• Ikuti kami :

IKIRU: Pengabdian Menebus Luka
Bagian Ke 1

Dipublikasikan Sabtu, 03 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Telaah atas film Ikiru (1952) Karya Akira Kurosawa

Beberapa perempuan membawa Ankyo Shūri To Umetate Chinjōsho (Petisi Perbaikan Gorong-gorong dan Tempat Pembuangan Akhir) kepada Departemen Pelayanan Publik. Ada air mampet penuh limbah menggenang di Distrik Kuroe. Warnanya hitam dan berbau tak sedap. Kulit anak-anak berbintik merah sejak kehadiran air itu. Nyamuk ramai pula bersarang di sana. Wilayah yang tergenangi sebenarnya cukup luas, sangat baik jika dikelola menjadi taman bermain. Begitu aduan mereka.

Pegawai Departemen Pelayanan Publik merasa masalah itu bukan wewenang mereka, itu urusan Departemen Teknik. Warga pun pergi ke Departemen Teknik. Tapi di sana, para pegawai merasa itu bukan wilayah kerja mereka. Sebab setiap usulan mengenai pembangunan taman, sudah seharusnya diurus Departemen Pertamanan. Pegawai Departemen Pertamanan melihat persoalan itu sebagai masalah kebersihan. Mereka menyarankan warga untuk datang ke Departemen Kesehatan.

Pegawai Departemen Kesehatan menyuruh mereka mengadu ke Departemen Sanitasi. Lalu mereka kembali diminta mengadu ke Departemen Pencegahan. Namun Departemen Pencegahan melihat aduan itu sebagai persoalan penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk. Itu adalah pekerjaan Divisi Pengendalian Hama. Analisa para pengendali hama lain pula, mereka melihat masalah utamanya ialah limbah yang bocor. Aduan itu lebih tepat disampaikan kepada Departemen Limbah yang menyarankan warga untuk menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran.  

Dinas Pemadam Kebakaran keberatan untuk mengeringkan limbah itu. Menurut mereka, baik juga di sana dibangun sebuah taman. Anak-anak akan menyukai taman. Karena itu, para pengadu sebaiknya mendatangi Departemen Pendidikan, khususnya Komite Kesejahteraan Anak. Departemen Pendidikan baru saja memperbaiki banyak sekolah. Lagi pula kolam limbah itu tak hanya berpengaruh bagi anak-anak. Masalah yang diadukan nampaknya cukup besar. Oleh karena itu Pegawai Departemen Pendidikan menyarankan agar para pengadu menyampaikan keluhannya kepada Dewan Kota.

Anggota Dewan Kota memberikan akses langsung untuk mengadu kepada Wakil Wali Kota. Tentu saja Wakil Wali Kota sangat senang dengan aduan yang disampaikan secara langsung seperti ini. Itu lah kenapa ia benar-benar merasa seluruh tatanan birokrasinya telah sempurna. Sebab urusan semacam ini telah ada mekanisme penanganannya di Departemen Pelayanan Publik.

Di dalam akrobat ruwet birokasi tersebut, hiduplah seorang tua bernama Kanji Watanabe (diperankan oleh Takashi Shimura). Seseorang yang mendedikasikan nyaris seluruh waktunya untuk bekerja. Ia tak pernah mengambil cuti. Tiga puluh tahun ia tertimbun kertas-kertas yang selalu harus dicap. Ia selalu sibuk dengan tumpukan surat-surat yang selalu harus diurus. Walau sebenarnya apa yang ia kerjakan tidak pernah benar-benar bermanfaat bagi masyarakat umum. Yang ia perjuangan ialah dirinya sendiri, nama baiknya dan kedudukannya. Ia tidak pernah benar-benar bekerja untuk orang lain.

Dulu, sebelum benar-benar ditelan birokrasi ruwet yang merampas kedaulatan hidupnya, ia sebenarnya pernah “hidup” sebentar. Proposal untuk Meningkatkan Efisiensi Departemen pernah dibuatnya. Namun sepertinya itu tak pernah benar-benar berguna. Lama tersimpan di laci meja, mungkin puluhan tahun, melapuk dan tak pernah ia buka kembali. Proposal itu, berakhir sebagai pengelap tinta. Watanabe telah “mati”. Ia benar-benar hanya sebutir sekrup mesin birokrasi tua yang sering ngadat, mogok dan macet. Ia hanya bergerak karena tuntutan-tuntutan di luar dirinya.

