• Ikuti kami :

Jalan Persatuan: Hidup Permai dengan Siapa Saja

Dipublikasikan Senin, 20 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Adigium bahwa manusia tak dapat memilih lahir sebagai anak siapa atau keturunan bangsa mana telah masyhur adanya. Pada akhirnya manusia tak berkuasa atas warna kulit dan tempat lahirnya. Oleh karena itu, kita tidak harus mempersoalkan masalah takdir semacam itu. Yang perlu kita tata ialah hidup yang sedang dijalani ini. Hidup sebagai bangsa. Dan di dalam bangsa kita ada 250 juta lebih manusia dengan berbagai-bagai, dengan bermacam-macam suku bangsa, keturunan dan pemeluk keyakinan.  

Tentu saja kita perlu kehidupan yang baik dan tertib. Saling menenggang, saling merasa. Saling menjaga ruang hidup bersama yang bernama Indonesia ini. Kita bisa saja kemudian terlempar pada pandangan para nihilis yang menyebut kehidupan damai permai hanya ada di dalam gagasan dan tak pernah mungkin dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun paling tidak kita dapat terus berikhtiar memperbaiki mutu kehidupan berbangsa kita, sambil berharap jumlah nihilis pada bangsa kita semakin berkurang. Berikhtiar itu kan baik, sementara berharap itu gratis. Jadi marilah kita berikhtiar dan berharap kebaikan bagi bangsa kita.

Kita umpamakan hidup berbangsa itu menjadi semacam bertetangga dalam sebuah jalan, sebut saja Jalan Persatuan (bukan nama jalan sebenarnya). Kebetulan kita dalam perumpamaan ini berada di rumah Haji Husin, seorang Arab keturunan beragama Islam. Di seberang sana, ada keluarga Pak Ahong, seorang Katolik keturunan Cina. Nah, Haji Husin juga bertetangga dengan Pak Made, orang Hindu. Rumah Pak Made tepat di sebelah kanan rumah Haji Husin. Sementara di kiri rumah ini, ada Pak Bagyo, penganut Buddha dari Jawa Timur. Ini sekadar umpama saja tentunya.

Meski beragam suku dan berbeda agama, orang-orang di Jalan Persatuan bisa mengatur hidup dengan seksama. Haji Husin sekeluarga suka betul makan daging sapi. Namun demi menghormati Pak Made, Haji Husin tidak pernah menyembelih sapi di rumahnya. Kalau masak sapi pun diam-diam dan seksama. Bu Haji Husin I selalu mengingatkan Uci (pembantu mereka) kalau masak sapi nyalakan kipas cerobong biar bau masakannya tidak sampe ke rumah Pak Made. Dalam perumpamaan ini rumah Haji Husin memang dilengkapi cerobong asap setinggi 25 meter, segala bebauan dari masakan sapi keluarga tersebut tidak pernah tercium oleh tetangga.

Dan dalam perumpamaan ini pula rumah Pak Ahong dilengkapi perkakas pemusnah sisa dan bau babi di belakang rumahnya. Kebetulan keluarga Pak Ahong suka sekali Babi Guling Bumbu Strowberi, satu resep rahasia keluarga turun temurun. Meski demikian, Pak Ahong dan keluarga sedapat-dapat tak membuang sisa-sisa babi ke dalam selokan atau ke bak sampah depan. Pak Ahong secara sengaja mengundang ahli dari Jerman untuk menciptakan alat pemusnah sisa dan bau babi di belakang rumahnya. Teknologi tidak hanya harus mempermudah hidup manusia, tetapi juga harus dapat menyokong persatuan dan kesatuan bangsa serta tidak boleh disalahgunakan. Begitu katanya.

Pun demikian Pak Made. Terkadang musti mengadakan upacara dengan tetabuhan dan ogoh-ogoh di dalam rumahnya. Pak Made sengaja membuat rumahnya kedap suara, suara baru terdengar dari ketinggian sekitar 30 meter. Jadi suara dari rumah Pak Made disalurkan melalui sebuah pipa saluran berbahan viber dan itu tinggi sekali. Sehingga upacara sehari semalam penuh tidak mengganggu tidur tetangga lainnya. Seberisik apa pun.  

Sementara Pak Bagyo hidup tanpa memakan daging dan ikan. Vegetarian. Namun tak kalah dengan tetangganya, ia juga punya teknologi yang tinggi. Pak Bagyo mendirikan paralon 25 meter tingginya dan ditanami berbagai sayuran. Vertical farm.

Kala hujan datang, Haji Husin, Pak Ahong, Pak Made dan Pak Bagyo biasa bekerjasama memperbaiki saluran air yang sering mampet. Mereka bahu membahu menjaga kebersihan. Empat hari sekali mereka giliran meronda. Keamanan bersama, dijaga bersama. Hidup damai tenteram kertaraharja di Jalan Persatuan. Aman sejahtera dengan semangat persatuan yang menggebu-gebu.

Meski tak pernah rapat pleno, mereka juga punya peraturan-peraturan tak tertulis. Seperti misal, Haji Husin yang rumahnya lebih besar boleh menggunakan jalan untuk parkir dengan lebih besar juga. Bukannya serakah, tetapi memang halaman Haji Husin luas. Istri dan anaknya lebih banyak dari yang lain. Para tetangga maklum dan mafhum kalau jalan depan rumah Pak Haji sering dipakai parkir. Yang lebih banyak menenggang yang lebih sedikit, yang sedikit memaklumi yang banyak. Yang banyak menyadari kehadiran yang sedikit, yang sedikit mengerti mengurus banyak istri dan banyak anak itu tidak mudah. Perlu kerja ekstra keras.

Tidak semua anak Haji Husin baik-baik. Ada juga yang suka ngebut-ngebutan. Kalau pergi dari ruang depan ke halaman terus ke jalan, maunya lari kenceng. Gak mau jalan kaki pelan-pelan. Lari saja maunya. Si Abdul namanya. Haji Husin tahu kebiasaan Si Abdul yang suka ngebut ini. Anak Bu Haji Husin II. Masalah internal ini sudah berkali-kali coba diselesaikan Haji Husin, dan sedapat mungkin Si Abdul tidak mengganggu tetangga karena kelakuannya. Syukur para tetangga juga mau mengerti, mengurus keluarga besar tidak mudah. Kadang yang satu suka rame-rame, yang satu sukanya ibadah.

Sementara Pak Ahong rumahnya sepi, karena anak cuma satu, istri juga cuma satu. Tak heran Pak Ahong sering mengundang teman-temannya. Agak ribut-ribut sedikit kalau kumpul. Tapi tak apa, di rumah Pak Ahong juga ada ruang kedap suara seperti di rumah Pak Made. Yang banyak coba mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi yang sedikit dan coba menolongnya. Yang sedikit mencoba faham kedudukannya di depan yang banyak. Hidup aman sejahtera dengan semangat persatuan yang menggebu-gebu.

Setiap pemilihan ketua R.T. tiba, empat keluarga ini selalu memiliki preverensi politik yang berbeda. Kecenderungan politiknya tak pernah sama. Bahkan dalam internal keluarga Haji Husin selalu saja ada yang berbeda. Tapi ini tidak apa-apa. Soal-soal begitu wajar adanya. Kadang memang ada perdebatan, tapi tidak sampai dibawa terlalu jauh. Soal perbedaan ialah soal yang wajar dan mesti ada. Tinggal dikelola dengan seksama. Jangan kekanak-kekanakan.

Demikianlan Jalan Persatuan ini. Meski cuma perumpaman, pada akhirnya ini soal rasa. Sejauh mana kita dapat benar-benar saling merasa, saling mencinta, tanpa perlu kehilangan keyakinan masing-masing. Tepa salira sering diajarkan dan diagung-agungkan. Tapi rumahnya bukan di dalam buku atau teori, tepa salira ada di dalam hati. Persatuan tak berarti peleburan keyakinan satu sama lain. Atau pemaksaan untuk menihilkan setiap kemutlakan yang dianut setiap orang. Persatuan ialah tentang menenggang, memaklumi dan mengerti satu sama lain.

Dan karenanya kita harus senantiasa belajar mencinta, demi kehidupan yang aman sejahtera damai tenteram kertaraharja dengan semangat persatuan yang menggebu-gebu.

Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS