• Ikuti kami :

IKIRU: Pengabdian Menebus Luka
Bagian Ke 2

Dipublikasikan Sabtu, 03 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Odagiri (diperankan oleh Miki Santo) ialah seorang perempuan yang telah 1,5 tahun bekerja di Departemen Pelayanan Publik. Ia benar-benar bosan dengan pekerjaan yang hanya berurusan dengan kertas. Ia mencari-cari pimpinannya, Pak Watanabe, untuk menandatangani dan mengecap surat pengunduran-dirinya. Perempuan periang itu hendak bekerja di tempat yang menurutnya lebih manusiawi.

Pagi itu ia melihat Pak Watanabe yang baru pulang keluyuran dengan 50.000 Yen-nya. Dengan riang gadis Odagiri menyapa Pak Watanabe yang murung. Ia bertanya tentang cap, tetapi cap ada di rumah. Odagiri kemudian mampir ke rumah Pak Watanabe.

Alasan Odagiri mengundurkan diri ialah karena bosan. Menurutnya kerja di Pelayanan Publik dapat membunuhnya. Setiap hari hanya kemonotonan yang ada. Ia tak tahan. Tidak ada hal baru yang pernah ia temui di kantor itu. Satu-satunya hal baru yang ia dapati ialah Watanabe mengambil cuti dan membeli topi baru.

Ujaran-ujaran Odigiri disampaikan dengan lugas, terus terang dan tanpa beban. Watanabe merasakan kejujuran. Odagiri tak memiliki beban dan tak memiliki ketakutan. Ia tak takut kehilangan jabatan, tak takut kehilangan pekerjaan, tak takut tak dihormati. Ia bebas merdeka, sesuatu yang tak dimiliki oleh Watanabe.

Di rumah Watanabe, Odagiri melihat sebuah piagam. Penghargaan untuk pengabdian Watanabe selama 25 tahun. Piagam itu telah berusia 5 tahun. Artinya telah 30 tahun Watanabe mengabdi kepada Pemerintah Jepang. Namun hal itu tak memberikan kekaguman kepada Odagiri. Ia melihatnya sebagai penderitaan. 30 tahun di tempat yang mengerikan. Terpendam dalam tumpukan kertas dan pekerjaan yang tak menapak di kenyataan.

Dulu Watanabe selalu bangga dengan piagam itu. Namun kini ia tak dapat melihat apa pun darinya. Ia bekerja demi anaknya, kini ia sadar, si anak hanya tertarik pada hartanya. Sementara di kantor, ia semakin menyadari bahwa ia hanya melindungi kedudukannya dan orang lain terus menunggu kesempatan untuk menggantikannya. Apa yang ia bangga-banggakan nyatanya hampa dan sublim.

Keterusterangan Odagiri mengejutkan sekaligus melahirkan kesadaran bagi Watanabe. Selama ini semua orang selalu menyatakan hal-hal baik. Watanaber pun berfikir semuanya baik. Padahal tidak. Odagiri membuka kesadaran itu. Kebanggaan-kebanggaan semu yang dibangun puluhan tahun nyatanya hanya lelucon dan kesia-siaan.

Odagiri ialah wanita yang dapat meraih kesenangan hanya karena mendapatkan sepasang stoking baru. Gairah hidupnya amat besar. Dunia serba terang di matanya. Ia merdeka dari belenggu-belenggu sosial. Sebaliknya, bagi Watanabe, dunia serba muram.

Keadaan yang bertolak belakang membuat Watanabe mencintai Odagiri. Tidak, ini bukan cinta birahi seorang tua bangka kepada gadis muda (seperti yang disangka orang-orang kantor dan keluarganya, mereka tak pernah benar-benar memahami Watanabe). Lelaki lamur itu mencintai segala sesuatu yang ada dalam diri wanita muda itu. Kemudaan, keriangan, kesehatan, kecerahan dan terutama gairah yang begitu besar.

Langkah Odagiri nampak begitu ringan dan riang. Banyak hal yang membebani Watanabe, namun bagi gadis itu, beban-beban itu terlihat seperti kapas. Odagiri dengan tenang dan ceria menceritakan “kemunafikan” di kantor. Ia menjuluki setiap orang dengan julukan-julukan lucu. Seseorang yang suka mengelak ia juluki sebagai siput laut. Sementara penjilat ia juluki sebagai kertas lengket penangkap lalat. Ia juga punya julukan untuk Watanabe: mumi. Tentu saja lelaki tua itu sedih, tetapi ia tak dapat mengelak. Ia memang telah menjadi mumi hidup yang menunggu mati. Pedih. Namun penderitaan Watanabe ialah sekadar bahan tertawaan bagi gadis muda itu. Pelan-pelan Watanabe pun dapat mentertawai hidupnya yang murung.

