• Ikuti kami :

IKIRU: Pengabdian Menebus Luka II
Bagian Ke 1

Dipublikasikan Selasa, 06 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Menonton Ikiru mengingatkan kita pada beberapa karya yang berbicara tentang hakikat hidup manusia, khususnya tentang kematian. Film ini berbicara tentang kesepian manusia di hadapan kematian dan takdir. Tema dan kecenderungan yang sama dapat kita temukan dalam Smert' Ivana Illicha (Matinya Ivan Illich [1886]), salah satu karya utama Leo Tolstoy (1828-1910). Akira Kurosawa bahkan secara jelas menyatakan karyanya ini terinspirasi dari cerita tentang Ivan Illich itu.

Ikiru boleh jadi bukan yang terbaik dari Kurosawa. Bagaimana pun Seven Samurai (1954) sering dirujuk sebagai karya terpenting sutradara kelahiran Shinagawa, 23 Maret 1910 ini. Namun dalam Ikiru lah pandangan terang Kurosawa mengenai kematian (dan juga kehidupan) dapat dengan jelas ditelusuri. Sekilas kita dapat menempatkan Kurosawa sebagai seorang eksistensialis yang memandang keterlukaan sebagai inti dari kehidupan. Senarai dengan laku seni Chairil Anwar di Indonesia atau penulis macam Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoyevsky di Rusia yang sering menjadikan kemurungan sebagai titik balik pemerolehan elan vital kehidupan manusia. Orang-orang yang sering menjadikan ketragisan sebagai sesuatu kenyataan yang musti diterima, diakui dan disadari dalam kehidupan. Bahwa ketragisan ialah bagian utama dari kemanusiaan.

Tokoh Watanabe menjadi pencermin ketragisan tersebut. Diperankan secara apik oleh aktor langganan Kurosawa, Takashi Shimura, karakter Kanji Watanabe benar-benar berhasil menampilkan kegamangan, ketakberdayaan, absurditas dan ketragisan sekaligus gairah hidup manusia. Watanabe, seorang birokrat kawakan, pejabat yang memanggul-manggul kepalsuan sepanjang 30 tahun kariernya. Ia yang telah mati, menjadi mumi berjalan, ditelan segala kepura-puraan birokrasi yang menjengkelkan. Dalam pada itu, Watanabe yang tua berhadapan dengan kematian yang mengirimkan kecemasan melalui kanker perut.

Ia tak dapat mengadu dan berharap kepada siapa pun. Tidak kepada dokter, tidak kepada anaknya dan tidak pula kepada kedudukan yang selama ini ia bangga-banggakan. Kematian telah memisahkannya dari kenyataan, mengurungnya pada sebuah urusan pribadi yang terpisah dari orang lain. Tak ada pilihan, ia harus menghadapi dan menginsafi kematiannya secara sendirian. Dan dalam kesendirian itu ia mencoba mengurai makna hidupnya.

Kecemasan dapat membuat seseorang merasa sendirian atau keluar dari kehidupan sehari-hari yang didominasi oleh sesuatu yang tidak bermakna, begitu kata Karl Jeaspers. Lebih jauh, orang Jerman ini menyatakan bahwa manusia selalu berada, tak pernah terlepas, dari situasi-situasi yang mengitarinya. Sesuatu yang tak mungkin ditiadakan. Ini lah situasi batas, situasi yang tak mungkin dihindari oleh manusia. Dan situasi batas yang paling dramatis adalah kematian. Karenanya kematian ialah juga kesempurnaan kesadaran manusia atas keberadaannya. Kesadaran akan kematian akan mendorong manusia untuk hidup seasli-aslinya. Keinsafan terhadap kematian, sebuah keadaan yang tak mungkin terelakan sekaligus gelap dan tak dapat diketahui, akan melahirkan keberanian dan integritas.

Itu lah yang dialami Watanabe. Kecemasan menghadapi rupa-rupa masalah telah mengirimkannya pada kesunyian yang dalam. Ia tak berdaya, terpuruk dan putus asa. Ia seperti hendak tenggelam di sebuah kolam yang dingin dan sepi. Tangannya menggapai-gapai berharap seseorang akan menolong, tapi tak ada yang menolong, yang harus ia lakukan ialah menolong dirinya sendiri. Dan ia menyadari bahwa ia tak dapat berbuat apa-apa, tak berdaya dalam menghadapi semua. Ia tak dapat menghentikan kematiannya, sebagaimana ia tak dapat berharap kesembuhan dari dokter yang tak pernah jujur.

Keadaan itu telah mendorong Watanabe untuk berlepas dari segala sesuatu di luar dirinya. Ia melepaskan segala tindakan palsu. Tindakan-tindakan yang dilakukan sekadar untuk memenuhi tuntutan sosial. Watanabe mencari-cari hakikat hidupnya, gairah hidupnya, yang bermakna dalam hidupnya. Kesadaran akan kematian, kesadaran akan absurditas masa lalunya telah melahirkan jiwanya yang baru.

Watanabe mengamuki hidupnya dengan pemberontakan terhadap segala yang nilai telah ia pegang teguh selama bertahun. Apa yang selama masa lalunya dianggap tak bermoral, ia lakukan. Ia tak masuk kantor, sesuatu yang tak pernah dilakukannya selama 30 tahun. Ia juga keluyuran malam, bersenang-senang, memboros, pergi ke tempat pelesiran dan minum sake mahal. Namun yang ia dapatkan dari laku memberontak itu hanya sunyi. Ia tak menemukan apa-apa dari amukan itu selain keheningan dan kehampaan hidup.

Sebagian besar pemikir sekular telah bersepakat bahwa hakikat itu tak ada. Kalau pun hakikat itu ada manusia tak akan dapat mencapainya. Yang terpenting bukan lah menemukan atau tak menemukan hakikat itu, namun yang terpenting ialah mencarinya terus menerus sepanjang hidup. Pencarian yang tak pernah (bahkan tak mungkin) selesai itu lah elan vital hidup yang sesungguhnya. Urusan manusia, menurut para pemikir eksistensialis, bukan untuk menemukan tetapi untuk terus melepaskan keyakinan dan terus melakukan pencarian.

Pada suatu ketika manusia akan keluar dari sebuah absurditas menuju kenyataan. Akan tetapi kenyataan itu kemudian akan menghablur menjadi absurditas yang lain. Dan manusia mencoba keluar darinya menggapai kenyataan lain yang selalu menjadi absurditas yang lain. Begitu terus menerus, sehingga Albert Camus mengisahkan perjuangan seorang Sisipus yang terus mendorong batu ke puncak gunung. Batu itu selalalu bergulir kembali ke bawah dan Sisipus harus mendorongnya kembali ke puncak. Sisipus memang telah dihukum dewa untuk selalu berlaku demikian dan ia tak dapat menghindarinya. Ia dikutuk untuk selalu berputar dalam kesia-siaa. Namun Sisipus (dalam pengisahan Camus) hanya tersenyum kecut pada hidup yang demikian. Tak perlu bergurau dengan hakikat. Menyadari bahwa ia harus selalu mendorong batu ke puncak telah cukup bagi batin Sisipus yang sepi.


Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

IKLAN BARIS