• Ikuti kami :

Jakarta Kota Penuh Kontras

Dipublikasikan Selasa, 17 Januari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Prolog

Persoalan kesenjangan ekonomi dan sosial budaya di kota memang sudah lama hadir. Banyak juga hal-hal yang kontras dapat dilihat secara kasatmata pada sebuah kota. Belum lagi hal-hal abstrak yang hadir di baliknya. Untuk Jakarta, misalnya, kesenjangan itu seperti mendarah daging pada kota ini. Usaha-usaha memang dilakukan untuk membenahinya, tetapi belum bisa secara nyata dan menyeluruh.

Jakarta dan persoalannya direkam dengan baik oleh seorang wartawan senior. Melalui kacamatanya, terbuka hal-hal lain yang hadir di balik fenomena kemasyarakatan di kota itu. Mochtar Lubis menuliskannya pada majalah Prisma No 5, Mei 1977 halaman 32-44 dengan judul “Jakarta Kota Penuh Kontras”.

Tulisannya itu sebenarnya panjang dan terdiri atas beberapa babak. Kami hanya mengutip sebagian saja dari keseluruhan tulisannya itu, mengambil beberapa babak yang menurut kami sangat relevan dengan kondisi masa kini. Meski demikian, beberapa babak tulisan yang diambil tidak mengurangi makna keseluruhan tulisan Pak Mochtar Lubis.

Berikut babakan yang kami ketik ulang, semoga bermanfaat untuk kita bersama. Selamat menikmati.

Jakarta Kota Penuh Kontras

Mochtar Lubis

Sebuah gedung mewah di perkampungan rakyat biasa. Sekeliling dipagar tinggi, memisahkan penghuninya dari masyarakat sekitarnya. Masyarakat petani kecil buah-buahan dengan pondok-pondok mereka yang serbasederhana. Gedung mewah demikian tidak sendiri. Dia dibangun berserak-serak di antara kebun dan rumah penduduk, rakyat kecil.

Suatu jamuan makan malam dalam sebuah rumah demikian. Tuan dan nyonya rumah dari sebuah perusahaan multinasional yang besar. Tamu-tamu orang asing dan orang Indonesia. Semuanya datang dengan mobil-mobil mewah, melalui jalan-jalan sempit yang belum diaspal. Begitu lewat pintu gerbang yang tinggi, orang tiba di dunia lain. Dunia Kalifornia dengan rumah yang mewah dan terang cemerlang di tengah kegelapan kebun-kebun buah-buahan atau perkampungan di sekelilingnya.

Tamu-tamu berjabatan tangan atau berciuman dengan tuan dan nyonya rumah. Musik klasik perlahan keluar dari dua pengeras suara stereo. Kamar tamu dihiasi beberapa lukisan oleh pelukis Indonesia, di atas meja di sudut kamar beberapa piring porselen Ming, dan dua lemari antik, sebuah lemari antik Palembang dan sebuah lagi dari Yogya.

Pembicaraan tentang tender-tender besar yang hendak diperebutkan, yang dibelanjai oleh Bank Dunia atau Asian Development Bank, atau dari dana-dana bantuan luar negeri negara-negara IGGI, skandal Pertamina (mereka menggeleng-geleng kepala mengapa itu bisa terjadi, sedang beberapa tahun sebelumnya mereka memuji Ibnu Sutowo setinggi langit sebagai manajer Indonesia yang terbaik, [the man who can do things!]), masalah mereka dengan orang-orang jawatan pajak, imigrasi, dengan birokrasi di Jakarta, buku roman terbaru yang diterbitkan di Amerika, ancaman kaum komunis di Thailand dan Malaysia. Bagaimana pendapat tuan dengan domino teori? Ah, kalau Thailand jatuh di bawah kekuasaan komunis, pasti Malaysia terancam. Dan kalau Malaysia jatuh ke bawah komunis, bagaimana Singapura? Indonesia?

Cerita tentang pakansi mereka ke Paris, ke San Fransico, ke Toraja, Danau Toba, dataran tinggi Dieng ….

***
Di gubuk-gubuk buruk dari kepingan papan, potongan bambu, beratap plastik dan berdinding karton sobek, wanita, lelaki dan anak-anak tidur berdesakan di pinggir jalan kereta api Senen, tidur di atas tanah yang hanya berlapis tikar sobek atau kertas koran tua plastik.

Di sini orang tidak bicara tentang pakansi ke luar negeri, belanja di Hong Kong atau Singapura, harga barang di London dan Paris, membeli berlian di Amsterdam dan Brussels, harga saham-saham minyak atau pertambangan lain di bursa di New York. Di sini manusia Indonesia hidup rendah di atas tanah, setiap hari benar-benar bergulat mencari sesuap nasi dari …. Tempat buangan sampah, memungut puntung rokok di jalan-jalan!

***
***
Pemilik tanah yang telah hidup di atas tanahnya berketurunan mendapat pemberitahuan supaya menjual tanahnya menurut harga yang ditetapkan badan pembebasan tanah, yang lebih rendah dari harga pasar. Tanahnya dan tanah puluhan atau ratusan tetangganya hendak diolah sebuah perusahaan swasta menjadi pusat perumahan, pusat perkantoran, supermarket, atau hotel bertaraf internasonal. Demi untuk perkembangan Jakarta, maka pemilik-pemilik tanah harus menyingkir. Selangkah demi selangkah penduduk pemilik tanah demikian digusur, pindah ke daerah pinggiran kota. Dan perusahaan swasta yang mengambil alih tanah mereka yang membuat keuntungan berganda dari harga tanah yang mereka bayar.

Mengapa pemilik tanah tidak diikutsertakan dalam ikut kebagian keuntungan besar dari perusahaan real-estat di Jakarta?

***
Jakarta adalah kota untuk orang yang punya mobil. Orang yang naik sepeda atau berjalan kaki hampir-hampir tidak diakui kehadirannya di jalan-jalan raya kota ini. Tortoir (trotoar—Red) sudah kehilangan fungsinya. Orang berjalan kaki tidak mendapat bagian jalan yang layak baginya. Pohon-pohon yang rindang banyak yang sudah ditebangi, hingga berjalan kaki di bawah terik sinar matahari merupakan satu siksaan di Kota Jakarta kini. Yang tidak punya mobil atau sepeda motor bergerak di Jakarta atas risiko sendiri. Naik bus berimpitan, belum bahaya kena copet. Naik oplet, helicak, minicar, bajaj harus tawar-menawar tiap kali kalau hendak dibawa ke arah khusus. Naik taksi terlalu mahal bagi kebanyakan orang, dan juga banyak sopir taksi yang nakal, memasang tarif sendiri di luar meteran.

***
***
Gaya hidup lapisan kaya di Jakarta sudah sama saja dengan gaya hidup masyarakat konsumer internasional. Mereka membeli dan memakai barang-barang yang juga dibeli dan dipakai orang-orang kaya di New York, London, Paris, Roma, Tokyo. Kemeja atau gaun St Laurent, Givenchy, Dior, Nina Ricci, Lanvin, Pierre Cardin, Gucci. Sepatu dan sandal dari Roma. Mereka yang tidak punya cukup banyak uang untuk pergi sendiri belanja ke Roma atau Paris dan London, dapat membelinya di boutique tertentu di Jakarta, meskipun di antara barang-barangnya banyak juga yang buatan Hong Kong dan Singapura, tetapi memakai merek Pierre Cardin.

Karena banyak orang asing menikmati batik design beberapa desainer batik Indonesia, baik untuk pakaian, maupun hiasan rumah tangga, maka mereka pun rajin membeli batik-batik demikian, yang harganya mahal-mahal.

Mereka belanja di supermarket yang kini bertumbuhan di Jakarta. Di sana semua makanan sudah dikalengkan dan dibotolkan, harganya jauh lebih mahal dari di Singapura atau Hong Kong, dan barang yang sama dapat dibeli dengan harga lebih murah di warung atau toko biasa.

Lambang kedudukan (status symbol) orang-orang kaya baru di Jakarta adalah meniru gaya hidup orang-orang asing yang kaya, baik bentuk dan kemewahan rumah, arsitektur taman (kini lagi musim beranggrek, lebih mahal lebih digemari), mural (yang banyak terlihat buruk-buruk), skulptur (kebanyakan dari semen dan kurang bermutu), juga musim punya barang antik (karena barang-barang antik Indonesia selalu dilahap orang asing, karena itu okabe kita tidak mau ketinggalan), mobilnya mersi (Mercedes Benz), dan belakangan Volvo (sedang dahulu Volvo dianggap hanya mobil polisi saja). Rolls Royce adalah lambang tertinggi, tetapi sayang sungguh telah dilarang. Jaguar dan Lamborghini juga sangat disenangi, tetapi ada larangan impornya.

Status symbol lainnya tentulah main golf. Di sinilah tempat yang membuka kesempatan untuk belajar kenal dan mengembangkan hubungan dengan pembesar dan penguasa. Sering teman dan kenalan saya dengan bangganya bercerita—wah, kemarin saya main golf dengan duta besar dari negeri anu, atau tadi pagi saya bermain golf dengan pak menteri anu, atau dengan direktur perusahaan anu.

***
Gaya hidup Jakarta untuk satu lapisan tertentu juga merupakan serangkaian resepsi oleh kedutaan asing, jamuan makan malam di hotel atau restoran internasional, peragaan pakaian wanita, menonton, weekend ke gunung, pergi shopping ke luar negeri. Orang-orang kaya baru Indonesia umumnya sama saja tingkah laku mereka dengan orang-orang kaya lainnya di dunia. Mereka menyembah uang dan harta!

***



Epilog


Banyak kekontrasan yang digali oleh Pak Mochtar Lubis. Secara umum, kesemua kekontrasan itu dapat ditarik simpulnya menjadi masalah harapan dari orang-orang kecil terhadap kota untuk membawanya sampai ke tingkatan status sosial dan ekonomi yang lebih baik, juga di sisi lain orang-orang kaya mengidolakan masyarakat kota di barat yang menyembah harta dan uang.

Penyakit ini sampai sekarang memang masih hadir di tengah-tengah kita. Modelnya bisa berbeda karena mengikuti tren yang berubah-ubah. Tapi hakikatnya sama. Ada dua kelompok masyarakat pada akhirnya yang kelihatan: orang miskin dan orang kaya. Status ekonomi di ranah sosial memang lebih mudah terlihat dengan mata. Namun, kita juga tidak bisa melihat bahwa kategori kelompok masyarakat sebatas itu. Ada banyak bentuk kategori lainnya. Dan tetap saja berada pada hakikat yang sama.

Menariknya, lewat tulisannya, Pak Mochtar menunjukkan bahwa orang-orang kaya baru di Jakarta saat itu terpengaruh oleh tren-tren yang berkembang di perkotaan dunia Barat yang menjura-jurakan hidup senang-senang. Kalau ditafsirkan dengan lebih berani, para okabe (OKB/orang kaya baru—begitu biasanya diistilahkan) kehilangan makna hidup dan hubungannya dengan harta kekayaannya. Akhirnya mereka sebatas membebek Barat.

Soal membebek itu saat ini masih berlangsung pada masyarakat perkotaan. Barangkali dahulu hal ini sebatas terjadi pada orang kaya, saat ini muncul kelompok sosial baru (memang masih dalam perdebatan): kelas menengah. Kelas ini juga kebanyakan bersikap membebek kepada tren masyarakat Barat. Fenomena shopping, mengoleksi sepatu sneakers, tato di sekujur lengan, gaya hidup pergi ke kafe, menjadikan majalah Vogue sebagai panduan hidup merupakan beberapa contoh fenomena yang memprihatinkan.

Baik zaman dulu dan masa kini, kedua belah pihak ini masih menghadapi masalah yang sama. Masyarakat miskin berjuang mencoba mengikuti perkembangan zaman demi menaikkan derajat hidupnya, sayangnya susah betul untuk dicapai. Masyarakat berkecukupan melihat tren Barat sebagai kepribadiannya. Kita memang sering kehilangan kepribadian.

Mengapa kota malah menghadirkan persoalan macam ini? Kiranya penting untuk dicari tahu pertanyaan itu.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS