• Ikuti kami :

Islam dan Negara: Pemikiran Mohammad Natsir
Bagian Ke 2

Dipublikasikan Kamis, 20 Juli 2017 dalam rubrik  Makalah

Di samping menawarkan Islam sebagai dasar kehidupan bernegara, Buya Natsir dan koleganya di Partai Masyumi kemudian menghadapkannya dengan gagasan sekular. Beliau melihat bahwa bentuk politik sekular tidak tepat untuk dipraktikkan di Indonesia. Sistem politik jenis ini memutuskan hubungan manusia Indonesia dengan Tuhan. Masyarakat sekuler melihat bahwa agama musti dijauhkan dari politik. Beliau tidak setuju akan hal itu. Beliau menunjukkan bagaimana kehidupan sekuler, termasuk dalam dimensi politik, telah menciptakan manusia yang kering jiwanya. Sekularisme tidak dapat memberi jalan keluar yang tepat bagi persoalan-persoalan moral.12

Dapat dikatakan bahwa Pak Natsir (dan juga Masyumi) menghendaki sebuah negara modern yang di dalamnya Islam menjadi dasar nilai. Tentu saja, hal ini melibatkan proses “pengkonstitusionalan” ajaran-ajaran Islam. Segala perangkat yang harus ada dalam sebuah negara modern dicoba dicarikan padanannya dalam ajaran Islam. Pengambilan keputusan bersama dalam sistem demokrasi kemudian disepadankan dengan musyawarah dalam ajaran Islam. Toleransi disepadankan dengan tasamuh. Pun demikian halnya dengan hukum dan ekonomi. Syariat Islam seperti zakat, penghukuman dalam pidana dan penegakan moral diupayakan hadir secara resmi dalam tatanan formal kenegaraan.

Proyek “pengkonstitusionalan” ajaran Islam ini meniscayakan semacam obejktivikasi ajaran Islam. Segala hal yang ditawarkan atau diperlukan negara modern direspons dengan apa yang ada dalam Islam. Pada satu sisi ini tentu bermakna sebagai sebuah upaya untuk menjadikan Islam sebagai satu tatanan hidup yang menyeluruh, gagasan umum kaum modernis. Islam harus hadir di seluruh unsur hidup seperti politik dan ekonomi. Tapi, kemudian kerumitan kehidupan modern dengan segala perangkatnya bukanlah sesuatu yang netral. Pada masa kini, kita dapat melihat falsafah kebudayaan Barat tercermin jelas dalam gagasan demokrasi, negara, dan juga bangsa. Lebih jauh lagi, kita dapat melihat gagasan mengenai kebenaran, keadilan, politik, dan juga pendidikan yang berasal dari barat sesungguhnya memuat nilai-nilai khas yang boleh jadi bertentangan dengan Islam.13

Konstitusi sebagai salah satu perangkat dalam bernegara pun diupayakan bersesuaian dengan Islam. Pak Natsir melihat bahwa ajaran Islam sesungguhnya dapat diwujudkan dalam hukum formal kita.

[…] sesuai dengan asas-asas Islam, konstitusi menjamin hak-hak asasi kepada semua warga negara tanpa perbedaan agama ataupun kepercayaan. Hal mana menunjukkan kepada dunia, bahwa sesungguhnya agama Islam bukanlah semata-mata ‘janji-janji akan akhirat yang berbahagia’.14

Ketika ajaran Islam disandingkan dengan gagasan mengenai negara, yang terlihat ialah sebuah upaya untuk menjadikan sebuah negara berdasarkan Islam. Paling tidak, sebuah negara modern yang dibangun dengan melibatkan asas-asas Islam. Tentu saja hal ini bukan sebuah teokrasi sebagaimana pernah ada dalam pengalaman Kristen-Barat.

Negara yang berdasarkan Islam bukanlah satu teokrasi. Ia negara demokrasi. Ia bukan pula sekuler seperti yang saya uraikan lebih dahulu. Ia adalah Negara demokrasi Islam. Dan kalaulah, Saudara Ketua, orang hendak memberi nama umum juga, maka barangkali Negara yang berdasarkan Islam itu dapat disebut “Theistic Democracy”.15

Meskipun negara demokrasi cenderung dianggap netral oleh Buya Natsir, akan tetapi pengisian nilai-nilai Islam terhadapnya menyebabkan perubahan bentuk menjadi model demokrasi yang terbatas. Kehendak bebas manusia dalam demokrasi Barat harus diejawantahkan secara total. Namun, dalam pandangan Pak Natsir hal tersebut mesti dibatasi oleh hal-hal tertentu. Negara demokrasi yang beliau gagas bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya, mengharuskan kebebasan berpendapat antar manusia berada di bawah naungan syariah dan tidak menabrak nilai-nilai Islam yang sudah baku (shari'ah dan akidah). Pengisian Islam pada institusi negara modern jenis ini menjadikannya sebagai bentuk baru sebuah negara, berbeda dengan negara demokrasi yang Barat pahami.

Upaya untuk memberikan makna Islam pada gagasan-gagasan modern memang merupakan sebuah kekhasan dari para modernis Islam. Sama halnya yang terjadi pada gagasan mengenai negara. Kita dapat melihat gagasan seperti ini juga diungkapkan oleh Muhammad Iqbal, pujangga-pemikir dari Pakistan. Dalam pandangan Iqbal, negara ialah upaya untuk mewujudkan keruhanian dalam organisasi manusia. Sebagai sebuah lembaga (institusi) negara diterima sebagai sesuatu yang bebas nilai. Tetapi seorang Muslim haruslah menanggalkan kesetiaan dan kepatuhan kepada institusi tersebut. Kesetiaan dan kepatuhan pada institusi hanyalah sah apabila ia ditujukan pula untuk meneguhkan kesetiaan dan kepatuhan kepada Tuhan. Karena Tuhan adalah basis ruhaniah yang paling tinggi dari seluruh kehidupan. Kesetian kepada Tuhan, pada hakikatnya berarti kesetiaan manusia pada fitrahnya sendiri.16

Mengikuti Iqbal, Pak Natsir melihat agama berfungsi sebagai pembimbing ruhani manusia ke arah fitrahnya. Agama harus menjadi pemimpin dan penuntun bagi manusia untuk mencapai perkembangan akhlak setinggi-tingginya. Kemampuan-kemampuan rohaniah yang tercermin dari akhlak seseorang  dapat memelihara dan menyelaraskan hubungan antara dirinya dengan Tuhan dan antara dirinya dengan manusia lainnya. Mengenai hubungan antara manusia dengan manusia, fungsi agama ialah memelihara keterhubungan itu dalam seluruh aspek kehidupan.17

Pengaruh Iqbal ini dinyatakan secara jelas dalam salah satu pidato beliau di sidang Dewan Konstituante itu. Pak Natsir menyatakan:

Dan Saudara Ketua, sejarah dalam beberapa belas tahun ini telah membuktikan, bahwa Mohd. Iqbal itu telah membuahkan dan menjelma menjadi satu perwujudan dari apa yang dinamakan oleh Mohd. Iqbal sebagai "prinsip-prinsip yang ideal" ke dalam tenaga-tenaga dalam lingkup "ruang dan waktu" berbentuk negara Republik Islam Pakistan itu, sebagai perumahan bagi bangsa Pakistan untuk dapat mengatur hidupnya, atau nilai-nilai demokrasi dan keadilan sosial sesuai dengan ajaran Islam.18 

Hal ini, dapat dirasakan sebagai sebuah pemberian nilai ruhani pada sebuah gagasan sekuler. Negara yang sebenarnya dipandang sebagai sebuah gagasan manusiawi yang terlepas dari nilai-nilai ruhaniah kemudian coba untuk diisi dengan nilai-nilai keruhanian Islam. Pada taraf tertentu, hal ini diikuti pula dengan upaya untuk memasukkan hukum Islam secara sah pada beragam perangkat kenegaraan. Namun, gagasan semacam ini perlu mendapat pendalaman yang lebih jauh pada sistem metafisika dan juga falsafah agar mendapat sandaran yang lebih mendasar.

Penutup

Pada akhirnya Dewan Konstituante memang dibubarkan. Dasar-dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diharapkan terumuskan dari dewan tersebut tak tergapai. Negara kita ketika itu kembali kepada Undang-undang Dasar 1945. Artinya aspirasi politik Islam ketika itu terhenti. Selepasnya, musibah politik mendera bangsa kita hingga berpuncak pada peristiwa 1965.

Meski demikian, gagasan-gagasan mengenai Islam dan negara yang disumbangkan tokoh-tokoh Islam (khususnya dari Partai Masyumi) perlu senantiasa dirawat dan dikembangkan. Mohammad Natsir telah berikhtiar untuk merumuskan sebuah negara yang di dalamnya Islam menjadi pokok kehidupan. Beliau telah memerah pikiran dan berupaya secara politik untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Pandangan-pandangan yang cukup mendalam mengenai Islam dan negara telah diejawantahkan secara baik dalam beragam kesempatan. Dapat dibayangkan dalam kesibukannya sebagai seorang politisi dan pejabat negara, beliau masih dapat mendalami pemikiran Iqbal dan para pemikir lain, baik dari dunia Islam maupun Barat.

Penghormatan yang wajar dan pantas layak didapatkan oleh beliau. Bagi generasi di masa kini, mendalami pemikiran beliau dan ikhtiar-ikhtiar beliau (termasuk dalam dunia politik) merupakan bentuk penghormatan yang penting. Tentu saja pengembangan dan pendalaman pemikiran-pemikiran politik Mohammad Natsir sangat penting dilakukan agar kehidupan politik kita dinaungi gagasan-gagasan yang baik.

Kerangka pemikiran Natsir mengenai Islam dan negara sebenarnya telah cukup kukuh. Hal tersebut harus terus diperkuat. Pendalaman dasar-dasar falsafah dari pemikiran beliau layak untuk terus diupayakan. Penggalian secara filosofis mengenai konsep kebenaran, konsep keadilan, konsep manusia, dan konsep-konsep dasar Islam lainnya sangat penting untuk menopang pemikiran politik kita.

Demikian sekilas pandangan Mohammad Natsir mengenai Islam dan negara. Kami berharap, telaah sederhana ini dapat mendorong telaah-telaah lain mengenai politik Islam yang akhir-akhri ini terasa sangat mendesak untuk dihadirkan.

(Pernah dimuat di Jurnal Islamia Edisi Ulama dan Politik)

_____________________________________________________________

1 Pemaparan mengenai kemodernan organisasi Syarikat Islam, di antaranya, dapat dilihat dalam beberapa catatan Mohamad Roem. Roem dengan baik menggambarkan bagaimana Syarikat Islam dapat menerapkan gagasan-gagasan modern tentang institusi dan organisasi serta pranata di dalamnya. Pelembagaan dan pengelolaan Syarikat Islam menunjukan bahwa gagasan modern tentang organisasi dapat benar-benar diterapkan oleh umat Islam di Indonesia pada masa itu. Lihat: Mohamad Roem, “Kongres Nasional Pertama Central Sarikat Islam” dalam Bunga Rampai dari Sejarah I (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1977), hlm. 15-29;  Mohamad Roem, “Potret H. O. S. Tjokroaminoto” dalam Bunga Rampai dari Sejarah II (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1977), hlm 71-81.

2 Mengenai Syarikat Islam, lihat: M.A. Gani, Cita Dasar & Pola Perjuangan Syarikat Islam (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1984).

3 Perdebatan kelompok Islam dan kelompok “kebangsaan” dalam persidangan-persidangan ini telah banyak ditafsirkan oleh para sejarawan. Satu perdebatan yang paling menarik ialah mengenai dasar negara Indonesia dan kemudian peristiwa dihapusnya 7 kata dari Piagam Jakarta. Lihat: Safroedin Bahar, d.k.k., Risalah Sidang Badan Penyeledikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI): 29 Mei 1945-19 Agustus 1945 (Jakarta, Sekertariat Negara Republik Indonesia, 1992).

4 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959, terj: Sylvia Tiwon, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995 [edisi kedua]). Selanjutnya disingkit Aspirasi Pemerintahan.

5 Salah satu perdebatan paling menarik dalam kasus modernisme ini dapat dilihat dalam Achdiat Kartamihardja (editor), Polemik Kebudayaaan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986 [Cetakan Keempat]).

6 Keterangan mengenai pembubaran Dewan Konstituante dapat dilihat pada Adnan Buyung, Aspirasi Pemerintahan.. hlm 317-390.

7 M. Natsir, “Negara Islam Versus Negara Sekuler” dalam Erwin Kusuma dan Khairul (Editor), Pancasila dan Islam: Perdebatan antar Parpol dalam Penyusunan Dasar Negara di Dewan Konstituante (Yogyakarta: PSP UGM-Baur Publising-TIFA), hlm. 60. Selanjutnya disingkat “Negara Islam”.

8 Lihat misalnya Ernest Renan, Apa itu Bangsa?, terj: Prof. Mr. Sunario (Jakarta: Alumni, 1994).

9 M. Natsir, “Negara Islam”, hlm. 63-64.

10 Ibid.

11 M. Natsir, “Sumber yang Satu itu dari Wahyu Ilahi” dalam Erwin Kusuma dan Khairul (Editor), Pancasila dan Islam: Perdebatan antar Parpol dalam Penyusunan Dasar Negara di Dewan Konstituante (Yogyakarta: PSP UGM-Baur Publising-TIFA), hlm. 180. Selanjutnya disingkat “Sumber yang Satu”.

12 M. Natsir, “Negara Islam”, hlm 65.

13 Konsep asas kebudayaan barat yang mempengaruhi pandangan-pandangan politik, ekonomi, kebudayaan dan lainnya dapat dilihat dalam: Syeid Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: Istac, 1993).

14 M. Natsir, “Sumber yang Satu”, hlm. 175.

15 M. Natsir, “Negara Islam”, hlm. 76.

16 Miss Luce-Claude Maitre, Djohan Efendi, Pengantar ke Pemikiran Iqbal, (Jakarta: Pustaka Kencana, 1981) hlm.23

17 M. Natsir, Pemikiran Dr. Muhammad Iqbal tentang Politik dan Agama, (Jakarta, Penerbit Mutiara, 1979)  hlm. 18-19.

18 Mohammad Natsir, “Sumber yang Satu”, hlm 175.


Tulisan Terkait (Edisi Moh.Natsir)

IKLAN BARIS