• Ikuti kami :

IKIRU: Pengabdian Menebus Luka II
Bagian Ke 2

Dipublikasikan Selasa, 06 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi


Watanabe telah keluar dari keabsurdan hidupnya selama 30 tahun. Ia menanggalkan segala kepalsuan dalam kehidupan birokrasi yang penuh basa-basi dan kepura-puraan. Kesadaran akan kematian telah menyadarkannya bahwa ia tak berdaya. Dengan kesadaran ketakberdayaan itu ia menyambut kenyataan dirinya sebagai manusia yang bengal, memabuki hidup dan mencintai kesenangan. Akan tetapi yang ia dapat dari semua itu ialah keabsurdan yang lain. Kesenangan-kesenangan duniawi, kebebasan untuk memanjakan moral dan kedaulatan untuk melakukan sesuatu tanpa ketakutan atas pendapat dan pandangan orang lain hanya berujung pada kesunyian. Absurditas yang lain.

Lelaki ini kemudian mencari hal lain yang lebih otentik dalam hidupnya. Pada gadis Odagiri ia melihat gairah dan semangat hidup yang bebas dan berdaulat. Pertemuan Watanabe-Odagiri ini mirip dengan pertemuan Ivan Illich-Gerasim dalam karya Tolstoy. Kedaulatan dan kemurnian tak akan ditemukan dari sopan santun dan nilai yang terlepas jauh dari kejujuran. Seperti ajakan Nietzsche untuk tak menjadi harimau atau unta yang memangguli beban-beban nilai, melainkan menjadi anak kecil yang dengan riang mengguar keinginannya tanpa rasa bersalah. Maka dengan itu Watanabe menjalani apa yang berarti untuk hidupnya tanpa memerlukan penjelasan mengenai hakikat.

Lelaki tua itu mendamparkan sisa hidupnya pada pengabdian yang sungguh-sungguh terhadap kepentingan orang banyak. Dengan segala ketakberdayaannya, dengan kesadarannya akan kematian, ia mencoba berbuat sesuatu. Kini keterlukaan itu tak lagi dihindari, hal itu diakui dan disadari sebagai bagian dari hidup. Keterlukaan dan hidup yang tragis telah mendorong Watanabe untuk melakukan semacam penebusan. Kesia-siaannya selama 30 tahun ia sudahi dengan semangat baru. Semangat mencipta yang bebas dan berdaulat.

Berbuat sesuatu yang baik tanpa peduli pada kebaikan itu sendiri. Watanabe mengabdi kepada manusia tanpa harus rikuh dengan pandangan manusia lainnya. Ia tak peduli ia akan disia-siakan, tak dianggap atau tak dihargai, yang ia tahu hanya bekerja dan berbuat baik. Watanabe telah menjadi skeptik pada nilai-nilai sosial yang melingkupi kantornya. Nilai-nilai yang menjemukan dan hampa. Ia bekerja di luar nilai-nilai itu. Yang ia lakukan begitu polos, lugu dan apa adanya.

Taman Kuroe adalam simbol dari tujuan yang tanpa beban. Watanabe mengerjakannya tanpa keinginan pada pujaan dan pujian. Tujuannya hanya taman itu sendiri. Bukan pangkat atau kemewahan lencana pekerjaan. Ia telah berhasil mengerjakan taman itu dengan gairah yang polos dan apa adanya. Di taman itu pula Watanabe menyambut kematiannya. Puncak absurditas dan ketragisan dari Ikiru. Seorang pahlawan yang tak dihargai secara wajar, tak dipahami lingkungan sosialnya dan berakhir di kematian yang sunyi. Ia telah menihilkan segala lakunya bagi dirinya sendiri. Jasanya dapat dinikmati orang lain, tapi ia sendiri tak dapat merasakannya karena telah tiada.

Film ini ialah sebuah cermin tamsil yang baik untuk menimbang dunia kita hari ini. Dunia yang semakin gandrung pada ketertataan, ketertiban, keruangan dan pengabdian. Dunia yang sedang gandrung untuk berbuat dan mengabdi. Upaya mengabdi yang dapat kita pandang sebagai penebusan atas dunia yang absurd. Atas laku koruptif dan segala macam ketakwarasan.

Taman-taman didirikan untuk menghibur kemanusiaan kita yang telah kalah digilas pengindustrian besar-besaran. Sarana-sarana umum dipoles indah menggapai-gapai kenyamanan demi menebus kesunyian manusia yang tertelan pergerakan kota yang amat cepat. Dan media sosial memanjakan kita untuk berpura bahagia, menebus segala luka yang kita simpan diam-diam di dalam kamar. Kita menebus yang pedih dengan senyuman seringan kapas di lautan mata yang memendam kepalsuan.  Nihil, menghablur, pedih dan sunyi.

***

“Pada awalnya hidup itu sederhana, sampai perang, mesin industri dan Nietzsche membuatnya menjadi rumit” begitu ujar seorang kawan yang baru saja menenggak tetes terakhir kopinya.

Syaqawah (kesengsaraan) sesungguhnya ialah perkara batin. Mencari pembebasan atasnya dari perkara yang zahir tentulah kesia-siaan. Seseorang akan cemas, takut, khawatir pada sesuatu yang tak diketahuinya. Keyakinan bahwa diri tak mengetahui apa-apa dan tak mungkin mengetahui apa-apa ialah juga penyebab kesengsaraan. Pencarian dengan keyakinan tak akan pernah menemukan juga merupakan sumber kegundah-gulanaan.

Keyakinan dan pengetahuan yang memadai tentang diri dan Tuhan akan membuat seseorang menjalani hidup dengan nyaman. Kekecewaan, perasaan disingkirkan, patah hati, kesedihan, kepedihan, keterhimpitan nasib, duka lara dan segala kumpulan derita akan menjadi kenyataan yang terang. Bahwa semua itu ialah pendidikan Tuhan agar jiwa kita dapat menziarahi bermacam pesona rasa. Segala penderitaan duniawi akan tertunduk pada kesabaran dan ketawakalan. Juga kepasrahan akan kehadiran Tuhan. Setiap derita yang berlalu akan memberikan pelajaran. Dan jiwa yang telah menempuh bermacam rasa ialah jiwa yang sedia menerima berbagai macam coba. Ia menjadi lapang, luas dan mampu menanggung beban-beban. Jiwa yang lapang dan luas mampu pula untuk menanggung bermacam pengetahuan.

Tanpa Tuhan, hidup ialah kesia-siaan..,

Bahan Obrolan

Fuad Hasan, Berkenalan dengan Eksistensialisme (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976).

Frederich Nietzsche, Sabda Zaratusta (Yogya: Quills Book Publisher, 2008).

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islām Faham Agama dan Asas Akhlak (Kuala Lumpur: IBFIM, 2013).

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam diterjemahkan dengan pengenalan dan nota penjelasan oleh Zainiy Uthman (Kuala Lumpur: ISTAC, 2002).

Thera Widyastuti, Konsep Kematian Menurut Eksistensialisme dalam Smert' Ivana Illicha Karya Leo Tolstoy, [Skripsi Jurusan Sastra Slavia, Program Studi Rusia] (Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1995).


Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

IKLAN BARIS