Nyaris saja Watanabe memecahkan sebuah rekor, 30 tahun bekerja tanpa pernah absen satu hari pun. Namun hari itu ia tak pergi ke kantor, ia harus pergi ke dokter. Sakit di perutnya tak tertahankan lagi. Seseorang di ruang tunggu mengabarinya sebuah rahasia. Apabila dokter menyebutnya hanya mengalami maag biasa, itu artinya ia mengidap kanker perut. Dokter dan pegawai rumah sakit, sebagaimana birokrat macam Watanabe, selalu malas berepot-repot dengan persoalan yang sebenarnya. Dan dokter mengatakan Watanabe hanya mengalami maag ringan. Sebagai seorang birokrat kawakan, lelaki tua itu mengerti betul apa arti kata-kata itu. Maag jelas tidak merepotkan. Artinya, ia mengidap kanker perut. Umurnya tak akan lebih dari 6 bulan lagi.

Watanabe ingin segera memberitahu anaknya, Mitsuo, mengenai kanker perut itu. Akan tetapi tanpa disengaja ia malah mengetahui pikiran anaknya. Mitsuo telah lama jengah dengan kekolotan Watanabe. Ia tak senang tinggal di rumah tradisional orang Jepang dan ingin tinggal di rumah modern. Diam-diam Mitsuo bersama istrinya menghitung harga rumah jika dijual, tabungan Watanabe dan dana pensiun yang akan orang tua itu dapatkan. Cukup untuk membeli sebuah rumah modern. Mendengar hal itu, Watanabe urung menyampaikan persoalan perutnya. Ada keruntuhan.

Watanabe tahu dirinya tak dihormati dengan sungguh-sungguh. Di rumah, anaknya hanya mengincar kekayaannya. Sementara di kantor, orang-orang terus mengendap-endap mengincar jabatannya. 30 tahun pengabdian kepada negara, tanpa makna, tanpa penghormatan yang hakiki. Namun ia tak dapat mengelak dari kepalsuan itu. Sebab sesungguhnya ia hanya berurusan dengan kertas-kertas selama 30 tahun. Ia tak pernah benar-benar bekerja untuk kenyataan. Kebanggaan yang selama ini ia sandang, ternyata hanya basa-basi yang amat rapuh.

Watanabe merabai masa lalunya dengan lunglai. Ia tak menemukan arti dalam kehidupan yang telah ia jalani. Keberadaannya di hadapan kolega dan bahkan anak-menantunya penuh dengan kepalsuan. Keramahan, penghormatan dan sopan santun hanya omong kosong. Tak ada artinya. Mereka semua hanya mengincar segala jerih payahnya tanpa mampu melihat kemanusiaannya.

Namun Watanabe tak menyerah dengan semua kepedihan itu. Telah beberapa hari ia tak masuk kantor dan 50.000 Yen dari akunnya telah ia tarik. Keluarga dan kolega di kantor mulai bertanya-tanya tentang tindakan Watanabe. Apa yang terjadi pada orang tua ini? Perkiraan-perkiraan tak berdasar kemudian bermunculan. Keluarga menyangka Watanabe memiliki kekasih muda. Ia mabuk dalam cinta sehingga mengabaikan pekerjaan dan keluarga. Mereka menyangka Watanabe telah mengalami kemerosotan moral. Watanabe tak difahami, tak dimengerti. Orang-orang tak pernah benar-benar meraba kemanusiaannya sebagaimana ia sendiri tak pernah menyungguhinya.

Birokrat tua itu tak peduli. Ia mencari hidup di sebuah warung arak. Kebetulan di sana ada seorang penulis novel yang memerlukan pil tidur. Kebetulan kedua, Watanabe membawa beberapa pil tidur. Dua orang ini kemudian berbincang. Kepada si penulis, si calon mati menceritakan persoalan perutnya. Si Penulis terkejut. Seseorang yang menyiram perut berkanker dengan arak sama saja sedang bunuh diri. Namun Watanabe memang tidak tahu bagaimana cara menyongsong kematian. Ia sangat hemat dan kehematannya menjadikan ia amat pelit bahkan terhadap dirinya sendiri. Sepanjang masa lalunya ia tak sempat minum-minum dengan uangnya sendiri. Rasanya, di hidup yang bersisa 6 bulan, tak mengapa ia mencari sekadar kesenangan.

