• Ikuti kami :

Islam Alat Perekat Kebangsaan dan Kesatuan Indonesia

Dipublikasikan Ahad, 21 September 2014 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Untuk mengokohkan kesatuan itu carilah alat perekat yang asli, teladan dari langit! Jangan dengan Gajah Mada-Hayam Wuruk, jangan dengan Hang Tuah dan Cindur Mata! Tetapi dengan Islam, karena itulah pokok damai kita!

***

Oleh: Hamka

Dengan darah dan air mata telah kita beli kemerdekaan ini. Syukur alhamdulillah kita telah mempunyai sebuah negara yang besar. Mungkin negara yang keenam besarnya dalam dunia ini.

Salah satu dasar yang telah kita pilih, ialah kebangsaan.

Tetapi rasa kebangsaan bisa mendorong menimbulkan kekuatan, dan bisa juga menimbulkan chauvinisme, kebangsaan sempit; ”yang di awak segala benar, yang di orang segala bukan”! Rasa kebangsaan bisa menimbulkan semacam hitlerisme, dan itulah yang menghancurleburkan Jerman. Kita terdiri dari berbagai ragam suku bangsa, dan setiap suku bangsa mempunyai kemegahan sendiri, mempunyai “dongeng” tentang kebesaran nenek moyangnya. Mempunyai “pahlawan” sendiri, pahlawan khayali! Jika suku bangsa Jawa memegahkan Gajah Madanya, Minangkabau pun mempunyai Cindur Mata, dan Melayu pun mempunyai Hang Tuah. Dan biasanya bilamana “pahlawan khayali” itu telah mati, kian banyaklah ditimbulkan atas dirinya tambahan dongeng, sehingga dari manusia biasa mereka dinaikkan jadi dewa.

Sebab itu maka kebangsaan yang demikian dapatlah memecahkan persatuan yang telah kita capai dan kemerdekaan yang telah dalam tangan kita.

Tidaklah di luar daripada ukuran ilmu sejarah, jika saya katakan bahwasanya ajaran agama Islam telah turut menanamkan rasa Kesatuan Kebangsaan yang ada sekarang ini, sejak ratusan tahun lalu.

Ajaran Islam menerangkan rasa kebaktian di tanah mana, di daerah mana pun kita berdiam itu adalah iman dan amal saleh, dasarnya adalah takwa kepada Allah. Kepada orang tidak ditanyakan apakah bangsanya, yang ditanya lebih dahulu adalah keagamaannya dan baktinya!

Berkali-kali sejarah menunjukkan bahwa orang dari daerah lain dapat menjadi orang besar dalam satu negeri, di dalam seluruh kepulauan Indonesia ini, walaupun nama “Indonesia” tidak dikenal pada masa itu.

Sunan Gunung Jati, atau Fatahilah atau Maulana Hidayatullah adalah keturunan Iran (Persia) yang bercampur dengan darah Aceh. Dia menyiarkan agama Islam ke Jawa Barat dan dialah yang mendirikan kerajaan Banten dan Cirebon.

Ki Gedeng Suro, seorang bangsawan dari Demak, seketika di Demak timbul kekacauan, melarikan diri ke Palembang. Dia diterima dan diangkat menjadi raja Islam yang pertama dalam kerajaan Palembang.

Orang-orang Melayu dari Malaka, yang terpaksa meninggalkan tanah airnya, karena Portugis telah menaklukkan Kerajaan Islam Malaka (1511), mereka mengembara sampai Sulawesi dan menyiarkan agama Islam di Makassar.

Mereka dihormati sebagai saudara agama, dan gelar “Incek” masih dipakai oleh keturunan Melayu itu di Makassar sampai sekarang. Demikian juga setelah Kerajaan Goa dan Tallo menerima Islam sebagai agama resmi di tahun 1603, yang dibawa ke dalam istana oleh mubaligh-mubaligh Minangkabau, mereka pun diterima dengan tangan terbuka. Mereka tidak dipandang hina sebagai “orang pendatang”. Karena yang mereka bawa bukanlah permusuhan, tetapi “nur cahaya Ilahi”.

