahari bersinar, bumi berputar, planet-planet bergerak, semua semesta bersama dalam harmoni yang melibatkan Bima Sakti dan Andromeda. Terus berputar seirama. Disadari dan tak disadari.

Allah, lindungi kami dari kedzaliman meniadakan-Mu dalam batang-batang kangkung yang kami ketahui.

Amin..,

Tulisan Terkait (Edisi Alam)

Populer

IKLAN BARIS