Iqbal dan Indonesia dalam Pandangan Mohammad Roem
Bagikan

Iqbal dan Indonesia dalam Pandangan Mohammad Roem

Pandangan-pandangan Muhammad Iqbal juga menjadi rujukan tokoh-tokoh Islam di Indonesia yang menghadapi kolonialisme akut.

Muhammad Iqbal ialah tokoh penting dalam perkembangan pemikiran Islam, khususnya di abad ke-20. Gelora batinnya membangkitkan "ummat yang tertidur". Gairahnya untuk lepas dari belenggu kepasrahan terhadap penjajahan mendorong kesadaran ummat untuk melawan. Seruling merdu syair-syairnya mengiang masuk ke alam nasionalisme Indonesia, menyinari perjuangan para pembaharu Islam, kaum modernis Indonesia. 

Corak Iqbal dalam beragam buah fikir kaum pembaharu tak dapat dipungkiri, bahkan cenderung diakui. Kita tak menafikan pengaruh positif dari Iqbal namun tak pula bersikap tertutup terhadap persoalan-persoalan serius dari pemikirannya yang dampaknya turut kita rasakan hingga kini.

Stagnasi intelektual menjadi perhatian penting Iqbal, hal ini terlihat dari kajiannya mengenai ego dan kehendak manusia. Baginya, kehendak untuk berbuat dan kreativitas berfikir adalah kunci utama. Ia begitu kuat mendorong umat Islam untuk tidak tinggal diam dan begerak. Baginya, intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup ialah menciptakan. Maka Iqbal pun berseru kepada umat Islam supaya bangun dan menciptakan dunia baru. 

Pandangan-pandangan Muhammad Iqbal juga menjadi rujukan tokoh-tokoh Islam di Indonesia yang menghadapi kolonialisme akut. Semangat Iqbal turut mewarnai upaya mendirikan negara-bangsa kita. Moh. Roem dengan pasti menyebutkan hal itu. Dalam tulisannya di Majalah Panji Masyarakat tahun 1976 ini, ia mengungkapkan penghargaannya terhadap Iqbal. Ia juga melihat pemikiran Iqbal sebagai salah satu saluran yang berharga untuk memajukan umat Islam di Indonesia. Dalam membaca pemikiran Iqbal, Moh. Roem merasakan bertambahnya pemahaman dirinya akan manusia dan kedudukannya, khususnya manusia beragama dalam suatu negara. 

Iqbaldan Umat Islam Indonesia

Hampir seperempat abad yang lalu, tepatnyapada tanggal 21 April 1953, di hall-room Hotel des Indes, Jakarta, diadakanhari peringatan Iqbal. Yang mengadakan peringatan itu ialah Himpunan PersahabatanPakistan-Indonesia, sedang yang berbicara antara lain Mohamad Natsir, SyafruddinPrawiranegara dan Haji Bahrum Rangkuti. Sangat mengesankan sajak-sajak Iqbalyang dideklamasikan oleh Haji Bahrum Rangkuti yang salinannya juga ia yangmembuat sendiri. Haji Bahrum Rangkuti memang berbahagia menjadi salah seorang Indonesiayang dapat menikmati sajak-sajak Iqbal dalam bahasa aslinya.

Barangkali itulah yang pertama kali MohamadIqbal diperkenalkan kepada khalayak ramai di Indonesia. Sejak itu beberapakali peringatan semacam itu diadakan lagi, tapi tidak terlalu sering. Karenaitu saya merasa syukur bahwa pada malam ini kita berkumpul lagi untukmemperingati apa arti Iqbal bagi dunia umumnya dan bagi Indonesia khususnya.

Saya rasa baik sekali memperkenalkan Iqbalkepada rakyat Indonesia. Sebab saya melihat ada titik-titik persamaan kondisidan situasi, yang membuat penting bagi rakyat Indonesia untuk lebih mengenalapa yang diajarkan Iqbal dalam buku-bukunya dan dalam sajak-sajaknya.

Saya sendiri baru sejak peringatan seperempatabad yang lalu itu tertarik untuk membahas lebih lanjut apa yang dituliskan danditinggalkan Iqbal. Akan tetapi Haji Agus Salim, yang sejak didirikan JongIslamieten Bond di tahun 1925, menjadi guru agama dari sebagian golonganterpelajar Islam di Indonesia, sudah menyebut dan mengutip Iqbal dalampelajaran dan percakapan-percakapannya. Terutama apa yang diungkapkan olehIqbal dalam bukunya The Reconstructionof Religious Thought in Islam, banyak menarik perhatian. Dalam hubungan itutadi saya katakan ada titik-titik persamaan kondisi dan situasi.

Iqbal adalah salah seorang pendorongkebangkitan Islam di India dan Pakistan. Iqbal telah menjelmakan buahfikirannya dengan cara-cara yang ilmiah dan filosofis, tapi juga dengan caraliris yang indah.