Setelah kerajaan Bugis dan Makassar jatuh ke dalam cengkeraman kompeni Belanda, maka hangatnya napas keislaman telah menjalar di seluruh rongga putra Bugis Makassar. Mereka pun mengembara di seluruh Indonesia, kadang-kadang menghalang-halangi perjalanan kapal kompeni, kadang-kadang menjadi bangsawan Jawa, dan berjuang pula.

Karaeng Gelesong pergi ke Madura dan diterima menjadi menantu Trunojoyo. Dan berjuang bersama-sama melawan kompeni Belanda.

Syekh Yusuf Tajul Khalwati mengembara dari Makassar sampai ke Banten, lalu diterima menjadi mufti Kerajaan Banten oleh Sultan Ageng Tirtayasa, dan berjuang pula di samping Sultan melawan kompeni.

“Sr Untung” diberi gelar bangsawan oleh Sultan Cirebon, “Surapati”, dan diberi gelar bangsawan pula oleh Amangkurat Mataram, “Wironegoro”, padahal dia asal budak, asal dari Pulau Bali yang dahulunya kafir penyembah berhala. Tetapi karena dia telah masuk Islam dan berjuang untuk kemerdekaan, dia diterima menjadi bangsawan Jawa, dan berjuang pula melawan kompeni.

Sesudah punah keturunan pihak laki-laki dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam di Aceh berkali-kali keturunan Arab yang telah berdarah Indonesia menjadi sultan di Aceh, sampai empat sultan. Dan diangkat juga orang Arab menjadi sultan di Siak dan Pontianak dan Perlis (Malaya).

Dan setelah punah pula keturunan Arab dirajakan di Aceh keturunan Bugis. Bahkan tujuh sultan Aceh turun-temurun sampai berjuang melawan Belanda di tahun 1870, adalah berdarah Bugis.

Sultan Deli adalah keturunan raja-raja Moghul di India!

Islam tidak membedaan di antara keturunan Arab bangsa Said dengan keturunan budak belian dari Bali, dan pengembara lautan dari Bugis, semuanya diterima dengan “ahlan wa sahlan”; yang dihitung bukan bangsa dan keturunan, tetapi bakti dan jasanya dan tujuan hidupnya.

Inilah pusaka nenek moyang, bekas ajaran Islam, juga harus kita pegang teguh menjadi modal untuk menegakkan kebangsaan kita sekarang ini.

Dalam suatu pertemuan para ulama Minangkabau dengan ikatan serban di kepala, timbullah mufakat rahasia bahwa orang Minangkabau sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia itu bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bangkahulu (Bengkulu) dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?

Maka dengan memakai paham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja tanpa Islam, orang harus kembali menggaruk mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!

Bertambah mendalam “kefanatikan” agama Islam di satu daerah, bertambah luaslah dadanya menerima tetamu kemerdekaan! Ingatlah di zaman perjuangan. Walau tetamu itu orang Kristen!

Tatkala tuan I.J. Kasimo, seorang pemeluk Katolik, berjalan dari desa ke desa bersama Dr. Soekiman, meskipun rakyat di desa itu tahu bahwa beliau seorang Katolik, dia telah dihormati sebagai menghormati Pak Kiman juga. Sampai telanjur dari mulut Pak Kasimo: “…Ah! Biarlah saya menjadi penasihat Masyumi saja!”

Tatkala saudara Hutasoit (kala itu sekjen Kem PPK—ed) dan Ir Sitompul turut berdarurat di daerah Minangkabau di zaman agresi Belanda yang kedua, dia disambut di kampung-kampung sebagai menyambut keluarganya juga, walaupun orang tahu dia orang-orang Kristen.

Demikian murni ajaran Islam, yang memandang orang karena baktinya, bukan karena suku bangsanya, maka haruslah kita kembali kepada ajaran itu, di dalam membina kebangsaan kita sekarang ini.

Kita terdiri dari beribu pulau! Kita terdiri dari beratus suku bangsa, yang masing-masing mempunyai kemegahan sendiri. Untuk mengokohkan kesatuan itu carilah alat perekat yang asli, teladan dari langit!

Jangan dengan Gajah Mada-Hayam Wuruk, jangan dengan Hang Tuah dan Cindur Mata! Tetapi dengan Islam, karena itulah pokok damai kita!

Sumber : Hikmah, 9 Sya’ban 1376. Hlm. 9—10.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS