• Ikuti kami :

Jeans dan Makna: Pemberontakan dan atau Dakwah

Dipublikasikan Selasa, 02 Mei 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Garukan jemari di gitar fender meraung di rangkaian sound system. Efek distorsi semakin menyerakkan suara gitar. Empat per empat ketukan menyuarakan sebuah protes keras. Penampilan personilnya yang menggunakan celana jeans sobek-sobek dengan aksi panggungnya yang atraktif, moshing dan headbanging, mendukung suara-suara protes akan kemapanan industrialisme dan nilai-nilai yang menyokongnya. Atraksi panggung yang luar biasa. Celana jeans menjadi simbol perlawanan. “Revolt!” begitu istilahnya.

Sudah lama celana jeans menjadi simbol perlawanan terhadap industrialisme dan kapitalisme. Memang pada asalnya celana denim ini tidak memuat nilai-nilai anti kemapanan itu. Ia hanyalah sebuah celana untuk memenuhi kebutuhan para pekerja kasar: tebal, tahan lama, dan tidak mudah sobek. Setidaknya faktor-faktor itu yang dilihat oleh Levi Strauss, sang legenda pembuat celana jeans pertama di benua Amerika. Pada tahun itu, demam emas melanda Amerika. Semenjak saat itu bisa dibilang jeans adalah pakaian resmi penambang. Kemudian, sejarah jeans tidak berhenti di kaum penambang.

1872 adalah tahun penanda kiprah awal celana jeans yang di kemudian hari menjadi salah satu simbol budaya Amerika. Di masa perang dunia kedua celana ini dipopulerkan oleh tentara-tentara Amerika sebagai pakaian di luar dinas. Para prajurit itu menggunakannya sebagai busana saat berlibur.

Tahun 1950-an, celana jeans menjadi ‘busana resmi’ anak-anak muda yang sedang memberontak terhadap kemapanan modernisme Barat. Di sini jeans mendapatkan makna barunya: perlawanan. Kaum hipster (hippie) menjadikan celana jeans sebagai busana seumur hidup. Jeans dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya yang baku saat itu: celana pantalon, jas, dasi, dan kemeja yang kesemuanya disetrika licin. Dari budaya kaum hippie ini lahir model jeans dengan penuh sobekan, karena jeans dianggap sebagai pakaian seumur hidupnya, sebelel dan sesobek apapun akan tetap dipakai. Belel dan sobek yang alami, karena usia pakai, tidak dibuat-buat. Bersama kaum hippie, jeans menjadi simbol identitas dan bahkan pandangan alam tertentu. Kebebasan mutlak dan anti terhadap struktur yang ajeg menjadi dua kata kunci pandangan alam manusia-manusia ini. Dalam penelaahan Miccah L. Issit, gaya hidup hippie bersandarkan kepada pemberontakan, penyimpangan terhadap budaya yang ajeg, penekanan kepada pemenuhan pribadi, dan penerimaan keragaman sebagai masyarakat yang lebih baik dan lebih menyenangkan (Miccah L. Issit, Hippies, 2009, hlm 17).

Gerakan hippie kemudian mendapat kritikan dari gerakan sub kultur punk. Hippie dianggap terlalu lembek dalam melakukan perlawanan terhadap modernisme dan kapitalisme. Jeans sebagai simbol perlawanan beralih tangan  dari hippie ke punk. Di tangan kaum berambut mohawk ini, jeans kembali mendapatkan jiwa semangat pemberontakannya. Jeans menjadi simbol identitas, dan menjadi simbol pandangan alam anak-anak punk.

Akan tetapi, ini tidak berlangsung lama. Industri kembali memaknai jeans. Jika jeans adalah simbol pemberontakan, simbol perlawanan, maka akan ada banyak anak muda yang menggandrunginya. Itu adalah pasar. Anti kemapanan adalah pasar yang memiliki potensi besar meningkatkan laba perusahaan. Apapun nilainya, yang penting menguntungkan, barangkali seperti itu moto para pengusaha jeans.

