• Ikuti kami :

Jejak Jelata di Taman Kota

Dipublikasikan Selasa, 17 Januari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Beberapa tahun yang lalu, di antara Monumen Nasional (Monas) dan Masjid Istiqlal terdapat taman kecil berumput. Di sana, dulu, saban malam, ada tukang tauge goreng mangkal. Gerobak pikulan nangkring di sana dengan loyang ceper yang unik.

Tauge, ketupat, kerupuk, dan pelengkap makan berjejer, tertata dengan apik. Tak lupa panci berisi bumbu kuah tauco kental, barisan botol kecap dan cuka menemani ruap harum cita rasa khas milik orang-orang Betawi. Taman itu seperti tempat persembunyian yang nyaman dari kepungan kesibukan. Dan tauge goreng panas adalah teman setia untuk menikmati malam kota Jakarta. Ramai orang datang  setiap malam.

Menikmati jajanan di taman memang menyenangkan. Tidak perlu juga malam-malam. Kapan waktu pun bisa dan tetap nikmat. Dulu dan kini taman ialah tempat yang menyejukkan. Ia seperti sebuah ruang yang berbeda dari keseluruhan kota. Pepohonan yang tertata apik seperti sengaja dihadirkan untuk mengobati rindu pada kepermaian desa. Dan itu berpadu-laras dengan para jelata mencari nafkah dengan panganan tradisional.

Bukan hanya di Jakarta. Orang-orang Malang yang hidup di zaman kolonial, sekitar tahun 1895, pun melakukan itu. Bercengkerama dan saling menikmati jajanan di taman alun-alun kota. Keakraban antarsesama ada di sana. Terekam dalam foto yang tampak buram.

Taman punya makna yang tidak bisa dibilang remeh. Tak hanya menjadi paru-paru kota, juga menjadi paru-paru banyak keluarga jelata.

Itu dulu.

Sekarang taman telah menjadi ruang terbuka hijau yang dijaga satpol PP dan beragam perda. Jelata tak boleh ada karena mengganggu keindahan. Yang boleh berusaha hanya yang berpunya. Rakyat jelata tinggal cerita.

Gambar: Alun-Alun Kota Malang tahun 1895

Sumber gambar: KITLV Collection 12,030. Courtesy of KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, Leiden


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS