• Ikuti kami :

Ismail Marzuki: Dari Lagu Perjuangan Sampai Ditabok Setan

Dipublikasikan Senin, 03 April 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Foto: "Ketoprak Betawi", Penerbit PT. Intisari Mediatama, hlm. 161

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sebagian besar rakyat Indonesia (khususnya yang pernah mengenyam pendidikan dasar) tentu mengetahui bait-bait lagu di atas. Bahkan, mungkin Anda turut bernyanyi ketika membaca lirik-lirik di atas. Lagu ini memang begitu akrab di telinga kita karena ini adalah lagu wajib nasional bagi anak-anak sekolah dasar di Indonesia. Namun, ingatkah Anda siapa penggubahnya? Dia adalah Ismail Marzuki, seorang seniman besar Indonesia, putra Betawi, yang namanya hingga kini diabadikan menjadi pusat kesenian di Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Tidak berlebihan jika kita menyebut Ismail Marzuki sebagai salah satu komponis terbesar di negeri yang belum seabad merdeka ini. Dalam 44 tahun hidupnya yang singkat, ia telah menciptakan, mengaransemen, dan menerjemahkan 202 lagu dalam berbagai bahasa. Lagu-lagu Ismail Marzuki seperti Halo-halo Bandung, Rayuan Pulau Kelapa, atau Gugur Bunga tidaklah asing di telinga kita. Lagu-lagu yang diciptakannya memang berbeda. Mereka mampu memainkan perasaan pendengarnya, dari rasa kerinduan akan indahnya alam nusantara hingga rasa membuncah dan membakar semangat rakyat Indonesia, yang ketika itu hidup di masa penjajahan. Lagu-lagunya bahkan disebut berhasil melukiskan setiap tingkat Revolusi Indonesia melalui lagu. Lagu di atas, Indonesia Tanah Pusaka, digubahnya ketika masa pendudukan Jepang. Berkat lagu ini, ia harus menghadap Polisi Militer Jepang untuk diinterogasi. Di masa yang sama, musisi Indonesia lainnya seperti Cornel Simanjuntak turut menggubah lagu Maju Tak Gentar dan Kusbini menggubah Bagimu Negeri. Lagu-lagu ini menjadi penyemangat dan mars perjuangan bagi rakyat Indonesia yang sedang berjuang demi mendapatkan kemerdekaan.

Ismail Marzuki dilahirkan di hari Senin, 11 Mei 1914, dengan nama yang singkat, Ismail. Marzuki adalah nama ayahnya, yang ia sematkan ke dalam namanya. Tiga bulan setelah lahir ke dunia, ia menjadi seorang piatu. Ismail bayi pun kemudian dirawat oleh kakak perempuannya, Anie Hamimah, yang kira-kira 12 tahun lebih tua darinya. Sebagai pegawai di “Ford Reparatie Atelier Tio”, Pak Marzuki—ayah Ismail—mendapatkan gaji yang cukup besar, sehingga mampu menyekolahkan anaknya di sekolah Belanda.

Penghasilan ayahnya yang cukup besar membuat anak Betawi yang biasa dipanggil Ma’ing atau Mail ini hidup berkecukupan. Di rumahnya, terdapat gramofon dengan koleksi piringan hitam yang tidak sedikit. Dari sanalah kecintaannya kepada musik bertumbuh. Ismail gemar sekali dengan lagu-lagu dari Prancis dan Italia. Ia juga menyukai berbagai jenis musik, mulai dari rumba, samba, hingga tango. Jika ada lagu yang sedang digemari, ia akan mengulangi lagu itu berkali-kali. Kadang-kadang bernyanyi, kadang bersiul. Gawatnya, ia melakukan itu tanpa kenal tempat dan waktu, hingga ayahnya pernah menegur, “Eh, Il! Kalo magrib, jangan besuit. Ngga bae. Ntar ditabok setan!”

Meskipun sekolah Belanda dikenal paling baik mutunya, tapi sebagai seorang Muslim, Pak Marzuki  merasa khawatir menyekolahkan anaknya di HIS Kristen “Idenburg” Menteng. Apalagi, di sekolah itu Ismail mendapatkan “nama baru”, Benjamin, sebuah nama yang biasa dipakai oleh anak laki-laki bungsu. Pak Marzuki semakin khawatir ketika anaknya begitu fasih berbincang dengan teman-temannya dengan Bahasa Belanda. Agar anaknya tetap ingat jati dirinya dan tidak menjadi kebarat-baratan, Pak Marzuki memutuskan untuk menyekolahkan Ismail  setiap sore di Madrasah Unwanul Falah, yang didirikan oleh ulama terkenal Habib Ali Alhabsyi di Kwitang. Ismail ternyata murid yang pandai, bahkan paling pandai di kelasnya. Ia juga aktif di Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) kwartir Surya Wirawan, Gang Kenari.