***
Trend perlawanan dengan menjadikan jeans sebagai simbol juga merambah ke bumi Indonesia. Awal tahun 70-an, bermunculan grup-grup musik yang membawakan lagu-lagu bergenre rock. Sebut saja beberapa di antaranya adalah God Bless yang dikomandoi oleh Achmad Albar, AKA asal Surabaya yang digawangi oleh Ucok Harahap, The Rollies, Giant Step, dan masih banyak lagi. Kesemua grup rock ini memiliki gagasan yang sama: protes terhadap kebudayaan yang mekanistik. Di bidang musik, mereka adalah para pemrotes industri musik saat itu yang bertemakan cinta dan mendayu-dayu atas nama komersil. Di mata Orde Baru, anak-anak muda tahun 70-an ini dianggap sebagai biang rusuh. Dalam aksi panggung, juga dalam keseharian, anggotanya selalu berkaus, berambut gondrong, dan bercelana jeans yang menjadi bentuk simbolik perlawanan mereka terhadap pantalon, jas, dan dasi atau pakaian kemeja safari yang menjadi simbol kemajuan pembangunan industri  yang digagas Orde Baru.

Di sudut lain, gerakan kebudayaan yang dipimpin W.S. Rendra, menggunakan celana jeans dalam beberapa kesempatan tampilnya. Dalam Perkemahan Kaum Urakan, sebuah usaha Rendra dan teman-temannya dalam membuat pengkaderan para pengawal kebudayaan dan sastra di Parangtritis, 1971, para anggotanya dominan menggunakan celana jeans. Kejadian ini direkam oleh Ruedi Hoffman dalam bentuk foto. Dalam sebuah momen yang diabadikan Rudi, Rendra berdiri di tepi pantai membentangkan kedua tangan serta kepalanya ke arah langit. Sarung menyelempang di bahu. Celana jeans, sekali lagi, menjadi saksi sebuah perlawanan kebudayaan (lihat: www.fotografer.net/forum/view.php?id=3193650936).

***

Makna jeans sebagai bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap modernitas, industri, dan kebudayaan mekanistis harus menghadapi ujian. Pasalnya, di belahan Amerika sana, jeans kembali masuk ke budaya industri. Jeans menjadi fesyen resmi anak-anak muda Amerika. Jeans kemudian disandingkan maknanya dengan pola hidup konsumtif dan industrialis. Tulisan Alison Kass memuat nada-nada demikian (The 20th Century of American Fashion: 1900-2000, 2011), bahwa memang ada perlawanan dari masyarakat fesyen di Amerika terhadap kiblat fesyen Prancis. Mereka ingin membuat kiblat baru, tidak melulu membebek Prancis. Bell-bottom (cutbray istilah pasaran di Indonesia) menjadi barang wajib bagi seantero anak muda di Amerika. Apakah ini bentuk pemberontakan terhadap indutrialisme? Kita bisa jawab: tidak selalu. Yang jelas, untung tentu didapat para pengusaha jeans.

Tahun 70-an agak berbeda soal pergantian makna jeans. Awalnya seperti tempat asal jeans, ia menjadi simbol pemberontakan akan kemapanan kebudayaan massa, industrialistik, kapitalistik, dan mekanistik yang mengarah kepada kebudayaan model hippie. Namun kemudian, ada seorang anak muda yang memberi makna baru pada celana ini. Anak muda itu namanya Rhoma Irama. Film-film yang dibintanginya sering menampakkan dirinya bercelana jeans. Film-film yang bertemakan dakwah itu disandingkan dengan celana jeans.

Rhoma ini unik. Di zaman itu, Ia mewakili orang-orang Islam yang taat.  Orang-orang Islam yang taat disimbolkan dengan sarung.

Kaum sarungan. Sudah lama sarung menjadi simbol budaya orang-orang Islam. Tokoh-tokoh Islam seperti Tjokroaminoto, Hasjim Asy’ari, HAMKA, Prawoto Mangkusasmito, dan lain-lain menjadikan sarung sebagai sarana ekspresi budaya Islam sekaligus politik Islam. Bahkan, di saat nasib Masyumi di ujung tanduk pada pemerintahan Soekarno, Pak Prawoto datang ke Istana Negara dengan menggunakan sarung sebagai pakaian resminya. Sarung menjadi simbol dalam ranah politik kenegaraan.

