• Ikuti kami :

Ikrar Keturunan Arab Jadi Bangsa Indonesia

Dipublikasikan Ahad, 12 Februari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Oktober menjadi bulan penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Ada dua peristiwa besar terjadi pada Oktober: Sumpah Pemuda 1928 dan Hari Kesadaran Indonesia Arab.

Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 telah meletakkan dasar kelahiran sebuah bangsa. Melalui sumpah itu para pemuda berupaya merumuskan cita-cita mereka tentang bangsa, mendefinisikan apa itu bangsa Indonesia, dan mendudukkan kebangsaan di antara keberagaman etnis.

Mohammad Yamin, seorang penggagas Sumpah Pemuda, terang menyebut Sumpah Pemuda menjadi tonggak kelahiran bangsa Indonesia. “Tanggal itu jalah lahirnja bangsa Indonesia jang tak dapat dipetjah-petjah,” tulis Yamin dalam Sumpah Indonesia Raja, halaman 18. Sementara, Mohammad Roem, anggota Jong Islamieten Bond (JIB) yang ikut mendukung Sumpah Pemuda, menyatakan bahwa Sumpah Pemuda memberi para pemuda kepribadian dan kepercayaan diri pada wujudnya sebuah bangsa yang besar dan kuat. (Lihat Mohammad Roem dalam Bunga Rampai Dari Sejarah Jilid II, halaman 107).

Namun, Sumpah Pemuda belum mengikat semua kekuatan pendukung pergerakan nasional, misalnya golongan Timur Asing. Mereka belum ikut menggabungkan diri ke dalam upaya merumuskan dan melahirkan kebangsaan. Mereka masih sibuk berhantaman di dalam kelompoknya. Pokok pertentangan mereka ialah apakah mereka termasuk orang Indonesia atau orang asing.

Perdebatan itu terjadi pada golongan Timur Asing berdarah Arab. Mereka terpecah menjadi dua kelompok: wulaitii atau totok dan muwalad atau peranakan. Kaum wulaitii berpandangan bahwa tanah air mereka berada di negeri Hadramaut sana. Mereka tidak mendefinisikan diri sebagai bangsa Indonesia.

Kaum muwalad bersikap sebaliknya. Mereka mempunyai ibu berdarah Indonesia dan memandang Indonesia sebagai tanah air dan kebangsaan mereka. (Lihat Husain Haikal, “Indonesia-Arab dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia 1900—1942”, disertasi pada Program Studi Ilmu Susastra Universitas Indonesia, tahun 1986, halaman 75—100)

Selain perdebatan mengenai kebangsaan, golongan Arab juga bersilangan tentang kedudukan status sayid atau sebutan khusus untuk seseorang dengan silsilah menyambung hingga ke Nabi Muhammad. Kelompok Jamiat Khair mendukung pelestarian kedudukan sayid, sedangkan kelompok Al-Irsyad menolak status khusus ini.

Abdurrahman (AR) Baswedan, seorang pemuda keturunan Arab dari kelompok muwalad, berupaya mendamaikan pertentangan itu. Menurut Baswedan, pertentangan di kalangan Arab merugikan kedudukan mereka sendiri. Dia mengajak sesama golongan Arab kembali ke tali persaudaraan Islam dan mencoba membentuk kesadaran tentang kedekatan mereka pada bangsa Indonesia. Baswedan kemudian menegaskan sikapnya bahwa keturunan Arab yang beribu perempuan Indonesia dan lahir di Indonesia merupakan bangsa Indonesia juga, tak peduli mereka punya darah sayid atau tidak.

Kelompok wulaitii dan sejumlah sayid mengecam Baswedan. Namun, sebagian besar kelompok muwalad dan beberapa sayid turut mendukung Baswedan. Mereka lalu mengikrarkan niat mereka untuk turut senasib sepenanggungan menjadi bangsa Indonesia pada 4 Oktober 1934. Baswedan rutin mengulang makna penting ikrar itu setiap tahunnya. Di bawah ini kami hadirkan ulang artikel Baswedan seputar ikrar peranakan Arab itu.

Diambil dari majalah Aliran Baru nomor edisi 3 Oktober 1938 halaman 52—53.

                                                                                ***

Ampat Oktober: Ringkasan Khotbah Hari Kesadaran 1938

Oleh: AR Baswedan

Di seluruh Indonesia, di mana ada cabang atau grup PAI bahkan di mana ada PAI-ers dan kaum PAI, orang sama mengadakan perayaan dengan gembira, memperingati hari kesadaran kaum peranakan pada tanah airnya.

Indonesia tanah air kita!

Itulah semboyan kesadaran itu, kesadaran yang baru timbul pada 4 Oktober 1934, dalam satu permusyawaratan pemuka-pemuka peranakan Arab dari berbagai-berbagai tempat di Kota Semarang.

Dunia Arab di Indonesia goncang, yang totok maupun yang peranakan sama terperanjat, mendengar pernyataan itu.

Puluhan tahun berturut-turut lampau, sebelum 4 Oktober 1934, kaum peranakan yang lahir di kepulauan ini tidak mengakui dengan lidahnya “bahwa Indonesia tanah airnya”. Indonesia ada tanah mahjar, tempat kita berhijrah, tanah perantauan, begitulah dahulu kita berkeyakinan.

Kaum peranakan Arab telah melalui beberapa abad merupakan satu umat tersendiri di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Padahal di dalam masyarakat itu mereka bercampur gaul dengan bangsa Indonesia, bersanak famili dengan mereka, ibu-ibu dan ninik-ninik kita adalah bangsa Indonesia.

Anggapan bahwa Indonesia ada tanah air buat sementara di samping pengakuan yang tegas dan tetap, bahwa di sana ada lagi tanah air, atau beberapa tanah air, anggapan yang demikian ini seolah-olah syirik khafi di dalam keyakinan tauhid wathaniah.

Dan sebagai juga syirik khafi yang tersembunyi, membatalkan amal usaha kita di dalam agama, begitupun syirik khafi di dalam keyakinan tanah air, dapat merusak usaha untuk pergaulan hidup.

Karena adanya syirik wathaniyah itu, maka hati kita, cita-cita dan tujuan hidup kita, kita bagi-bagikan ke beberapa tanah air, kabur tidak tertentu.

Oleh pengaruh keyakinan yang demikian itu, rasa perbedaan antar kita dengan bangsa Indonesia, bukan saja di medan pergaulan hidup, tetapi sampai di medan pergaulan agama, bahkan sampai di dalam menghadapi Allah, melakukan kewajiban agama.

Buktinya, sebagai juga kampung Arab, ada juga masjid dan langgar Arab, kepunyaan orang-orang Arab, yang lain daripada masjid umum yang biasa.

Sedemikian mendalamnya perasaan keasingan itu, sehingga di dalam satu kampung penduduk Arab dan Indonesia, masing-masing mengadakan sinoman sendiri.

Keindahan Indonesia dengan gunung-gunungnya kalau dahulu menarik hati kita, seperti juga seorang turis luar negeri, tertarik hatinya kalau sedang memandangnya.

Beda sekali dengan sekarang setelah kita sadar, keindahan alam yang kita pandang itu, adalah indahnya tanah air kita semata-mata!

Kita sekarang sanggup melihat keindahan tanah air Indonesia, dengan mata putra Indonesia kalau sedang memandangnya!

                                                                                *

Rasulullah lahir di Makkah, di tanah Hijaz. Dan Hijaz termasuk jazirah Arab. Tanah air Rasulullah ialah Makkah, tempat beliau lahir, dan Madinah disebut tempat hijrahnya. Bangsa Arab melangkah ke Andalusia yakni tanah Spanye, sebagian dari Eropa. Bangsa Arab melangkah ke Mesir, sebagian dari benua Afrika. Bangsa Arab melangkah ke Persie yakni sebagian dari benua Timur. Mereka turun temurun di sana di pelbagai negeri luar jazirah Arab.

Akhirnya orang Arab yang di Andalusia itu disebut orang Al Andalusi, yang di Mesir Al Misri, yang di Afghanistan Al Afghani, dan seterusnya!! Masing-masing disebut menurut tempat kelahiran dan kediamannya (dan kita di Indonesia?... Al Indonesie-Cor).

Bahkan bukankah aneh, bahwa tanah Makkah yang suci itu yang sesungguhnya adalah tanah kepunyaan umat Islam, oleh orang Makkah sendiri dianggap tanah airnya, bukan tanah air orang Najid, bukan tanah air orang Yaman, bukan tanah air orang Hadramaut. Padahal anggapan yang demikian itu, akan lebih bertentangan dengan faham yang mengatakan, bahwa tanah air kita itu ialah dunia Islam yang seluas-luasnya.

Tapi orang yang berpendapat demikian itu, kalau pada suatu waktu ia melewat ke Hadramaut, ia mengatakan pergi ke tanah airnya, padahal ia sebagai seorang Islam, sebenarnya ia tidak menetapkan sesuatu tanah air yang tentu.

Kalau andai kata masih ada orang-orang yang demikian itu, tidak lama lagi kami yakin akan sadar sendiri. Maka PAI tiap-tiap tahun melakukan adat mengadakan perayaan kesadaran, untuk menginsafkan mereka itu.

                                                                                    ***

Demikianlah salah satu datuk kita pernah berupaya melumerkan pertentangan di kalangannya sendiri. AR Baswedan tidak memaksakan kelompok penentangnya untuk turut masuk mendukung garis perjuangannya. Namanya saja kesadaran, kemunculannya pun harus dari dalam diri, bukan melalui paksaan. Dia memberi setiap orang kebebasan: ikut bersama kami menjadi Indonesia atau berada di luar kami sehingga tetap menjadi asing. Masing-masing pilihan mempunyai konsekuensi dan tanggung jawab berbeda.

Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

Populer

IKLAN BARIS