Watanabe bercerita mengenai perutnya kepada Odagiri. Sesuatu yang tak dapat ia katakan kepada anak dan kawannya. Ia berharap perempuan muda itu memberitahunya perihal rahasia hidup. Tentang gairah. Namun Odagiri tak tahu dan tak pernah memikirkannya. Ia hanya makan dan bekerja. Ia tak dapat menjelaskan mengapa ia begitu bergairah terhadap hidup. Mengapa ia memiliki elan vital yang mengguar-guar pada hidup.

Watanabe putus asa. Ia merasa kembali ke sebuah kenangan muram di masa kecil. Ia pernah tenggelam di sebuah kolam. Tangannya menggapai-gapai tetapi tak seorang pun hendak menolong, termasuk kedua orang tuanya. Semua tampak gelap. Itu lah yang ia rasakan sekarang. Ia merasa akan tenggelam oleh kematian namun tak ada satu pun tangan yang dapat menyelematkannya. Ia berharap pada Odagiri tetapi Odagiri tak mengerti harus berbuat apa. Watanabe tua telah berjuang dalam kepanikannya tetapi tak seorang pun hendak menolong.

Odagiri tak mengerti apa pun. Ia hanya melakukan segala hal dengan sederhana. Sekedar bekerja di pabrik boneka pun dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan. Saat membuat boneka, ia merasa seperti sedang bermain dengan setiap bayi di Jepang. Perempuan itu tak mengerti kenapa Pak Watanabe tidak mencoba melakukan sesuatu yang berguna untuk orang banyak. Tapi apa yang bisa dikerjakan di kantor dengan birokrasi mogok semacam itu?

Pencerahan!!! Watanabe menemukan sesuatu yang dapat ia lakukan. Ya, ia menemukannya. Watanabe tua dengan kanker perut. Kelukaan telah memberinya kelahiran baru. Ia menjadi manusia. Tragedi telah membuatnya kembali lahir. Penderitaan memperbaharui jiwanya.

Kepala Bagian Departemen Pelayanan Publik kembali masuk kantor. Orang-orang yang telah mengharapkan kepergiannya, dengan harapan dapat menggantikan kedudukannya, terkejut. Lebih dari itu, yang mereka temui bukanlah Watanabe yang seperti mumi. Melainkan seseorang yang memiliki hasrat yang kuat untuk berbuat. Seseorang dengan gairah menggebu-gebu untuk melakukan sesuatu.

Ankyo Shūri To Umetate Chinjōsho ialah gairahnya. Saling lempar tanggungjawab dirobeknya. Kerja yang nyata dilakukannya. Ia hadir dengan semangat baru, urusan masyarakat harus diutamakan. Persoalan mereka bukan hanya persoalan Departemen Pelayanan Publik atau Penanganan Limbah. Semua departemen harus turut merasa bertanggungjawab.

Wanatabe tak lagi berdiam dengan kertas-kertas di dalam kantornya. Dengan sepeda ia mengunjungi lokasi, melihat persoalan secara langsung. Segala hal yang lambat dan sulit dalam birokrasi ia tembus. Dinding-dinding ketidakmungkinan ia rubuhkan. Dengan sabar ia mengurai macam-macam kekusutan yang telah akut dalam birokrasi Jepang.

Susah payah ia menjajakan proposal kepada setiap bagian. Hinaan, hambatan bahkan ancaman ia hadapi dengan hasrat yang mengguar. Seperti anak muda dengan ciuman pertama, ia telah merdeka dari ketakutan-ketakutan. Bahkan ia tak punya waktu untuk membenci orang-orang yang menghina atau merendahkan proposalnya. Umurnya tak lebih dari 6 bulan. Watanabe sangat gigih memperjuangkan kehadiran sebuah taman di Distrik Kuroe.

Taman itu akhirnya berdiri, persoalan limbah terselesaikan. Semua orang merasa paling berjasa membangunnya. Wakil Walikota, kepala bagian pertamanan ramai-ramai memamerkan jasanya atas Taman Kuroe. Sementara Watanabe hanya duduk di kursi paling belakang ketika taman itu diresmikan. Ia dilupakan, tapi ia tak memerlukan penghormatan semu manusia.

Masyarakat tahu Watanabe lah yang berjasa membuat taman itu. Orang-orang mencintai Watanabe, seorang tua yang telah menebus kesia-siaan 30 tahun hidupnya dengan sebuah taman yang indah. Lelaki itu telah mengorbankan diri sendiri untuk melayani banyak orang. Ia telah menemukan hidupnya, walau sesaat.

Watanabe kemudian meninggal di taman itu. Membeku di ayunan yang sangat disenangi kanak-kanak. Ia ditemukan tewas oleh seorang polisi. Di malam yang dingin ia menyanyikan lagu yang merdu. Ia mengiringi kematiannya dengan kesadaran akan kemanusiaannya yang penuh luka,

Hidup itu singkat
Jatuh cinta lah, duhai gadis
Sebelum rambut mulai memudar
Sebelum nyala api hati berkedip dan mati
Bagi mereka yang menyadari,
hari ini tidak akan pernah kembali.

(Bagian 1, Ikiru: Pengabdian Menebus Luka)




Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

IKLAN BARIS