Soal sarung yang menjadi simbol dan identitas politik Islam ini, dapat juga dilihat pada pernyataan D.N. Aidit kepada lebih dari 10.000 mahasiswa anggota Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang berafiliasi kepada PKI. “Kalau tidak bisa membubarkan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), pakai sarung saja.” Perkataan ini dicatat oleh Salim Said (Gestapu 65 PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto), juga Sulastomo, (Hari-Hari yang Panjang Transisi Orde Lama ke Orde Baru: Sebuah Memoar, hlm 106). Maknanya, menggunakan sarung di mata orang PKI (setidaknya Aidit) adalah bentuk kenistaan. Kebencian terhadap orang Islam juga ditandai dengan kebencian terhadap sarung.

Nah, Rhoma adalah anggota masyarakat yang menjadikan sarung sebagai simbol masyarakat Muslim di Indonesia. Peristiwa Rhoma bercelana jeans sembari menerangkan Islam dalam film-film yang dibintanginya itu, patut dijadikan momen istimewa. Ada perubahan makna semiotik dari jeans di tangan Bang Haji. Jeans diangkat oleh Bang Haji untuk ikut ambil bagian sebagai salah satu bagian dalam dakwah. Sembari bercelana jeans,  Bang Haji bersama teman-teman Sonetanya yang juga bercelana jeans menembangkan lagu-lagu yang berisikan pesan dakwah. Selain itu, tidak lupa Bang Haji terus mencari-cari Rika. Maka jeans juga ikut mencari Rika, simbol dari wanita shalehah dalam film Bang Haji. Bang Haji adalah seorang berhati sarung meskipun bercelana jeans. Dan dia mendambakan wanita shalehah.

Jeans yang digunakan oleh Bang Haji juga dapat dilihat sebagai simbol hubungan antara Islam dan modernitas. Nilai-nilai Islam, sohor pada waktu itu dianggap sebagai bentuk-bentuk kemunduran, menghalang-halangi kemajuan. Menjadi maju adalah menjadi Barat, begitu kira-kira menurut Orba. Tapi, Bang Haji (dalam film-filmnya) menunjukkan citra sebagai anak muda modern (bercelana jeans dan berkendaraan jeep atap terbuka), tetapi tetap berkesejatian seorang santri yang taat (berdakwah Islam melalui musik dangdut dan mencari Rika yang menjadi sosok istri shalehah). Kesantriannya, pada tahun 70 dan 80-an, juga terlihat pada pilihan politiknya. Bang Haji adalah salah satu pengampanye kondang dari PPP.

***

Kata orang-orang pintar dalam ilmu sosial dan humaniora yang menjadi akademisi di universitas-universitas, dunia era sekarang adalah dunia simbol. Pertarungan sekarang, kira-kira menurut mereka, adalah pertarungan antarsimbol dan pertarungan antarpemaknaan terhadap simbol. Pakaian, dalam kacamata para akademikus itu, adalah sebuah simbol. Di baliknya ada makna-makna tertentu yang hadir. Jeans menjadi simbol dari pemberontakan terhadap industrialisme dan kapitalisme. Simbol juga dapat berganti makna. Perjalanan jeans menunjukkan bahwa makna pemberontakan dan kebebasan yang digadang-gadangkan oleh kaum hippie dan komunitas punk tidak dapat dipertahankan.

Ada pemaknaan lain dengan latar ideologi dan pandangan hidup lain yang ikut berebut memberi makna terhadap jeans. Contohnya kapitalisme yang kembali merebut makna jeans menjadi sebatas fesyen. Dahulu, celana jeans robek-robek terjadi secara alami, akibat dari usia usang dan bahan yang mulai lapuk. Jeans robek kemudian banyak diminati. Kini, tersedia jeans robek-robek yang hinggap di gerai-gerai mal mewah, dengan harga yang tentu saja “mewah”. Menjadi pemberontak yang melawan kapitalisme dan industrialisme, syaratnya harus kaya lebih dulu, agar mampu mendapatkan jeans robek-robek di mal dengan harga selangit. Ironis, bukan?

Juga, jeans tidak sepi dari campurtangan pemaknaan orang-orang Islam. Di tangan orang-orang Islam yang bersimbolkan sarung, jeans juga diajak serta untuk berbakti kepada sekalian manusia, kepada sekalian alam, kepada ajaran Nabi, dan perintah Tuhan. Hingga sekarang, ramailah para aktivis Muslim yang ber-Jeans menyuarakan perintah-perintah agama. Beruntung,  jeans jadi naik pangkat.


Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

Populer

IKLAN BARIS