• Ikuti kami :

Jusuf Wibisono: Pahlawan Tak Hanya Lahir dari Medan Pertempuran

Dipublikasikan Ahad, 12 November 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

10 November telah kita lantik sebagai Hari Pahlawan. Pada tanggal ini, di tahun 1945, pertempuran hebat dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang baru berusia 3 bulan terjadi di Surabaya. Belasan ribu pejuang Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Sementara 2000 serdadu NICA dan Belanda harus pula meregang nyawa dalam peristiwa itu. Pertempuran berdarah di Surabaya tersebut telah memberi ilham bagi rakyat di seluruh Indonesia untuk terus melakukan perlawanan terhadap sekutu.

10 November kemudian diawetkan sebagai Hari Pahlawan untuk menghargai mereka yang gugur dan menderita dalam peristiwa tersebut. Akan tetapi Jusuf Wibisono memiliki pandangan lain. Menteri Keuangan Republik Indonesia pada dua periode kabinet demokrasi liberal ini mencoba mengajak kita berfikir ulang mengenai makna Pahlawan dalam kehidupan kebangsaan kita. Ia sangat khawatir makna Pahlawan menjadi sempit karena Hari Pahlawan diambil dari sebuah peristiwa pertempuran melawan penjajah sehingga kita mungkin menganggap pahlawan hanya mungkin muncul dari medan perang. Padahal Kamus Besar Bahasa Indonesia pun mencatat bahwa pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. 

Kita bisa mengenang 10 November sebagai hari yang penting dalam rangkaian panjang upaya bangsa ini mempertahankan kemerdekaan. Kita juga bisa menginsyafi 10 November sebagai masa terwujudnya konsep jihad, syahid, dan fi sabilillah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi kita perlu pula memaknai kata pahlawan dengan lebih dalam sehingga kita bisa mengenali sosok pahlawan sejati yang senantiasa hadir pada setiap zaman. Mereka yang teguh dan menjunjung tinggi kebenaran, sosok yang bijaksana sekaligus berani dan sedia berkorban untuk memperjuangkan kebenaran.

Berikut tulisan, Jusuf Wibisono yang kami kutip dari Majalah Mimbar Indonesia edisi bulan November 1950. Redaksi melakukan penyuntingan dan penyesuaian ejaan seperlunya dengan tetap mencoba mempertahankan kerangka tulisan asli seutuhnya.


*** 

10 November

Pada tanggal 10 November lima tahun yang lalu, terjadilah pertempuran sengit antara tentara pendudukan Inggris dan bangsa Indonesia di Surabaya. Tentara kita yang waktu itu bernama Tentara Keamanan Rakyat, masih dalam keadaan permulaan perwujudan. Adapun sebabnya pertempuran itu, di mana Inggris menggunakan pula angkatan udara dan lautnya, ialah karena bangsa kita tidak mau memenuhi tuntutan-tuntutan Jenderal-Mayor Mansergh yang memang sangat menghina kita. Perkelahian mati-matian ini berlangsung sampai akhir bulan, hingga tentara Inggris berhasil menduduki seluruh Surabaya.

Menurut penyaksian David Wehl, yang menulis The Birth of Indonesia, pertempuran Surabaya adalah pertempuran yang tersengit selama perjuangan kita, hingga aksi militer ke satu. Andai kata pertempuran-pertempuran serupa itu menjalar di seluruh Jawa, berjuta-juta jiwa akan tewas, kata Wehl, karena orang-orang kita berkelahi secara sangat garang, fanatik dan dengan mengorbankan diri. Pada permulaan, orang-orang yang hanya bersenjata dengan pedang, menyerang tank-tank Sherman!

Semangat perlawanan di Surabaya itu, sangat mempengaruhi politik pimpinan tentara Inggris terhadap perjuangan kita, dan karena itu dicela oleh pihak Belanda. Belanda menghendaki supaya tentara Inggris bertindak keras terhadap kita dan menangkapi saja para pemimpin-pemimpin kita yang dianggap sebagai pemberontak biasa.

Sungguh besarlah hutang budi seluruh bangsa kita kepada pahlawan-pahlawan Surabaya itu. Maka patut sekali jika pertempuran di Surabaya itu, dicatat sebagai peristiwa yang maha penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan kita. Satu-satunya kejadian yang memberi inspirasi kepada pemuda-pemuda dan angkatan muda kita.

Sangat menyesalkan bahwa selama perjuangan kita ini, tidak ada seorang pun dari pimpinan tinggi tentara kita yang memberi contoh kepahlawanan yang dapat menggetarkan jiwa anak cucu kita sepanjang masa, seperti kepahlawanan Leonidas, Raja Sparta zaman Yunani purbakala. Dalam tahun 480 sebelum masehi, di Pas Thermopylae, tentara Sparta yang dipimpin sendiri oleh Leonidas berhadapan dengan tentara Persia yang jauh lebih besar dan yang bermaksud merampas kemerdekaan Yunani. Tidak dalam perkataan saja, seperti kebanyakan para pemimpin kita di masa yang lalu melainkan dengan perbuatan, Leonidas mempertahankan pintu gerbang ke daerahnya itu sampai titik darah yang penghabisan. Hanya seorang saja dari tentaranya pilihan, bisa menyelamatkan diri dari penghancur-leburan oleh bala tentara Persia. Walau pun hancur lebur, tetapi keguguran Leonidas sebagai pahlawan itu, memberi inspirasi, memberi kekuatan batin kepada rakyatnya, sehingga sanggup meneruskan perjuangan kemerdekaan tanah airnya, sampai pada akhirnya Raja Persia, Xerxes, dan seluruh tentaranya dapat diusir dari Yunani.

Dalam perjuangan kita, keadaannya terbalik sedikit, bukan rakyat yang mendapat inspirasi dari para pemimpinnya, melainkan para pemimpin kita mendapat kekuatan batin melihat tekad perlawanan dari rakyat kita.

Untuk memuliakan saudara-saudara kita yang telah berkorban guna kebesaran bangsa dan negara kita, maka pemerintah kita menjadikan 10 November ini, Hari Pahlawan.

Meski pun kami sudah barang tentu sangat setuju menghormati dan memperingati jasa saudara-saudara yang tak ternilai itu, namun kami rasa kurang tepat apabila hari itu dinamakan Hari Pahlawan, karena mungkin menimbulkan faham di kalangan rakyat kita seakan-akan kepahlawanan itu hanya terdapat di lapangan ketentaraan saja. Padahal tidak demikian adanya.

Tentang faham pahlawan ini, kami mengikuti pelajaran ahli sejarah dan pemikiran yang kenamaan dari Skotlan, Thomas Carlyle. Sebagaimana diuraikan dalam bukunya On Heroes and Heroworship, kepahlawanan itu tidak saja hanya ada di medan peperangan, melainkan pula di antara para Nabi seperti Muhammad, di antara para ahli syair seperti Dante dan Shakspeare, di antara para pendeta seperti Luther dan Knox, dan di antara para ahli kesusasteraan seperti Johnson, Rouseau dan Burns.

Yang dia pandang sebagai pahlawan ialah tiap-tiap manusia besar yang dapat membinasakan keadaan lama dan menciptakan keadaan baru. Bukan asal baru saja, melainkan barang baru yang membawa kebahagiaan bagi orang banyak.

Semangat militerisme yang hanya membawa bencana saja kepada ummat manusia, harus kita basmi. Kita harus mendidik rakyat kita bahwa juga di lapangan damai, tidak kurang kesempatan untuk berjasa besar kepada bangsa dan negara.

Di antar orang-orang terkemuka kita, rupanya masih ada yang belum bisa melepaskan diri dari pengaruh semangat Jepang yang memuja-muja golongan dan jasa ketentaraan lebih dari pada sepatutnya. Di luar Jerman dan Jepang, kami rasa, tidak ada negara yang menjunjung tinggi militerisme. Sekalipun demikian sepanjang pengetahuan kami, dua-dua negara itu tidak mengadakan Hari Pahlawan berhubungan dengan sesuatu pertempuran besar yang dilakukan oleh angkatan perang mereka dan yang maha penting artinya bagi sejarah mereka.

Pertempuran besar di Tannenberg di mana Hindenburg membinasakan tentara Rusia, dan pertempuran laut antara armada Jepang di bawah pimpinan Togo dan armada Rusia, kami fikir tidak kurang besar artinya bagi Jerman dan Jepang dari pada pertempuran Surabaya bagi kita; meskipun demikian, tidak dicatat sebagai Hari Pahlawan oleh mereka itu. Pertempuran di Stalin-grad dalam peperangan yang akhir ini di mana bangsa Rusia memperlihatkan kepahlawanan luar biasa, pertempuran yang menentukan jalannya peperangan seterusnya, tidak dicatat sebagai Hari Pahlawan oleh Sovyet Uni.

Maka kami kira, kita tidak akan mengurangi sedikit pun penghormatan jasa pahlawan-pahlawan Surabaya itu, seandainya 10 November ini, tidak diabadikan sebagai Hari Pahlawan, melainkan sebagai “Hari Pertempuran Surabaya”. Dengan demikian kita menghindarkan faham salah di kalangan rakyat, seakan-akan kepahlawanan itu hanya bisa didapat di medan pertempuran saja.

(Majalah Mimbar Indonesia, November 1950, halaman 3)


***


Apa yang disampaikan Pak Jusuf Wibisono tentu dapat menjadi perhatian kita. Penggugatan terlalu jauh terhadap Hari Pahlawan mungkin tidak perlu dilakukan. Kita dapat terus merayakan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Akan tetapi, mengurangi kesan kebangsaan yang militer-sentris perlu juga dipertimbangkan. Bahwa perjuangan kemerdekaan dan kebangsaan kita ialah hasil dari keseluruhan kebudayaan Indonesia bukan hanya hasil peperangan saja.

Tulisan Terkait (Edisi Terkini)

IKLAN BARIS