Ummat Islam di Indonesia pernah mengalami jugamasa kebangkitan, kebangkitan nasional dan pembaharuan agama. Kebangkitannasional dan pembaharuan agama ini ternyata tidak perlu dipisah, dikatakanseolah-olah dua persoalan yang berlainan.

Mungkin bangsa Indonesia ataupemimpin-pemimpin waktu itu baru mampu mengatakan jeritan hatinya dalamkata-kata yang sangat sederhana, belum atau tidak dengan sajak-sajak yang indahseperti Iqbal. Waktu Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Sala ditahun 1905 ia sudah mencantumkan tujuan persarikatan itu: “Memberantasfikiran-fikiran yang keliru tentang agama Islam”. Meskipun kata-kata sangatsederhana, tapi pada hakikatnya tidak jauh dari apa yang diungkapkan Iqbaldalam bukunya The Reconstruction orReligious Thought in Islam. Karena itu Ummat Islam di Indonesia akanmengerti kalau mendapat penerangan lebih banyak tentang apa yang diajarkan danditinggalkan oleh Iqbal.

Rakyat Indonesia sejak permulaan abad ini,atau sekitar pergantian abad ke-19 ke abad ke-20 mengalami kebangkitan agama.Gerakan pembaharuan agama didorong oleh segolongan pemuda Indonesia yangsekitar pergantian abad itu bermukim di tanah suci dan mempelajari agama Islamdi sana. Sekembali di tanah air mereka mengajarkan agama Islam dengan mata dancara lain dari yang selama ini dijalankan. Di antara mereka ada yang kemudianmendirikan perkumpulan yang sebelumnya belum pernah ada. Muhammadiyah didirikanoleh Ahmad Dahlan tahun 1912. Persatuan Islam didirikan oleh Haji Zamzam tahun1923. Ada yang tidak mendirikan perkumpulan tapi memperdalam dan memperluasajaran-ajaran agama Islam seperti Syekh Haji Abdulkarim Amrullah di Minangkabaudan Kiai Haji Ashari di Tebuireng, Jawa Timur. Yang disebut belakangan inidi kemudian hari, di tahun 1928, mendirikan perkumpulan Nahdlatul Ulama. Sayamenyebut beberapa nama saja antara lain Syeikh Yanan Taib dari Minangkabau,Syeikh Muhammad Arsyad dari Banjarmasin, Syeikh Abdus Salam dari Palembang,Syeikh Nawawi dari Banten, Teunku Abdul Wahab dari Aceh, Kiai Mansur dariSurabaya. Mereka itu sudah dilahirkan pada bagian kedua dari abad ke-19 danmasih terus dan berjuang di abad ke-20.

Iqbal dilahirkan di akhir abad ke-19 dan masihbekerja sampai bagian pertama abad ke-20. Kelebihan Iqbal seperti riwayathidupnya menunjukkan ia berkesempatan menuntut ilmu juga di negara yang padawaktu itu dan sekarang disebut modern, seperti di Inggris dan Jerman, danmenuntut ilmu Islam dari sumber-sumber aslinya. Baru sedikit sekali buku-bukuIqbal yang dapat dinikmati oleh orang Indonesia yang tidak mampu membaca bahasaasing sekalipun hanya bahasa Inggris. Sebelum peringatan di tahun 1953 sudahterbit salinan dalam bahasa Indonesia sajak-sajak Iqbal yang terkumpul dalambuku yang berjudul Asrar-i Khudi (Rahasia-rahasia Pribadi). Penerjemahnyaialah Bahrum Rangkuti dan Arif Husain. Haji Bahrum Rangkuti pada kesempatantersebut mendeklamasikan terjemahannya sendiri. Di tahun 1966 terbitlah salinandari The Reconstruction of ReligiosThought in Islam oleh tiga orang golongan muda yang terkenal dalam duniasastra yaitu Ali Audah, Taufik Ismail dan Gunawan Mohamad.

Tentang titik persamaan kondisi dan situasiyang saya sebut di atas tadi saya ingin menambahkan yang berikut: Iqbal sudahdewasa waktu tanah airnya masih dikuasai oleh bangsa lain dan yang beragamalain. Pada tingkat dewasa itu ia sudah menjadi ahli fikir tentang soal-soalpolitik atau meskipun bukan cara formil ia seorang political scientist. Ia juga seorang filosof, penyair dan ahlipengarang yang bernafaskan Islam. Peralihan dari keadaan penjajahan kepadakondisi negara merdeka pasti membawakan persoalan-persoalan yang menyebabkanfikiran Iqbal bergerak.

Sebagian dari kita yang masih mampu bekerjadewasa ini mengalami juga masalah transisi itu. Kita sudah dewasa ketikaBelanda masih berkuasa di tanah air kita. Kita sudah dewasa dan memandang agamaIslam suatu pedoman yang sempurna. Dalam perjuangan dan beralih dari masapenjajahan ke alam merdeka kita tidak mau melepaskan pedoman yang kita sudahyakin kebenarannya malah kita yakin bahwa pedoman itu lebih-lebih harusdipergunakan dalam alam merdeka.

Di sini lah letaknya betapa pentingnya bangsaIndonesia lebih mengetahui Iqbal yang dengan caranya dan gayanya sendiri sudahmemikirkan semua itu dalam buku-buku yang ilmiah dan dalam sajak-sajak yangindah. Jalan Iqbal tidak perlu kita ikuti selengkapnya, tapi saya rasa mengenaialam pikirannya penting bagi kita. Saya tidak memberikan penyelesaian hanyamenyarankan agar yang mampu lebih memperkenalkan kita dengan apa yang sudahditinggalkan oleh Iqbal.

Bagi saya sendiri umpamanya, waktu saya masihmuda dan mengikuti pelajaran di Rechtshoge School Batavia, agak sulit untukmengerti dan menghayati doktrin Barat, bahwa negara harus dipisah dari agama,bahwa ada dua macam negara yaitu negara theocratis dan negara sekular. Negara theocratis,kalau yang menjadi kepalanya seorang yang mempunyai kedudukan wakil Tuhan didunia dan yang berwenang menentukan apa yang dilarang dan apa yangdiperbolehkan, dengan sanksi berdosa dan tidak di dunia dan akhirat. Kalautidak menghendaki negara yang theocratis, maka negara harus sekular, agamaharus dipisah dari negara.

Kemudian ternyata, bahwa doktrin itu bukansatu-satunya yang berlaku. Waktu Republik Indonesia diproklamirkan, maka sejaksemula sudah ada kementerian agama dan tetap ada sampai sekarang. Bentuk itutidak menunjukan bahwa Republik Indonesia negara sekular. Tapi RepublikIndonesia juga bukan negara theocratis, dikepalai oleh seorang wakil Tuhan yangmenentukan apa yang halal dan apa yang haram. Haram dan halal ditentukan olehagama, malah bagi tiap pemeluk agama oleh agama masing-masing. Bentuk sertapenghidupan negara memberi ruang lingkup cukup luas untuk tetap beragamaseperti sedia kala. Malah hidup beragama lebih dapat dihayati dalam hidupbernegara. Maka Republik Indonesia bukanlah negara theocratis dan bukan sekulardalam arti doktrin Barat seperti saya dapati ajarannya, waktu saya dulu belajarhukum. Mungkin juga doktrin Barat itu sekarang sudah usang, sudah digantidengan doktrin yang lebih enak.

Kementerian agama yang ada di Republik Indonesiabukan kementerian salah satu agama, tapi semua agama yang sudah ada dan berakarsebelum Republik Indonesia didirikan. Ia memperlakukan dan melayani agama-agamadengan sikap yang seimbang. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945,juga bukan UUD yang bernafas sekular dalam pasal 29 dikatakan “Negara berdasaratas Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Negara Republik Indonesia yang dalampreambulnya dinyatakan berdasar kepada “Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaanyang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin olehhikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkankeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, lebih tepat dinamakan negaraPancasila daripada harus memilih salah satu negara sekular atau theocratis.

Membaca tulisan-tulisan Iqbal, yang tentumempunyai pengalaman sendiri dan latar belakang sendiri, namun banyak akanmenambah pengertian kalau kita sedang memikirkan tempat manusia, danlebih-lebih manusia yang beragama di penghidupan negara.

Malah Iqbal “was not a politician. Indeed, he has confessed his inability to be one.His mind was incapable of the intrigues, trickeries, and macinations, wichconstitute the mental and moral equipment of the common run of politician”(Dikutip dari sebuah pengantar oleh Ali Audah dari buku Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, halaman 28-29,Penerbit Tintamas, Jakarta 1966). Iqbal tidak mau mendapat tuduhan, yangbiasanya dilancarkan kepada para politisi.

Meski pun Iqbal tidak terkenal sebagai seorangpolitikus, tapi ia cukup berpengalaman dalam bidang itu. Dalam tahun 1927 iaterpilih menjadi anggota Majelis Legislatif Punjab. Ia juga pernah menjadiketua dalam sidang tahunan dari Muslim League, dalam mana ia mengucapkan pidatountuk mencari penyelesaian mengatasi deadlock politik yang mengenai anak benuaIndia. Di tahun 1931-1932 Iqbal menjadi salah seorang peserta dalam KonferensiMeja Bundar di London untuk mencari rumusan bagi undang-undang dasar yang akanmenjadi landasan kemerdekaan bekas jajahan Inggris di India.

Semoga malam peringatan seperti ini akanberulang kali diadakan dan semoga buah pikiran Iqbal akan lebih luas dinikmatioleh kaum Muslimin di Indonesia.

Jakarta, 22 April 1976.

Panji Masyarakat, No. 199, Tahun Ke-XVIII, 16Jumadil Awwal 1396/15 Mei 1976, halaman 38 dan 39.