Setelah Ismail lulus MULO (sekolah menengah pertama di jaman Belanda, red.), Pak Marzuki yang khawatir anaknya menjadi musisi, mencarikan pekerjaan untuk putra satu-satunya itu. Walaupun ia sendiri anggota perkumpulan seni rebana di daerah Kwitang, tapi Pak Marzuki tak ingin anaknya jadi musisi. Di mata orang Betawi ketika itu, profesi pemusik adalah profesi yang tak elok. Ismail menuruti ayahnya. Kepandaian dan kefasihannya berbahasa Inggris dan Belanda membuatnya diterima bekerja di sebuah tempat bonafide dengan gaji tinggi. Namun, ia tidak bertahan lama di sana. Jiwanya sebagai pemusik menuntunnya kembali ke jalan yang awalnya tak disukai ayahnya itu.

Selepas itu, lelaki yang menerjemahkan lagu Panon Hideung dari lagu bangsa Kozak di Rusia itu bergabung dengan grup orkes Lief Java. Di sana, Ismail mengaransemen banyak lagu. Suaranya baritonnya yang berat dan dalam, serta keahliannya dalam mengikuti selera jaman membuat namanya cepat menjadi terkenal. Kepiawaiannya sebagai seniman membuatnya mendapat tawaran untuk tampil di berbagai tempat, mulai dari radio hingga film. Dalam film Terang Bulan yang begitu terkenal di masanya, Ismail bernyanyi menggantikan pemeran utama yang tidak sanggup bernyanyi bersahut-sahutan. Ketika itu, lipsync—yang mungkin—pertama dalam sejarah perfilman Indonesia tampil di layar lebar.

Lelaki yang selalu tampil rapi dan perlente ini dikenal sebagai orang yang tidak banyak omong. Ia juga tegas, disiplin, dan tepat waktu. Ketika memimpin Orkes Studio Perikatan Perkoempoelan Radio Ketimoeran (PPRK), Ismail tidak akan bertenggang rasa dengan orang-orang yang terlambat datang untuk latihan. Ia juga menuntut anggota orkesnya untuk serius dan tidak bercanda ketika sedang latihan, karena waktu latihan bukanlah waktu bercanda dan waktu bercanda bukan ada di saat latihan. Walaupun banyak menuntut, tapi ia juga memberi teladan di saat yang sama, sehingga semua orang menghormatinya. Rekan-rekan Ismail mengenalnya sebagai orang yang selalu bersungguh-sungguh.

Meskipun berkiprah di dunia hiburan, tapi gaya hidup Bang Ma’ing tidaklah sama dengan musisi dan seniman pada umumnya. Ia dipuji oleh rekannya sebagai orang yang berakhlak baik dan sering memberi nasihat serta anjuran. Yang hebat, ia juga mampu mengubah pandangan buruk tentang musisi ketika itu.

“Ia berhasil mengubah citra kaum musisi, yang saat itu dipandang rendah oleh masyarakat, dianggap sebagai pemalas, pelaku maksiat, pemburu perempuan, dan hidup tanpa guna. Memang betul ada pemusik yang demikian. Sebagian di antaranya mengubah cara hidupnya setelah bergaul dengan Bang Ma’il” jelas Saleh Soewita, seorang rekan Ismail di orkesnya.

Waktu tinggal di kota Bandung untuk bekerja, lelaki yang juga pernah menjadi pelawak radio ini tidak pernah tergoda dengan hiburan malam di Kota Kembang. Meskipun Paris Van Java terkenal dengan kehidupan malamnya dan sebagai seorang seniman kondang hidupnya begitu dekat dengan dunia semacam itu, tapi ia hanya akan keluar malam dengan kedua temannya yang sudah berkeluarga, Hanafi dan Suwargo Warkiman. Itupun hanya untuk mencari makanan enak saja. Padahal, hiburan malam Kota Kembang ketika itu tentu sangat menggoda kawula muda yang ingin menikmati kesenangan. Apalagi, waktu itu Ismail masih muda dan bujangan. Belum menikah dengan Eulis Zuraidah, istri satu-satunya hingga ia meninggal dunia.

Ah, mungkin memang inilah salah satu berkah mengaji pada habib yang alim sejak masih kecil….

Allahumma shalli wa sallim ‘alaa sayyidina Muhammad….


Tulisan Terkait (Edisi Anak)

IKLAN BARIS