Watanabe tak pernah tahu pasti apa yang sesungguhnya ia lakukan selama hidupnya. Bukan kanker yang menakutkannya, tapi kesadaran bahwa ia mengalami ketakbermaknaan akut. Bukan perutnya yang sakit, tetapi jiwanya. Perih-ngilu di perut bisa ia tahan, tapi ketakbermaknaan menyiksa jiwanya. Kanker lah yang membangunkannya, menamparnya bertubi-tubi dengan kenyataan. Kematian telah mengirimkan ancamannya. Watanabe tak dapat memohon pertolongan siapa pun. Satu-satunya cara ialah menghadapi kematian itu sendirian. Kematian pada akhirnya ialah persoalan pribadi. Tapi bagaimana cara menghadapi kematian?

Ia merasa bodoh dan marah terhadap dirinya sendiri. Arak yang ia minum tentu saja tak pernah enak. Tak ada yang enak untuk orang dengan kanker perut. Tapi Watanabe terus menenggak arak itu untuk melupakan kanker dan segala hal lain yang menyakitkan. Walau hanya sesaat. Lelaki murung itu telah membeli kembali dirinya dengan racun, sake yang mahal. Ia tak lagi memungkiri kepedihan, melainkan menyadarinya sebagai bagian dari hidup.

Lebih dari itu, Watanabe ingin mengamuki nasib dengan 50.000 Yen yang ia sisihkan dari gajinya selama berpuluh tahun. Ia ingin menghabiskan tabungan itu dalam waktu semalam saja. Demi hidup dan menebus sekian ketakbermaknaan selama masa lalunya. Malangnya, ia tak tahu bagaimana cara menghabiskan uang sebanyak itu. Si Penulis Novel menjadi penolong bagi Watanabe sebab ia tahu bagaimana caranya.

Di malam pertemuannya dengan Watanabe si penulis mendapat pencerahan, bahwa kemalangan ialah jalan bagi kebenaran. Kanker telah menghadirkan kesadaran pada Watanabe, kesadaran akan keterbuangan, ketakbermaknaan dan penderitaan yang musti ditanggung kemanusiaan. Malam itu si penulis menjadi Mesophanes (Iblis) yang membisiki Watanabe. Namun bukan kejahatan yang ia bisikkan, melainkan pembebasan.

Keduanya lalu menjingkraki malam. Menjejaki kesenangan demi kesenangan. Arak, nyanyian, judi, perempuan dan segala ketakpantasan dan kataksopanan mereka susuri dengan seksama. Di malam itu Watanabe terus menggali makna diri di kerlip lampu, tetes arak, lantunan lagu, putaran keberuntungan mesin judi dan senyum merona perempuan. Ia terus memberontaki hidup. Telah lama ia diperbudak oleh hidupnya sendiri, kini saatnya ia berdiri dengan teguh sebagai seorang Tuan bagi kehidupan. Watanabe ingin menjadi serakah pada segala kenikmatan. Pada waktu-waktu yang lalu ia melihat keserakahan sebagai sebuah kekejian, tetapi di malam itu keserakahan telah menjadi kebajikan baginya.

Ecce Homo ujar si penulis kepada seorang pelayan bar. Ungkapan yang digunakan Pontius Pilatus ketika melihat Yesus menggotong tiang salib dengan kepala berdarah-darah bermahkota duri mawar. Ungkapan yang juga digunakan Nietzshe untuk autobigrafinya. Sebuah pandangan tentang diri dari orang yang mengalami keadaan sakit (bahkan kegilaan) dalam waktu yang panjang.

Ecce Homo!!! Lihat lah orang itu!!! Lihatlah Watanabe!!! Orang ini memikul beban berat yang disebut kanker. Orang lain akan mati seketika saat kanker menyerang dirinya. Tapi orang ini tidak. Saat ia menyadari kanker di perutnya, saat itulah dia memulai hidupnya.

Malam terus berlalu, Watanabe membeli topi baru dan terus bersenang-senang. Sakit hatinya pada hidup ia tebus dengan kesenangan demi kesenangan. Ia telah merubuhkan moralitas yang selama ini mengungkunginya. Namun, satu-satunya kesadaran yang ia temukan dari pemberontakannya ialah sepinya hidup. Di sebuah tempat pelesiran malam, Watanabe bernyanyi dengan murung:

Hidup itu singkat
Jatuh cinta lah, duhai gadis
Sebelum merah mekar memudar dari bibirmu
Sebelum arus gairah mendingin di dalam dirimu
Bagimu yang tak mengenal hari esok

Hidup itu singkat
Jatuh cinta lah, duhai gadis
Sebelum rambut mulai memudar
Sebelum nyala api hati berkedip dan mati
Bagi mereka yang menyadari,
hari ini tidak akan pernah kembali

***


Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

Populer

IKLAN BARIS